
Tiga tahun telah berlalu …
Tanpa terasa waktu berjalan dengan sangat cepat sekali. Terkadang kalau kita tidak menunggu, waktu terasa cepat seperti anak panah yang meluncur deras. Namun jika kita menunggu, waktu itu terasa berjalan sangat lambat. Lebih lambat dari siput berjalan, lebih lambat dari apapun.
Apakah semuanya seperti itu? Kalau ditunggu terasa lambat, kalau tidak ditunggu terasa cepat?
Chen Li telah tumbuh menjadi seorang pemuda dewasa yang tampan dan gagah berani. Wajahnya menggambarkan ketampanan Shin Shui dan kecantikan Yun Mei. Wajah itu ibarat perpaduan antara Pangeran dan seorang Dewi.
Kalau keduanya di satukan, adakah yang bisa membayangkan bagaimana kesempurnaannya?
Meskipun wajahnya berubah menjadi bertambah tampan, namun sifanya masih sama. Dalam beberapa hal, wajah itu pun kadang masih sama.
Masih dingin. Masih kejam. Dan masih misterius.
Walaupun postur tubuhnya telah berubah, tapi sifatnya tidak berubah.
Hanya tinggal satu tahapan lagi, Chen Li akan mencapai puncak kesempurnaan dalam pencapaian ilmunya. Tinggal berdamai dengan diri, tinggal bersatu dengan hati. Kalau semuanya sudah berhasil dia lewati, maka pemuda itu bakal berubah menjadi manusia langkah dari yang terlangka.
Dia akan berubah menjadi manusia di atas rata-rata. Apalagi jika dikaitkan dengan segala keistimewaannya. Chen Li seolah-olah akan menjadi manusia setengah Dewa. Atau menjadi Dewa di antara para manusia.
Selama tiga tahun berlatih di bawah bimbingan Dewa Lima Unsur, pemuda itu digembleng dengan sangat keras. Latihan yang dia jalankan jauh diluar dugaan siapapun. Meskipun Dewa Lima Unsur tampak kalem, namun kalau dia sedang melatih Chen Li, maka sosoknya akan berubah drastis.
Wajah kalem itu akan berubah menjadi wajah yang sangar. Wajah yang menyeramkan. Sangat berwibawa sekali.
Selama tiga tahun, pemuda itu digembleng lahir batin. Bagaimana kerasnya latihan pemuda itu selama tiga tahun belakangan ini, rasanya sangat sulit untuk dibayangkan. Yang jelas, apa yang dia lakukan, jauh diluar nalar manusia.
Kekuatan yang diwariskan para Dewa lewat sepasang matanya telah terbuka semuanya. Kekuatan Mata Dewa telah terbuka sempurna. Lima elemen yang ada di alam semesta sudah berhasil dia kuasai sepenuhnya.
Kalau dulu saat masih terbuka dua elemen saja kekuatannya sudah dahsyat, lalu bagimana dahsyatnya jika lima elemen itu sudah terbuka semuanya?
Siapapun tidak akan ada yang dapat membayangkannya. Bahkan Chen Li sendiri belum tahu pasti. Karena selama ini, dia belum pernah mencobanya. Sekalipun belum pernah.
Pemuda itu hanya merasakan sesuatu yang belum pernah dirasakan sebelumnya.
__ADS_1
Saat ini hari masih pagi. Dewa Lima Unsur, Huang Taiji dan Chen Li sedang berdiri di sisi padang rumput yang cukup luas. Saat ini Dewa Lima Unsur ingin menguji hasil dari latihan pemuda itu.
Sosok agung tersebut ingin mengetahui sampai di mana kemajuan yang diperoleh oleh Chen Li.
"Li'er, kau sudah berhasil melewati semua ujian yang aku berikan. Sekarang aku hanya tinggal melihat bagaimana keberhasilanmu. Bersiaplah," ucap Dewa Lima Unsur dengan lembut.
"Baik guru. Li'er siap menjalankan semua perintah guru," jawab pemuda itu penuh hormat.
Huang Taiji mengangguk. Dia sudah lama menantikan saat-saat seperti ini.
"Jangan mengecewakan Paman," katanya sambil berbisik kepada Chen Li.
"Baik Paman," jawabnya lembut.
Sampai sekarang, pemuda itu belum mengetahui siapa Huang Taiji yang sesungguhnya. Dia hanya tahu bahwa orang tua itu adalah manusia satu-satunya yang menyayangi dirinya hingga saat ini.
Dewa Lima Unsur maju sepuluh langkah ke depan. Kedua lengannya bergerak sedemikian rupa. Gerakannya sangat anggun, sangat perlahan, sedikitpun tidak memperlihatkan sesuatu yang istimewa kecuali keagungan yang selalu keluar dari tubuhnya.
