
Semua siluman itu kaget bukan kepalang. Bahkan akibat ledakan tersebut, mereka sampai dibuat mundur dua tombak. Wajah mereka mendadak berubah ketakutan. Termasuk siluman yang tadi arogan kepada Shin Shui, saat ini wajahnya menggambarkan keterkejutan.
Kejadian barusan itu tidak terlepas dari pandangan Kaisar Naga Merah yang sampai sekarang masih bersembunyi. Dalam hati, dia merasa tidak salah orang karena meminta bantuan kepada Shin Shui.
'Dia memang seorang pendekar yang sangat luar biasa. Pantas jika dirinya menjadi yang terkuat saat ini, kekuatannya memang mengerikan,' batin Kaisar Naga Merah.
Di tempat kejadian, Shin Shui tidak bereaksi apa-apa. Saat terjadi ledakan bahkan tubuhnya tidak bergeser sedikitpun. Dia tetap berdiam di udara seperti sedang menginjak tanah yang keras. Hanya jubah mewahnya saja berkibar agung tertiup angin dari ledakan tersebut.
Setelah efek ledakan hilang, Pendekar Halilintar kemudian melayang turun ke bumi dengan anggun. Gerakannya sangat indah dipandang. Mirip seperti seorang dewa yang turun ke bumi.
"Aku sarankan lebih baik kalian segera meminta maaf. Kalian bukan lawanku. Lagi pula, aku ke sini datang baik-baik," kata Shin Shui dengan tenang. Kedua tangannya ia taruh di belakang pinggang. Jubahnya masih terus berkibar tertiup angin.
Mendengar perkataan Shin Shui, para siluman yang kekuatannya masih rendah berniat untuk meminta maaf dengan cara bersujud saat itu juga. Tapi siapa sangka, baru saja berkata seperti itu, seorang pemimpin meraka membentak keras supaya tidak melakukan hal memalukan tersebut.
"Manusia hina, kau jangan sombong. Barusan itu hanya kebetulan saja, lagi pula anak buahku tidak mengerahkan seluruh kekuatannya. Tapi tak disangka, dikasih hati kau malah meminta jantung," kata serigala biru dengan sorot mata tajam.
"Benarkah? Apakah kalian tidak mau mendengar nasihatku? Kalau begitu baiklah, silahkan keluarkan semua kekuatan kalian. Asal jangan menyesal jika aku bertindak diluar dugaan kalian," kata Shin Shui.
Ucapannya seketika menjadi dingin seperti gunung es. Dalam ucapan itu jelas terkandung nada kekesalan. Dia sudah memberikan nasihat, tak disangka mereka malah membalasnya dengan sebuah hinaan.
"Mulutmu memang sombong," kata serigala biru.
"Tentu saja hahaha … sebab aku kuat dan kalian begitu lemah. Silahkan mulai lagi jika masih penasaran. Aku akan melawan kalian dengan satu tangan," kata Shin Shui sengaja menyombongkan dirinya.
"Kau memang sudah tidak sayang kepada nyawamu sendiri,"
__ADS_1
"Kau tenang saja siluman jelek. Kalau aku mati oleh kalian, maka jangan sebut aku si Legenda Pendekar Halilintar," ucapnya dengan nada serius.
Mendengar perkataan Shin Shui, semua siluman yang ada di sana merasa tergetar hebat. Wajah mereka yang memang tadinya jelek, menjadi lebih jelek. Kasarnya, jantung mereka akan copot karena mendengar julukan barusan.
Entah mereka tahu dari mana, yang jelas, para siluman tersebut sudah mendengar nama besar Pendekar Halilintar. Akan tetapi pemimpin dari siluman itu, tetap saja tidak mau dipandang lemah oleh lawan.
Jadi walaupun merasa gentar, dia tetap memaksakan untuk memberanikan dirinya.
"Aku tidak peduli kau siapa. Yang jelas terimalah seranganku ini," katanya lalu menyerang Shin Shui.
Siluman yang memiliki kekuatan masih rendah masih terdiam. Mereka tidak mau mati konyol. Sedangkan lima siluman yang mempunyai kekuatan lebih tinggi, kini mereka bersama-sama menggempur Shin Shui.
