Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Kereta Kuda Yang Mewah


__ADS_3

Tiga hari sudah berlalu. Huan Ni Mo si Wanita Tombak Asmara telah sembuh dari luka parahnya. Tetapi dia dan yang lainnya masih tinggal di goa yang merupakan 'rumah' sementara Ang Mo Bian si Pengemis Sakti Bertangan Enam.


Saat ini waktu menunjukkan siang hari. Matahari bersinar terik. Angin seperti hilang ditelan bumi. Keadaan sepi sunyi.


"Tuan Ang, hari ini kami akan pamit untuk pergi kembali," kata Huang Taiji kepada kakek tua tersebut.


Seperti biasanya, Ang Mo Bian selalu menenggak arak lebih dulu sebelum berbicara. Tangan kanannya memasukkan sepotong daging ke mulutnya.


"Aii, baiklah kalau begitu. Maaf aku tidak bisa pergi bersama kalian, sebab urusanku masih banyak. Suatu saat pasti kita akan berjumpa kembali," ujar Ang Mo Bian.


"Tuan Ang tidak perlu berkata seperti itu. Kami juga paham, baiklah suatu saat kita berjumpa dan minum arak bersama," jawab Huang Taiji sambil tertawa.


Ang Mo Bian tertawa. Yang lainnya juga tertawa. Mereka segera pergi dari goa tersebut.


Tiga bayangan melesat dengan cepat. Hanya beberapa tarikan nafas, ketiganya telah lenyap dari pandangan si Pengemis Sakti Bertangan Enam.


Huang Taiji, Huan Ni Mo dan Chen Li berlari beriringan. Mereka bertiga berniat untuk pergi ke Bukit Merah Salju. Jarak ke sana membutuhkan waktu sekitar satu hari perjalanan.


Karena jaraknya tidak terlalu jauh, maka ketiga orang tersebut berjalan dengan santai. Mereka menikmati pemandangan yang ada di sepanjang perjalanan.


###


Hutan itu sangat luas. Keasrian udara di sana masih sangat terjaga sekali. Bau harum tunas tumbuhan menusuk hidung, suara berbagai macam binatang terdengar di kedalaman hutan.


Dari kejauhan sana terdengar derap langkah kaki kuda. Sebuah kereta kuda yang sangat mewah berjalan secara perlahan. Keretanya terbuat dari kayu pilihan, tiga kuda yang menariknya juga merupakan kuda jempolan yang kekuatannya tidak perlu diragukan lagi.


Siapapun sudah dapat menduga bahwa orang yang di dalam kereta kuda itu bukanlah orang sembarangan. Jika bukan seorang pembesar, sudah pasti orang itu mempunyai latar belakang yang tidak biasa.


Kereta kuda mendadak berhenti. Tiga ekor kudanya meringkik keras. Kedua kaki kuda terangkat mengepulkan debu.


"Ada apa? Kenapa kereta mendadak berhenti?" sebuah suara terdengar dari dalam kereta itu.


Suaranya nyaring dan tegas, tapi bukan suara orang tua. Melainkan suara bocah laki-laki yang masih sangat belia.


"Ada dua batang pohon yang mendadak rubuh dan menghalangi jalan kita Tuan Muda," kata si kusir menjawab suara tadi.


"Hemm, segera singkirkan. Kita tidak boleh terlambat, nanti bisa-bisa ayahku akan marah besar," kata si Tuan muda dari dalam kereta.


"Baik," sebuah sauara lainnya menjawab.


Lima bayangan melesat keluar dari dalam kereta kuda. Semuanya memakai seragam hitam, mereka juga memakai cadar hitam pula.


Lima orang tersebut menghampiri dua batang pohon dan berniat untuk menyingkirkannya. Namun sebelum mencapai kepada dua batang pohon yang rubuh itu, mendadak kelimanya tersentak kaget.

__ADS_1


"Mundur, selamatkan Tuan muda," teriak seseorang di antara mereka.


Suaranya terdengar lantang dan sedikit panik. Begitu mereka berlima melompat mundur ke belakang, mendadak dua batang pohon itu meledak keras.


Duarr!!!


Puluhan batang jarum perak melesat ke arah kelima orang itu.


Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!


Golok, pedang dan senjata lainnya berkelebat membabat habis luncuran puluhan jarum tersebut.


