Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Kembali ke Lembah Ketenangan


__ADS_3

Waktu sangat cepat berlalu. Tanpa terasa tujuh hari hampir tiba. Itu artinya, sudah seminggu pula Chen Li di dunia luar.


Selama seminggu berada di dunia luar, pemuda yang cerdas itu tidak berbuat apa-apa lagi. Dia tidak berbuat sesuatu yang menggemparkan kembali. Namun meskipun begitu, Chen Li tetap melakukan pembunuhan.


Setidaknya ada belasan tokoh cukup ternama di dunia persilatan yang dia bunuh selama beberapa hari belakangan ini. Cara membunuhnya sekarang berbeda dengan cara sebelumnya.


Pendekar Merah melakukan pembunuhan secara gelap. Dia menjalankan aksinya dengan senyap. Sedikitpun tiada seorang yang mengetahuinya.


Meskipun caranya berbeda, namun wataknya masih sama. Kekejamannya juga masih sama. Semua orang yang berhasil dia bunuh, kalau tidak kepalanya dipenggal, minimal jantung atau tenggorokan orang tersebut berhasil ditusuk oleh Pedang Merah Darah.


Saat ini suasana tengah malam, malam semakin pekat. Udara semakin dingin. Angin malam berhembus mesra membelai tubuh seorang pemuda bergelar Pendekar Merah atau si Pendekar Tanpa Perasaan.


Saat ini dia sedang berlari menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang sudah setara dengan tokoh kelas atas itu.


Chen Li bergerak seperti bayangan. Tubuhnya berkelebat sangat cepat seperti sukma yang gentayangan. Pemuda itu berlari menyusuri hutan yang rimbun.


Sesekali tubuhnya lenyap di balik pepohonan yang tidak terhitung banyaknya itu. Namun selanjutnya dia akan tampak kembali.


Suara raungan binatang malam terdengar riuh di keheningan. Suara lolongan serigala saling bersahutan dengan suara lolongan anjing.


Di suasana yang sepi dan menyeramkan ini, siapapun mungkin tidak akan ada yang mau melewatinya. Tapi hal tersebut tidak berlaku bagi bocah bernama Chen Li.


Dia tidak merasa takut. Dia juga tidak merasa seram. Pun, dirinya tidak merasakan kesepian.


Bocah itu tetap melesat tanpa berhenti ataupun menoleh ke belakang. Sepasang matanya tetap lurus memandang jauh ke depan. Saat ini dirinya sudah memakai pakaian yang sama seperti pada saat dia akan melihat dunia luar.


Alasan dia memakai pakaian persis tersebut karena tepat pada malam ini, dia akan kembali lagi ke tempat yang tersembunyi. Tempat yang jarang dikunjungi oleh para manusia.


Di tempat itu, tidak ada siapapun kecuali dia dan Huang Taiji. Kalau biasanya Chen Li tidak merasa kesepian karena seorang diri, tapi entah kenapa, kalau sedang berada di sana, kesepian selalu saja datang menghampiri.


Setiap detik, setiap menit, bahkan setiap saat. Kesepian selalu saja singgah di kehidupannya.


Apakah karena dia berdiam di tempat yang jauh dari keramaian manusia? Ataukah karena di tempat itu tidak ada kehidupan para manusia?

__ADS_1


Mentari telah naik semakin tinggi. Burung Phoenix Raja masih terbang menembus cahaya terang itu. Pendekar Merah mengikutinya dari arah belakang.


Tidak berapa lama lagi, keduanya akan sampai di tempat tujuan mereka.


Setelah melewati hutan dan wilayah lainnya, akhirnya mereka tiba di sebuah tempat yang terpencil namun menyimpan sejuta rahasia dan sejuta keindahan.


Lembah Ketenangan.


Saat dirinya tiba di sana, terlihat Huang Taiji sedang duduk di tempat biasa. Orang tua itu tentu sedang menunggu kedatangannya.


Phoenix Raja telah terbang tinggi entah ke mana. Sedangkan majikannya telah tiba di hadapan sang paman.


"Kau kembali tepat waktu," kata Huang Taiji setelah Chen Li duduk di hadapannya.


"Selama tiga tahun ini Li'er telah dilatih untuk selalu disiplin. Karena itulah sekarang Li'er bisa tiba tepat pada waktunya," jawab Chen Li penuh hormat.


Pemuda itu segera mengeluarkan arak yang harum dan mahal harganya. Kebetulan saat di perjalanan pulang tadi, dia telah membeli segala macam persediaan untuk dirinya dan Huang Taiji selama menetap di Lembah Ketenangan.


