Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Amarah Malaikat Maut


__ADS_3

Suasana di sana menjadi hening. Bahkan sangat hening. Jangankan suara orang bicara, suara helaan nafas pun rasanya tidak ada. Enam orang tokoh Organisasi Elang Hitam itu seakan lupa bagaimana caranya bernafas.


Mereka masih membayangkan kejadian mengerikan yang baru saja terjadi. Seorang pendekar muda mampu membunuh tiga puluhan orang anggotanya dalam waktu yang sangat singkat, siapa yang akan percaya kejadian seperti ini kalau tidak melihatnya secara langsung?


Puluhan orang itu rata-rata sudah berusia tua. Umur mereka paling minimal adalah empat puluhan tahun ke atas. Di umur yang sudah sebegitu tua, sudah pasti pengalamannya sangat banyak.


Dalam dunia persilatan, terkadang tingginya ilmu akan kalah dengan banyaknya pengalaman. Sebab karena pengalaman, manusia bisa belajar jauh lebih baik dan lebih bagus dari sebelumnya.


Tapi sekarang, kenapa puluhan anggota itu bisa mampus di tangan pendekar muda itu? Apakah si pemuda juga mempunyai pengalaman yang sangat banyak? Ataukah dia mempunyai sebuah ilmu serta kekuatan yang berbeda dari pada umumnya?


Enam orang tokoh Organisasi Elang Hitam tersebut tidak menjawab. Karena hakikatnya memang mereka tidak sanggup memberikan jawaban apapun.


"Jurus yang menakutkan," kata salah seorang di antara mereka.


"Mungkin. Sebentar lagi kalian akan merasakannya sendiri,"


Mendengar perkataan seperti itu, enam orang tua tersebut tercekat. Mereka saling pandang dengan rekannya masing-masing. Kalau pemuda asing itu berkata bahwa mereka akan merasakannya, bukankah itu artinya mereka juga akan mati?


Sebab semuanya sudah terbukti. Tiga puluh anggotanya telah merasakan bagaimana mengerikannya jurus si pemuda. Dan mereka semua, kini telah mati.


Lalu apakah benar enam orang itu juga akan mampus?


"Masalah sudah terlampau rumit. Kau berani bertindak sudah sejauh ini, jadi sepertinya tidak ada cara lain kecuali melangsungkan pertarungan hidup dan mati," ujar si orang tua tadi menjawab ucapan Pendekar Merah.


Bagi mereka, apa yang sudah dilakukan oleh pemuda bergelar Pendekar Merah itu sudah kelewat batas. Orang yang berani menyerang markas suatu organisasi ataupun sejenisnya, itu berarti orang tersebut ingin mampus.


Mereka adalah seorang pembunuh. Pembunuh bayaran yang sudah sangat ahli di bidangnya. Dalam hal mencabut nyawa, mereka mempunyai seribu macam cara yang mungkin tidak pernah dipikirkan oleh orang lain.


Sekarang ada orang yang sengaja mengantarkan nyawa, bagaimana mungkin mereka akan melepaskannya begitu saja?


"Bagus, bagus sekali. Justru memang pertarungan itu yang aku inginkan," jawab Pendekar Merah sangat antusias.


Enam orang tokoh itu terkejut sekaligus gembira. Mereka tidak menyangka bahwa pemuda asing tersebut ternyata mempunyai nyali yang benar-benar berbeda dari pemuda seusianya.


"Baik. Kita mulai!!!"

__ADS_1


Wushh!!! Wushh!!! Wushh!!!


Enam sosok bayangan melesat dengan cepat. Kilatan senjata tajam telah tampak membelah udara malak yang hampa serta dingin itu.


Pendekar Merah telah bersiap. Pedang Merah Darah telah digenggam semakin erat dan ditaruh dalam posisi bersiap.


Enam serangan dengan senjata berbeda dalam dari segala sisi. Tiga tusukan datang dari depan mengincar dadanya. Tiga sabetan dan bacokan datang dari sisi kanan dan sisi kiri.


Segulung angin dahsyat menderu. Kekuatan tak berwujud mendadak tercipta dari jurus dua belah pihak.


Serangan datang dengan telak.


Pendekar Merah memutarkan tubuhnya untuk menghindari serangan semua lawan. Pedang Merah Darah berputar sangat cepat untuk menangkis setiap jurus senjata.


Trangg!!! Trangg!!!


