
"Li'er, cepat kau pergi ke bawah untuk minta dibuatkan bubur," kata Huang Taiji Lu menyuruh Chen Li.
"Baik Paman,"
Bocah itu segera turun ke bawah untuk minta dibuatkan bubur kepada pelayan restoran. Sedangkan Huang Taiji memutuskan untuk menuntaskan pengobatannya kepada si gadis tersebut.
Saat Chen Li sudah kembali lagi ke kamar, terlihat gadis itu sudah sadar. Walaupun kondisinya masih lemah, tetapi semua lukanya telah berkurang delapan puluh persen.
Chen Li mendekatkan dirinya di depan gadis tersebut.
"Ayo, makanlah dulu. Kau butuh asupan supaya tenagamu cepat sembuh," katanya sambil meniup bubur yang masih panas untuk dimasukkan ke mulut si gadis.
"Di-dimana aku? Dan kau siapa?" tanya gadis kecil itu dengan suaranya yang masih lemah.
"Tenanglah, jangan panik. Kau sudah berada di tempat yang aman sekarang. Namaku Chen Li, dan ini Pamanku. Namanya Huang Taiji, siapakah nama nona?" tanya balik Chen Li kepadanya.
"Margalu Ye, namaku Moi Xiuhan. Aku cucu dari Kepala Tetua Sekte Teratai Putih, Ye Rou," kata gadis kecil yang mengaku bernama Moi Xiuhan tersebut.
"Salam kenal nona Moi, kita berada di barisan yang sama. Aku anak dari Pendekar Halilintar,"
"Degg …"
Tergetar hati Moi Xiuhan. Dia tentu tahu dan sudah sangat sering mendengar tentang Pendekar Halilintar. Bahkan neneknya sendiri sangat mengagumi pendekar besar itu.
"Aiih, Tuan Muda. Maafkan aku karena sudah merepotkanmu. Biarlah aku sekarang kembali ke sekte untuk melaporkan semuanya. Aku tidak mau merepotkanmu," kata Moi Xiuhan berusaha untuk bangkit berdiri.
Namun dengan segera Chen Li menahannya.
"Nona Moi, kau jangan seperti itu. Kau sama sekali tidak merepotkanku, dan lagi, jangan panggil aku Tuan Muda segala. Panggil saja namaku, Chen Li," katanya sambil tersenyum lembut.
Senyuman itu sangat menawan. Seperti seorang Dewa yang sedang tersenyum kepadanya. Tanpa terasa hati gadis kecil itu tergetar.
Terlebih lagi karena dia merasa sangat gerogi. Ini adalah pertama kalinya dia berhubungan langsung dengan pria luar. Seperti yang kita ketahui bahwa Sekte Teratai Putih sama sekali tidak menerima murid pria dari luar. Kecuali kalau memang merupakan anak dari murid-murid di sana.
Moi Xiuhan sebenarnya ingin pergi. Tetapi apa daya, tubuhnya terasa sangat lemas sekali.
"Ba-baiklah. Maaf telah merepotkan Kakak Li," katanya dengan perasaan bersalah.
__ADS_1
"Sudah, sudah. Sekarang kau makan saja dulu. Setelah itu baru ceritakan apa yang sebenarnya terjadi denganmu," ujarnya lalu kembali menyuapi Moi Xiuhan.
Mau tidak mau gadis kecil itu membuka mulut. Ada perasaan lain saat Chen Li menyuapi dan memperlakukannya dengan lembut. Sayangnya dia masih sangat kecil, sehingga dia sendiri tidak tahu perasaan apakah itu.
Namun melihat kelembutannya, sebagai seorang gadis, tentu dia merasa kagum. Apalagi wajahnya memang sangat tampan.
Chen Li terus menyuapinya penuh kehati-hatian. Kalau buburnya tidak masuk, maka dia akan segera mengambilkan air minum untuknya.
Huang Taiji Lu saat itu sudah berada di bawah lagi. Dia melanjutkan makan yang sebelumnya tertunda.
Setelah beberapa saat kemudian, Chen Li selesai menyuapi Moi Xiuhan. Dia disuruh untuk istirahat sejenak. Sedangkan bocah kecil itu sendiri langsung turun ke bawah menghampiri pamannya.
"Bagaimana?"
"Li'er menyuruhnya untuk istrajat sejenak. Kondisinya semakin stabil, dia hanya perlu istirahat saja Paman," ujar Chen Li menjawab pertanyaan pamannya tersebut.
