Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Mengadu Jiwa


__ADS_3

Ye Xia Zhu telah berhasil membawa lari anaknya, Ye Moi Xiuhan dan empat murid Sekte Teratai Putih. Begitu melihat wanita tersebut, Yuan Shao dan Li Meng Li langsung mengawalnya.


"Tuan Huang, aku akan segera kembali. Bertahanlah barang sebentar. Sisakan jatah untukku," kata Xia Zhu sambil berlari keluar arena untuk membawa puterinya ke tempat yang lebih aman.


"Tentu saja Nona Zhu. Kau tenang saja, mereka hanya tikus-tikus tak berguna," ujar Huang Taiji sengaja mengejek lawannya untuk membangkitkan emosi.


Pancingannya berhasil. Empat Pendekar Dewa yang saat ini sedang bertarung dengannya bertambah marah.


"Orang tua tidak tahu aturan. Aku kirim ke neraka sekarang juga," bentaknya lalu segera menggetarkan pedang yang sangat tajam.


Cahaya putih berkelebat mengarah ke leher. Huang Taiji Lu menghindar, belum habis serangan tersebut, datang pula serangan lainnya.


Desingan angin tajam terdengar deri arah belakangnya. Seorang Pendekar Dewa mengayunkan pedang mengarah ke tengkuk.


"Tidak tahu malu …" bentak Pendekar Pedang Tombak lalu tahu-tahu senjata andalannya sudah digenggam dengan erat.


Cahaya perak segera menyilaukan mata. Suasana menjadi dingin sedingin es. Belum lagi hilang cahaya tersebut, cahaya merah api menyeruak pula membuat hawa di sana menjadi panas seperti di neraka.


Para Pendekar Dewa langsung berlompatan ke belakang mengambil tempat aman. Mereka tahu bahwa senjata pusaka yang unik tersebut sangat berbahaya. Apalagi pancaran auranya jelas membuat siapapun bergidik ngeri.


Seorang Pendekar Dewa yang dari arah belakang tadi tidak sempat lagi untuk menarik serangannya, terpaksa dia menggertak gigi lalu mempercepat tebasan yang mengarah ke tengkuk tersebut.


"Trangg …"


Pendekar Dewa itu tergetar. Dia terdorong hingga lima langkah.


Padahal Huang Taiji menahan serangannya tanpa membalikan badan. Begitu pertarungan berhenti, orang tua tersebut segera memandangi lawannya masing-masing dengan tatapan penuh hawa pembunuhan.


"Hehehe, apakah hanya segini saja kemampuan orang-orang kalian? Kalau hanya segini, jangan harap bisa berbuat seenaknya di Kekaisaran Wei," ucapnya sambil tersenyum dingin.


"Jangan bangga dulu orang tua, kami hanya mengeluarkan secuil kemampuan saja,"


"Aih, benarkah? Kalau begitu perlihatkan kepadaku bagaimana kekuatan yang sesungguhnya, aku jadi penasaran,"


Mulutnya menyeringai seram. Pedang Tombak Surga Neraka sudah mengeluarkan kekuatan yang menekan tempat sekitar. Hawa panas dan dingin bercampur menjadi satu.

__ADS_1


Udara di sana seketika terasa sangat sesak.


Dalam hatinya empat Pendekar Dewa tersebut mulai ragu. Setelah melihat kemampuan lawan saat bagaimana mendesak mereka mundur, atau juga saat mereka merasakan kekuatan mengerikan dari pusaka itu, kepercayaan diri dalam hatinya enyap entah ke mana.


Keringat dingin segera membasahi seluruh tubuh. Walaupun melakukannya mirip iblis, tapi toh mereka masih ingin hidup lebih lama lagi.


Namun bagaimana? Mundur atau kabur?


Tidak mungkin. Jika dilakukan, hal tersebut sungguh perbuatan bodoh. Walaupun mereka pergi ke ujung dunia atau naik ke langit, tetap saja orang-orang di pihaknya sanggup untuk mengejar dan memberikan hukuman mati.


Peraturan sekte mereka ternyata sangat ketat sekaligus kejam. Bagi mereka, lebih baik mati di medan perang melawan musuh daripada mati karena menerima hukuman.


Bagi mereka, mati di tangan musuh lebih baik daripada mati karena hukuman sekte. Sebab kalau mati di sana, penderitaannya mungkin beberapa kali lebih hebat lagi.