Dentingan nyaring mulai terdengar bersahutan. Tujuh orang pendekar tersebut saat ini sudah berlangsung dengan sengit.


Dua tusukan pedang dari arah belakang datang dan mengincar punggung Pendekar Merah. Dari sisi kanan dan sisi kiri datang jurus serangan jarak jauh. Dari arah depan datang pula tusukan lain yang tidak kalah hebatnya.


Gelegarr!!!


Pendekar Merah terdorong tiga langkah. Tubuhnya bergetar hebat karena terjangan jurus lawan ternyata sangat dahsyat. Sedangkan enam orang musuhnya hanya tergetat dua langkah, meskipun tubuh mereka sama bergetar, namun getarannya tidak sekeras Pendekar Merah.


Darah dalam tubuh Chen Li bergolak hebat. Pemuda itu menyadari bahwa enam tokoh itu bukanlah lawan enteng. Kalau mereka menyerang satu-satu, mungkin Chen Li masih sanggup.


Tapi jika menyerang secara bersamaan, dia sendiri merasa ragu. Kemampuannya saat ini belum mencapai tahap sempurna. Oleh karena itu, dia masih belum sanggup untuk melawan mereka secara bersamaan.


Namun meskipun begitu, Pendekar Merah bukan penakut. Seumur hidupnya, dia tidak mengenal rasa takut.


Wushh!!!


Cahaya merah mendadak terlihat lagi. Pendekar Merah sudah menyerang kembali mendahului enam orang musuhnya. Pedang pusaka itu bergetar sehingga menghasilkan satu serangan dahsyat yang terasa datang dari segala penjuru mata angin.


Enam orang tokoh tua tersebut tidak tinggal diam tentunya. Melihat serangan si pemuda yang semakin gencar, mereka berniat untuk mengeluarkan seluruh kekuatannya.

__ADS_1


Wushh!!!


Angin menderu kencang. Hawa panas dan dingin menyatu menjadi satu. Berbagai macam jurus dahsyat dilancarkan. Serangan hebat dari senjata pusaka juga sudah diberikan.


Pendekar Merah tersentak. Dia ingin menarik mundur tubuhnya, sayangnya sudah terlambat. Sebab pada saat itu, tubuhnya telah tiba di hadapan semua lawan.


Semua itu berjalan sangat cepat. Sangat singkat. Dan sangat dahsyat.


"Amarah Malaikat Maut …"


Wushh!!!


Jurus kedua dari Kitab Pembawa Maut dikeluarkan. Pendekar Merah mengambil satu langkah yang sangat tepat waktu. Tepat pada saat semua serangan lawan hampir menggempur dirinya, pemuda itu lebih dulu melancarkan jurus miliknya.


Pedang Merah Darah berputar. Pedang itu juga kadang-kadang menusuk dan menebas. Semua gerakannya sangat cepat, sangat dahsyat dan sangat menakutkan.


Enam orang tokoh tua itu kemudian berpencar. Mereka sengaja ingin membuat Pendekar Merah kebingungan karena situasinya mungkin tidak sesuai dengan apa yang dia pikirkan.


Tapi, benarkah kenyataannya demikian?


Wushh!!! Crashh!!!


Dugaan mereka salah. Dugaan tiga tokoh Organisasi Elang Hitam itu benar-benar salah.


Jurus Amarah Malaikat Maut adalah jurus dahsyat dan mengerikan. Jurus itu akan lebih sempurna jika posisi lawannya berpencar. Sekarang secara kebetulan semuanya terjadi, sudah tentu hal itu menjadi keuntungan bagi Pendekar Merah.


Pedang Merah darah berhasil menebas satu lengan musuhnya. Darah menetes dari pangkal lengan yang menjadi korban keganasan pusaka tersebut.


Sekalipun dia belum mati, tapi setidaknya dia tidak jauh lebih baik dari orang mati. Lengan yang satunya kini telah buntung. Itu artinya, kekuatan yang dapat dikeluarkannya juga akan berkurang.


Orang itu menggertak giginya untuk menahan rasa sakit yang teramat sangat itu.


Sementara itu, lima orang lainnya telah siap kembali.


Melihat satu rekannya terluka cukup parah, amarah dalam diri lima orang tokoh lainnya semakin membara. Hawa kematian semakin kental.

__ADS_1


Wushh!!! Wushh!!!


Lima bayangan melesat lagi. Jurus serangan jarak jauh dilancarkan pada saat yang bersamaan. Suasana kembali mencekam.


__ADS_2