Pemuda itu menanti. Sepasang matanya yang sudah sempurna memperhatikan dibalik topeng putih yang menutupi sebagian wajahnya. Dia berdiri dengan tenang. Tubuhnya kokoh bagaikan sebatang tombak yang ditancapkan hingga ke dasar bumi.
Setelah beberapa saat kemudian, tiga cahaya menyilaukan itu mendadak lenyap lalu digantikan dengan tiga sosok yang sudah berdiri dengan tegak. Warna pakaian mereka berbeda. Yang satu merah, satu hitam dan satu lagi biru. Tiga sosok itu berpenampilan seperti seorang pendekar.
Pendekar kelas atas yang mempunyai kekuatan yang sulit dibayangkan. Dari masing-masing tiga sosok tersebut keluar kekuatan aneh yang sangat menekan. Kekuatan itu berbeda dari kekuatan para manusia.
Di masing-masing punggung sosok tersebut ada sepasang sayap. Setiap sosok mempunyai sayap yang sesuai dengan warna pakaiannya.
Di masing-masing tangan kanannya telah tergenggam sebatang senjata pusaka. Yang satu pedang, satu tombak, dan satu lagi tongkat baja.
Semuan senjata itu adalah pusaka sakti yang tiada bandingannya di dunia ini.
"Nah Li'er, cobalah kalahkan mereka bertiga. Ketiganya adalah Bayangan Tiga Warna. Mereka merupakan makhluk ciptaanku. Kalau di dunia manusia, kekuatannya mungkin setara dengan Pendekar Dewa tahap tujuh awal. Sekarang mereka telah siap untuk melayanimu. Kalau sampai mereka menghilang dari pandangan, itu artinya kau keluar sebagai pemenang," kata Dewa Lima Unsur menjelaskan kepada Chen Li.
Chen Li terpaku sesaat. Meskipun Dewa Lima Unsur dan Huang Taiji telah mengatakan bahwa dia telah mencapai tahap kesempurnaan, namun pemuda itu belum mengetahui secara pasti sampai di mana kemampuan yang sesungguhnya.
__ADS_1
Hatinua tergetar. Bagaimanapun juga, dia masih merupakan manusia. Selaku manusia, hal itu tentunya wajar saja.
"Baik guru. Li'er mengerti,"
"Bagus. Kalau begitu silahkan segera dimulai," kata sosok agung itu.
Entah bagaimana caranya, tiba-tiba Dewa Lima Unsur sudah berada jauh di pinggir padang rumput tersebut. Begitu juga dengan Huang Taiji.
Pendekar Tanpa Perasaan tidak mengetahui kapan keduanya berpindah tempat. Tapi meskipun hatinya diliputi tanda tanya, namun dia tidak ingin menanyakannya.
Chen Li segera ingat bahwa dirinya sekarang akan melangsungkan sebuah pertarungan. Pertarungan dahsyat yang belum pernah dia bayangkan sebelumnya.
Kalau mau melakukan sesuatu, setidaknya kau harus konsentrasi. Apalagi sesuatu itu sesuatu besar. Sesuatu yang berhubungan dengan mati hidupnya dirimu.
Karena itulah Chen Li meningkatkan konsentrasinya hingga ke titik paling tinggi. Di balik topeng putih itu, sepasang matanya menatap tajam kepada tiga sosok yang disebut sebagai Bayangan Tiga Warna tersebut.
Pedang Merah Darah telah digenggam di tangan kiri. Seruling Dewa pun telah dipegang erat di tangan kanannya.
Jubah putihnya melambai-lambai tertiup oleh angin pagi. Rambut panjangnya yang merumbai bergerak indah karena tiupan angin itu.
Wajahnya mulai dingin. Tatapan matanya mulai terlihat tanpa perasaan.
Kalau sudah seperti ini, berarti Chen Li sudah siap untuk melangsungkan pertarungan yang amat dahsyat tersebut.
Wushh!!!
Angin mendadak berhembus lebih kencang. Angin itu membawa hawa dingin. Hawa panas. Dan yang pasti, hawa kematian.
Tiga serangan yang sangat cepat datang menerjang Pendekar Tanpa Perasaan dari tiga arah berbeda.
###
Note: Waktu latihannya sengaja dipercepat ya. Bukan karena apa, biar ga terlalu lama dan monoton wkwk. Makanya ngga terlalu detail di ceritakan. Mungkin nanti di perjalanan saat menjelaskan sesuatu bakal diceritakan dikit2.
__ADS_1