Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Surat Untuk Huang Taiji


__ADS_3

"Lantas jika bukan dirimu, siapa yang sudah menolongku?" tanyanya keheranan.


"Aku …"


Seseorang langsung membuka pintu kamar. Huang Taiji masuk sambil melemparkan senyumnya. Dia juga membawa satu keranjang buah-buahan yang berfungsi untuk mempercepat pemulihan luka dan tenaga dalam.


Huan Ni Mo sedikit terbengong. Siapa pria ini?


Dia sedang memandang selidik kepadanya.


"Namaku Huang Taiji. Aku bersama Li'er tadi membantumu, mohon maaf jika kurang sopan," ucap Huang Taiji lalu membungkuk hormat.


Sekali lagi Huan Ni Mo terkejut ketika sudah mendengar nama itu. Setelah pria berpakaian putih yang di hadapannya saat ini memperkenalkan diri, tentu saja dia sangat mengenalnya.


Bahkan berita yang tersiar juga tidak kalah menggemparkannya dengan berita tentang Chen Li. Tentu saja, sebab keduanya selalu bersama.


"Aihh, sekali lagi aku bertemu dengan tokoh yang menggemparkan dunia persilatan. Sungguh beruntung sekali aku si wanita tua ini. Tak disangkanya di saat-saat kritis, ternyata muncul dua malaikat yang menolongku," katanya sambil tersenyum.


Jika Huan Ni Mo tersenyum, rasanya dia menjadi kembali muda. Seperti wanita yang berusia dua puluh tahunan.


"Hahaha, kau terlalu memujiku Nyonya Huan. Aku tidak seperti apa yang diberitakan," jawab Huang Taiji sambil mengambil bangku untuk duduknya.


Walaupun Huan Ni Mo baru bertemu dengan Huang Taiji, namun wanita itu sudah merasa sangat dekat dengannya. Siapapun orangnya, dia pasti akan merasakan hal yang sama jika sudah bertemu dengan orang berjuluk Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding itu.


"Sebenarnya aku sedang mencarimu," kata Huang Taiji.


"Oh? Apakah ada keperluan?"


"Tepat sekali,"


"Keperluan apa?"


"Ada surat dari Kepala Tetua Sekte Bukit Halilintar,"


"Maksudmu Kepala Tetua Shun Shui?"


"Benar. Ini suratnya," ucap Huang Taiji sambil memberikan sepucuk surat kepada Huan Ni Mo.


Wanita Tombak Asmara segera membuka surat yang diberikan olehnya.


"Nyonya Huan Ni Mo, ini aku Shin Shui. Mohon uluran tanganmu untuk menghadapi para penjajah yang mulai berani membuat onar di tanah air kita. Mereka sudah berani bertindak secara terang-terangan. Aku telah mengajak semua tokoh terkuat untuk menumpas habis musuh. Karena itulah, aku juga mengajakmu untuk melakukan hal yang sama. Semoga saja kau mau melakukannya,"


"Shin Shui …"

__ADS_1


Surat itu pendek. Bahkan isinya juga bisa disebut bahasa "koboi". Tapi Huan Ni Mo tidak marah sama sekali. Semua orang tahu bahwa Shin Shui tidak terlalu menyukai adat segala macam.


Karena alasan itulah, dia justru malah tersenyum lembut.


"Baik. Aku akan melakukan apa yang diperintahkan," katanya kepada Huang Taiji.


"Bagus. Aku sangat senang mendapatkan jawaban seperti ini,"


Mereka mulai berbicara serius. Chen Li hanya diam mendengarkan kedua orang tua itu bicara. Sebagai bocah yang masih kecil, dia tidak berani ikut campur.


"Nyonya Huan, apa yang sebenarnya membuatmu bisa bertarung dengan empat orang itu?" tanyanya kepada Wanita Tombak Asmara.


"Biasa, aku sudah tahu bahwa mereka bukanlah orang-orang dari Kekaisaran Wei. Aku bisa mengetahuinya dari gaya bahasa dan wajah orang-orang itu. Masalah awalnya terjadi sekitar dua minggu yang lalu. Aku menemukan mereka sedang mengobrak-abrik Perkumpulan Baju Putih. Hampir semua orang-orang yang ada di sana mereka bunuh,"


"Kebetulan aku lewat tempat itu. Karena aku tahu bahwa Perkumpulan Baju Putih merupakan aliran lurus, maka aku memutuskan untuk turun tangan membantunya. Pada saat itu, mereka hanya dua orang serta membawa lima belasan anak buahnya. Singkat cerita aku bertarung dengan mereka. Kebetulan aku memenangkan pertarungan tersebut, siapa sangka, mereka malah menantangku untuk bertarung ulang dua minggu kemudian. Aku menyanggupinya karena berpikiran masih sanggup jika melawan dua orang,"


