Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Keterkejutan Para Tetua


__ADS_3

Semua orang yang ada di ruangan para tetua merasa terkejut setengah mati. Mereka tidak tahu kapan dan bagaimana caranya bocah itu bisa mengendalikan kekuatan istimewa tersebut. Semua orang terbengong. Mereka masih mencoba meyakinkan atas apa yang dirasakan saat ini.


"Ah, benar. Aku baru ingat sekarang, kekuatan ini memang sangat mirip saat Li'er dikendalikan oleh Mata Dewa saat beberapa waktu lalu," kata Tetua Lin Zong He yang baru menyadari atas apa yang sedang terjadi.


"Benar, aku juga baru ingat," ujar Tetua Lu Xiang Chuan.


Kini semua orang sudah tahu kekuatan apa yang Chen Li keluarkan.


Yang sekarang menjadi pertanyaan, bagaimana bocah itu bisa menguasai kekuatan dahsyat tersebut di usianya yang masih kecil? Padahal semua orang juga tahu bahwa kekuatan yang terkandung di dalam Mata Dewa, bukanlah main-main.


Mereka melirik Huang Taiji Lu secara bersamaan. Tidak ada yang bicara. Tetapi mata mereka seolah bicara "apa yang sudah kau lakukan kepada Li'er?"


Melihat semua orang memandangnya, Huang Taiji merasa sedikit rikuh juga. Pada akhirnya pun berkata, "Baiklah. Aku akan menceritakan apa yang sudah terjadi,"


"Silahkan," jawab Yun Mei yang juga penasaran.


"Adik Yun, apakah kau masih ingat saat aku meminta Chen Li untuk pergi denganku ketika tengah malam?" tanya Huang Taiji.


"Tentu masih ingat Kakak Huang,"


"Nah saat itu kami berdua sebenarnya pergi ke Hutan Awan. Lebih tepatnya menuju ke air terjun yang ada di sana. Pertama aku memberikan Li'er Pil Lingkaran Dewa dan Pil Penghancur Sumsum Tulang,"


"Tunggu, dari mana Kakak Huang mendapatkan dua pil yang sudah sangat langka itu?" tanya Yun Mei keheranan yang dibetulkan juga oleh para tetua lainnya.


"Aku mendapatkan dua pil itu dari seseorang beberapa waktu lalu,"


"Baiklah, lanjutkan,"


"Nah setelah itu aku menyalurkan hawa murni untuk mengurangi rasa sakit yang di alami oleh Li'er. Tetapi tidak aku sangka sebelumnya saat dia semakin tidak tahan, justru kekuatan Mata Dewa muncul. Li'er langsung tidak sadarkan diri. Bahkan kami sempat bertarung. Aku sendiri kebingungan karena takut melukai Li'er, untunglah aku punya cara sehingga dia tidak terluka. Setelah itu, aku berusaha untuk membantu Li'er mengendalikan kekuatan tersebut melalui saluran tenaga dalam. Hingga akhirnya Li'er berhasil mengendalikan salah satu kekuatan dari Mata Dewa," kata Huang Taiji Lu menceritakan kejadiannya sambil berbohong sedikit.


Sebab tidak mungkin juga dia menceritakan kejadian sebenarnya. Bisa-bisa rahasia siapa dirinya akan terbongkar.


Semua orang mengangguk. Walaupun mereka tidak mengerti sepenuhnya, tetapi mereka tetap percaya. Toh memang sekarang Chen Li sudah bisa mengendalikannya.

__ADS_1


"Apakah lima unsur dari Mata Dewa berhasil dikuasai?"


"Belum semua. Baru satu unsur saja," kata Huang Taiji.


"Unsur apa?"


"Bumi, Li'er baru berhasil mengendalikan kekuatan dari Mata Dewa Unsur Bumi," ujar Huang Taiji lalu menenggak arak yang ada di meja.


"Luar biasa. Entah bagaimana cara pastinya Tetua Huang bisa membantu Li'er mengendalikan Mata Dewa, yang jelas bagi kami semua, kau sungguh hebat sekali," kata Lin Zong He memuji Huang Taiji Lu yang mendapat persetujuan dari tetua lainnya.


"Terimakasih atas pujian para tetua sekalian. Tetapi yang jelas, ini semua berkat kegigihan dan kerja keras Li'er juga. Aku hanya sekedar membantu saja," jawabnya merendah.


