Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Tujuh Perampok Berhati Emas


__ADS_3

"Manusia memang mempunyai seribu akal untuk melancarkan rencananya," gumam Shin Shui sambil menggelengkan kepalanya.


Dia duduk kembali.


Menegak guci arak lalu makan daging yang masih tersisa.


Walaupun masalah besar sedang dia hadapi saat ini, Shin Shui tidak mau ambil pusing. Dia memilih untuk tetap tenang dan santai menghadapinya.


Dia tidak mau menjadi orang yang tak menikmati hidup.


Bagaimanapun caranya, Shin Shui harus bisa menikmati hidupnya.


Banyak orang yang mampu bertahan hidup dalam segala situasi dan kondisi. Tapi bukan itu yang jadi masalahnya.


Yang menjadi pertanyaannya justru seberapa banyak orang yang dapat menikmati hidup?


Bertahan hidup semua orang pasti bisa.


Tapi menikmati hidup, belum tentu setiap orang bisa.


Karena pada hakikatnya, menikmati hidup lebih susah jika dibandingkan dengan bertahan hidup.


Menikmati hidup sudah pasti mampu bertahan hidup. Sedangkan bertahan hidup belum pasti bisa menikmati hidup.


Setelah selesai minum arak, Shin Shui langsung naik ke atas memasuki kamar untuk pergi beristirahat. Dia tidak memikirkan Jiu Reen yang jelas sudah mencari masalah dengannya secara diam-diam.


Hanya dalam hitungan menit, Shin Shui telah tertidur lelap karena merasa sangat lelah setelah melakukan perjalanan jauh.


Sore harinya, dia bangun dan merasa tubuhnya jauh lebih segar dari pada sebelum tidur. Dia lalu membersihkan diri.


Tubuh sudah jauh lebih segar, membersihkan diri juga sudah. Kalau semuanya sudah siap, maka sekarang waktunya untuk bergerak memulai langkah pertama.


Dia menuruni tangga lalu pergi keluar bersama dengan orang-orang yang berdesakan.


Tujuan pertama kali ini adalah mencari Jiu Reen. Dia sudah tahu di mana orang itu berada. Karena setelah diingat kembali, ada ciri-ciri di beberapa bagian tubuh yang menjelaskan bahwa sosok Jiu Reen, adalah sosok yang cukup berpengaruh di kota Sokhia ini.


Saat ini Shin Shui telah tiba di pinggir sebuah danau di tengah kota. Danau yang tenang dengan airnya yang jernih. Di sana juga banyak para pelancong dari daerah lainnya.


Shin Shui menikmati pemandangan yang ada untuk beberapa saat. Di tengah danau tersebut ada sebuah hutan yang katanya sangat jarang di kunjungi oleh orang.


Bahkan para pelancong sendiri tidak ada yang berani ke sana. Karena sudah beredar kabar bahwa di hutan tersebut ada kawanan siluman ganas yang menjadi penunggunya.


Tapi Shin Shui tidak menghiraukan semua kabar tersebut.

__ADS_1


Karena dia sudah tahu yang sebenarnya.


Di saat suasana di pinggir danau mulai sepi, Shin Shui langsung bergerak sangat cepat. Kakinya menjejak pohon sebelum meluncur deras ke tengah danau.


Di terbang secepat angin. Hanya dalam hitungan detik, Pendekar Halilintar telah tiba di hutan tengah danau.


Hutan tersebut merupakan hutan yang cukup luas. Berbagai macam tumbuhan terdapat di sini.


Shin Shui mulai berjalan menyusuri hutan itu. Dia melangkah tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Bagi seorang pendekar sepertinya, berjalan tanpa menimbulkan suara, bukanlah hal yang sulit.


Belum lagi sampai ke dalam, sudah terdengar suara orang yang menggema memenuhi seisi hutan.


"Siapa yang telah berani masuk ke hutan ini?"


Suaranya ada, tapi orangnya tidak ada. Hal seperti ini hanya dapat dilakukan oleh mereka yang merupakan pendekar kelas atas.


Shin Shui tidak menjawabnya. Dia memasuki hutan lebih dalam lagi.


Secara tiba-tiba, ada sepuluh ekor siluman serigala berbulu hijau menyerang dirinya secara serempak.


Tak ada angin, tak ada hujan. Sepuluh siluman sudah menerjang ke arah Pendekar Halilintar.


Shin Shui sudah menyadari lebih dahulu situasi seperti ini. Karena itu, dia tidak terkejut.


Akibatnya, kawanan siluman serigala tersebut terpental ke segala arah.


