Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Sosok Bercahaya Putih


__ADS_3

Burung itu memancarkan cahaya merah pekat. Aura agung dan kekuatan dahsyat terasa di sekitar tempat tersebut. Pasukan yang mengelilingi Pendekar Tanpa Perasaan terlempar karena kekuatan tersebut.


Chen Li telah berdiri dengan gagah perkasa. Seluruh kekuatan warisan Shin Shui dan kekuatan dua bola Mata Dewa menyatu menjadikan kemampuan bocah itu bertambah hebat.


Chen Li bergerak melancarkan puluhan serangan beruntun ke segala arah. Bocah itu sudah marah besar. Amarah dalam tubuhnya telah mencapai puncak.


Huang Taiji berada tidak jauh dari tempat Chen Li. Orang tua itu juga mengetahui apa yang telah terjadi. Hanya saja dia tidak bisa membantu lebih. Sebab pada saat itu dirinya juga sedang dikurung oleh puluhan musuh.


Sekarang setelah mengalahkan semua lawan, Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding mendadak melesat ke arah Chen Li. Pedang Tombak Surga Neraka digerakkan untuk melancarkan berbagai macam serangan dahsyat.


Susana di sekitar sana menjadi riuh karena amukan mereka berdua. Perang besar sudah mencapai batas akhir. Kekaisaran Wei telah berada di bawah kekuasaan musuh.


Kekalahan berpihak kepada Kekaisaran Wei. Pihak musuh sudah mulai bersorak sorai. Suara menggema terdengar menggetarkan alam semesta.


Pahlawan Kekaisaran Wei yang tersisa sudah memundurkan diri. Mereka lari bukan karena takut mati ataupun takut kepada musuh, mereka lari karena menyadari bahwa situasinya sudah tidak sesuai harapan.


Lapangan luas itu mulai lenggang. Yang tersisa di sana hanya pasukan musuh saja. Yang ada di sana tinggal beberapa puluh orang pahlawan. Termasuk Pendekar Tanpa Perasaan dan Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding.


Keduanya masih mengamuk. Mereka masih membantai musuh sebanyak mungkin. Kekuatan berlipat ganda telah keluar. Puluhan bahkan ratusan tokoh tewas di tangan Huang Taiji.


"Li'er, kita mundur sekarang. Situasi sudah tidak sesuai harapan, jangan sampai kita mati konyol," kata Huang Taiji di tengah pertempuran yang mereka langsungkan.


"Apa maksudmu Paman? Apakah kau akan memgecwalan harapan semua orang?" teriak Chen Li tidak terima.


Wushh!!!


Huang Taiji bergerak sangat cepat. Dia langsung menotok Chen Li sehingga bocah itu langsung tidak sadarkan diri.


Setelah itu, orang tua tersebut langsung membawa Pendekar Tanpa Perasaan mundur dari medan pertarungan.


Wushh!!!


Bayangan putih melesat. Hanya sesaat, Huang Taiji telah menghilang dari pandangan semua orang.

__ADS_1


###


Tiga hari sudah berlangsung. Perang besar telah berakhir sepenuhnya. Istana Kekaisaran Wei saat ini telah dipenuhi oleh musuh. Para pendekar dan para pahlawan Kekaisaran Wei telah pergi entah ke mana.


Mereka bermaksud menyembunyikan diri untuk beberapa waktu. Meskipun sekarang kemenangan sudah tidak ada, tapi mereka yakin, harapan akan selalu ada.


Harapan untuk merebut tanah kelahiran akan selalu ada. Mungkin memang bukan sekarang, tapi nanti, saat itu pasti akan datang kembali.


Kondisi Kekaisaran Wei hancur seluruhnya. Semua wilayah Kekaisaran itu telah berubah total. Yang ada di setiap tempat hanyalah orang-orang dari negeri lain.


Meskipun perang sudah berakhir, tapi kesedihan belum berakhir. Kesedihan itu akan tetap ada untuk beberapa waktu ke depan atau bahkan mungkin selamanya.


Pengalaman terburuk Kekaisaran Wei ini akan terkenang untuk selama-lamanya. Perang besar ini tidak akan pernah terlupakan oleh siapapun.


Perang yang baru saja terjadi adalah perang terparah. Perang terburuk. Dan perang yang paling mengerikan.


Jumlah korban yang berjatuhan mencapai ratusan ribu orang banyaknya. Siapapun tidak akan ada yang dapat membayangkan betapa mengerikannya perang besar ini.


