
"Baiklah," jawab Li Cun dengan singkat.
Li Feng hanya tersenyum memandangi Li Cun. Setelah itu, matanya kembali menatap rombongan orang-orang tersebut.
"Bagaimana? Masih tidak mau mengaku juga? Baiklah, biar aku sendiri yang membongkar semua ini," kata Li Feng dengan gagah.
Rombongan tersebut tidak ada yang berani menjawab. Tapi semua tatapan mata mereka sangat tajam. Seperti segerombolan serigala yang sedang mengawasi mangsanya.
"Hemm, cukup keras kepala juga kalian. Kepala Tetua Sekte Langit Merah. Si Tangan Langit Membalik Bumi, Hek Jiu Lin, bukankah itu dirimu?" tanya Li Feng sambil menunjuk ke gubernur Mo Pou.
"Dan kau, tuan muda Mo Ki. Alias murid utama dari Hek Jiu Lin, Hua Kim, benar?" tanya Li Feng lagi menunjuk wajah si tuan muda yang mengaku bernama Mo Ki.
Li Feng tertawa terbahak-bahak. Ketajaman matanya memang tidak bisa dipandang remeh.
"Dan kalian sisanya adalah para tetua dari Sekte Langit Merah. Termasuk dua orang yang di dalam rombongan itu. Sedangkan delapan lainnya, hanya merupakan para pembunuh bayaran," kata Li Feng sambil terus menunjuk-nunjuk orang-orang tersebut.
Saat Li Feng berkata seperti itu, tidak ada yang berani bicara dari mereka. Semua membungkam mulutnya. Yang terlihat hanyalah rasa kaget setengah mati dan perubahan pada wajah mereka yang semakin nampak pucat.
"Tidak kusangka, kalian sungguh berani melakukan hal-hal seperti ini. Mengaku sebagai sekte aliran putih, tetapi bertindak lebih pengecut dari seorang pengecut sekalipun," ejek Li Feng.
"Ka-kau, bagaiamana bisa tahu semuanya?" tanya si gubernur Mo Pou dengan bibir bergetar.
"Hahaha, tentu saja aku tahu. Mataku tidak bisa kalian bohongi,"
"Hemm, sepertinya permainan kita sudah terbongkar. Lebih baik menunjukkan diri saja," katanya pasrah.
Tak lama rombongan tersebut membuka pakaiannya. Dari balik pakaian yang tersebut, terdapat pakaian lainnya lagi yang berwarna merah dengan corak awan.
Setelah itu, mereka pun membuka topeng kulit yang dikenakan.
Ternyata semuanya sudah tua. Bahkan yang tadi mengaku bernama gubernur Mo Pou, usianya sudah sekitar enam puluh tahun dengan jenggot dan alis yang sudah memutih.
Sedangkan yang lainnya juga sama, hanya saja mereka seperti lebih muda empat atau lima tahun. Sedangkan si tuan muda yang mengaku berna Mo Ki, ternyata wajah aslinya memang masih terbilang muda. Paling banter baru berusia dua puluh tiga tahun.
__ADS_1
Wajahnya tak kalah tampan dengan topeng kulit yang dia kenakan. Hanya saja pandangan matanya terasa tajam.
"Nah seperti ini kan bagus. Tidak ada yang perlu ditutupi lagi. Ternyata yang menaruh racun dalam makanan, dan yang mengubah restoran menjadi sarang pembunuh, itu perbuatan kalian. Hahaha, sudah kuduga," ucap Li Feng penuh nada ejekan.
"Hemm, bagaimana kau tahu semuanya? Dan bagaimana kau tahu bahwa kami berasal dari Sekte Langit Merah?" tanya sang gubernur yang ternyata merupakan seorang Kepala Tetua.
"Mudah saja. Secepat kilat aku merangkai kembali kejadian beberapa waktu lalu. Aku sudah curiga bahwa si gubernur yang mengirim orang-orang untuk membunuhku. Sayangnya, niat itu gagal. Justru malah kalian tertangkap basah olehku sekarang. Terkait bagaimana aku bisa mengenalimu, itu gampang. Dari balik pakaianmu terselip sebuah lencana Kepala Tetua Sekte Langit Merah. Dan tidak sengaja, lencana itu malah terlihat oleh mataku, hehehe,"
"Ternyata kau berpandangan luas. Apakah aku boleh mengetahui siapa dirimu sebenarnya?" tanya Hek Jiu Lin kepada Li Feng.
