
Wutt!!! Crashh!!!
Delapan orang penjaga gerbang pintu masuk Organisasi Elang Hitam telah mampus hanya dalam sekejap mata. Mereka tewas secara bersamaan. Waktu yang sama, luka yang sama pula.
Kepala mereka hampir buntung. Darah masih mengucur membasahi lantai. Orang-orang itu ambruk dalam posisi beragam.
Niat mereka ingin melancarkan serangan ternyata harus sirna sebelum tercapai. Sebab pada saat niat tadi muncul, delapan batang pedang energi pun tiba-tiba muncul dan langsung menggorok lehernya masing-masing.
Pendekar Tanpa Perasaan mulai terlihat angkuh kembali. Pemuda itu berdiri di tengah udara. Jubah putihnya masih berkibar. Semangat dalam didinya bertambah berkobar.
Wushh!!!
Chen Li melesat kembali. Niatnya kemari untuk melihat situasi dan kondisi. Hal seperti ini menjadi modal utama sebelum melakukan sebuah pergerakan. Sebelum melakukan sesuatu, minimal kau sudah tahu apa saja yang harus disiapkan.
Begitu juga dengan Chen Li. Sebelum dia melancarkan aksinya, pemuda itu memilih untuk mengetahui semua yang bersangkutan lebih dulu.
Bayangan putih terbang dengan cepat. Bayangan itu mengelilingi seluruh wilayah markas pusat Organisasi Elang Hitam. Tanpa halangan, tanpa rintangan, Pendekar Tanpa Perasaan terus menyelidiki keadaan di sana.
Awalnya, semua rencana memang berjalan dengan lancar. Namun pada saat dia akan kembali karena sudah merasa cukup, mendadak semuanya berubah.
Sepuluh orang berjubah hitam telah menghalangi dirinya dalam jarak beberapa tombak. Meskipun mereka menghalangi jalan di bawah sana, tapi pemuda itu tahu bahwa orang-orang tersebut telah siap melancarkan serangan kapanpun itu.
Mau tidak mau Pendekar Tanpa Perasaan harus turun ke bawah. Gerakannya amat cekatan dan lincah. Mirip seekor burung rajawali yang menukik untuk menyambar mangsanya.
Pendekar Tanpa Perasaan turun di tempat semula karena sepuluh orang tadi memang mencegatnya di sana.
"Siapa kau?" tanya salah seorang dari mereka.
Suaranya bengis. Sebengis wajahnya. Kumis dan janggutnya putih tebal. Sepasang matanya mencorong tajam. Di kedua tangannya telah ada dua batang pedang yang gemerlapan karena saling tajamnya.
"Pendekar Tanpa Perasaan …" jawab Chen Li tanpa berbohong.
"Mau apa kau kemari?"
"Apapun yang aku lakukan, hal itu bukan urusan kalian,"
Suaranya mulai dingin. Wajahnya juga semakin dingin. Wajah itu tidak memperlihatkan suatu ekspresi apapun. Wajah itu tampak kaku, bahkan sedikit pucat seperti halnya mayat.
__ADS_1
"Tentu saja urusan kami. Karena kami ditugaskan untuk menjaga keamanan di sekitar sini," jawab orang tua itu dalam suara yang sama.
"Terserah tugas kalian apa, aku tidak peduli sama sekali. Sekarang lebih baik menyingkir sebelum aku bertindak kasar,"
"Kami tidak akan menyingkir," jawab tegas orang lainnya. Dia langsung maju dua langkah ke depan.
"Kalau begitu kalian ingin mampus,"
"Kalau memang kau sanggup, lakukan …"
Sebelum orang yang bicara itu menyelesaikan perkataannya, sebatang pedang merah darah telah menusuk telak tenggorokannya.
Pedang Merah Darah sudah menunjukkan taringnya. Pendekar Tanpa Perasaan telah memperlihatkan kemampuannya.
Kalau sudah seperti itu, siapa yang dapat menahannya?
Suasana langsung dicekam oleh keheningan. Hawa kematian tiba-tiba terasa sangat kental. Semua orang membungkam mulutnya masing-masing. Satu orang pun tidak ada yang berani membuka suara.
Mereka masih terpana dengan apa yang baru saja terjadi di depan matanya. Apakah itu nyata? Atau hanya mimpi belaka?
Untuk diketahui, mereka semua merupakan seorang Pendekar Dewa tahap satu akhir. Tahapan itu sudah terhitung tinggi. Tidak mudah bagi seseorang jika ingin membunuhnya.
