
Shin Shui terkejut. Secepat kilat dia melompat ke belakang untuk menghindari serangan siluman elang merah yang datang secara tiba-tiba tersebut. Namun, dari arah belakang juga rupanya ada lagi sebuah sambaran angin keras.
Satu ekor siluman elang merah saat ini sedang melesat juga menuju ke arahnya. Untung bahwa insting Shin Shui sudah terlatih. Dia menjejak tanah lalu terbang le atas.
Dan ternyata, siluman yang dipanggil bukan hanya dua ekor saja. Melainkan ada berbagai macam siluman lagi yang jumlahnya hampir lima belas ekor. Bahkan kekuatan siluman yang baru datang ini, lebih kuat daripada para siluman yang ada sebelumnya.
Di perkirakan, semua siluman yang baru datang setara dengan Pendekar Dewa tahap tiga.
Shin Shui tidak pernah menyangka bahwa Raja Siluman Tanpa Ampun akan memanggil semua siluman yang ada di sekitar Hutan Misteri. Hal seperti ini sungguh diluar dugaan Pendekar Halilintar dan yang lainnya.
Kalau melawan Raja Siluman Tanpa Ampun dan beberapa ekor siluman, mungkin Shin Shui masih sanggup. Tapi lain lagi ceritanya kalau jumlah yang harus dia hadapi sebanyak ini.
Sebelum Shin Shui bertindak lebih jauh, lima belasan ekor siluman yang baru datang tersebut sudah melancarkan masing-masing serangan jarak jauh mereka.
Setiap serangan yang dilancarkan oleh satu siluman, bukanlah serangan ringan. Semuanya serangan keras yang mampu membunuh dalam sekali serang.
Pendekar Halilintar tidak kaget. Walaupun kondisi terdesak seperti sekarang, dia tetap berusaha untuk menguasai dirinya.
Dalam situasi apapun, cobalah untuk tetap tenang. Karena kekuatan di balik ketenangan sungguh mengerikan.
"Dewa Halilintar Mengguncangkan Semesta …"
"Wushh …"
Jurus terkuat dari Kitab Halilintar langsung Shin Shui keluarkan. Dengan kekuatan seperti sekarang ini, setidaknya dia sanggup untuk membunuh ratusan Pendekar Bumi dan Langit sekaligus.
Namun yang jadi pertanyaan, apakah dia sanggup membunuh belasan siluman itu sekaligus?
Tubuh Shin Shui memancarkan cahaya. Cahaya biru terang menyelimuti tubuhnya bersamaan dengan merembesnya kekuatan dahsyat yang terpancar. Sosok pendekar terkuat itu bukan lagi terlihat seperti manusia, melainkan seperti seorang dewa.
Dewa Halilintar.
Langit berguncang keras. Suara gemuruh halilintar terdengar sangat mengerikan. Bumi berguncang seperti dilanda gempa bumi besar.
__ADS_1
Dunia seperti kiamat.
Hujan kilat serta halilintar mulai menggelegar menyambar seluruh permukaan. Belasan jurus mengerikan dari para siluman berhasil dipatahkan oleh Shin Shui.
Tidak hanya itu saja, bahkan jurus dahsyat tersebut masih menyerang semua siluman dengan mengerikan. Siapapun yang melihat kejadian seperti ini, bohong kalau dia tidak merasa ketakutan.
Mungkin kalau orang yang penuh rasa takut, mereka akan kencing di celana saking mengerikannya jurus Dewa Halilintar Mengguncangkan Semesta ini.
Belasan siluman tersebut meraung. Suara yang tidak kalah mengerikan keluar dari masing-masing mulut mereka. Adu jurus tertinggi terjadi. Udara terasa sangat sesak. Bahkan pecah.
Shin Shui semakin marah. Dia meningkatkan kekuatannya sampai ke titik puncak. Beberapa saat kemudian, dua ekor siluman berteriak menyayat hati.
Detik selanjutnya, dua ekor siluman tersebut terkapar. Siluman itu tewas dengan tubuh tercabik-cabik oleh jurus Shin Shui.
Siluman yang selamat dan Raja Siluman Tanpa Ampun, terpental sampai sepuluh tombak.
Mereka semua sungguh terkejut dengan kenyataan ini. Hanya satu jurus, ternyata lawan mampu membunuh dua siluman sekaligus.
