Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Tewasnya Xhiang Yu si Pedang Lima Nyawa


__ADS_3

Pendekar Tanpa Perasaan tidak memberikan reaksi apa-apa kecuali hanya melemparkan sebuah senyuman dingin. Wajahnya bertambah dingin. Begitu juga hawa di sekelilingnya.


"Siapa nama Tuan?" tanya Chen Li kembali melirik kepada guru besar Perguruan Tapak Sakti tersebut.


"Namaku Wan Jie, Tuan sendiri siapa namanya?"


"Nanti kau akan tahu sendiri. Sekarang, menyingkirlah. Biarkan aku saja yang menghadapi orang ini," kata Chen Li kembali menghadap ke arah Xhiang Yu si Pedang Lima Nyawa.


Wan Jie termenung sesaat. Dia terlihat kebingungan sekali, bagaimana tidak, seorang pemuda tampan yang dingin dan asing, secara tiba-tiba mengganggu pertarungannya lalu menyuruhnya untuk menyingkir.


Malah pemuda itu berkata bahwa dirinya akan melawan orang yang sedang dia hadapi sekarang, siapa yang tidak kebingungan jika menghadapi situasi seperti ini?


Jangankan orang lain, bahkan jika kau ada di posisi Wan Jie, mungkin kau juga akan mengalami hal serupa dengannya.


"Tapi …"


Belum sempat ucapan Wan Jie yang mempunyai julukan Tapak Keabadian itu menyelesaikan perkataannya, tiba-tiba dia sudah jatuh terduduk. Seluruh tubuhnya langsung terasa lemas. Dia tidak bisa melakukan apa-apa lagi karena seluruh jalan darah yang ada di tubuhnya telah ditutup oleh Pendekar Tanpa Perasaan.


Jangankan begitu, bahkan orang tua tersebut tidak bisa bicara. Membuka mulut pun rasanya sangat sulit sekali.


Dia hanya bisa memandang Pendekar Tanpa Perasaan dengan tatapan semakin kebingungan. Perasaannya saat ini sedang campur aduk. Dia sendiri tidak tahu apakah saat ini dirinya harus sedih atau gembira.


"Maafkan aku Paman, terpaksa aku harus melakukan hal ini agar dirimu bisa diam. Tubuhmu sudah dipenuhi oleh luka dalam yang parah, telan pil ini agar kau cepat sembuh," kata Chen Li sambil membopong Wan Jie ke tempat yang lebih aman.


Selain itu, dia pun memberikan sebutir pil berwarna kuning lalu segera dimasukkan ke mulutnya.


Pendekar Tanpa Perasaan sudah berada di tempat sebelumnya. Sekarang yang ada di sana hanyalah dirinya, Xhiang Yu dan dua orang rekannya.


Angin dingin berhembus. Hujan salju mendadak turun ke bumi. Belum ada yang bicara di antara mereka. Semuanya diam. Orang-orang itu sedang memandangi lawannua masing-masing.


"Pendekar Tanpa Perasaan …" gumam Xhiang Yu sambil tersenyum dingin.


"Benar, ini aku,"


"Tak kusangka kau bisa menemukan aku secepat ini," katanya kalem.


"Walau kau berada di lubang semut sekalipun, aku tetap bisa menemukanmu,"

__ADS_1


"Aku percaya,"


"Bagus kalau begitu. Aku datang kemari karena ingin bertarung denganmu,"


"Aku tahu,"


"Aku juga ingin nyawamu sekaligus nyawa orang-orang yang ada di belakangmu," kata Chen Li dengan tenang.


"Aku juga tahu," jawab Xhiang Yu tidak kalah santainya.


Dia tidak perlu bertanya kenapa pemuda itu menginginkan nyawanya dan nyawa dua orang rekannya. Karena sejatinya, dia sendiri sudah tahu maksud di balik pemuda serba putih tersebut.


Jika seseorang ingin membunuhmu, bukankah kau pasti juga ingin membunuh orang itu?


Xhiang Yu sudah mengerti tentang hal ini. Karena dia sendiri sudah sangat sering berada di posisi keduanya. Dalam dunia persilatan, membunuh atau dibunuh adalah sesuatu yang sangat lumrah. Sesuatu yang bisa saja terjadi setiap saat.


Jika kau ingin nyawa seorang yang berkecimpung dalam rimba hijau, kau tidak memerlukan alasan terlalu jelas. Cukup asalkan mampu, maka kapanpun kau bisa membunuhnya.