Tidak ada yang mati di antara mereka. Karena memang Shin Shui tidak berniat untuk membunuhnya.


"Kurang ajar, berani sekali kau menyerang peliharaanku," suara yang tadi terdengar kembali.


Bedanya, kali ini bukan hanya suaranya saja yang terdengar. Melainkan si pemilik suaranya juga langsung menampakkan diri.


Jiu Reen.


Pria yang Shin Shui temui tadi pagi di restoran. Bahkan sempat makan dan minum arak bersama.


Shin Shui tidak kaget. Justru Jiu Reen yang terkejut setengah mati.


"Ka-kau … Li Feng, kenapa kau kemari?" tanyanya kaget.


Sungguh, dia tidak menyangka sama sekali bahwa "sahabat barunya" mengetahui bahwa dia tinggal di hutan ini.


Shin Shui tersenyum. Senyuman yang lembut dan penuh persahabatan.

__ADS_1


"Tenanglah. Kau jangan seperti itu, aku sudah tahu siapa dirimu," kata Shin Shui sambil berjalan mendekati Jiu Reen.


Orang yang di ajaknya bicara masih kebingungan. Dia tidak mengerti bagaimana orang asing tersebut bisa mengetahui siapa dia sebenarnya.


Namun karena Shin Shui tidak bermaksud buruk, maka Jiu Reen mau tidak mau harus menyambutnya.


"Baiklah, mari kita bicara di dalam saja," ajaknya sambil merangkul Shin Shui.


Keduanya masuk ke dalam hutan. Ternyata di sana terdapat dua buah bangunan tua yang lumayan besar. Tapi bukan terbuat dari tembok yang sering kali terlihat megah.


Dua bangunan itu justru terbuat dari kayu yang keras dan sangat kuat. Shin Shui di ajak masuk ke dalam salah satu bangunan.


Ternyata di saja juga ada orang lain. Jumlah mereka ada enam, tujuh kalau dihitung dengan Jiu Reen sendiri.


Mereka juga terkejut, tapi Jiu Reen segera menyuruhnya agar tetap tenang. Setelah mereka duduk bersama, barulau Jiu Reen memulai pembicaraan.


"Bagaimana kau tahu kalau aku tinggal di sini?" tanya Jiu Reen.


"Itu tidak penting. Yang harus kau tanyakan adalah bagaimana aku bisa mengetahui dirimu," kata Shin Shui.


"Benar juga, jadi bagaimana kau tahu?"


"Karena aku tahu siapa dirimu sebenarnya. Selain itu, ada tanda-tanda yang aku kenali dalam dirimu,"


"Benarkah?"


"Tentu. Bukankah kalian ini Tujuh Perampok Berhati Emas?" tanya Shin Shui sambil menatap mereka satu persatu.


"Ka-kau, siapa kau sebenarnya dan bagaimana bisa langsung tahu tanpa melakukan kesalahan?"


Jiu Reen masih kebingungan. Sebab seumur hidupnya, dia baru di buat seperti ini oleh seseorang. Apalagi orang asing.


"Itu mudah saja, aku bisa melihat dari sorot mata kalian yang saling berhubungan satu sama lain. Selain itu, rasanya aneh juga kalau kau ingin duduk bersamaku jika tidak ada tujuan lain. Kau bilang meja makan penuh, buktinya saat itu masih ada yang kosong. Ternyata, kalian memang sudah mengatur rencana. Enam orang rekanmu pura-pura bertengkar untuk membuat ricuh suasana. Pada saat itu, kau diam-diam mengambil satu kantong keping emas dari saku bajuku. Setelah rencana berhasil, enam orang temanmu langsung pergi lalu tak lama kau menyusul mereka. Kalau di pikir lagi, bukankah apa yang kau lakukan itu sangat ganjil dan mudah dibongkar?" kata Shin Shui menjelaskan panjang lebar tentang bagaimana dia dapat mengetahui sosok Jiu Reen.


###


Note: Kalau tidak membaca dari awal, maka bakal susah mengerti. Sebab seperti yang sudah dijelaskan, alur di sini lebih mirip wuxia. Penuh dengan intrik, kejutan dan misteri. Hal tak terduga juga bakal ada.


Kalau kalian pernah baca karya Suhu Khu Lung, mungkin kalian akan paham.


Untuk MC, sudah author jelaskan bahwa pada awalnya MC masih dua, Shin Shui dan Chen Li anaknya. Jika perang besar selesai, barulah Chen Li akan menjadi MC.


Semoga tidak ada yang bosan ya …

__ADS_1


__ADS_2