Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Pertempuran di Sekte Serigala Putih II


__ADS_3

Begitu percakapan antara Shin Shui si Pendekar Halilintar dan Ying Mengtian si Kaisar Buas selesai, serempak orang-orang dari masing-masing pihak langsung bersiap.


Udara di sekitar sana langsung berubah karena kekuatan yang mulai merembes keluar. Terutama dari mereka para pendekar kelas atas dan para tetua tidak canggung


Sepuluh tetua dan Yun Mei serta beberapa pendekar lain yang sempat ditawan oleh pihak Sekte Serigala Putih, telah mendapatkan lawannya masing-masing.


Kalau diperhatikan satu persatu, para tetua Sekte Serigala Putih, kekuatannya hampir setara dengan para tetua Sekte Bukit Halilintar. Yang lebih tinggi satu tingkat hanyalah Yun Mei seorang. Di mana saat ini, wanita cantik itu telah mencapai tingkatan Pendekar Dewa tahap enam akhir.


Chen Li si Pendekar Tanpa Perasaan, sudah mempersiapkan diri untuk membantai para murid sebanyak yang dia mampu. Walaupun bocah kecil itu tidak yakin bisa membantai banyak murid, setidaknya masih ada harapan untuk turut andil dalam pertempuran yang akan berlangsung sebentar lagi ini.


Suasana hening. Tidak ada yang bicara dari kedua belah pihak. Semua orang yang hadir, sedang menerka-nerka sampai di mana kekuatan masing-masing lawannya.


Seperti juga kepala tetua Sekte Serigala Putih, dia sedang memperkirakan sampai di mana kekuatan Shin Shui saat ini. Dan setelah dia tahu fakta sebenarnya, orang tua itu terkejut.


Untungnya dia segera menguasai dirinya kembali. Sehingga rasa terkejutnya tidak terlalu mencolok. Sayangnya, walaupun orang lain tidak tahu, tetapi Shin Shui tahu.


"Kepala Tetua Shin Shui, aku punya permintaan untukmu, tetapi entah kau bisa memenuhinya atau tidak. Namun harapanku, semoga kau dapat memenuhi permintaan ini," ujar Kaisar Buas sebelum pertarungan di mulai.


"Selama permintaan itu sanggup aku lakukan, sudah pasti aku akan memaksakannya," jawab Shin Shui.


"Terimakasih kalau begitu. Pertama, aku ingin mati di tanganmu. Kalau itu bisa, sungguh aku sangat bahagia. Dan kedua, aku mohon setelah aku tewas, pertarungan lain harus selesai juga. Anggap saja kematianku menjadi tanda bahwa Sekte Serigala Putih telah kalah,"


"Baik, aku pasti akan memenuhi permintaanmu,"


"Terimakasih. Aku tahu kau pasti akan mengucapkan hal itu,"


"Semuanya, dengarkan aku baik-baik. Kalau sampai aku tewas, maka pertempuran ini akan selesai. Kalian harus menerima kekalahan dan menutup diri dari dunia luar sampai batas waktu yang ditentukan," seru Yin Mengtian kepada orang-orangnya.


"Baik. Perintah kepala tetua akan kami laksanakan," jawab seorang tetua penuh semangat lalu diikuti ucapan yang sama oleh orang-orang di pihaknya.

__ADS_1


"Aku rasa, kita harus segera memulai pertempuran serius," ujar Ying Mengtian.


"Lihat serangan …"


Ying Mengtian berteriak sambil langsung menyerang ke arah Shin Shui. Serangan pertama yang datang berupa tendangan dari bawah ke atas mengincar dagu.


Shin Shui melompat sebelum serangan tiba. Tubuhnya berjumpalitan sebanyak tiga kali putaran.


Setelah itu, dia segera melesat turun dari atas ke bawah sambil melancarkan serangan keras dan brutal menggunakan tangannya membentuk pukulan.


Dalam sekejap mata, tubuh Shin Shui telah diselimuti energi berwarna biru terang. Ying Mengtian bukanlah orang sembarangan, serangan keras Shin Shui itu mampu dia tangkis dengan kedua tangannya juga


"Blarrr …"


Ledakan pertama terdengar. Ying Mengtian terdorong tiga langkah ke belakang. Sedangkan Shin Shui terdorong dua langkah.


