
Slebbb!!!
Tanpa tanggung-tanggung, empat batang pedang terbang milik Kaisar Tang Yang telah menembus tubuh Yuan Shi si Raja Seribu Pedang. Darah menyembur dengan deras. Kejadian ini sungguh diluar dugaan semua orang yang hadir.
Raja Seribu Pedang mengeluarkan suara erangan kesakitan. Dia ingin berteriak, tapi tidak bisa. Dia juga ingin membalas serangan untuk yang terakhir kali, namun dia sudah tidak sanggup berbuat apa-apa lagi.
Sesaat kemudian, Yuan Shi si Raja Seribu Pedang telah ambruk ke tanah. Pedang terbang milik Kaisar Tang Yang tiba-tiba kembali ke pemiliknya setelah berhasil membunuh seorang lawan tangguh.
Kaisar Wei An menatap dengan geram. Dia merasa menyesal karena tidak bisa memberikan bantuan berarti. Dia merasa sangat marah karena melihat kekejaman mertuanya sendiri.
Pada saat yang bersamaan, dirinya sedang digempur oleh pedang terbang lainnya. Sehingga dia sendiri tidak bisa mencegah ataupun memberikan perlawanan karena dirinya juga sedang digempur oleh lawan.
Setelah menyaksikan bahwa tokoh tua itu benar-benar tewas, kemarahan Kaisar Wei An tidak dapat dibendung lagi. Dia berteriak sangat-sangat keras bahkan hingga membuat bebatuan berterbangan.
"Laknat!!!"
Wushh!!! Wushh!!!
Lima sinar merah mendadak keluar lalu menyerang Kaisar Tang Yang. Sinar itu membawa hawa yang sangat panas sekali sehingga membuat orang pertama di Kekaisaran Tang itu merasa sedikit kepanasan.
Kalau yang menerima jurus tersebut bukan dirinya, niscaya orang itu akan mampus sebelum lima sinar merah tiba.
Gelegar!!! Duarr!!!
Lima sinar merah berbenturan dengan sepuluh batang pedang terbang milik Kaisar Tang Yang yang membawa aura kegelapan. Ledakan dahsyat terjadi menyebabkan tanah bergetar.
Kedua sosok Kaisar tersebut terlempar puluhan langkah ke belakang. Dua pedang terbang milik Kaisar Tang Yang patah menjadi serpihan kecil.
Kaisar Wei An tidak berhenti menyerang. Dia kembali melancarkan serangan jarak jauh dengan gencar. Tombak Dewa Api yang merupakan senjata pusaka pilih tanding digerakkan ke sana kemari sehingga melemparkan lagi sinar merah berhawa panas.
Puluhan sinar kembali menerjang. Sinar dahsyat itu datang lagi. Bedanya, sinar merah yang sekarang jauh lebih banyak dan lebih hebat lagi.
Meskipun Kaisar Wei An mengeluarkan sinar merah beberapa kali lipat jumlahnya, tapi Kaisar Tang Yang tidak gentar. Tokoh yang sudah mencapai puncak kesempurnaan itu justru malah tersenyum bengis.
"Bagus, ingin aku lihat sampai di mana kekuatanmu yang sesungguhnya," gumam Kaisar Tang Yang sambil melancarkan beberapa serangan balasan yang tidak kalah hebat.
__ADS_1
Ledakan dahsyat kembali terdengar. Bumi kembali bergetar.
Setelah beberapa kali melancarkan serangan jarak jauh, sekarang Kaisar Wei An memutuskan untuk menyerang dengan jarak dekat.
Wushh!!!
Cahaya merah melesat ke depan. Gerakannya sangat cepat juga tangkas. Ujung Tombak Dewa Api langsung mengirimkan enam tusukan maut secara beruntun. Setiap tusukam dilancarkan dengan kekuatan penuh. Setiap serangan dilambari tenaga dalam yang sulit dilukiskan.
Kaisar Tang Yang menggerakan pedang terbang dengan jari-jari tangannya. Empat batang pedang terbang melesat menangkis semua tusukan tombak Kaisar Wei An.
Cahaya perak dan cahaya merah beraru beberapa kali. Bunyi nyari terdengar berdentang tiada hentinya.
Pertarungan sengit kembali terjadi. Kedua Kaisar dari negerinya masing-masing sudah mengeluarkan kemampuan hingga mencapai batas.
Trangg!!!
Satu batang pedang terbang milik Kaisar Tang Yang kembali dibuat patah oleh ujung Tombak Dewa Api.