Kalau tidak melihat secara langsung, niscaya orang-orang itu tidak akan ada yang percaya.
"Apakah di antara kalian masih ada yang menganggap bahwa ucapanku hanya omong kosong saja?" tanya Pendekar Tanpa Perasaan kepada sembilan orang berjubah hitam tersebut.
Mereka semua saling pandang. Sampai detik ini, di antara mereka masih belum ada yang berani membuka suara.
"Kalau kalian ingin hidup, segera menyingkir sekarang juga," tegas Chen Li sambil membentak.
"Mulutmu terlalu tajam. Meskipun rekanku bisa kau bunuh, tapi belum tentu hal itu berlaku bagi kami," teriak orang tua yang tadi bicara pertama kali.
Wushh!!! Wushh!!!
Selesai dia berkata, mereka lantas melompat ke depan untuk memberikan serangan kepada Pendekar Tanpa Perasaan.
Sembilan sinar dari senjata tajam masing-masing tokoh tersebut sudah gemerlapan seperti bianglala. Beberapa tusukan dan puluhan tebasan langsung dilancarkan secara serempak.
__ADS_1
Semuanya serangan berbahaya. Salah langkah sedikit, niscaya nyawa melayang.
Chen Li tidak tinggal diam. Dia tahu bahwa sekarang bukan waktu yang tepat untuk dirinya turun tangan. Kehadirannya saat ini jangan sampai diketahui oleh orang-orang Organisasi Elang Hitam lainnya.
Oleh sebab itulah dia berniat untuk menghabisi nyawa mereka secepat mungkin. Semuanya harus mampus di ujung Pedang Merah Darah. Tujuannya hanya satu. Yaitu agar tidak ada orang lain yang mengetahui kejadian di malam ini.
Wushh!!!
Pendekar Tanpa Perasaan melompat ke atas sambil melancarkan serangan sekaligus tangkisan untuk semua lawannya.
Jurus Pedang Sang Dewa langsung dikeluarkan.
Setelah kemampuannya mencapai puncak kesempurnaan, Chen Li selalu mengandalkan jurus dahsyat tersebut. Sebab dengan jurus itu dia dapat menghabisi semua lawannya hanya dalam waktu singkat.
Cahaya merah tampak terang seperti sinar mentari di pagi hari. Datangnya sinar itu sangat cepat, saking cepatnya sehingga siapapun tidak akan ada yang dapat melihatnya dengan jelas.
Sekali bergerak, tiga teriakan tertahan langsung berkumandang di udara. Tiga orang lawannya mampus saat itu juga. Mereka tewas sebelum serangannya mencapai target.
Darah menyembur deras ke segala arah. Hanya satu kali gerakan, tiga dari sembilan orang lawan Pendekar Tanpa Perasaan telah menemui ajal.
Enam orang yang tersisa sudah berfokus. Mereka tidak menghiraukan kematian tiga rekannya, keenamnya terus melancarkan beberapa serangan dahsyat dan jurus-jurus yang berbahaya ke arah pemuda bernama Chen Li itu.
Setiap serangan dilancarkan dengan segenap kemampuan dan keyakinan yang mencapai titik maksimal.
Namun sayangnya kenyataan berkata lain. Semua serangan dan semua jurus yang mereka layangkan tidak ada yang dapat mengenai tubuh Pendekar Tanpa Perasaan.
Seolah apa yang mereka lakukan hanya sia-sia semata.
Belum sempat melancarkan serangan lainnya lagi, pemuda serba putih itu sudah bergerak kembali.
Pedang Merah Darah mendadak bercahaya. Selanjutnya dari pedang itu keluar asap merah yang cukup pekat.
Wushh!!!
Tubuhnya menghampiri orang-orang itu. Tebasan dan tusukan mulai dilancarkan dengan kecepatan tinggi. Jurus pedang terhebat di muka bumi sudah keluar, kalau manusia setengah Dewa saja hampir kewalahan pada saat menghadapi jurus itu, lantas bagaimana jadinya jika Pendekar Dewa tahap satu yang harus menghadapinya?
Wuttt!!! Slebb!!! Slebb!!! Crashh!!!
__ADS_1
Satu orang, dua orang, tiga orang seketika mampus hanya dalam sekejap mata. Semuanya terjadi dalam sekilas. Darah belum kering, tapi pedang itu sudah kembali menelan korban.