
Tongkat yang merah membara itu disapukan dari arah samping kanan kepada tiga lawannya. Suara seperti angin ribut terdengar saat tongkatnya bergerak.
San Ong ternyata sudah marah pula. Dia tidak ingin berlama-lama melawan musuhnya.
Tiga lawannya merasakan adanya sambaran tenaga yang terlampau dahsyat. Mereka bahu membahu untuk mencoba menahan serangan siluman kera putih tersebut.
Berbagai macak sinar tercipta membentuk gerbang. Suara dentuman keras terdengar ketika masing-masing jurus bertemu.
San Ong terdorong sepuluh langkah ke belakang. Tiga lawannya terpental, tapi dengan cepat mereka menjejak tanah lalu kembali mendapatkan posisinya.
Kekuatan sudah mencapai ke titik tertinggi. Tubuh tiga pendekar itu telah diselimuti oleh aura kegelapan.
Mereka menyerang kembali dari tiga atah berbeda. Trisula menusuk sangat cepat. Sinar biru melesat secepat kilat. Dua pedang melancarkan sabetan sekuat tenaga.
Kecepatan tiga serangan tersebut sulit untuk dilukiskan. Tetapi San Ong tidak takut walau seujung kuku sekalipun.
Dia adalah seorang penguasa.
Penguasa di sebuah gunung yang sudah terkenal ke seantero jagat raya.
Dengan kekuatannya yang sekarang, dia yakin bisa membunuh semua musuhnya.
Dia berteriak keras mengeluarkan suaranya. Terdengar jerit lengkung membuat sakit telinga. Kalau yang tidak kuat, mungkin darah akan langsung keluar dari dua telinganya.
Dia melompat tinggi ke atas. Tiga serangan lawan mengejarnya tak kenal ampun. Begitu possinya sudah tinggi. San Ong membalikan posisinya.
Dia kembali turun dengan kecepatan tinggi. Tongkat pusaka yang mengeluarkan bara api dia putarkan sekuat tenaga. Terlihat percikan api memberikan gugusan seperti meteor yang jatuh ke bumi.
Siluman kera itu tidak mundur. Apalagi menghindar. Dia justru menantang maut tanpa memikirkan kesalahan fatal yang bisa saja terjadi.
"Blarrr …"
Ledakan yang sangat keras terdengar. Debu mengepul tinggi menghalangi tiga lawannya. Tidak ada yang tahu kejadian apa selanjutnya.
Tapi selang beberapa saat saja, tiga pendekar tersebut merasa terkejut setengah mati. Siluman kera itu masih tetap meluncur dengan posisi yang sama.
Bahkan sekarang sudah berada di atas kepala mereka.
__ADS_1
Tak ayal lagi, mereka hanya mampu menghela nafas pasrah untuk menyambut kematian mereka.
Suara keras terdengar kembali. Tiga kepala pecah berantakan seperti halnya batang pohon yang dihancurkan.
Darah muncrat ke segala tempat. Jeroan kepalanya berceceran.
San Ong hanya tersenyum dingin dengan ekspresi khas siluman kera. Sebagai siluman, tentu saja dia tidak mengenal apa itu rasa jijik.
Apalagi majikannya yang sekarang juga sadis. Lengkap sudah.
Lain San Ong, lain lagi Ong San. Sekarang dia sedang menggempur tiga lawannya dengan senjata pusaka berupa pedang kembar.
Dua pedang tersebut melancarkan serangan yang bergulung-gulung seperti ombak mengamuk. Saat ombak mengamuk, apapun akan diterjangnya. Begitu juga yang terjadi dengan Ong San.
Dia menerjang apa saja yang ada di dekatnya. Gerakan permainan pedang kembar siluman itu sangat cepat dan mengerikan. Tak ada celah untuk dapat kelas dari jeratannya.
Sekalipun lawannya berjumlah tiga orang, nyatanya mereka mampu didesak secara perlahan. Tiga musuhnya sudah mengalami luka di sekujur tubuh. Darah terlihat telah mengering. Pakaian mereka robek-robek.
Untuk saat ini, orang-orang tersebut tidak bisa membalas serangan dengan maksimal. Sebab saat mereka mempunyai niat untuk membalas, siluman kera putih itu selalu saja dapat mematahkannya sebelum serangan siap.