###
Sementara itu berbarengan dengan kejadian tadi, sembilan orang pria yang ada di penjara langsung mengejar Chen Li saat bocah itu pergi dari sana. Sayangnya mereka tidak berhasil mengejarnya karena gerakan si bocah terlampau cepat.
Bahkan mereka sendiri tidak percaya ada seorang bocah yang bisa bergerak selincah dan secepat itu. Gerakannya benar-benar lihai. Layaknya seorang pendekar kenamaan, dia sama sekali tidak melakukan kesalahan.
Sembilan orang tersebut sekarang sedang berhenti di pinggir hutan dekat kota. Mereka terlihat lumayan kelelahan. Nafasnya sedikit tersengal-sengal.
"Apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya seseorang kepada yang lainnya.
"Kita bagi dua saja. Aku bersama tiga orang lainnya akan menyusul ke mana perginya bocah itu. Kau dan yang lain segera kembali dan melaporkan kejadian ini supaya cepat bertindak. Sebab kalau tidak, rencana Tuan Xing Juan bisa-bisa bakal ketahuan dan berantakkan," jawab rekan di sampingnya.
"Usul yang bagus. Baik, kita segera melakukan rencana itu,"
Sembilan orang tersebut segera menjalankan aksinya. Lima orang kembali ke kediaman Walikota untuk memberitahukan hal yang sudah terjadi. Sedangkan empat orang lainnya akan mencari jejak Chen Li.
Hanya dalam sesaat saja, suasana di sana sudah kosong. Tidak ada lagi manusia. Yang ada hanyalah lolongan serigala dan suara burung hantu menambah keseraman hutan.
Empat orang tadi mulai memasuki kota. Namun suasana kota sudah mulai sepi. Sehingga tidak ada seorangpun yang bisa ditanya.
Entah suatu kebetulan atau memang nasib meraka sedang mujur, mendadak satu orang rekannya menuju ke restoran yang di mana ada Chen Li di sana.
__ADS_1
Bocah itu sendiri tidak menyadari adanya empat orang yang tadi dia temukan di dalam penjara. Sebab dia sedang fokus makan sambil bicara bersama pamannya.
"Mau apa kau pergi ke restoran itu?" tanya seorang rekannya sedikit ragu.
"Tentu saja untuk mencari bocah tadi. Di sana banyak orang, mungkin kita bisa bertanya kepada mereka,"
Mereka masuk ke restoran. Baru saja kakinya melangkah masuk, katanya langsung tertuju tepat ke meja Chen Li.
"Itu dia,"
"Kami orang-orang Walikota Xing Juan, tolong kepada para pengunjung yang ada di sini, tangkap bocah itu," katanya sambil menunjuk ke arah Chen Li.
Sontak dia dan Huang Taiji terkejut. Keduanya langsung berdiri sambil menatap ke sekeliling.
Para pengunjung kebanyakan pendekar. Walaupun kekuatan mereka tidak seberapa, tetapi Chen Li dan Huang Taiji merasa enggan untuk membunuh orang tak berdosa.
"Maju selangkah sekalipun, aku pastikan restoran ini akan menjadi tempat kematian kalian," kata Huang Taiji Lu langsung mengeluarkan sedikit kekuatannya.
Chen Li segera berjalan dengan santai ke arah empat orang tersebut.
"Mau apa kalian mencariku?"
"Kau sudah membawa kabur setan kecil itu,"
"Kata siapa?"
"Jangan banyak alasan. Berikan dia sekarang atau kalau tidak terpaksa kau berurusan dengan Walikota Xing Jing,"
"Kalau aku tetap tidak mau?"
"Walikota Xing Jing akan menyuruh kami untuk menghukummu,"
"Kenapa harus menunggu iblis tua itu? Kalau memang kalian mampu, lakukan saja sekarang. Sudahlah, jangan berkata Walikota-walikota lagi di depanku. Aku sudah tahu akal busuk kalian,"
"Bocah kecil tidak tahu sopan santun,"
"Aku memang tidak diajarkan untuk sopan kepada iblis,"
__ADS_1
Empat orang itu mulai marah. Bocah di hadapannya ini betul-betul sombong. Kalau tidak diberikan pelajaran, niscaya dia tidak akan kapok.
Satu orang di antara mereka menerjang Chen Li. Namun belum sempat pukulan pertama tiba, orang itu telah terpental ke halaman restoran.