Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Sembilan Tokoh Kelas Atas


__ADS_3

"Heughh …"


Suara tertahan terdengar sangat memilukan. Orang itu tidak bisa berkata apa-apa lagi kecuali memperlihatkan sebuah ekspresi rasa sakit yang sangat sulit untuk dijelaskan.


Wajahnya perlahan memucat. Semangat hidupnya redup. Detik berikutnya, cahaya kehidupan dalam dirinya lenyap. Orang itu tewas dengan membawa rasa sakit yang tiada tandingannya.


Darahnya menggenang di bawah tubuh. Tanah kembali dibasahi oleh darah.


Darah berbagai macam prajurit, darah berbagai macam aliran dan berbagai macam tokoh, bercampur menjadi satu dalam genangan kepedihan.


Ternyata darah mereka masih sama. Darahnya masih berwarna merah. Mau itu tokoh kelas atas, atau prajurit kelas paling bawah. Semua darah mereka berwarna merah.


Lantas jika warna darah masih sama, untuk apa menyombongkan diri? Pada hakikatnya manusia memang sama. Yang membedakan hanyalah nasib saat hidup di atas muka bumi.


Tapi kenapa yang di atas selalu sombong? Apakah mereka sombong karena posisinya? Karena kekuasaannya? Karena apa yang mereka punya? Kenapa orang-orang seperti itu hanya berpikir bahwa aku ini berbeda? Kenapa mereka tidak berpikir bahwa aku ini sama?


Yuan Shi berdiri mematung. Pedangnya masih mengucurkan darah musuh. Setetes demi setetes, darah itu terus menetes di ujung pedangnya.


Wushh!!!


Desiran angin tajam melesat sangat cepat ke arah Yuan Shi. Semakin lama, desiran itu terdengar semakin menyeramkan.


Saat dia memperhatikan ke sekelilingnya, ternyata ada ribuan pisau energi yang berasal dari seluruh penjuru mata angin.


Kecepatan pisau energi itu tidak bisa dibayangkan bagaimana cepatnya. Yuan Shi sendiri sedikit terperanjat, dia baru melihat ada senjata energi yang dapat melesat secepat ini.


Blarr!!!


Ledakan terdengar menerbangkan segala yang ada di sekitar. Bebatuan, ranting pohon, bahkan mayat-mayat yang bergelimpangan juga ada yang ikut terbang ke segala arah.


Ketika semua keadaan kembali seperti semula, di hadapan Yuan Shi telah berdiri sembilan orang tokoh kelas atas dari dua Kekaisaran besar.


Walaupun hanya melihat sekilas, siapapun dapat menebaknya bahwa mereka bukanlah tokoh kelas atas sembarangan. Kekuatan yang terpancar keluar dari tubuhnya benar-benar membuat bulu kuduk berdiri.

__ADS_1


Meskipun Raja Seribu Pedang masuk dalam jajaran sepuluh tokoh terkuat di Kekaisaran Wei, tak urung hatinya sedikit gentar juga jika harus berhadapan dengan sembilan lawan seperti mereka sekaligus.


Mereka berdiri dalam diam. Tidak ada yang bicara dari orang-orang tersebut. Semuanya hanya memandang masing-masing lawannya dengan tataoan mata yang sangat-sangat tajam. Mungkin tatapan mata harimau saat mengincar mangsa masih belum sebanding dengan tatapan mereka saat ini.


"Jika aku harus menghadapi mereka sendiri, maka habis sudah riwayatku," gumam Yuan Shi sambil menggertak gigi.


Namun belum sempat dia melakukan pergerakan, sebuah cahaya biru dan putih mendadak memenuhi langit yang kelam. Ada dua kekuatan dahsyat yang menyelimuti jagat raya. Khususnya di sekitar tempat tersebut.


"Siapa bilang kau sendiri?" sebuah suara terdengar di kejauhan sana.


Detik selanjutnya, dua sosok bayangan yang diselimuti cahaya putih dan biru mendadak sudah berdiri di samping Yuan Shi. Keduanya seperti Dewa yang bisa datang secara tiba-tiba. Mereka tersenyum hangat ke arahnya.


Pendekar Halilintar dan Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding.


Ternyata kekuatan dahsyat itu berasal dari kedua tokoh kelas atas tersebut. Melihat kenyataan itu, Yuan Shi menjadi semangat lagi. Semangat yang hampir padam karena kenyataan sebelumnya, sekarang telah menyala dan semakin membara kembali.


Cahaya emas menyelimuti seluruh tubuhnya dengan tebal. Sorot matanya penuh rasa percaya diri.