Persediaan yang dimaksud tentunya persediaan pokok. Dan salah satunya adalah arak.


"Kau telah bertambah cerdas. Kau mengambil langkah yang seharusnya kau ambil. Hanya saja, kelak, kalau akan melakukan sesuatu, minimal kau harus pikirkan kekuatanmu terlebih dahulu," ujar Huang Taiji secara tiba-tiba.


Chen Li kebingungan, dia belum mengerti apa maksud dari pamannya tersebut. Alasannya karena orang tua itu tiba-tiba bicara seperti demikian tanpa sebab apapun.


"Apa maksud Paman? Li'er sama sekali tidak mengerti," kata Chen Li bicara apa adanya.


"Apalagi? Paman hanya ingin memberitahu hal itu kepadamu,"


"Tapi apapun pasti ada alasannya. Lantas, alasan apa yang membuat Paman bicara demikian?"


"Alasannya karena kau telah membuat sesuatu yang menggemparkan. Aii, kau seperti seekor anjing yang selama tiga tahun dirantai lalu dilepas. Saat dilepas, anjing tersebut pasti akan beringas dan menerkam siapa saja. Ternyata kau pun begitu, setelah selama ini dikurung, begitu keluar kau langsung menerkam sarang naga dan harimau,"


Chen Li langsung mengerti. Tanpa perlu dijelaskan lebih lanjut sekalipun, dia telah paham. Sangat paham malah.

__ADS_1


Sarang naga dan harimau yang dimaksud tentunya markas Organisasi Elang Hitam. Kenyataannya memang begitu, pada saat dia keluar dari Lembah Ketenangan, dirinya memang langsung menerima. Dia langsung membuat sesuatu yang menggemparkan jagat.


Namun di balik semua itu, yang menjadi pertanyaan dalam benak Chen Li sekarang, dari mana Huang Taiji tahu akan hal tersebut?


Apakah selama ini dia selalu mengikutinya dari arah belakang? Atau kau selama dia keluar, Huang Taiji menitipkan dirinya kepada seseorang?


"Sebentar, dari mana Paman tahu akan hal tersebut?" tanya Chen Li ingin mengetahui lebih lanjut lagi.


Huang Taiji hanya tersenyum simpul penuh arti. Sepasang matanya memandang dengan penuh kasih sayang.


"Apapun yang kau perbuat selama belakangan ini, Paman dapat mengetahuinya dengan pasti,"


"Tapi bagaimana bisa seperti itu?"


"Seseorang, jika sudah memiliki hubungan batin yang amat dekat, biasanya mereka akan mengetahui satu sama lain apa yang terjadi di belakangnya,"


"Dari mana hal itu terjadi?"


"Hati. Hatimu akan memberitahu dengan sendirinya. Asal kau peka, asal kau sudah berdamai dengan dirimu, maka kau akan mengetahui apa yang belum tentu diketahui oleh orang lain,"


"Apakah berdamai dengan diri sendiri penting?"


"Sangat penting. Sebab jika kau sudah berdamai dengan diri sendiri, maka kau akan merasakan sesuatu yang belum pernah kau rasakan sebelumnya. Tabir kehidupan akan tersingkap seiring berjalannya waktu,"


Chen Li langsung terbungkam. Sekalipun dia memang cerdas, namun jika bicara sedalam itu, dirinya belum mengerti secara keseluruhan.


Apa yang dimaksud oleh Huang Taiji belum dia pahami dengan benar. Namun dirinya yakin, suatu saat nanti, dia pasti akan mengerti maksud pamannya tersebut.


"Sekarang kau telah kembali. Besok pagi-pagi, guru barumu akan tiba. Bersiaplah untuk berlatih lagi," kata Huang Taiji setelah mereka membungkam mulut cukup lama.


"Baik Paman. Li'er akan menuruti semua perkataan Paman. Terimakasih atas ilmunya,"


"Ilmu apa?" tanya Huang Taiji mengetes Chen Li.

__ADS_1


"Setiap kata yang terakhir Paman bicarakan adalah ilmu. Ilmu langka yang tidak akan didapat dari setiap guru. Hanya saja karena Li'er 6, Li'er belum mengerti sepenuhnya,"


"Suatu saat nanti kau akan mengerti sendiri," jawab Huang Taiji tersenyum sambil mengusap kepala pemuda itu.


__ADS_2