
Jurus demi jurus sudah Shin Shui lancarkan dengan ganas. Kedua tangannya memapak semua gempuran senjata lawan. Meskipun dia tidak memakai Pedang Halilintar, tapi tidak ada kesulitan yang tergambar di wajahnya.
Justru Shin Shui terlihat mulai menguasai pertarungan. Secara perlahan, dia berada di atas angin. Kedua tangannya terus bergerak melancarkan berbagai macam jurus maut.
Lesatan sinar biru terang terus membelah udara yang hampa. Di sisi lain, sepuluh tetua itu pun berusaha sekuat mungkin untuk menghadapi Shin Shui dengan semua kekuatannya.
Sepuluh senjata menerjang Shin Shui dari segala sisi. Tapi dengan tenangnya Pendekar Halilintar memapak semua senjata itu. Bahkan yang lebih hebat lagi, dua tangan Shin Shui terasa seperti baja yang sangat keras bagi sepuluh lawannya.
Beberapa kali benturan senjata terjadi dengan kedua lengan Shin Shui. Tapi anehnya, kedua tangan itu justru benar-benar sangat keras. Bahkan ketika senjata terkena tangannya, benturan seperti baja bertemu baja pun terdengar.
Hal ini menjadikan sepuluh tetua merasakan hal lain terhadap Shin Shui. Untuk menyesal, semuanya sudah terlambat. Lagi pula, Shin Shui tidak akan memberikan ampunan kepada orang-orang sepertinya.
Di sisi lain, Chen Li pun sudah bertempur dengan sangat ganas. Pedang dan serulingnya terus menusuk dan menyabet memberikan gempuran kepada puluhan lawan.
Walaupun jumlah mereka jauh lebih banyak, tetapi nyatanya tidak mampu mengalahkan Chen Li sampai detik ini. Bahkan untuk membuat bocah itu kerepotan sekalipun, rasanya sangat sulit sekali.
Tiga puluh jurus lebih sudah berlalu. Jumlah lawan sudah semakin berkurang akibat sepak terjang Chen Li si Pendekar Tanpa Perasaan.
Kini jumlah lawan tersisa tinggal sepuluh orang saja. Tetapi yang tersisa, justru yang terkuat. Hampir semuanya merupakan pendekar langit.
"Pedang Penebar Maut …"
"Bertempur Melawan Raja Naga …"
"Wushh …"
Dua jurus dahsyat kembali dilontarkan oleh Chen Li. Serulingnya memberikan gempuran serangan yang datang bagaikan terjangan badai. Hawa panas terus keluar seiring bergeraknya seruling giok hijau.
Hawa pedang yang menggiriskan semakin ditebarkan oleh Pedang Awan.
Sepuluh puluh pendekar langit sudah mengeluarkan pula jurus mereka. Pertarungan Chen Li kembali berjalan dengan sengit. Berbagai macam cahaya dari jurus beragam terlihat memenuhi angkasa.
Bentakan dan terjangan senjata mulai melesat tanpa henti. Semakin lama, Chen Li semakin memperlihatkan kemampuannya. Pedang bergerak secepat kilat. Seruling memberikan serangan seganas badai yang mampu memporak-porandakan semuanya.
Sementara itu, Eng Kiam juga sudah mengeluarkan seluruh kepandaian yang dia miliki. Berbagai macam jurus beracun sudah keluar dari tadi. Lawan sudah berkurang lebih dari setengahnya.
Sekarang jumlah mereka hanyalah delapan orang saja. Melihat bahwa serangan dahsyatnya membuahkan hasil memuaskan, Eng Kiam semakin bersemangat.
Dia membentak nyaring lalu sedetik kemudian tubuhnya melesat sambil memutarkan pedang yang beracun itu.
"Menebarkan Racun di Samudera …"
__ADS_1
"Wushh …"
Dia mengibaskan tangan kiri. Sekali mengibaskan tangan, sebuah gumpalan asap hitam segera keluar memenuhi arena pertarungannya.
Keadaan ini menjadi keuntungan tersendiri bagi gadis kecil itu. Lima belas jurus kemudian, semua lawan sudah terkapar tewas karena terkena racun dan tusukan atau sabetan pedangnya.
Darah masih mengucur di ujung pedang. Wajahnya penuh dengan noda darah. Walaupun demikian, Eng Kiam tidak terlalu merasa kelelahan. Sebab dia segera mengkonsumsi pil yang diberikan oleh Shin Shui sebelumnya.
Tidak berapa lama setelah Eng Kiam menyelesaikan pertarungan, Chen Li pun sudah bertarung mencapai puncaknya. Pedang semakin menebarkan kematian. Seruling semakin memburu.