"Maaf, kalian tidak pantas mengetahui siapa aku sebenarnya. Lagi pula, aku tidak sudi berkenalan dengan orang-orang busuk semacam kalian ini," kata Li Feng dengan tegas.
"Bangsat. Mulutmu tajam sekali," bentak Hek Jiu Lin, si Tangan Langit Membalik Bumi geram.
"Tentu saja. Mulutku bisa lebih tajam daripada pedang," jawab Li Feng acuh tak acuh.
Keadaan mulai tegang. Percakapan mereka menjadi bahan perhatian para pengunjung danau tersebut.
Bagaimana bisa seorang kepala tetua dari sekte aliran putih bisa menyamar menjadi orang lain? Bahkan mereka juga melakukan tindakan kejam terhadap para warga yang membangkang atas ucapannya.
Awalnya gubernur di daerah tersebut terkenal dengan sikapnya yang penuh kasih sayang terhadap warganya. Tapi beberapa bulan terkahir, justru sikap itu hilang sama sekali.
Dan sekarang mereka sudah tahu apa yang terjadi sebenarnya. Gubernur itu sekarang hilang, entah dibunuh atau masih hidup. Yang jelas, berarti beberapa bulan ini, merekalah yang berpura-pura menjadi gubernur menggunakan topeng kulit.
Rombongan Hek Jiu Lin semakin geram. Apalagi saat para warga mulai mencemooh dia bersama rombongannya. Itu artinya, nama Sekte Langit Merah sebentar lagi akan hancur. Bahkan mungkin sudah hancur.
Perjuangan mereka membangun dan mencari nama dalam dunia persilatan, harus berakhir hari ini hanya karena permainannya terbongkar.
"Diam!!" bentak si Tangan Langit Membalikan Bumi kepada para warga.
Sontak mereka pun berhenti. Tak bisikan-bisikan yang menyakitkan bagi telinganya tetap terdengar jelas.
"Jangan marah. Semua karenamu sendiri. Kau yang membuat nama sektemu hancur. Lebih baik katakan saja apa alasanmu melakukan hal bodoh seperti ini," ujar Li Feng mengejek.
__ADS_1
"Kau tidak berhak tahu urusanku,"
"Hemm, baiklah. Aku tidak akan memaksa. Kalau begitu, aku pamit dulu," katanya sambil membalikan tubuh.
"Tunggu!" Hek Jiu Lin membentak dan menahan langkah dua saudara tersebut.
"Apakah ada rahasia yang aku lewatkan?" tanya Li Feng semakin senang mengejeknya.
"Bedebah. Tutup mulutmu. Apa kau pikir bisa pergi sesuka hatimu setelah menghancurkan nama baik orang lain?"
"Tentu saja. Aku datang sesuka hatiku, maka aku pergi pun sesuka hatiku. Untuk apa memikirkan kalian yang pengecut?"
"Lama kelamaan mulutmu sungguh minta dirobek. Biarlah aku memberitahumu bagaimana tingginya langit tebalnya bumi," bentak Hek Jiu Lin mulai mengambil posisi untuk bertarung.
Li Feng hanya menanggapi perkataan tersebut dengan senyuman sinis. Tentu saja dia tidak takut sama sekali, meskipun lawannya sungguh kuat.
"Adik Cun," panggilnya.
"Iya kakak Feng," jawab Li Cun sambil menghampirinya.
Dia mengelus-elus kepalanya untuk beberapa saat. Ada hawa hangat berkekuatan besar memasuki tubuhnya. Li Cun sudah paham akan hal ini.
Li Feng tentu sedang meminjamkan tenaganya seperti yang dilakukan beberapa waktu lalu.
"Kau sudah mengerti bukan?" tanya Li Feng.
"Tentu saja. Serahkan padaku," jawabnya.
Li Cun melangkah ke depan. Dia memandang kedelapan orang-orang yang diduga sebagai pembunuh bayaran tersebut. Menurut Li Feng, kedelapannya paling tinggi baru mencapai tingkatan Pendekar Surgawi tahap empat. Sedangkan kekuatan Li Cun untuk sementara, setara dengan Pendekar Surgawi tahap enam.
"Hei kalian para pembunuh tikus, mari sini kita bermain-main sebentar. Aku ingin tahu bagaimana cara kalian membunuh tikus," kata Li Cun dengan nada penuh ejekan.
Diejek oleh seorang bocah kecil, tentu kedelapan orang itu tidak terima. Mereka sangat marah saat itu juga.
__ADS_1