
Pendekar Tanpa Perasaan sudah melangkah keluar dari restoran besar tersebut. Caranya berjalan masih sama seperti pada saat dia baru masuk. Pandangan para pengunjung kepada dirinya pun masih sama seperti sebelumnya.
Pemuda itu melangkah dengan tenang. Dia mengawasi semua gerak-gerik orang-orang yang di lihatnya.
Sekarang perutnya sudah merasa kenyang. Ternyata harga makanan di lantai lima sangat mahal. Tadi saja dia hampir menghabiskan dua ratus keping perak untuk biasa sekali makan.
Tapi sebagai pemuda yang harta di dalam Cincin Ruangnya berlimpah, baginya jumlah tersebut tiada artinya. Bahkan kalau perlu, dia pun sanggup membeli restoran terbesar itu.
Sepanjang berjalan menyusuri perkotaan, keadaan tampak sama. Semua penghuninya merupakan orang mampu. Berbeda dengan sekarang, saat Chen Li memasuki jalan pedesaan, terlihat di pinggir sepanjang japan terdapat banyak sekali pengemis.
Mulai dari pengemis muda, bahkan sampai pengemis lanjut usia. Semuanya kumplit berada di sini.
Kenapa masyarakat pedesaan berada dalam kekurangan? Kenapa yang berada di posisi mampu hanyalah orang kota saja? Apakah warga pinggiran tidak diperhatikan, atau bagaimana?
Chen Li menghentikan langkahnya saat tiga orang anak kecil menghadang jalannya.
Ketiga bocah kecil itu menyodorkan mangkok yang sudah dekil. Dekil seperti pakaian mereka.
"Kakak yang baik, berilah kami sedikit rezeki. Sudah beberapa hari ini kami belum makan nasi," kata seorang bocah kecil dibagian tengah.
Tubuh bocah itu meskipun sama dekil, namun setidaknya masih mendingan dari pada dua orang rekannya. Tubuhnya tinggi tegap, meskipun hidup dalam serba kekurangan, tapi ternyata bocah tersebut tidak tampak bersedih.
Hebatnya lagi bahkan dia masih bisa tertawa riang gembira.
"Di mana orang tuamu adik kecil?" tanya Chen Li sambil berjongkok menghadap kepada ketiganya.
"Ada di rumah, orang tua kami pun bernasib sama seperti kami,"
"Baiklah, antarkan aku ke sana,"
Si bocah tampak sangat gembira. Dia langsung membawa Pendekar Tanpa Perasaan menuju ke rumahnya.
Ketiga bocah tersebut membawa Chen Li ke kediaman mereka. Setelah melewati jalan berliku-liku cukup jauh, akhirnya mereka segera tiba di sana.
Gerbang yang sudah rusak. Lapuk, cat sudah luntur. Kini terpampang nyata di depan mata.
Deretan rumah yang lebih pantas disebut gubuk berjejer nyata. Di sana sini terdapat banyak sampah berserakan, kecoa dan tikus berlarian ke sana kemari.
__ADS_1
Pemandangan apa ini? Benarkah ini pemandangan sebuah desa miskin dari sebuah kota yang kaya raya? Benarkah ini suatu kenyataan? Bukan mimpi belaka?
Chen Li ingin tidak percaya. Namun dia tetap harus percaya, sebab sekarang dirinya berada di sana. Bahkan saat ini sedang berjalan masuk ke dalam.
Bau apek. Bau amis dan bau busuk tercium jelas menusuk hidung.
Pemuda itu merasa ingin muntah, semua makanan yang telah masuk ke mulutnya ingin keluar kembali. Hanya saja dia mencoba untuk menahannya.
Sementara tiga bocah itu tampak biasa saja. Mereka tidak seperti mencium bau, tidak seperti merasa jijik.
Apakah karena sudah biasa, seseorang bisa menjadi seperti itu?
Setelah beberapa saat kemudian, mereka berempat akhirnya tiba di sebuah gubuk. Di sana ada seorang pria tua dan wanita tua yang sedang duduk menanti kedatangan anaknya.
"Siapa pemuda tampan ini nak?" tanya si pria tua sambil memandangi Chen Li dengan kening berkerut.
"Dia adalah kakak yang baik, dia ingin melihat tempat tinggal kita," jawab si bocah tersenyum.
Chen Li kemudian memperkenalkan dirinya kepada kedua orang tua tersebut. Mereka mulai berbicara layaknya seorang yang sudah lama saling mengenal.