Si Tuan muda dan yang lainnya telah melompat mundur lebih dulu sehingga mereka selamat. Kelima orang tersebut segera mengambil posisi. Mereka mengelilingi si Tuan muda itu dan mengambil sikap waspada.


Tidak berselang lama setelah itu, sepuluh orang berpakaian serba merah muncul dari balik semak-semak. Beberapa saat kemudian, tiga orang lainnya muncul kembali. Wajah mereka kelam, memperlihatkan sebuah dendam yang mendalam.


"Hemm, ternyata hanya kawanan tikus tak berguna," kata si Tuan muda sambil mengejek kepada orang-orang yang baru muncul tersebut.


"Hehehe, bocah ingusan sepertimu ternyata berani kurang ajar di depan kami," ejek seorang pria tua. Tubuhnya kurus, tapi matanya mencorong sangat tajam. Di pinggangnya terselip sebatang golok agak lebar.


"Mau apa kau menghalangi jalanku?" tanya si Tuan musa itu.


"Mau apalagi? Tentu saja mau membalas dendam kematian warga yang tidak bersalah karena kekejamanmu," lanjut kakek tua itu.


"Apakah kau berpikir bahwa kalian sudah mampu untuk membunuhku?"


Setelah berkata demikian, sepuluh orang segera menyerang kelompok si Tuan muda. Sepuluh batang golok telah diayunkan ke depan memberikan tebasan maut.


Wutt!!! Wuttt!!!


Trangg!!!


Lima orang bergerak secara bersamaan. Sepuluh batang golok mendadak patah menjadi dua atau tiga bagian. Serangan berikutnya segera dilancarkan kembali.


Hanya dalam waktu yang sangat singkat, sepuluh orang itu dibuat terpental ke belakang. Darah segar langsung menetes di ujung bibir orang-orang tersebut.


Wutt!!!


Segulung angin dahsyat menerjang. Kecepatan angin itu seperti anak panah yang lepas dari tali busur.


Hoekk!!!


Sepuluh orang mendadak muntah darah. Entah bagaimana caranya, sebab mereka sendiri tidak mengerti.

__ADS_1


"Hahaha, dengan kekuatan serendah ini, kalian mau balas dendam kepadaku?" si Tuan muda tertawa mengejek kepada orang-orang tersebut.


Tiga orang tua menggertak giginya dengan keras.


"Walaupun kekuatan kami belum cukup, tapi tekad kami sudah bulat. Jika memang harus mati, biarlah kami mati membela kebenaran,"


Wushh!!!


Tiga kakek tua itu melesat secara bersamaan. Senjata mereka dikeluarkan lalu melayangkan serangan secara bersamaan. Sasarannya si Tuan muda itu sendiri.


Plakk!!! Srett!!!


Sebelum tiga orang tua itu mengenai tubuh si Tuan muda, lima orang tadi segera menghadang. Tiga orang di antaranya melancarkan tangkisan keras sehingga membuat tiga kakek tua tersebut terpental.


Mereka muntah darah seperti sepuluh orang yang sebelumnya.


"Mampus kalian …" bentak seseorang.


Tiga batang jarum perak meluncur deras ke arah orang tua itu.


Trangg!!!


Tiga kali bunyi yang sama terdengar. Tiga jarum tersebut terpental tidak karuan sehingga menancap di batang pohon.


Blarr!!!


Pohon yang menjadi sasarannya meledak. Debu mengepul tinggi menghalangi pandangan mata.


Begitu keadaan kembali seperti semula, di hadapan lima orang itu tiba-tiba sudah ada tiga orang lainnya.


Dua orang tua, dan satu seorang anak kecil.


Siapa lagi kalau bukan Huang Taiji, Chen Li dan Huan Ni Mo?


"Siapa kalian?"


"Siapapun kami tidak penting," jawab Chen Li.


"Hemm, sombong sekali kau bocah," bentaknya kepada bocah itu.


"Aku memang sombong. Kenapa? Kau tidak terima?"


"Lebih baik kau pergi sekarang juga, bawa serta dua orang tua ini. Jika tidak, jangan salahkan kami kalau harus bertindak kasar,"

__ADS_1


"Aku tidak akan pergi. Karena kegemaranku justru ikut campur dalam urusan orang lain," jawan Chen Li sambil tersenyum.


Lima orang itu merasa kesal. Tetapi mereka tidak berani sembarangan menyerang, apalagi mereka belum mengetahui sampai di mana kekuatan lawan.


__ADS_2