Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Berlatih Tanding


__ADS_3

Tanpa bicara dan bahkan tanpa menyapa Eng Kiam, Chen Li telah menyerangnya kembali dengan sebuah pukulan beruntun.


Kedua tangan itu lenyap terbalut sinar putih yang dia ciptakan. Hentakan pukulan Chen Li semakin cepat dan memburu ke titik terpenting.


Namun Eng Kiam tidak membiarkan dirinya menjadi samsak bocah itu. Pedang di tangannya dia mainkan dengan jurus-jurus hebat yang baru saja dia pelajari.


Dua tangan. Satu pedang.


Mereka bertarung layaknya pertarungan maut di arena pertandingan. Chen Li mulai meningkatkan tenaga yang dia keluarkan. Gerakannya bertambah cepat bagaikan elang meluncur memburu mangsa.


Eng Kiam menggerakkan pedang dengan gerakannya yang lincah dan gemulai. Di malam gelap, sinar merah dan sinar putih beradu hingga sering kali menimbulkan ledakan kecil.


Di sisi lain Yun Mei hanya memperlihatkan anaknya dalam pertarungan tersebut.


Walaupun dia belum pernah melihat Eng Kiam sebelumnya –karena pada saat itu dirinya sudah di tawan–. Tapi dia tahu betul bahwa anaknya tidak sedang bertarung serius.


Melainkan hanya sekedar berlatih tanding saja.


Hal ini dia ketahui karena beberapa kali Chen Li mendapatkan kesempatan emas, tapi dia tidak mau melancarkan jurus dahsyatnya.


Dua bocah yang terpaut usia dua tahunan saat ini masih bertarung dengan sengit. Eng Kiam mulai mengungguli Chen Li.


Gadis kecil itu semakin menambah daya kecepatan dalam permainan pedangnya. Pedang bergerak mengitari lawan. Tusukan dan sabetan pedang memburu mengejar Pendekar Tanpa Perasaan, Chen Li.


Karena mulai merasa kewalahan, akhirnya si bocah kecil Chen Li memutuskan untuk menncabut pusakanya.


Seruling giok hijau.


Begitu senjata pusaka itu dicabut, terlihat sinar hijau menyinari malam gelap beberapa saat sehingga memberikan pandangan indah.


Dua senjata pusaka sudah dimainkan oleh tuan mereka masing-masing.


"Bayangan Pedang Menghilang …"


"Wushh …"


Eng Kiam bergerak cepat. Pedang di tangannya melesat cepat memberikan sabetan dan tusukam beruntun.


Bayangan Pedang Menghilang adalah jurus pertama dari Kitab Pedang Bayangan yang diberikan Shin Shui kepadanya.


Walaupun dia belum dapat menguasainya dengan sempurna, tapi setidaknya gadis kecil itu sudah menguasai sekitar lima puluh persen.

__ADS_1


Baginya, ini pencapaian yang sangat menggembirakan. Sebab hanya dalam waktu kurang dari dua minggu, ternyata dia sudah dapat mempelajari semua isi Kitab Pedang Bayangan yang berjumlah tiga jurus.


Walaupun baru lima puluh persen, tapi itu sudah cukup untuk melawan seorang pendekar yang setingkat di atasnya.


Kalau melawan dua atau tiga, ceritanya lain lagi.


Chen Li tidak mau kalah. Melihat Eng Kiam mengeluarkan jurusnya, dia juga langsung menggelar jurus pertama dari Kitab Seruling Pencabut Nyawa.


"Suara Seruling Penyejuk Jiwa …"


"Wushh …"


Chen Li bergerak. Kini hanya tangan kanan saja yang menyerang. Tapi serangan utama yang dia berikan bukan dari tangannya itu.


Melainkan dari alunan suara seruling yang menggema ke seluruh angkasa raya. Alunan suara yang Chen Li mainkan membawa perasaan tersendiri.


Siapapun yang mendengarnya, selama pendekar itu berada setingkat atau di bawahnya, maka sudah pasti akan terpengaruh oleh suara seruling tersebut.


Kalau tidak kuat, maka detak jantung akan berpacu cepat dalam waktu singkat. Kalau orang tersebut tidak melindungi telinganya, bisa dipastikan bahwa telinga itu akan mengeluarkan darah.


