Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Menerima Tantangan


__ADS_3

"Pemuda asing itu bukan manusia. Dia benar-benar iblis," bisik seorang tokoh kepada tokoh lain yang ada di dekatnya.


"Tepat, dia memang iblis. Sekarang aku percaya perkataannya. Tapi menurutku, pemuda itu belum mencapai tahap sempurna," kata tokoh yang ada di pinggirnya.


Mereka yang mendengar obrolan bisik-bisik tersebut mengangguk setuju. Sebagai tokoh tua, sudah tentu mereka dapat membaca orang yang jauh lebih muda darinya.


Mereka semua merasa kagum kepada pemuda asing bergelar Pendekar Merah tersebut. Di usia yang sangat-sangat muda, ternyata dia sudah mampu mencapai tingkatan yang demikian tinggi.


Kejadian seperti ini amat sangat langka. Mungkin tidak akan muncul seratus tahun sekali. Pendekar Merah benar-benar istimewa, dia pun benar-benar beruntung karena dapat mencapai suatu pencapaian yang belum tentu dapat dilakukan oleh pemuda seusia dengannya.


Namun di sisi lain, pada tokoh tersebut pun amat menyayangkan. Mereka menyayangkan bahwa Pendekar Merah berada di pihak yang berseberangan. Coba kalau pemuda itu berada di jalan yang sama sepertinya, mungkin saat ini akan menjadi kebangkitan bagi golongan hitam.


Sayang seribu sayang, yang terjadi justru sebaliknya. Itu artinya, secara tidak langsung, golongan putih sebentar lagi akan mengalami masa kebangkitan. Pada zaman dunia persilatan dewasa ini, golongan putih akan mengalami suatu hal yang sudah diimpikan oleh mereka.


Meskipun setiap tokoh yang ada di sana sudah mendengar bahwa Pendekar Merah berdiri di antara dua golongan tersebut, namun masing-masing dari mereka juga tahu bahwa sebenarnya, Pendekar Merah berada di golongan putih.


Hanya saja sepak terjangnya memang terkadang kejam melebihi tokoh-tokoh golongan hitam sendiri.


"Sekarang aku akan pergi," kata Chen Li dengan singkat.


Dia langsung membalikkan badannya. Tapi baru saja kalinya melangkah tiga langkah ke depan, sebuah teriakan kembali terdengar oleh sepasang telinganya.


"Berhenti melangkah!!! Setiap orang yang ada di sini menginginkan kematiamu, mereka sangat mengincar nyawamu. Jadi sekalipun Hong Hua telah mengaku kalah dan berkata akan membebaskanmu, tapi kami tidak. Kami datang dari jauh hanya ingin mengantarmu menemui Raja Akhirat, kesempatan ini merupakan kesempatan paling baik. Oleh sebab itu, jangan berpikir kau bisa pergi dengan mudah," kata seorang pria tua bertubuh pendek sekaligus gendut sambil bergerak keras.

__ADS_1


Dia memakai jubah biru dengan garis putih di pinggirnya. Pakaian orang itu sangat mewah. Bahkan dandannya juga mewah.


Empat belasan tokoh yang masih hadir di sana mengangguk sebagai pertanda bahwa mereka juga setuju atas ucapan si gendut itu.


Pendekar Merah berhenti melangkah saat itu juga. Dia membalikkan badannya dengan mantap. Sedikitpun dia tidak merasa takut atau merinding karena dikepung oleh musuh.


Baginya, keadaan seperti ini adalah sebuah tantangan tersendiri. Pendekar Merah sangat percaya diri, terlebih lagi dia mempunyai siluman kera putih bersaudara, Ong San dan San Ong. Belum lagi dia mempunyai Phoenix Raja yang merupakan siluman istimewa.


"Aku tahu bahwa kalian semua menginginkan kematianku. Tapi, apakah kalian yakin bisa membunuhku?" tanya Chen Li si Pendekar Merah sambil tersenyum sinis.


"Bocah kemarin sore sudah berani sombong. Hemm, jumlah kami beberapa kali lipat jauh lebih banyak, bagaimana mungkin kami tidak bisa membunuhmu yang hanya seorang diri?" tanya si gendut membalas senyuman sinis itu.


Yang percaya diri bukan hanya Chen Li saja. Si gendut pun percaya diri, toh kenyataannya jumlah mereka memang jauh lebih banyak.


