Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Hadiah Untuk Sahabat


__ADS_3

"Tentu saja, sebab kami adalah satu keluarga," jawab Chen Li sambil tertawa.


Si pemilik toko juga tertawa. Setelah beberapa saat berbincang sebentar, akhirnya Chen Li keluar dari ruangan bersama dengan wanita itu.


Li Meng Li, Yuan Shao dan Moi Xiuhan sampai sekarang belum mengetahui bahwa senjata pusaka yang mereka inginkan sudah dibeli oleh Chen Li.


Mereka berlima berjalan kembali ke luar ruangan. Si pemilik toko tersebut mengantarkan Chen Li dan yang lain hingga sampai ke depan toko.


"Lain kali kalian harus berkunjung lagi kemari. Saat itu tentu aku akan menyiapkan hadiah untuk kalian masing-masing," ucap si pemilik toko tersebut.


"Selama kami masih mendapatkan perlakuan yang sama, tentu saja kami akan kemari lagi," jawab Chen Li sambil tersenyum.


Keempat bocah itu segera berjalan kembali untuk melanjutkan kembali perjalanan mereka.


Tiga rekannya tidak ada yang bertanya Chen Li melakukan apa di ruangan tadi. Hanya saja, sepanjang perjalanan mereka terus membicarakan pengalaman yang baru saja di lihat. Bagi mereka, pengalaman tadi tentunya pengalaman yang sangat mengagumkan.


"Kalau aku bisa membeli Kipas Dewi Sakura, pastinya aku bakal bertambah cantik lagi. Mungkin musuh-musuhku akan terpesona," kata Moi Xiuhan dengan mata berbinar.


Tapi siapapun tahu, di balik perkataan tersebut mengandung harapan besar.


"Tentu saja, apalagi jika kau bertingkah seperti wanita dewasa," kata Yuan Shao sambil tertawa lalu diikuti yang lainnya.


Menjadi seorang bocah memang amat menyenangkan. Mereka tidak akan memikirkan hal-hal yang setidaknya dapat memusingkan kepala.


"Kalau aku minta kepada Ayah atau Kakekku, kira-kira mereka mau membelikan Pedang Phoenix Emas tidak ya?" Yuan Shao bertanya kepada rekan mereka dengan ekspresi yang sukar dijelaskan.


"Kenapa kau tidak mencobanya sendiri?" tanya Li Meng Li.


"Aku sekarang berada di sini, bagaimana mungkin akan mencobanya?"


"Setelah kembali nanti, kau bisa memintanya,"


"Terlalu lama. Mungkin pedang itu sudah dibeli orang lain," jawabnya murung.


"Aku juga sama, Pedang Kembar Bunga Lotus Es sangat indah sekali. Sayangnya baik orang tuaku ataupun Kakek pasti tidak akan mau membelinya secara langsung. Terlebih lagi aku belum berani meminta sesatu kepada mereka. Kata Ayahku, jika sudah waktunya, dia akan memberikan uang banyak tanpa diminta sekali pun. Aii, aku jadi menyesal masuk ke toko tadi," kata gadis kecil itu sambil menggaruk-garuk pipinya yang tidak gatal.


Selama mereka berbicara satu sama lain, Chen Li hanya diam mendengarkan. Dia hanya sesekali ikut bicara dan kadang-kadang tertawa.


Sepertinya ketiga rekan dia benar-benar menginginkan senjata pusaka tadi. Terbukti hingga sekarang saat jaraknya sudah jauh sekalipun, mereka masih membicarakannya.


"Kalau seandainya kalian bisa memiliki senjata itu, apa yang akan kalian lakukan selanjutnya?" tanya Chen Li kepada tiga rekannya.

__ADS_1


"Tentu saja akan kami pergunakan untuk membela kebenaran dan menghabisi musuh," kata mereka secara serentak.


"Ternyata kalian benar-benar kompak," ucap Chen Li sambil tertawa.


Mereka terus melanjutkan perjalanan kembali sambil tetap membicarakan pengalaman barunya.


"Kalau aku membelikan senjata yang kalian suka lalu diberikan kepada kalian, apakah akan percaya?" tanyanya sambil melihat wajah tiga bocah di pinggirnya.


"Tentu saja kami tidak percaya. Aku percaya kau banyak uang, apalagi Ayahmu. Tapi kau bukan Ayahmu, dan kau masih kecil. Lagi pula, mungkin kau tidak akan mau membelinya untuk kami," kata Yuan Shao tertawa lalu diikuti yang lainnya.