"Berapa banyak warga yang tinggal di sini Paman?" tanyanya kepada pria tua tersebut.
"Di mana yang lain?"
"Mereka ada di rumahnya masing-masing. Semuanya sudah tua, bagi yang tidak sanggup, mereka akan menunggu anaknya pulang dengan harapan membawa sedikit makanan. Kalau yang masih kuat pergi, maka mereka akan pergi meminta-minta atau setidaknya menjadi kuli,"
Hati Chen Li tercekat. Di usia yang sudah sangat tua, ternyata mereka masih harus bekerja keras hanya demi sesuap nasi.
Siapa yang akan tega melihat kejadian ini? Siapa yang sanggup menerima kenyataan seperti ini?
"Apakah rumah kepala desa juga ada di sini?" tanyanya kepada mereka yang ada di sana.
"Ada Kakak Li, rumahnya juga tidak jauh dari sini," jawab salah satu bocah yang mengantarnya ke sana.
"Baik, antarkan aku ke rumahnya,"
Si bocah mengangguk. Setelah meminta izin kepada dua orang itu, mereka kembali pergi untuk menuju ke rumah kepala desa tersebut. Keempatnya berjalan kembali.
__ADS_1
Tiga bocah itu terlihat sangat gembira. Mereka bahagia. Sedikitpun tidak merasakan sedih dengan keadaannya seperti sekarang. Berbeda dengan Chen Li yang banyak memikirkan nasib bocah-bocah tersebut.
Beberapa saat kemudian, keempat orang itu telah tiba di rumah si kepala desa.
Chen Li berpikir bahwa rumah kepala desa itu setidaknya mungkin bakal lebih bagus, siapa sangka, ternyata rumahnya malah lebih jelek. Rumah itu sudah reyot. Atapnya bocor di sana sini.
Seorang pria tua mendadak keluar dari dalam rumah.
"Maaf, adakah yang bisa orang tua ini bantu?" tanyanya dengan sopan.
"Aku hanya ingin bertemu dengan sang kepala desa," ucap Chen Li.
"Aku sendiri orangnya, ada perlu apa saudara mencariku?" tanyanya sedikit ketakutan sambil menatap wajah Chen Li.
"Aku ingin bicara denganmu,"
Chen Li kemudian memandang tiga bocah tadi, dia segera menyuruh mereka untuk pergi sebentar. Sontak ketiganya langsung pergi dari sana.
Keduanya sekarang sedang duduk di tempat seadanya. Chen Li berusaha untuk tidak mual, dia berusaha menikmati keadaan di sana.
"Paman, kenapa desa ini jauh berbeda dengan Kota Qinghai? Kenapa desa ini begitu miskin?"
"Haishh, ceritanya panjang anak muda. Intinya, yang jahat bukan pemerintah, tapi ada satu organisasi yang selalu merebut keuangan untuk membangun desa kami. Mereka merebut semuanya tanpa memberikan sisa sedikitpun," katanya dengan nada sedih.
Chen Li bertanya-tanya dalam hatinya, organisasi? Organisasi mana yang dimaksudkan oleh kepala desa itu?
"Apakah Organisasi Elang Hitam?" tanyanya tidak karuan.
Si kepala desa tidak berani menjawab. Tapi kepalanya mengangguk sedikit.
Pemuda itu langsung mengepal tangan. Tanpa diberitahu pun, dia sudah mengerti maksudnya.
"Aku tidak bisa berlama-lama di sini, tapi aku punya sedikit uang untuk merenovasi desa ini. Ini, gunakan semua yang ada di dalamnya untuk memperbaiki keadaan di sini," ujar Chen Li sambil mengeluarkan Cincin Ruang hasil pemberian para tokoh pada saat di gedung Hong Hua beberapa tahun lalu.
Hasil dari pemberian para tokoh itu diberikan semuanya kepada si kepala desa. Meskipun jumlah tersebut sangat banyak, tapi bagi Chen Li, jumlah itu belum seberapa.
Orang tua itu ingin menolak pemberian Chen Li, apalagi pemuda tersebut memberi tanpa alasan pasti. Hanya saja karena Chen Li tetap memaksa, akhirnya dia pun menerimanya.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu. Terimakasih anak muda, semoga langit dan para Dewa selalu memberkatimu," katanya dengan kedua pipi basah oleh air mata karena saking terharunya.