Lima belas jurus kemudian, pedangnya berhasil menebas kepala musuh. Sedangkan serulingnya berhasil menghantam kepala musuh lainnya hingga pecah.
Namun tak lama setelah itu, dia langsung terkapar.
Melihat kejadian ini, Eng Kiam merasa sangat panik dan ketakutan. Secepat kilat dia memburu Chen Li dan menopang tubuhnya.
Eng Kiam menaruh kepala Chen Li di pahanya. Tak terasa air matanya mulai mengalir deras melihat keadaan Chen Li yang lemah.
Di sisi lain, Shin Shui juga hampir menyelesaikan pertarungan dahsyatnya. Empat lawan sudah tewas akibat terkena jurus dahsyatnya.
Menjelang jurus ke dua ratus, Shin Shui mengeluarkan empat puluh persen kekuatannya. Aura biru semakin terang. Hawa pembunuhan terasa semakin kental.
"Amarah Dewa Halilintar …"
"Wushh …"
Langit bergemuruh seperti biasanya ketika dia mengeluarkan jurus dahsyat. Keadaan alam seketika berubah total.
Enam tetua Sekte Langit Merah mulai merasakan ketakutan yang sulit dilukiskan. Jangankan untuk bergerak leluasa, berusaha untuk tetap berdiri pun rasanya sangat sulit.
Mereka berteriak serempak. Dari teriakan itu ternyata mampu melepaskan sedikit beban yang menimpa keenam tetua.
Detik berikutnya, mereka mengeluarkan jurus pamungkas yang mampu mereka keluarkan.
Enam jurus dari tetua sebuah sekte besar melesat secara bersamaan berusaha untuk menahan jurus sang Pendekar Halilintar.
Ledakan keras terjadi. Gelombang kejut yang tercipta mampu menghancurkan sebagian bangunan sekte. Mereka berteriak sekencang mungkin.
Tetapi sayangnya kekuatan mereka belum cukup untuk menahan Shin Shui. Tidak berapa lama, jurus pemimpin dunia persilatan itu sudah menerjang keenam tetua.
Tak ayal lagi, tubuh mereka terpental sejauh mungkin. Ada yang menabrak benteng sekte. Ada juga yang menabrak bangunannya. Mereka semua langsung tewas saat berhenti dari luncuran tersebut.
__ADS_1
Tubuhnya cerai berai. Kematian keenam tetua tak ada yang utuh. Semuanya menghawatirkan.
Pertarungan dahsyat selesai. Ketegangan sudah sirna.
Di sana sudah tidak ada lagi yang hidup kecuali Shin Shui dan Chen Li serta Eng Kiam.
Sedangkan semua orang-orang Sekte Langit Merah, semuanya tewas. Tidak ada yang tersisa walaupun sekarat.
Shin Shui segera menghampiri anaknya yang terlihat seperti terluka berat.
Eng Kiam menangis tiada hentinya. Terlihat bahwa gadis kecil itu benar-benar mengkhawatirkan kondisi Chen Li. Sedangkan Shin Shui, tidak memperlihatkan kekhawatiran sama sekali.
"Tuan pahlawan, Kiam'er pantas mati. Kiam'er wajib mati karena tidak bisa melindungi tuan muda," katanya menangis tersedu-sedu.
Shin Shui tersenyum melihat ekspresi gadis kecil itu.
"Kiam'er, jangan menangis seperti itu. Aku tidak menyalahkanmu. Baringkan Li'er," perintah Shin Shui.
"Tapi tuan pahlawan …"
"Baringkan," tegasnya.
Tanpa berani membantah lagi. Eng Kiam segera meletakan tubuh kecil itu di tanah. Setelah itu dia segera mundur beberapa langkah saat melihat Shin Shui mendekatinya.
"Anak bodoh. Kau masih belum ahli dalam hal menipu,"
"Plakk …"
Setelah membisikkan kata-kata itu, tangannya segera memukul kepala Chen Li.
Eng Kiam kaget, tapi dia tidak berani berbicara apapun.
"Kalau tidak bangun juga, biarlah ayah akan membuatmu benar-benar terluka," kata Shin Shui.
Dia mengangkat tangan seperti benar-benar ingin melukai Chen Li. Tepat pada saat itu, bocah tersebut segera melompat bangun.
"Jangan ayah, jangan. Maafkan Li'er. Li'er hanya bercanda," katanya meminta maaf dengan ekspresi lucu.
Eng Kiam terkejut. Ternyata bocah itu hanya pura-pura belaka. Betapa malunya gadis kecil tersebut. Pipinya menjadi memerah.
Dia menangis karena benar-benar mengkhawatirkan kondisinya. Tetapi yang dikhawatirkan justru malah pura-pura terluka saja.
__ADS_1
Bukankah ini memalukan? Pikir Eng Kiam.