Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Siau Bu Si si Pelukis Sakti Penarik Jiwa


__ADS_3

Sekarang sedikit banyaknya Chen Li telah mengetahui kenapa gedung megah ini terlihat sebagai tempat hiburan malam. Ternyata salah satu alasannya adalah untuk mengelabui musuh.


Kalau di lihat sekilas, gedung ini memang benar-benar mirip dengan tempat kotor tersebut. Tapi jika ditelusuri lebih mendalam, tempat ini justru masih merupakan markas Organisasi Elang Hitam.


Sebagian organisasi memang ada yang menjadikan markasnya sebagai tempat lain. Hal tersebut dilakukan hanya agar jejak mereka tidak diketahui oleh musuhnya. Mereka melakukannya tentu untuk menjamin keamanan organisasinya sendiri.


Hal seperti ini sudah lazim terjadi. Di mana pun, organisasi apapun, biasanya pasti memakai pengelabuan seperti ini.


"Bagaimanapun juga, bau busuk sebuah bangkai pasti akan tercium juga," ujar Pendekar Tanpa Perasaan dengan nada datar.


Para tokoh Organisasi Orang Hitam yang ada di dalam ruangan itu membungkam mulutnya. Mereka tidak dapat menyangkal ucapan Chen Li. Sebab apa yang dikatakannya memang benar.


Serahasia-rahasianya menyimpan bangkai, baunya pasti akan tercium. Serapat-rapatnya menyembunyikan sebuah organisasi, meskipun sudah ditutup serapat mungkin, pada akhirnya toh akan ketahuan juga.


"Di mana Hong Hua?" tanya Chen Li kepada para tokoh tersebut.


"Kami tidak tahu," jawab salah seorang di antara mereka.


"Mustahil kalau kalian tidak tahu,"


"Kami mengatakan yang sebenarnya,"


"Tapi aku tetap tidak akan percaya,"


"Kami juga tidak memaksamu untuk percaya,"


Chen Li tersenyum semakin dingin. Dia paling suka menghadapi orang-orang keras kepala seperti mereka.


Jika bicara dengan orang yang keras kepala, pastinya dia tidak akan pernah mau mengalah. Dan itu artinya, pertarungan pun tidak dapat terhindarkan lagi. Kalau sampai terjadi pertarungan, tentunya darah pun akan mengalir.


Dia suka bertarung. Apalagi jika sampai ada yang tewas menjadi korban.


Pendekar Tanpa Perasaan disebut-sebut sebagai sosok yang berdarah dingin. Meskipun terlihat kalem, tapi dia paling suka melihat darah manusia iblis mengalir oleh senjatanya.


"Bagus. Sepertinya tidak ada jalan lain selain pertarungan,"


"Itu sudah pasti. Dan untukmu, sekarang sudah tidak ada jalan keluar lagi. Saat ini kau telah dikepung oleh semua anggota Organisasi Elang Hitam. Sudah lama kami menunggu kedatanganmu," kata seseorang yang tiba-tiba muncul dari balik pintu lain yang ada di ruangan tersebut.


Orangnya sudah tua. Wajahnya terkesan ramah, mulutnya selalu mengulum senyum. Pakaiannya terbilang mewah. Di tangan kanannya, dia memagang sebuah kuas yang biasa digunakan untuk melukis.


Kuas tersebut bukan kuas biasa, karena kuas itu dibuat dari baja murni dan baja pilihan. Siapapun, pasti tidak akan dapat mematahkannya.

__ADS_1


Sebuah kuas untuk melukis, benarkah bisa menjadi sebuah senjata?


Chen Li memperhatikan orang itu dengan tatapan penuh selidik. Dia tidak langsung menjawab, dari atas sampai bawah, pemuda itu terus memperhatikan orang yang baru datang tersebut.


Dia tersentak kaget, ternyata orang tua yang baru datang itu bukan lain adalah orang tua yang pernah ditemui saat di restoran besar beberapa waktu lalu.


Chen Li masih ingat dengan jelas. Penglihatan matanya tidak mungkin salah.


"Ternyata Siau Bu Si si Peluki Sakti Penarik Jiwa memang dirimu sendiri," kata pemuda itu sambil menghela nafas.


Orang tua yang ternyata memang Siau Bu Si tertawa lantang. Suara tawanya menggetarkan seisi ruangan tersebut.


Mau tidak mau Pendekar Tanpa Perasaan harus mengakui bahwa orang tua itu memang mempunyai tenaga dalam tinggi. Sepertinya, di antara para tokoh Organisasi Elang Hitam yang ada di sana, si Pelukis Sakti Penarik Jiwa adalah orang yang paling kuat.


"Memang akulah orangnya. Kau tidak menyangka bukan?" tanyanya sambil tersenyum penuh arti.