Sebab jurus pertama tersebut merupakan jurus yang menyerang dengan gelombang suara. Chen Li menyalurkan tenaga dalamnya dan disatukan ke dalam suara seruling. Karena hal itulah jurus ini cukup berbahaya.


Semakin dia berlatih untuk mematangkannya, maka semakin hebat pula efek yang ditimbulkan.


Itupun belum lama ini dia baru menginjak tingkatan tersebut.


Jadi wajar saja pada saat memasuki jurus keempat puluh, gagang pedang Eng Kiam berhasil memberikan sodokan ke tangan Chen Li dan menyebabkan seruling giok hijaunya terjatuh.


Namun sebelum jatuh ke tanah, gadis cilik itu telah berhasil menangkapnya kembali.


"Ini punyamu Tuan Muda …" kata Eng Kiam sambil memberikan seruling kepada Chen Li.


"Terimakasih Kakak Kiam. Kau hebat sekali, hanya dalam waktu singkat tapi sudah bisa mempelajari jurus dari Kitab Pedang Bayangan," katanya ikut senang.


"Semua itu tidak akan terjadi kalau Tuan Pahlawan tidak membantuku," jawab gadis itu merendah.


"Kakak Kiam terlalu merendah. Sudah jelas karena kau berlatih tak kenal lelah. Buktinya sekarang, walau hari sudah malam, tapi kau masih berlatih sendiri di sini,"


"Aku tidak ingin mengecewakan Tuan Pahlawan. Sehingga sebisa mungkin, aku harus berlatih dengan giat," jawab Eng Kiam.


Dalam hatinya, Chen Li kagum terhadap Eng Kiam. Dia kagum kepada semangatnya. Kagum kepada tekad dan keteguhannya.

__ADS_1


Seorang gadis, mempunyai wajah cantik dan tubuh indah. Mempunyai semangat tinggi serta tidak kenal lelah, pria mana yang tidak ingin mempunyai wanita seperti itu?


"Ah, Kakak Kiam selama ini baik-baik saja kan?"


"Aku baik saja Tuan Muda. Kau sendiri?"


"Aku juga,"


"Bagaimana dengan tugasmu? Apakah kalian berhasil membawa para tetua sekaligus ibumu?" tanya Eng Kiam penasaran.


"Semuanya berjalan dengan lancar Kakak Kiam. Ibuku dan para tetua kembali lagi ke Sekte Bukit Halilintar,"


"Syukurlah, aku turut senang," jawabnya.


Keduanya berjalan ke bawah pohon sakura tempat ternyaman bagi mereka.


Chen Li dan Eng Kiam bercerita mengenai pengamalannya masing-masing. Keduanya bercanda sehingga kadang terdengar suara tawa yang renyah.


Yun Mei berjalan menghampiri anaknya. Dia juga sudah merindukan tempat favoritnya tersebut.


"Li'er, kau tidak mau memperkenalkan temanmu kepada Ibu?" kata Yun Mei lalu ikut duduk di sana.


"Ah iya, maaf Ibu, aku lupa. Kakak Kiam, perkenalkan, ini Ibuku," kata Chen Li mengenalkan Eng Kiam.


"Ah, maaf Nyonya. Perkenalkan namaku yang rendah ini adalah Eng Kiam. Kakekku bernama Kakek Tua Jubah Hitam.


"Ah, ternyata kau cucu dari Kakek Tua Jubah Hitam. Di mana dia sekarang?" tanya Yun Mei kepada Eng Kiam.


Eng Kiam mengangguk sambil tersenyum sebelum menjawab. Dalam hatinya dia kagum kepada orang-orang yang ada di Sekte Bukit Halilintar ini.


Sebab selama dia berada di sana, belum pernah ada yang berani mengganggu ataupun berpandangan buruk kepadanya.


Entah kenapa, entah karena dia tamu istimewa Shin Shui, atau entah karena apa.


Yang jelas baginya, Sekte Bukit Halilintar sangat berbeda dengan sekte pada umumnya.


Di sekte ini, selama kau baik dan tidak membuat masalah, maka semua orang yang ada si sana akan memandangmu sama.


Tidak ada istilah hitam dan putih. Bagi orang-orang Sekte Bukit Halilintar, latar belakang tidaklah masalah.


Hitam atau putih sama saja.

__ADS_1


Yang mereka nilai bukan asal usul. Tapi tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari.


__ADS_2