###


Sepasang manusia sedang duduk di atas sebuah batu hitam di bawah pohon sakura. Tempat tersebut merupakan sebuah lembah. Lembah yang sangat indah yang dipenuhi dengan bunga mekar.


Puluhan jenis burung langka berkicau dengan merdu. Sinar mentari pagi menyorot keduanya memberikan kehangatan dan kenyamanan.


Di depan sepasang manusia itu, ada satu sosok yang berdiri membelakangi keduanya. Sosok itu mengeluarkan cahaya putih menyilaukan. Seluruh tubuhnya juga diselimuti oleh aura putih yang memancarkan aura agung.


Entah siapa sosok itu sebenarnya. Yang jelas, dia tidak tampak seperti manusia. Sosok itu tampak seperti seorang Dewa. Dewa agung yang turun dari alam nirwana.


"Untuk beberapa waktu ke depan, di sinilah tempat kalian," kata sosok tersebut tanpa membalikkan tubuhnya.


Suaranya terdengar sangat lembut dan penuh kehangatan. Saat dia bicara, bau harum bunga mendadak menyeruak. Segulung kekuatan dahsyat langsung menyelimuti keadaan di sekitar.


"Kenapa kami harus berdiam di sini? Tugas kami belum selesai, kami tidak bisa berdiam diri saja. Apalagi Kekaisaran Wei sedang berada di ujung tanduk, bagaimana mungkin kami diam saja?" kata si pria kepada sosok tersebut.

__ADS_1


Sosok bercahaya putih itu terdengar tersenyum kembali.


"Aku tahu perasaan kalian. Sebagai seorang pendekar, sebagai seorang pemimpin, kalian pasti sangat tidak ingin berdiam diri saat tanah air terancam hancur. Tapi bagaimanapun juga, kalian harus ingat bahwa kekuatan sekarang sangat tidak seimbang. Kekuatan kalian belum mampu untuk mengalahkan mereka. Jika perjuangan diteruskan, semuanya hanya sia-sia belaka," ucapnya.


Sepasang manusia itu menghela nafas dalam-dalam. Mereka mengerti, mereka tahu betul apa yang dimaksud oleh sosok putih tersebut. Meskipun hatinya tidak terima, tapi keduanya mencoba untuk menerima keadaan dengan lapang dada.


"Apa yang kau katakan memang benar dan sangat beralasan. Mungkin sudah seharusnya kami seperti ini, tapi, bagaimana dengan dia?"


"Kalian jangan khawatir. Dia akan baik-baik saja. Justru yang bisa mengembalikan semuanya hanyalah dia. Kelak, dia akan merampas kembali apa yang menjadi haknya, kalian jangan khawatir,"


"Aku percaya bahwa langit akan selalu melindungi dirinya,"


"Itu sudah pasti. Karena dia adalah bagian dari kami. Selama dunia masih ada, kami akan selalu menjaganya. Kami akan selalu melindungi dia, sekali lagi, kalian jangan khawatir," ucap sosok putih tersebut mengingatkan kembali.


"Kalau begitu baiklah, kami percaya apa yang kau katakan," jawab si pria.


"Kalian harus percaya. Sebab apa yang aku katakan merupakan kepastian. Tugas kalian sekarang adalah meningkatkan kemampuan hingga ke titik tertinggi. Jangan khawatir, rekanku akan menemani kalian selama berada di sini,"


Keduanya mengangguk. Sepasang manusia itu tidak bisa lagi membantah.


"Baiklah. Kami akan mendengarkan apa yang kau katakan. Tapi sebenarnya, siapakah kau ini?"


"Suatu saat nanti kalian akan tahu sendiri,"


"Kalau begitu baiklah. Terimakasih untuk segalanya, aku titipkan dia kepada kalian,"


"Tenang saja, bebaskan pikiran kalian dari segala macam urusan keramaian. Fokus kepada tujuan sekarang,"


"Kami mengerti,"


Sosok bercahaya putih itu mengangguk tanda puas. Beberapa saat kemudian, dia pergi begitu saja. Tanpa pamit, tanpa bicara. Hanya sesaat, sosok tersebut telah lenyap dari pandangan mata.


Sekarang yang ada di sana hanya sepasang manusia tadi. Keduanya membungkam mulut, belum ada yang bicara di antara mereka.

__ADS_1


Siapakah sepasang manusia itu sebenarnya?


__ADS_2