Jika dua tokoh itu telah ada di sampingnya, apalagi yang harus dia takutkan? Jangankan menghadapi sembilan orang, menghadapi seratus orang pun dia tidak akan takut.


"Sangat siap,"


"Kakak Huang, kau juga siap?"


"Kapan pun aku siap," jawab Huang Taiji.


"Bagus. Mari kita mulai,"


Ketiga tokoh besar dunia persilatan Kekaisaran Wei itu langsung mengeluarkan kekuatan mereka lebih jauh lagi. Delapan puluh persen kekuatannya segera diperlihatkan. Tiga senjata tanpa tanding telah digenggam di tangan masing-masing tokoh tersebut.


Tanah yang mereka pijak mendadak retak. Tanah itu berhamburan lalu melesat ke arah sembilan musuh-musuhnya.


Berbarengan dengan hal tersebut, Yuan Shi, Huang Taiji dan Shin Shui juga turut menerjang ke depan. Ketiganya menyerang tanpa bicara lebih dulu.

__ADS_1


Dalam hal seperti ini, kata bukanlah yang utama. Yang paling penting justru kekuatan. Apakah kita sanggup memenangkan pertarungan atau tidak?


Yuan Shi menebarkan cahaya emas yang menyilaukan mata. Pedang itu melancarkan delapan belas serangan berantai dalam sekali serang. Huang Taiji tidak mau kalah. Dia memutarkan Pedang Tongkat Surga Neraka sehingga senjata unik itu menebarkan hawa panas dan dingin yang bercampur menjadi satu.


Tubuhnya melesat lebih jauh dari pada dua rekannya. Dia menyerang dengan ganas. Pusakanya melancarkan empat belas serangan berbeda dengan kecepatan gerakan yang tiada tandingannya.


Shin Shui tidak main-main lagi. Pedang Halilintar yang merupakan pedang tanpa tanding, langsung menunjukkan taringnya. Pedang pusaka itu melesat seperti kilat yang menyambar bumi. Suara halilintar mengiringi setiap pedangnya bergerak.


Tanpa tanggung lagi, jurus Tarian Ekor Naga Halilintar langsung keluar bersama amarah dan kebencian yang meluap. Shin Shui lenyap dari pandangan semua lawan. Mereka tidak mampu melihat tubuhnya, yang dilihat oleh musuh hanya cahaya biru yang bertebaran ke segala penjuru.


Trangg!!! Trangg!!!


Benturan senjata pusaka kelas atas terjadi. Gelombang kejutnya mampu menyapu segala yang ada. Menyapu harapan. Menyapu impian. Dan menyapu cahaya kehidupan.


Yuan Shi marah besar. Jurus pedang terkuat miliknya sudah keluar. Cahaya emas yang berpijar semakin banyak lagi. Setiap tebasan dan tusukannya membawa kabar dari Malaikat Maut.


Si Raja Seribu Pedang tidak pernah mengeluarkan kekuatannya hingga sampai ke titik ini setelah perang besar pertama dulu, namun kali ini, dia benar-benar mengeluarkannya kembali.


Orang tua itu ingin mengulang sejarah yang telah berlalu. Sejarah lama yang menjadi kenangan, kini akan menjadi kenyataan lagi.


Crash!!!


Satu kepala terlempar. Darah menyembur dengan deras. Satu orang lawannya tewas hanya salam waktu yang terbilang singkat. Tidak ada yang percaya bahwa tokoh kelas atas mampu mampus di tangannya hanya sekejap mata.


Shin Shui bertarung dengan sangat mengerikan. Dia seperti Dewa yang sedang menegur para manusia. Sepak terjangnya tidak bisa dilukiskan lagi. Jika delapan puluh persen kekuatannya sehebat ini, bagaimana kalau nanti dia mengeluarkan seluruh kekuatannya?


Apakah benar masih ada orang yang sanggup menandinginya?


Semuanya bisa saja terjadi. Tinggal bagaimana waktu yang menentukan.


Slebb!!! Slebb!!! Slebb!!!


Tiga tusukan pedang dengan kecepatan sangat tinggi membuat semua pasang mata terbelalak. Semua tokoh kelas atas yang terlibat dalam pertarungan hidup dan mati ini, dibuat tidak percaya dengan apa yang mereka lihat sendiri.

__ADS_1


Sebuah cahaya biru menerjang sangat cepat. Satu tenggorokan telah tertembus ujung pedangnya. Hal itu terjadi sebanyak tiga kali. Tiga kali tusukan pedang dilancarkan, tiga tenggorokan juga yang sudah di tembusnya.


Jurus apa itu? Apakah benar-benar sekuat itu?


__ADS_2