"Tadi iya, tapi sekarang tidak,"


"Ya, kau benar. Akhirnya semua usahaku tidak sia-sia. Ternyata kau benar-benar datang," ujarnya.


"Kau sudah menduga bahwa aku bakal datang kemari?"


"Sejak awal aku sudah menduganya,"


"Bahkan saat aku baru pertama kali memunculkan diri di Kota Qinghai?"


"Benar. Asal kau tahu saja, seluruh tempat di Kekaisaran Sung dijaga ketat. Setiap orang asing yang masuk kemari, cepat atau lambat kami akan mendapatkan informasi tentang latar belakangnya,"


Sekarang Chen Li mengerti. Ternyata kedatangannya, setiap sepak terjangnya, tidak lepas dari pengawasan orang-orang itu.


"Jadi, apa yang kalian diskusikan tadi hanya bohong belaka? Tujuan kalian sebenarnya adalah memancingku keluar?"


"Kau memang benar-benar cerdas," puji salah satu tokoh Organisasi Elang Hitam sambil tertawa.


"Rencana yang sangat bagus. Perhitungan yang sangat tepat. Tak kusangka semua gerak-gerikku telah kalian ketahui sebelumnya,"


"Tentu saja. Jangan samakan Kekaisaran Sung dengan Kekaisaran Wei. Dua Kekaisaran ini memiliki perbedaan ibarat langit dan bumi,"


Seketika darah di tubuh Pendekar Tanpa Perasaan bergejolak hebat. Amarahnya mulai memuncak, tapi karena dia sudah menguasai hawa nafsunya, maka Chen Li dapat meredakannya.


"Tapi kalian sudah melakukan satu kesalahan,"

__ADS_1


"Kesalahan apa?" tanya Siau Bu Si dengan kening berkerut.


"Jika pihak kalian mengira bahwa aku takut, kalau kalian menyangka bahwa semua rencana itu berhasil, maka kalian telah salah besar,"


"Kenapa?"


"Pertama, karena aku tidak pernah merasa takut sama sekali. Kepada siapapun, aku tidak takut. Kedua, semua rencana kalian aku katakan gagal karena meskipun tidak demikian, aku akan tetap datang kemari. Bahkan aku akan menyambangi setiap Kekaisaran yang terlibat dalam perang besar itu," kata Chen Li.


Suaraya ditekan. Siapapun yang mendengarnya bakal segera tahu bahwa dalam nada suara itu terkandung sebuah kebencian.


Kebencian mendalam yang tidak bisa dihilangkan dengan cara apapun.


"Ternyata kau mewarisi darah Pendekar Halilintar," desis Pelukis Sakti Penarik Jiwa.


"Jangan lupa, dia adalah Ayahku,"


"Benar, dia Ayahmu. Ayah yang tiada gunanya," ejek orang tua itu.


"Kau boleh menghinaku, tapi jangan pernah berani menghina ayahku," kata Pendekar Tanpa Perasaan.


Suaranya bertambah dingin. Kebencian dan hawa pembunuhan mulai terasa menyelimuti ruangan tersebut.


"Aku mengatakan yang sebenarnya. Kalau Ayahmu berguna, kenapa dia tidak bisa melindungi tanah airnya, sektenya, atau minimal keluarganya. Bukankah dia dikenal sebagai pendekar terkuat di Kekaisaran Wei? Kalau memang iya, kenapa dia tidak dapat melakukan ssesuatu yang berarti?"


Amarah Pendekar Tanpa Perasaan semakin melonjak naik ke permukaan. Ibarat sebuah air tenang yang secara tiba-tiba mendapat guncangan dari dasar tanah, maka secara otomatis akan menciptakan sebuah gelombang dahsyat yang bergemuruh.


"Sudah aku katakan jangan menghina Ayahku," teriaknya dengan marah.


"Kalau tetap aku ingin, apa yang akan kau lakukan?"


"Aku akan membunuhmu. Aku akan membunuh semua orang-orang yang ada di sini,"


Suaranya terdengar menggelegar. Seperti sebuah ruangan seekor naga yang sedang marah besar. Sepasang matanya mendadak terbuka.


Kekuatan Mata Dewa yang telah sempurna keluar. Aura keagungan seketika merembes keluar dari seluruh tubuhnya. Lantai yang dipijak oleh Chen Li retak. Bahkan amblas cukup dalam.


"Ingin aku lihat apakah ucapanmu itu benar atau hanya omong kosong saja," balas si Pelukis Sakti Penarik Jiwa sambil tersenyum penuh ejekan.


Wushh!!!


Cahaya merah berkelebat cepat ke arahnya.

__ADS_1


Crapp!!!


Siau Bu Si menangkap sinar merah tadi. Ternyata hanya sebuah batu kerikil. Tapi kenapa kerikil itu dapat memancarkan cahaya merah membara?


__ADS_2