Serangan dahsyat mulai mereka lancarkan. Gelombang serangan menerpa apa saja yang ada di sekitar tempat tersebut. Angin berhembus tajam membawa kabar kematian. Suara bergemuruh mulai menggelegar membelah kesunyian.
Shin Shui masih dengan tenang menunggu semua serangan lawan. Dia telah bicara akan bertarung menggunakan satu tangan untuk mereka tersadar, maka tangan kirinya dia taruh di belakang pinggang. Sedangkan tangan kanannya sudah siap mengeluarkan jurus dahsyat.
Jurus dari dua belah pihak kembali berbenturan. Suara menggelegar memecah alam raya. Lima siluman itu terpental karena tak kuasa menahan jurus dahsyat Shin Shui.
Tapi itu hanya sesaat, karena detik berikutnya mereka sudah bangun dan kembali menyerang dengan kekuatan penuh.
Serangan dari lima siluman tersebut bisa dibilang dahsyat. Sebab serangannya setara dengan Pendekar Dewa. Tapi karena mereka merupakan siluman, maka Shin Shui berani menghadapinya.
Berbeda lagi kalau meraka itu seorang manusia ataupun iblis.
Auman suara yang menggetarkan langit dan bumi terdengar tiada putusnya. Lolongan siluman serigala menggelegar menerbangkan apa saja yang ada di sana. Bahkan hawa jurusnya sampai ke tempat persembunyian Kaisar Naga Merah dan yang lainnya.
__ADS_1
Energi yang membentuk pusaran badai meluncur ke arah Shin Shui. Gulungan sinar kematian siap merenggut nyawa Pendekar Halilintar. Sinar memanjang sebesar pohon melesat ingin menembus tubuh Shin Shui. Gelombang bagaikan ombak siap menggulungnya. Dan satu lagi, lolongan tadi, seolah siap membuat dia mati dalam kegelisahan.
Lima serangan dahsyat yang mampu mengguncangkan langit dan bumi menyerang Shin Shui secara bersamaan. Tapi yang mau diserang hanya berdiam dengan sebuah senyuman dingin.
"Bagus. Jurus yang hebat. Tidak sia-sia kalian menyombongkan diri di hadapanku. Sayangnya, ini semua masih jauh dari kata cukup," teriak Shin Shui lalu tubuhnya mencelat ke atas sambil berputar.
"Telapak Tangan Dewa Halilintar …"
"Wushh …"
"Glegarr …"
Langit bergemuruh dahsyat. Bumi tergoncang. Bagaikan sebuah kiamat, langit seakan murka. Halilintar menggelegar menyeramkan. Dari balik telapak tangan Shin Shui, keluar sebuah sinar biru dengan kilatan halilintar tanpa henti. Gelombang itu teramat besar hingga menyapu semua jurus milik lima siluman.
Dentuman keras bagaikan suara bagaikan sebuah bom, terdengar sampai sejauh satu kilometer. Ledakan itu menyapu apa saja yang ada di sana. Semuanya hancur dalam sekejap mata.
Tak kurang dari dua puluh bangunan, rata dengan tanah. Lima siluman tadi tewas mengenaskan. Tubuh mereka hancur jadi debu. Shin Shui sengaja mengeluarkan jurus dahsyat ini sebab dia tidak ingin berlama-lama.
Tak tanggung-tanggung, Pendekar Halilintar mengeluarkan setengah kekuatannya untuk mengeluarkan jurus barusan. Lima belas siluman bergetar hebat. Kalau mereka seorang manusia, mungkin sudah kencing di celana.
Pendekar Halilintar melayang turun lagi dengan indah. Wajah yang tadinya bengis, kini menjadi ramah kembali saat menatap lima belas siluman tersebut.
Shin Shui tahu, mereka sebenarnya tidak mau melawan dirinya. Tadi saat pertama menyerang, lima belas siluman itu merasa terpaksa karena perintah pemimpinnya. Sekarang pemimpin mereka tewas dalam satu jurus, mana mungkin mereka berani bertindak bodoh lagi di hadapan Shin Shui.
"Kalian pergilah sekarang. Aku tidak akan membunuh kalian," katanya sambil tersenyum simpul.
__ADS_1
Lima belas siluman itu serentak bersujud terlebih dahulu kepada Shin Shui sebagai tanda terimakasih sebelum akhirnya pergi dari sana.