Maka setelah keempat Pendekar Dewa itu termenung, seorang rekannya lantas berkata. "Lebih baik kita mengadu jiwa saja. Masalah menang atau kalah, tewas atau tidak, itu urusan belakangan. Toh hasilnya akan tetap sama, kita akan mati-mati juga. Karena itu, aku lebih memilih untuk mati di ujung senjata orang tua itu," kata seorang Pendekar Dewa.


Nadanya hambar. Seolah beban rasa takut tadi lenyap dari dirinya. Seolah kematian bukan sesuatu yang mengerikan bagi dia.


Namun ternyata ucapannya barusan mendapatkan respon yang baik daripada tiga rekannya. Yang lainnya ternyata juga mempunyai anggapan yang sama sepertinya.


Selesai berkata, keempat Pendekar Dewa segera mengeluarkan seluruh kekuatan yang mereka miliki. Masing-masing dari tubuh mereka mulai diselimuti oleh selapis sinar yang membawa kekuatan sesat.


Di sisi lain Huang Taiji Lu juga sudah bersiap sejak tadi. Dia berdiri dengan tenang. Berdiri kokoh seperti gunung nun jauh di sana.


Pedang Tombak Surga Neraka digenggam erat. Kekuatan yang lebih besar dia salurkan lewat senjata tersebut.


Dia percaya, jika senjatanya ingin membunuh orang, maka siapapun tidak akan bisa selamat. Kalau senjatanya ingin meruntuhkan bukit, maka bukit itu pasti runtuh.


Sebab senjata itu bukan senjata para pendekar. Bukan pula senjata para manusia. Senjata itu adalah senjata pengawal pribadi seorang Dewa.


Empat Pendekar Dewa melesat dengan kekuatan luar biasa. Huang Taiji juga melesat tak kalah cepat dan dahsyatnya.


Mereka meluncur deras bagaikan meteor yang jatuh ke bumi. Gugusan lima sinar berbeda warna terlihat, ledakan dahsyat langsung menggelegar.


"Duarrr …"

__ADS_1


Empat Pendekar Dewa terpental puluhan tombak. Sedangkan Huang Taiji hanya terpental tujuh langkah ke belakang. Dia sama sekali tidak terluka. Bahkan masih berdiri dengan tenang.


Nafasnya tenang. Wajahnya tenang. Setiap anggota tubuhnya tenang.


Sama sekali tidak memperlihatkan bahwa dia telah beradu jurus dahsyat dengan lawan-lawannya. Sebaliknya, empat musuhnya melayang bagaikan luncuran anak panah.


Orang tua itu melesat ke arah empat musuh. Sinar biru dan merah membara berkelebat empat kali.


Suara jerit ngeri terdengar menyayat hati. Sangat memilukan. Sangat menyedihkan.


Jeritan yang saling bersahutan itu segera lenyap. Mereka ambruk ke tanah tanpa nyawa. Ujung pedang dan ujung tombak Huang Taiji masih meneteskan darah kental.


Si pemimpin kelompok merasakan kengerian tersendiri. Jelas, dia tidak mungkin bisa mengalahkan orang tua itu. Apalagi pihak yang lainnya sama, saat ini mereka sedang di desak mati-matian.


Dia ingin kabur. Tubuhnya sudah mencelat cukup jauh, sayangnya pemimpin tersebut tidak mampu meneruskan langkahnya.


"Kau ingin kabur dari sini? Jangan berharap. Kau sudah mencari masalah denganku, maka malam ini jangan berharap bisa melihat matahari besok pagi,"


Suaranya dingin. Wajahnya memancarkan hawa pembunuhan yang pekat. Seluruh tubuhnya mengeluarkan kekuatan yang menggidikkan hati.


"Tapi toh aku tidak membunuh puterimu. Aku hanya menangkapnya untuk mengajakmu bekerja sama,"


"Terlepas dibunuh atau tidak, atau masalah kerja sama, apapun itu, aku tidak peduli. Malam ini, kau harus mati di tanganku,"


Orang yang bicara demikian adalah Ye Xia Zhu adanya. Wanita yang lemah lembut, sekarang telah berubah menjadi seekor harimau betina yang ganas.


Ibu dari harimau pun tidak akan terima jika anaknya dalam kondisi bahaya. Apalagi ibu manusia?


Pedang bercahaya perak telah berkilat. Dia menerjang si pemimpin dengan jurus yang mematikan.


"Trangg …"


Benturan pertama terjadi. Tenaga dalam mereka beradu. Si pemimpin terdorong dua langkah. Sedangkan Ye Xia Zhu hanya satu langkah.


Dari sini saja dia sudah sadar bahwa kemenangan amat tipis. Namun apa daya? Untuk pergi sangat mustahil.

__ADS_1


__ADS_2