Wushh!!! Crashh!!!
Satu pedang kembar berhasil memberikan goresan luka di bagian pangkal lengan kirinya. Darah segar segera merembes membasahi Jubah Dewa Api.
Kaisar Wei An tersentak. Dia tidak menyangka bahwa senjata lawan ternyata mampu menggores jubah pusaka miliknya. Padahal siapapun tahu bahwa Jubah Dewa Api mampu membuat penggunanya kebal terhadap senjata apapun.
Tapi sekarang kelebihan itu seolah tiada gunanya. Butkinya, pedang terbang Kaisar Tang Yang berhasil melukai dirinya. Saat ini Kaisar muda tersebut paham bahwa mertuanya memang bukan tandingan.
Srett!!!
Tebasan pedang terbang kembali merobek jubah sekaligus kulit Kaisar Wei An. Sasaran kedua senjata itu adalah paha sebelah kiri. Darah meleleh dari luka tersebut. Rasa sakit yang teramat sangat langsung menjalar ke seluruh tubuh Kaisar Wei An.
Meskipun rasa sakitnya tiada tara, namun dia tidak mau berteriak. Sedikitpun dia tidak bersuara. Kaisar Wei An hanya mengigit bibirnya sehingga mengeluarkan darah.
Wushh!!!
Tombak Dewa Api melesat ke depan. Tombak itu melancarkan puluhan serangan beruntun. Kaisar Wei An mengendalikan tombaknya dari jarak jauh. Sebenarnya dia tidak ingin menggunakan cara tersebut karena memerlukan tenaga dalam besar, hanya saja, demi memulihkan diri dari luka akibat pedang terbang, mau tidak mau dia harus mengambil langkah terakhir tersebut.
__ADS_1
Tujuh pedang terbang yang tersisa bergerak menangkis serangan Tombak Dewa Api. Kedua belah pihak menggerakan pusakanya dari jarak jauh. Pertarungan antar pusaka ternyata jauh lebih seru.
Suara berdenting memekakkan telinga. Kilatan cahaya menyilaukan mata.
Setelah berhasil memulihkan kondisi, secara tiba-tiba Kaisar Wei An bergerak lagi. Tubuhnya menjejak tanah satu kali lalu kemudian meluncurkan ke arah Kaisar Tang Yang.
"Percuma kau melawanku. Sampai kapanpun, aku bukan tandinganmu," teriak Kaisar Tang Yang.
Pedang kembar melesat kemudian mengurung Kaisar Wei An. Tebasan dan tusukan beruntun dilancarkan dengan segenap kemampuan.
Kaisar muda itu terkurung dalam serangan pedang terbang milik Kaisar Tang Yang. Kaisar Wei An tidak mampu berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menangkis tanpa sempat membalas serangan dengan pasti.
Pertarungan keduanya sudah melampuai lima ratus jurus. Sejauh ini, Kaisar Tang Yang selalu berada di atas angin. Semakin lama, Kaisar Wei An semakin terpuruk.
Kondisinya semakin parah setelah terkurung oleh tujuh pedang tersebut. Tebasan dan tusukan telah bersarang di tubuhnya. Semakin lama, jumlah luka di tubuhnya semakin dahsyat.
Crashh!!!
"Ahhh …"
Kaisar Wei An tidak sanggup lagi menahan rasa sakit. Dia berteriak dengan keras saat tangan kirinya buntung. Darah segar menyembur deras seperti air terjun.
Wajahnya mendadak pucat. Keringat dingin telah membasahi seluruh tubuhnya.
Gerakan Kaisar Wei An semakin melambat. Seluruh luka di tubuhnya telah memberikan satu efek yang dahsyat. Kaisar Wei An harus rela kehilangan sebagian tenaga dalamnya demi memulihkan kondisi tubuh.
Melihat gerakan lawannya mulai melambat, Kaisar Tang Yang semakin gencar memberikan serangannya. Tujuh pedang terbang menghilang dari pandangan. Debu mengepul tinggi. Angin berhembus menerbangkan hawa kematian.
Gelegar!!! Duarr!!!
Kaisar Wei An terlempar puluhan langkah ke belakang. Tubuhnya sudah penuh dengan luka sayatan ataupun tusukan. Darah semakin keluar banyak.
Kaisar Wei An tidak sanggup untuk langsung berdiri. Seluruh tubuhnya terasa sangat sakit. Sakit yang tiada terkira.
"Apakah aku akan berakhir sekarang?" gumamnya entah kepada siapa.
__ADS_1