Bagi Shin Shui, bisa membunuh dua siluman saja sudah sangat baik. Mungkin itu adalah keberuntungannya. Karena mengingat lawan sangat banyak, rasanya mustahil bisa membunuh satu ekor pun. Dan sekarang malah dia mampu membunuh dua sekaligus, itu artinya langit sedang berpihak kepadanya.
Semua siluman yang selamat mengalami luka. Anehnya, luka tersebut dapat pulih dengan cepat. Bahkan kali ini mereka sudah menyerang lagi.
Shin Shui tidak tinggal diam. Dia segera memanggil sahabatnya.
Kaisar Naga Merah.
Dalam situasi seperti ini, dia sangat membutuhkan bantuan Kaisar di Negeri Siluman itu. Setidaknya kalau dia datang, maka Shin Shui dapat membawa kemenangan. Tetapi kalau sahabatnya tidak datang, maka tidak akan ada harapan lagi baginya untuk selamat.
Lencana pemberian Kaisar Naga Merah sudah tergenggam erat di tangan. Secepat kilat dia segera melakukan proses pemanggilan.
Saat proses selesai, saat itu juga gempuran serangan dari lima belas siluman termasuk dua ekor elang merah sudah datang menerjang. Tubuhnya menjadi sasaran telak dari berbagai macam jurus.
Dia menghindar. Sebisa mungkin tidak mau mengambil resiko terlalu besar. Setelah mendapatkan posisi yang memang tepat untuk membalas, Shin Shui bergerak kembali.
__ADS_1
"Tapak Amarah Dewa Halilintar …"
"Wushh …"
Energi putih bercampur biru berbentuk tapak segera melesat ke depan menghalau belasan jurus serangan para siluman. Benturan jurus tingkat atas terjadi lagi, gelombang kejutnya mampu merobohkan puluhan batang pohon.
Kedua belah pihak terpental. Si Raja Siluman Tanpa Ampun yang sedari tadi diam, kini dia mulai bergerak kembali.
Dia melancarkan jurus terhebat seperti yang dilakukan oleh para siluman. Tiga buah sinar berwarna merah membentuk ular sebesar pohon melesat ke arahnya.
Sinar tersebut sangat cepat sekali. Bahkan sinar terangnya mampu mengubah suasana untuk beberapa saat. Ketika itu Shin Shui juga sudah melakukan persiapan. Sehingga dia mampu menahan jurus dahsyat tersebut dengan jurusnya sendiri yang tidak kalah mengerikan.
Benturan jurus hebat kembali terjadi.
Sekarang pertarungan Pendekar Halilintar berada jauh dari pertarungan Chen Li dan Maling Sakti Hidung Serigala.
Hal ini memang sengaja dilakukan oleh Shin Shui, karena kalau mereka berdekatan, dapat di pastikan kakak angkat dan anaknya akan terkena efek.
Saat jurus Shin Shui berbenturan dengan jurusnya Raja Siluman Tanpa Ampun, terlihat bahwa pria tua itu terpental ke belakang sampai lima tombak.
Hal ini memang dapat diartikan bahwa musuh berada di bawahnya. Kalau saja lawan Shin Shui hanya dia seorang, maka bisa dipastikan dirinya dapat membunuh Raja Siluman Tanpa Ampun.
Apalagi sekarang dia sudah mengeluarkan kekuatan yang sesungguhnya.
Sayangnya, situasi berbeda dengan yang dia harapkan. Saat Raja Siluman Tanpa Ampun terpental itu, serentak lima belas siluman sudah menyerang Shin Shui lagi.
Kali ini ada dua macam serangan. Yang satu jarak dekat, satu lagi jarak jauh.
Walaupun mereka para siluman, tetapi harus diakui bahwa di dalam hatinya, Pendekar Halilintar mengagumi.
Karena dua serangan berbeda tersebut, Shin Shui harus memutar otak secepat mungkin. Dia tidak boleh gegabah sama sekali. Salah sedikit saja, nyawanya pasti melayang.
Selama itu, Shin Shui berpikir keras. Apakah dia harus menangkis serangan jarak jauh, atau jarak dekat? Kalau jarak jauh, maka serangan jarak dekat akan menghantamnya. Kalau memilih menangkis serangan jarak dekat, sudah pasti serangan jarak jauh akan menganai telak dirinya.
__ADS_1
Pendekar Halilintar benar-benar berada dalam posisi kebingungan untuk saat ini.