Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Pedang Ular dan Pedang Listrik


__ADS_3

"Kau tidak perlu tahu. Yang jelas aku tahu bahwa kau pelakunya," kata Chen Li semakin dingin.


Orang itu tidak bicara lebih lanjut lagi. Dia masih terkejut. Pertama, dia heran kenapa pemuda dingin di hadapannya itu bisa tahu bahwa dirinya telah membunuh Bao Bao. Dan kedua, dia jauh lebih heran karena pemuda asing tersebut mampu membunuh Xhiang Yu si Pedang Lima nyawa hanya dalam beberapa kali gebrakan saja.


Kalau tidak melihat dengan mata kepala sendiri, pasti dia tidak akan percaya dengan kejadian barusan.


Xhian Yu si Pedang Lima Nyawa.


Dia dijuluki lima nyawa bukan karena benar-benar mempunyai lima nyawa. Alasan orang tersebut dijuluki demikian adalah karena dirinya pernah selamat dari kematian sebanyak lima kali.


Di daerah asalnya, nama itu ibarat iblis yang bisa menentukan hidup matinya seseorang. Jarang ada orang yang berani mencari masalah dengannya. Semua orang ingin hidup lebih lama, siapapun sayang terhadap nyawanya sendiri, memangnya manusia mana yang tidak sayang terhadap nyawanya?


Setiap orang-orang yang berkecimpung di dunia persilatan pasti pernah mendengar sepak terjangnya. Bahkan tahu juga betapa lihai dan tingginya ilmu pedang yang sudah dia kuasai.


Tapi sekarang, Xhiang Yu bisa tewas hanya dalam waktu singkat, kenapa hal itu bisa terjadi?


Tiga orang yang menyaksikan pertarungan dahsyat tapi singkat itu masih melongo. Semuanya terdiam sambil terus memandangi Pendekar Tanpa Perasaan dengan tatapan mata penuh selidik.


"Bagaimana kau bisa membunuh Xhiang Yu semudah itu?" tanya orang yang membunuh Bao Bao.


Orang itu dijuluki si Pedang Ular. Alasan dijuluki demikian karena dirinya mempelajari jurus ular yang sangat lincah. Setiap pendekar yang pernah bertarung dengannya, jarang ada yang selamat. Sekalipun selamat, paling tidak musuhnya bakal terluka sangat parah.


Di antara Tiga Pedang Tanpa Tanding, dirinya menempati urutan kedua. Ilmu pedangnya hanya selisih sedikit saja dari Xhiang Yu. Jadi bisa dibayangkan bagaimana hebatnya ilmu pedang yang dikuasai ole si Pedang Ular tersebut.


Tapi apakah kehebatan itu berlaku kalau nanti dirinya berhadapan dengan Pendekar Tanpa Perasaan?


"Alasannya sederhana,"


"Kenapa?"


"Karena aku sudah berhasil menjatuhkan mental Xhiang Yu sehingga dia sudah tidak percaya lagi terhadap kemampuannya sendiri. Padahal kalau dia tidak kena mental, mustahil dirinya bisa tewas dalam waktu sekejap," ujar Pendekar Tanpa Perasaan sambil tersenyum dingin.


Menjatuhkan mental lawan sebelum jalannya sebuah pertarungan adalah cara yang paling bagus. Cara yang paling jitu. Sebab kalau sampai kita berhasil menjatuhkan mentalnya, maka bisa dipastikan lima puluh persen, kemenangan sudah ada di tangan kita.


Sebab kalau lawan sudah terkena mentalnya, maka hal itu bisa mempengaruhi segalanya. Gerak langkahnya pada saat pertarungan sudah berjalan pasti terpengaruhi.


Cara seperti ini biasa digunakan oleh mereka para pendekar yang sudah berada di atas. Sebab jika para pendekar kelas bawah menggunakan cara barusan, maka bisa dipastikan akan gagal.

__ADS_1


Karena semuanya perlu bukti. Siapapun butuh bukti.


Dan Pendekar Tanpa Perasaan sudah memberikan buktinya bahwa dia berada di posisi puncak. Sepak terjangnya belakangan ini sudah membuktikan bahwa dia adalah pendekar muda yang sangat berbahaya.


Si Pedang Ular menganggukkan kepalanya. Begitu juga dengan satu rekan yang ada di sisinya. Sekarang dia mengerti mengapa pemimpin mereka bisa tewas dengan mudah.


"Jadi begitu rahasianya," katanya perlahan.


"Benar, jadi kuberitahukan kepadamu agar kau mau mengusahakan supaya mentalmu tidak jatuh sebelum bertarung denganku," ujar Pendekar Tanpa Perasaan.


"Kenapa kau malah memberitahuku?"