Benarkah pemuda itu sanggup bertahan hidup dari gempuran serangan empat belas tokoh jika pertarungan hebat benar-benar terjadi nanti?


Sepasang matanya masih belum tertutup oleh kain sutera. Di balik topeng yang masih menempel itu, ada sepasang bola mata yang selalu mengeluarkan kekuatan aneh dan dahsyat.


Hong Hua tertegun sesaat. Selama belakangan ini, orang tua itu sudah membungkam mulut. Sedikitpun dia tidak pernah bicara lagi. Selama ini, dia hanya memperhatikan semua kejadian yang terjadi di depan mata.


Sejak tadi, tokoh tua itu selalu memperhatikan Pendekar Merah. Sekarang setelah pemuda itu berkata demikian, dia mendadak memperhatikan lebih seksama lagi.


Menurutnya, ucapan si pemuda itu bukan bualan belaka. Ucapan Pendekar Merah tentu nyata. Meskipun baru bertemu, namun Hong Hua sudah tahu bahwa ketika Pendekar Merah bicara, maka setiap perkataannya bisa dipertanggungjawabkan.

__ADS_1


"Hemm, kami yang hadir adalah tokoh tua dunia persilatan. Kami mempunyai nama besar, karena itu, kami tidak akan mengeroyokmu semua. Lima orang dari kami akan menjadi perwakilan untuk melawanmu. Apakah kau sanggup?" lanjut si gendut tadi. Dia sengaja memanas-manasi Pendekar Merah.


Orang tua itu sangat ahli dalam hal menyulut emosi seseorang. Karena itulah, setiap ucapan yang dia utarakan memang sengaja agar membuat amarah Pendekar Merah berkobar.


Kebetulan Pendekar Merah adalah manusia yang keras kepala. Kerasnya melebihi batu hitam di sungai. Kalau menyangkut harga diri, dia paling anti kalau harga dirinya direndahkan oleh seseorang.


Chen Li tidak langsung menjawab. Bocah itu memandang semua tokoh yang hadir di sana. Sekalipun mereka benar merupakan tokoh tua, namun orang-orang tersebut bukan merupakan tokoh tua yang benar-benar terkenal dan mempunyai kekuatan tinggi.


Menurut penilaian Pendekar Merah, mereka yang hadir di sana paling tinggi hanya setara dengan Pendekar Dewa tahap empat pertengahan. Jumlah yang mencapai tingkatan ini paling tidak hanya beberapa orang saja.


Namun meskipun begitu, jika mereka maju secara serentak, maka dia pasti akan kewalahan. Bahkan bukan tidak mungkin dirinya akan mampus. Lain lagi ceritanya kalau Pendekar Merah disuruh untuk melawan beberapa orang di antara mereka.


Kalau benar seperti itu, Pendekar Merah yakin bahwa dirinya mampu meraih kemenangan. Dia yakin kalau dirinya sanggup menghadapi lima tokoh perwakilan dari para tokoh tersebut.


"Kalau aku sanggup dan memenangkan pertarungan nanti, apa yang akan aku peroleh?" tanya Chen Li lebih jauh lagi.


Pemuda itu adalah pemuda cerdas. Setiap yang dia kerjakan, apalagi hal itu menantang maut, tentunya harus ada imbalan. Kalau tidak ada imbalan sepadan, tentu saja dia tidak akan mau.


Bukankah semua hal harus jelas perhitungannya?


"Kalau kau memenangkan pertarungan nanti, kau akan kami berikan harta. Kau juga boleh pergi dari sini tanpa halangan apapun," ucap si gendut sambil melirik kepada seluruh tokoh yang ada di sana.


"Baik, kalau begitu setuju. Aku terima tantanganmu," kata Chen Li penuh semangat. Pernyataannya barusan penuh penekanan sehingga terdengar jelas di mata semua orang.

__ADS_1


"Hahaha … bagus, bagus, sekarang aku percaya bahwa Pendekar Merah mempunyai nyali yang besar," kata si gendut sambil tertawa lantang. Perutnya yang besar sampai turun naik dan terlihat lucu saat dia tertawa demikian.


Orang itu sangat gembira saat niatnya tercapai. Rencananya untuk membunuh Pendekar Merah sepertinya akan berhasil, sebab pemuda itu telah terjerumus ke dalam perangkapnya.


__ADS_2