Hal seperti ini berlaku bagi siapapun juga. Terlebih lagi bagi mereka yang sudah mempunyai kekuatan sangat tinggi, seperti Xhiang Yu si Pedang Lima Nyawa misalnya


Pendekar Tanpa Perasaan dan Pedang Lima Nyawa saling tatap semakin tajam. Keduanya telah bersiap untuk memulai pertarungan yang pastinya dahsyat ini.


"Sombong. Ingin aku lihat apakah kesombonganmu sesuai dengan kekuatanmu itu atau tidak …"


Wushh!!!


Satu bayangan melesat cepat bersama angin dingin yang berhembus. Dua belas tebasan langsung tiba di hadapan Chen Li. Bayangan tadi ternyata bayangan pedang yang mempunyai gerakan secepat kilat.


Secepat kedipan mata, anak dari Pendekar Halilintar itu langsung mundur ke belakang. Begitu mendapatkan posisi, dia langsung melayangkan satu serangan cukup keras.


Wutt!!!


Lima belas pedang energi keluar dari empat penjuru mata angin. Bersamaan dengan itu, dua belas serangan tapak juga dikeluarkan olehnya.


Xhiang Yu si Pedang Lima Nyawa menyeringai. Jurus kelas atas miliknya segera dikeluarkan juga.


Bayangan ribuan ular hitam tiba-tiba muncul lalu menyerang Chen Li dengan ganas. Ribuan ular itu mengandung racun yang sangat ganas. Bau busuk segera tercium menusuk hidung.

__ADS_1


Kalau orang lain yang menjadi sasarannya, pasti orang itu akan mampus saat itu juga.


Sayang, sasaran ribuan ular beracun itu bukan orang lain. Dia adalah Pendekar Tanpa Perasaan.


Seorang pemuda yang menjadi wakil para manusia. Pemuda yang menjadi murid dari dua Dewa.


Wushh!!!


Segulung angin dari kekuatan Mata Dewa berhembus membawa hawa panas. Tiga buah pusaran tiba-tiba terbentuk lalu segera menerjang ribuan ular tadi.


Hanya sesaat, jurus milik Xhiang Yu si Pedang Lima Nyawa telah lenyap sirna tanpa bekas.


Bukk!!!


Secepat kilat menyambar ke bumi, secepat itu pula Pendekar Tanpa Perasaan menghantam telak dada Pedang Lima Nyawa.


Pemimpin dari Tiga Pedang Tanpa Tanding itu langsung terlempar jauh ke belakang. Sebelum tubuhnya jatuh ke tanah, Pendekar Tanpa Perasaan telah menyusulnya. Hanya satu tarikan nafas, dia telah tiba di dekat Xhiang Yu.


Prakk!!!


Tangan kirinya melancarkan sebuah pukulan dahsyat. Pukulan keras yang menjadi akhir dari pertarungan itu.


Xhiang Yu menjerit sekejap sebelum kepalanya hancur. Potongan kepalanya persis seperti pecahan kaca yang dibanting dengan sangat keras.


Darah merah kental menciprat ke pakaian kedua rekannya.


Mereka sendiri sangat terkejut. Tak disangka bahwa pemimpinnya itu dapat dikalahkan dengan begitu mudahnya.


Padahal mereka juga tahu bahwa Xhiang Yu merupakan Pendekar Dewa tahap lima akhir. Seluruh ilmunya sudah sempurna. Kekuatannya pun sudah sangat matang. Pengalamannya juga banyak.


Naas, hari ini dia harus rela menghadap kepada Raja Akhirat. Sesaat sebelumnya ternyata menjadi saat-saat terakhir untuknya melihat gemerlap dunia.


Rekan dari Xhiang Yu yang sejak tadi berdiri tegak, sekarang tiba-tiba mereka merasa seluruh tubuhnya lemas. Mereka seperti tidak mempunyai tenaga untuk berdiri lagi sampai-sampai lututnya bergetar.


"Kau, bukankah kau yang tadi sudah membunuh Bao Bao si Penjual Informasi?" tanya Chen Li kepada seorang rekan Xhiang Yu.


Orang itu memakai pakaian biru. Ikat kepalanya yang dibuat dari kain sutera juga warna biru. Umurnya belum terlalu tua, paling baru sekitar empat puluh tahunan.

__ADS_1


Wajahnya bengis. Sepasang matanya yang besar itu selalu melotot.


"Bagaimana kau tahu?" tanya orang itu sedikit terkejut.


__ADS_2