Kekuatannya sudah berkurang drastis sebab sebelumnya mereka telah mengeluarkan secara penuh.
Menurut perhitungan, mereka tidak akan mampu bertahan lebih dari tiga puluh jurus berikutnya.
Ong San menambah daya kecepatannya dalam melancarkan serangan. Dua pedang mengobarkan api neraka semakin besar. Hawa panas telah tiba lebih dulu sebelum serangan aslinya datang.
Kakinya bergerak dengan lincah. Sesekali dia berputar rendah menyerang enam kaki dari tiga lawannya. Kadang-kadang dia menyabet ke arah pinggang kanan dan kiri.
Dan sekarang, dia sedang mengincar leher musuh-musuhnya.
Sudah terlalu lama dia bertarung. Hal ini membuatnya bosan. Apalagi tiga lawannya tidak dapat memuaskan hati siluman kera putih itu.
Ong San berteriak nyaring. Kakinya menjejak kentanah lalu dia meluncur deras sambil terus memberikan serangan dengan dua pedang kembar miliknya.
Tiga lawan menangkis dengan sigap. Benturan terjadi. Suara cambuk menggelegar di angkasa. Sayangnya ke depan tidak akan lagi terdengar ledakan cambuk.
Sebab senjata pusaka itu telah ditebas oleh siluman kera tersebut.
__ADS_1
Suara jerit lengking khas siluman kera terdengar memecah malam. Setelah habis suara yang menyakitkan telinga itu, seketika terdengar lagi tiga jeritan yang menyayat hati.
Ketiga lawannya telah tewas di ujung pedang Ong San. Darah menyembur membasahi bulunya.
Mereka tewas terluka di bagian dada dengan luka tusukan maut.
Tiga pertarungan dahsyat selesai juga. Kemenangan diraih oleh pihak Huang Taiji Lu.
Sekarang yang masih tersisa hanyalah pertarungan Chen Li.
Keduanya masih terus bertukar jurus. Entah sudah berapa banyak. Entah sudah berapa lama pula. Yang jelas, mereka tampak sengit seperti tidak bisa dipisahkan.
Si Pendekar Dewa menggunakan senjata berupa kapak. Kapak berwarna perak yang menyilaukan mata. Besarnya lebih besar daripada kapak pada umumnya.
Tenaga luarnya juga sangat hebat. Seolah sekali ayunan kapak tersebut dapat meretakkan sebuah bukit.
Chen Li sudah mengeluarkan seluruh jurus dan kemampuan. Sayangnya dia masih tidak bisa mengalahkan lawan. Sekuat tenaga dia berusaha, hasilnya tetap sia-sia.
Rembulan semakin meninggi. Udara di sana pengap. Hawa terasa panas dan tidak karuan.
Dua pendekar yang terpaut usia sangat jauh masih terus bertarung memperebutkan kemenangan.
Mendadak si Pendekar Dewa menghantam dada Chen Li dengan batang kapak. Seketika bocah itu terpental sejauh puluhan langkah.
Lawannya langsung mengejar. Dia ingin segera mengakhiri pertarungannya. Kalaupun dia harus tewas, itu bukanlah masalah. Selama bocah keparat itu tewas, maka dia sudah merasa sangat puas.
Namun sayangnya keinginan itu tidak bisa terwujudkan. Sebab baru saja dia tiba tengah jalan, seorang berpakaian putih dengan noda darah di seluruh bagian pakaian, sudah berdiri di hadapannya sambil memancarkan aura pembunuhan yang teramat kental.
Matanya mencorong tajam. Persis seperti mata naga yang sedang marah besar.
Tanpa banyak berkata, orang itu segera bergerak secepat angin. Hanya sekali tebas, kepala Pendekar Dewa tersebut langsung terlepas dari tempatnya.
Orang itu tak lain adalah Huang Taiji Lu. Sebab dia sengaja ingin melatih kemampuan Chen Li. Hanya saja situasi tidak mendukung. Sebab kalau dia tidak segera turun tangan, maka nyawanya sudah pasti tidak akan selamat.
Seluruh pertarungan telah selesai. Tak kurang dari enam puluh nyawa manusia terkapar seperti bangkai kambing yang mati kelaparan.
Hanya dalam waktu kurang dari tiga jam, bangunan mewah yang memiliki halaman indah dengan taman bunganya, kini telah berubah menjadi tempat pembantaian.
__ADS_1