"Karena aku ingin pertarungan yang lebih lama sedikit. Aku ingin lawan berat, majulah bersama rekanmu itu," ucapnya sambil menunjuk ke arah rekan Pedang Ular.


Orang yang ada di sisi Pedang Ular memandang Pendekar Tanpa Perasaan. Wajahnya dingin dan kaku. Persis seperti dirinya.


"Kau menyuruhku maju berdua untuk melawanmu?" tanyanya sambil menunjuk wajah sendiri.


"Benar,"


"Baik, silahkan," jawab Chen Li mempersilahkan.


Dua orang pendekar pedang telah melakukan persiapan. Senjata pusaka mereka telah digenggam dengan erat. Yang satu pedang hitam gelap bergagang ular. Sedangkan satu lagi pedang biru muda, pedang yang ini istimewa. Sebab dari seluruh gagang pedangnya selalu mengeluarkan kilatan listrik.


"Lihat serangan …" teriak si Pedang Ular.


Wutt!!! Wushh!!!


Bayangan pedang datang lebih dulu dari bayangan manusianya. Satu tebasan mengarah ke leher telah dilancarkan. Berbarengan dengan itu, si Pedang Listrik pun turut menyerang.


Pedang istimewa miliknya memberikan satu tusukan cepat ke arah lambung. Gerakannya seperti kilat.


Dua serangan maut langsung mengarah ke tubuh Pendekar Tanpa Perasaan.


Chen Li sudah tahu akan kelihaian dua lawannya yang sekarang. Walaupun kemampuan perorangan dari mereka berada di bawah Xhiang Yu si Pedang Lima Nyawa, tapi jika disatukan seperti ini, maka kekuatan mereka sama saja. Bahkan mungkin lebih kuat dua orang yang sekarang sedang dihadapinya.


Trangg!!! Trangg!!!

__ADS_1


Pedang Merah Darah sudah dikeluarkan entah sejak kapan. Pedang pusaka yang berada di urutan puncak itu telah menangkis dua serangan lawan sekaligus.


Meskipun serangan mereka cepat, tapi gerakan Pendekar Tanpa Perasaan dalam menangkis serangan keduanya jauh lebih cepat lagi.


Dua pedang terpental, tubuh pemiliknya bergetar. Dari ujung lengan hingga pangkal lengan langsung terasa kesemutan.


Pendekar Tanpa Perasaan tidak memberi kesempatan bagi kedua musuhnya untuk menarik nafas, dia kembali mengeluarkan jurus pedangnya yang sudah mencapai tahap sempurna.


Tapi bukan Jurus Pedang Sang Dewa. Chen Li hanya mengeluarkan Jurus Menyerang Secepat Kilat. Jurus terakhir dari Kitab Pembawa Maut.


Wutt!!!


Gerakan pedang pemuda itu cepatnya melebihi apapun. Satu tusukan dahsyat langsung keluar kemudian mengarah ke tenggorokan Pedang Ular.


Bayangan merah melesat, dari arah kanan, bayangan listrik juga ikut serta.


Trangg!!!


Benturan kembali terjadi. Pedang Listrik bergerak tepat pada waktunya. Pedang Merah Darah milik Chen Li sedikit tesentak, namun dengan segera dia melancarkan kembali jurusnya.


Pemuda itu sengaja tidak mengeluarkan jurus tertinggi karena dirinya ingin menjajal jurus pedang lainnya. Sebab kalau dia hanya mengandalkan Jurus Pedang Sang Dewa, maka pada akhirnya pemuda itu akan ketergantungan.


Selanjutnya, pengalaman bertarung dalam mengenal berbagai macam jurus dari setiap lawannya bakal tidak ada.


Ketiga tokoh itu masih melangsungkan pertarungan sengit. Lima puluhan jurus sudah mereka lewati, tapi hingga sekarang belum ada yang terlihat terdesak.


Mereka bertiga tampak seimbang. Setiap serangan dibalas serangan, tusukan dibalas tusukan dan tebasan dibalas dengan tebasan pula.


Wushh!!!


Srett!!!


Jeritan seketika itu juga langsung terdengar. Pedang Merah Darah telah berhasil merobek dada Pedang Listrik dari sisi kiri hingga sisi kanan.


Tubuhnya ambruk ke tanah. Luka yang diakibatkan oleh goresan pedang pusaka itu sangat dalam. Bahkan sampai-sampai dagingnya pun merekah.


Pedang Listrik telah tewas. Wajahnya pucat. Sepasang matanya memancarkan tatapan tidak percaya. Tapi detik kemudian dia tersenyum. Senyuman lega karena dia bisa mampus di bawah jurus kelas atas.

__ADS_1


__ADS_2