Keduanya tidak berhenti, mereka langsung saling serang kembali. Dua tangan yang keras dan penuh tenaga hebat mulai mengalami benturan. Seluruh tubuh Ying Mengtian diselimuti enegeri berwarna hijau terang. Sedangkan Shin Shui biru terang.


Mengingat bahwa kekuatan Ying Mengtian tidak terpaut jauh darinya. Paling hanya berbeda dua tahapan saja. Shin Shui Pendekar Dewa tahap tujuh puncak. Sedangkan Ying Mengtian saat ini sudah merupakan Pendekar Dewa tahap tujuh awal.


Sepuluh jurus sudah mereka lewati. Selama itu, keduanya terus saling serang dan bertahan. Walaupun masih terlihat imbang, tetapi jelas bahwa hati kedua pendekar tersebut bergetar.


Di sisi lain, para tetua juga sudah memulai pertarungannya masing-masing bersama lawan yang memang telah dipilih.


Sepuluh tetua bergerak hebat. Jurus dahsyatnya masing-masing sudah keluar menerjang ke arah para tetua Sekte Serigala Putih.


Namun walupun begitu, para tetua juga tidak mau mengalah. Mereka tidak mau menahan gerakannya lagi. Karena lawan yang menjual, maka sepuluh tetua siap untuk membelinya.


Berbagai macam senjata pusaka yang sangat tajam sudah membelah udara malam yang mulai panas. Sinar dari berbagai macam jurus memeriahkan malam sepi.

__ADS_1


Sepuluh tetua bertarung dengan jurus mereka sendiri. Walaupun baru saja terbebas dari tawanan, ternyata para tetua Sekte Bukit Halilintar sudah pulih total.


Pil yang diberikan oleh Shin Shui memang benar-benar ajaib. Terbukti sekarang, para tetua sudah mampu menyimpan kekuatannya sampai delapan puluh persen.


Sementara itu, Yun Mei pun tidak mau ketinggalan. Istri dari Pendekar Halilintar kini sedang bertarung serius melawan satu tetua dan tiga murid Pendekar Surgawi tahap enam akhir.


Walaupun diserang oleh empat pendekar sekaligus, Yun Mei sama sekali tidak merasa kewalahan. Apalagi kekuatannya yang sekarang, berbeda jauh dengan kekuatan yang dulu.


Wanita itu bertarung sangat gesit dan lincah. Pedang Bunga yang merupakan senjata pusaka andalannya, kini sudah keluar.


Tiga murid tersebut menggunakan senjata berupa pedang juga. Sayangnya, jurus pedang mereka belum mampu untuk menandingi Shin Shui.


Yun Mei bergerak. Pedang Bunga sudah dimainkan dengan gerakan yang lincah dan gesit. Si Dewi Pedang memainkan senjatanya dengan penuh perasaan.


Sehingga gerakan yang tercipta pun tampak lebih berisi dan indah, tubuhnya menari di bawah tiga gempuran jurus pedang tiga murid sekte.


Ketika itu, tetua yang menjadi lawannya tidak mau kalah, dia turut mengeluarkan senjata pusaka yang berupa cambuk cukup panjang. Ujung cambuknya terdapat duri-duri halus yang mengandung racun.


"Tarrr …"


Suara cambuk menggelegar di udara. Berikutnya, cambuk tersebut segera di ayunkan ke depan mengarah kepada Yun Mei.


Walaupun saat itu dia sedang meladeni jurus pedang dari tiga murid, tetapi telinganya yang sudah sangat tajam mengetahui bahaya yang datang. Insting sebagai seorang pendekar kelas atas terbukti sekarang.


Tiba-tiba tubuhnya mencelat ke atas menghindari pecutan cambuk.


Sebelum turun lagi ke bawah, Yun Mei mengirimkan sebuah jurus hebat. Hujan pedang energi mulai turun dari langit mengincar empat lawannya.


Si tetua terkejut. Buru-buru dia memutarkan cambuknya sehingga menciptakan sebuah benteng pertahanan berbentuk lingkaran merah.

__ADS_1


Hujan energi yang dilancarkan oleh Yun Mei tidak mampu menembus benteng tersebut. Namun walaupun begitu, satu dari tiga orang murid sekte, terkena serangannya dibagian paha kanan.


Murid tersebut langsung jatuh berlutut karena seluruh tubuhnya mendadak terasa lemas.


__ADS_2