Chen Li juga ikut tertawa. Mereka tertawa bersama sepanjang jalan. Setelah tiba di hutan yang sepi, Chen Li berhenti lalu memandangi ketiga rekannya.


"Ini untukmu …" katanya sambil memberikan Kipas Dewi Sakura kepada Moi Xiuhan.


"Ini juga,"


"Ini …"


Chen Li mengibaskan lengannya tiga kali. Seketika keluar tiga senjata pusaka kelas satu yang disukai oleh teman-temannya. Kini tiga senjata itu sudah ada di tangannya masing-masing.


Tiga bocah kecil itu tercengang. Mulut mereka terbuka dan mata mereka melotot tidak percya.


"I-ini?" Yuan Shao tidak dapat melanjutkan perkataannya. Yang lainnya juga sama.


"Sekarang kau percaya bahwa aku akan membelikan senjata itu dan diberikan kepada kalian?"


Chen Li tertawa melihat temannya terpaku.


"Kau sungguh?" tanya Li Meng Li.


"Aku bukan orang yang suka berpura-pura,"


Ketiganya langsung menangis. Air mata mereka segera bercucuran. Mereka menangis, tapi bukan menangis karena berduka. Tapi menangis karena bahagia.


Keempat bocah tersebut segera berpelukan satu sama lain. Tidak ada kata-kata lagi yang bisa keluar dari mulut mereka, selain rasa bahagia dan terimakasih yang tiada kiranya.


"Pakailah senjata itu. Aku membelikannya khusus untuk kalian sahabat-sahabatku," ucap Chen Li sambil tersenyum.


"Kami tidak bisa mengucapkan apa-apa lagi. Yang jelas kami merasa sangat beruntung karena bisa mendapatkan sahabat sepertimu. Suatu saat nanti, kami akan membalas kebaikanmu hari ini," kata Yuan Shi mewakili yang lainnya.


"Kalian tidak perlu sungkan. Aku senang membuat sahabat-sahabatku bahagia. Selama aku mampu, aku akan membantu kalian,"

__ADS_1


"Terimakasih, kami akan mengingat kebaikan ini,"


"Tapi bagaimana kau bisa membeli ini semua? Bukankah harganya sangat mahal?" tanya Moi Xiuhan penasaran.


Chen Li sempat bingung. Tapi kemudian dia mendapatkan akal.


"Aku kan sempat berpetualang beberapa kali bersama Pamanku, meskipun tidak membantunya bertarung," Chen Li tertawa terlebih dahulu sebelum melanjutkan perkataannya. "Dan kami suka menjarah harta musuh,"


"Oh, pantas saja," ucap mereka sambil menganggukkan kepalanya.


"Tapi, kau tidak membeli senjata juga?" tanya Yuan Shao.


"Ini senjataku,"


Chen Li mengibaskan tangannya lalu muncul sebilah pedang berwarna hitam pekat. Hitamnya lebih hitam daripada apapun.


Tidak ada yang istimewa dari senjata itu. Kecuali hanya sarung dan gagang pedang yang berukir batik.


"Ini senjatamu?" tanya tiga bocah itu secara serentak.


"Benar," Chen Li mengangguk.


Mereka ingin bicara kembali, tetapi Chen Li lebih dahulu mendahuluinya.


"Awas!!!" teriaknya.


Chen Li segera menghindar ke pinggir sebelah kanan. Yuan Shao bertindak paling cepat, dia menebas benda yang meluncur cepat ke arahnya.


"Wushh …" sambaran angin terasa menderu seperti badai.


Ternyata Pedang Phoenix Emas langsung dia keluarkan.


"Hehehe, ternyata pilihanku tepat," Yuan Shao tersenyum sangat puas atas senjata barunya.


Tidak lama setelah dia bicara, mendadak muncul dua puluhan orang dari balik semak-semak. Mereka semua memakai pakaian serba hitam dan bercadar.


Golok dan pedang sudah diacungkan. Mereka segera mengurung empat bocah itu.


"Serahkan harta yang kalian bawa! Kalau tidak kami, pastikan kepalamu akan menggelinding," kata seorang mengancam.


"Asal kau mau menjadi bahan percobaan baru kami, rasanya tidak masalah jika harus menyerahkan harta juga," jawab Li Meng Li sambil tersenyum.

__ADS_1


"Hehe, gadis kecil yang pemberani,"


__ADS_2