"Tapi dugaanku salah. Mereka justru membawa dua orang lainnya. Kekuatannya sama kuat, sepertinya mereka memang terbiasa bekerja sama. Karena aku melihat semua serangan mereka saling melengkapi satu sama lain. Setelah bertarung tiga ratus lima puluh jurus, aku mulai kewalahan. Dan setelah itu, aku rasa Tuan Huang tahu sendiri kelanjutannya bagaimana," kata Huan Ni Mo menjelaskan singkat terkait pertarungannya.


Huang Taiji hanya menganggukkan kepalanya. Tentu saja dia tahu, sebab kedua matanya sendiri melihat dengan jelas pertarungan hebat itu.


"Kau tahu mereka siapa sebenarnya?"


"Aku tidak tahu pasti. Namun menurut kabar, mereka biasa dikenal sebagai Empat Saudara Tidak Terpisahkan,"


"Tentu saja. Memangnya kenapa?"


"Kalau begitu, nanti setelah lukamu sembuh, kau tantang kembali mereka,"


"Jika mereka berempat bergabung, jujur saja aku tidak sanggup,"


"Kau tenang saja. Kalau mereka menyanggupinya, aku akan datang membantu. Kau melawan dua orang, aku juga sama,"


"Ide yang bagus," kata Huan Ni Mo sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Melawan orang seperti mereka, rasanya kita tidak perlu memakai peraturan dunia persilatan,"


"Benar. Mereka licik, kita harus lebih licik. Demi tanah air, aku siap melakukan apa saja,"


Huang Taiji tersenyum lembut. Ternyata dugaannya selama ini benar. Semua orang akan bersatu jika negaranya terancam dalam bahaya.


"Semingguan lagi lukamu akan sembuh. Saat itulah kau harus membuat surat tantangan untuk Empat Saudara Tidak Terpisahkan,"


"Baik, aku mengerti,"

__ADS_1


"Kalau begitu, kau istirahat saja sekarang,"


Wanita Tombak Asmara tersenyum lembut. Dia tidak membantah sedikitpun karena ucapan Huang Taiji memang benar. Dia butuh istirahat cukup jika ingin segera sembuh dari lukanya.


Chen Li dan pamannya itu langsung keluar ruangan. Tetapi belum sempat mereka turun dari tangga, seorang pelayan dengan terburu-buru menghampirinya.


Begitu tiba di hadapan, pelayan tersebut segera membungkuk sambil memberikan secarik surat.


"Ada surat untuk Tuan," katanya penuh hormat.


"Dari siapa?"


"Beliau tidak menyebutkan nama. Beliau hanya menyuruh supaya hamba memberikannya kepada Tuan,"


"Baiklah. Terimakasih,"


Si pelayan mengangguk. Kemudian dia segera mengundurkan diri dari sana.


Huang Taiji membaca surat tersebut. Tapi begitu dia membacanya, keningnya berkerut beberapa kali.


"Apa isi suratnya Paman?" tanya Chen Li penasaran.


"Ini masalah Paman. Li'er, kau tunggu di sini. Jaga Nyonya Huan. Apapun yang terjadi, kau harus tetap menjaganya. Setelah urusan selesai, Paman akan segera kembali lagi,"


"Tapi …"


"Jangan membantah,"


Chen Li langsung terdiam saat itu juga.


Huang Taiji segera menuruni tangga dengan cepat. Begitu sudah diluar, orang tua itu langsung berlari menggunakan ilmu meringankan tubuh.


Dia masih tidak percaya dengan isi suratnya. Tapi sayangnya dia harus percaya, karena surat tersebut adalah asli.


Isi surat itu hanya berupa undangan. Tulisannya singkat, padat, jelas namun ganjil.


Kira-kira isi suratnya seperti ini.


"Sekarang juga kau harus datang ke Perguruan Kipas Baja. Temui aku. Aku ingin meminta penjelasan darimu. Kalau kau berani datang, berarti kau memang pendekar. Jika tidak berani datang, berarti kau manusia rendahan,"


Yang menulis surat tersebut adalah guru dari Perguruan Kipas Baja.


Sepanjang perjalanan, Huang Taiji sedang mencari jawaban pasti. Apakah terkait masalah gadis kecil itu? Atau, terkait masalah lainnya?

__ADS_1


__ADS_2