Mereka terus bicara terkait beberapa hal hingga hampir malam. Karena merasa lelah, maka Chen Li memilih untuk kembali lebih dulu ke kediamannya.


"Baiklah Li'er, kau duluan saja. Sebentar lagi Ibu akan menyusulmu," kata Yun Mei sambil mengelus kepala anaknya tersebut.


Chen Li langsung pergi keluar ruangan untuk menuju ke kediamanya. Jarak antara sekte ke kediaman khusus Shin Shui lumayan jauh. Mungkin berjarak sekitar dua ratus meter lebih, tetapi dalam sebentar saja Chen Li sudah tiba di sana. Sebab dia menggunakan ilmu meringankan tubuh.


Eng Kiam mendadak menghentikan latihannya begitu melihat Chen Li sedang melihat dia dari jauh.


"Tuan Muda, kau sudah pulang?" tanyanya sambil berjalan menghampiri.


"Sudah Kakak Kiam. Kenapa kau masih saja latihan? Kan ini sudah malam hari, besok lagi kan bisa,"


"Aku ingin berlatih keras supaya saat Kakek menjemputku dia akan kaget karena pencapaian yang sudah aku raih," ucapnya.


Mereka berdua segera duduk di bawah pohon sakura. Suasana terang bulan. Bintang gemerlap di atas sana. Angin bertiup lembut menebarkan harum wangi dari bunga-bunga mekar.


"Kakak Kiam, kalau Kakek Tua Jubah Hitam menjemputmu, apakah kau akan pergi dari sini?" tanya Chen Li tiba-tiba.


"Tentu saja Tuan Muda,"


"Jadi kita akan berpisah lagi?"

__ADS_1


Entah kenapa, Chen Lo merasa tidak ingin berpisah dengan gadis kecil itu. Dia sudah menganggap Eng Kiam sebagai kakaknya sendiri. Selama ini, Eng Kiam selalu menemaninya berlatih, menemaninya bermain. Bahkan terkadang suka melayaninya dengan baik.


Di Sekte Bukit Halilintar, hanya Eng Kiam lah bocah yang sangat dekat dengan Chen Li. Sedangkan para murid sekte, tidak ada satupun yang hubungannya begitu dekat seperti dirinya dengan Eng Kiam. Mungkin karena statusnya sebagai anak Kepala Tetua Sekte Bukit Halilintar, sehingga para murid sedikit canggung jika bergaul dengannya.


Padahal baik Shin Shui maupun Yun Mei sudah sering berkata jika ingin bermain dengan anaknya silahkan saja, namun tetap para murid itu merasa canggung. Mungkin karena mereka takut menyinggungnya.


"Begitulah Tuan Muda. Tetapi kalau ada kesempatan, aku dan Kakek pasti akan berkunjung lagi kemari. Kau jangan khawatir," jawab Eng Kiam.


"Hemm, nanti kalau Kakak Kiam pergi, Li'er bakal sendiri lagi,"


"Kan murid-murid sekte sangat banyak Tuan Muda,"


"Memang banyak. Tapi tidak ada yang sepertimu,"


"Hahhh …" Yun Mei menghela nafas berat. "Kalau ada kesempatan, kita pasti akan bertemu lagi,"


"Baiklah kalau begitu. Mungkin nanti aku yang akan berkunjung padamu," kata Chen Li.


Mereka bercerita. Bercanda tawa bersama sambil memandangi langit yang indah dengan segala yang ada.


Chen Li sangat menyukai suasana seperti ini. Dia senang memandangi rembulan dan bintang. Walaupun matanya memang tertutup, tetapi dia dapat melihat semuanya dengan jelas.


Sebelum ada Eng Kiam, dia selalu memandangi rembulan dan bintang biasanya bersama ayah ataupun ibunya. Bahkan kadang-kadang dia memandanginya sendiri.


Entah kenapa, selalu ada perasaan tersendiri dalam hatinya.


Malam semakin larut. Chen Li dan Eng Kiam memutuskan untuk segera beristirahat. Mereka berjalan bersama sambil bergandengan tangan.


Perasaan sayang antara kakak dan adik ataupun antara sahabat, sudah melekat dalam hati kedua bocah kecil itu.


###


Yang ngga like, jangan lupa likenya yaa😆

__ADS_1


__ADS_2