
Semua orang yang ada di dalam restoran tersebut masih terdiam di tempatnya masing-masing. Tidak ada yang bergerak keluar satu pun. Tentu saja, karena mereka sudah membayar dengan harga yang cukup mahal agar bisa duduk di restoran mewah ini.
Sekarang ada orang asing menyuruh mereka pergi seenaknya, memang mereka itu siapa?
Begitupun dengan Li Feng dan Li Cun. Keduanya masih terdiam tidak beranjak dari tempat mereka. Justru keduanya memandang dengan tajam kepada rombongan tersebut.
"Apakah kalian semua tuli? Tuan kami ingin makan dan minum di sini. Harap kalian keluar dengan baik-baik," kata orang tadi berteriak. Kali ini suaranya lebih tinggi dan dia menjadi beberapa kali lipat lebih sombong.
"Heh, memangnya kau siapa begitu enaknya menyuruh kami pergi? Kau pikir ini restoran milik kalian?"
Seorang wanita dengan pakaian ringkas ala pendekar angkat bicara. Usianya masih terbilang muda, tapi kekuatan yang terpancar dari tubuhnya sudah lumayan tinggi. Mungkin kekuatannya setara dengan Pendekar Surgawi tahap tiga akhir.
"Tajam juga mulutmu itu nona manis. Sepertinya kau memang harus diberi pelajaran," kata si pengawal tersebut.
Belum selesai ucapannya, tubuhnya sudah melayang untuk menerjang gadis itu. Gerakannya ringan seperti angin musim semi. Tubuhnya sudah hampir mencapai sasaran, tapi dengan cepat si gadis menghindar.
Karena tidak ingin membuat keributan di dalam restoran, dia langsung mencelat keluar dan berdiri menanti pria tadi di sebuah halaman cukup luas.
Serentak orang-orang yang ada di dalam restoran berkumpul untuk menyaksikan pertunjukan yang akan terjadi sebentar lagi. Termasuk rombongan yang sombong itu, mereka juga turut keluar. Orang-orang tersebut kemudian membuat lingkaran yang cukup besar.
Dua orang pendekar sudah berdiri di tengah-tengah lingkaran. Satu pria bertampang sangar. Satu lagi seorang gadis cantik.
Tanpa banyak bicara lagi, kedua pendekar tersebut langsung melakukan pertarungan. Si pria sangar menyerang lebih dulu. Tubuhnya melesat melancarkan serangan pertama berupa pukulan yang mengarah ke perut.
Tapi dengan mudah saja gadis itu menghindari serangan tersebut. Berselang beberapa detik, mereka sudah bertarung seru.
Keduanya telah bertarung jarak dekat. Kecepatannya bisa dikatakan lumayan. Li Feng atau Shin Shui memperhatikan pertarungan ini dengan seksama.
Menurut pandangannya, si pria sangar berada dalam tingkatan Pendekar Surgawi tahap lima akhir. Dia sendiri cukup kaget saat menyadari hal tersebut.
Kalau pengawalnya mempunyai kekuatan yang lumayan, bagaimana dengan tuannya sendiri? Berarti bisa disimpulkan bahwa dia bukanlah orang biasa.
Kedua pendekar itu masih terus berlangsung. Yang tadinya menggunakan tangan kosong, kini mereka telah bertarung menggunakan senjatanya masing-masing. Si gadis dengan kipas saktinya, si pria dengan golok tajamnya.
Kedua senjata berkelebat memecah udara. Serangan mereka ini lumayan berbahaya. Sepertinya mereka berniat untuk mengadu nyawa.
Semakin lama, pertempuran keduanya semakin sengit. Debu mengepul tinggi. Hawa pembunuhan mulai terasa kental. Si pria menambah tenaga dalam serangannya. Si gadis tak mau kalah, dia sendiri mengeluarkan seluruh kekuatannya.
__ADS_1
Sayangnya, level latihan dia beberapa tingkat lebih bawah. Sehingga sekuat apapun dirinya, sehebat apapun jurusnya, tetap saja tidak bisa mengalahkan si pria sangar.
Mencapai jurus ketiga puluh, si gadis terlempar jauh ke belakang. Dari mulutnya keluar darah segar. Semua orang mulai panik. Mereka tidak mengenal betul siapa rombongan tersebut, tetapi orang-orang itu mencari gara-gara di sana.
Si pria sangar berjalan dengan angkuh. Goloknya berkilat tajam dan siap untuk digunakan kembali. Begitu kayaknya sudah dekat, dia mengayunkan golok tajam itu.
Si gadis sudah pasrah, tenaganya sudah habis. Tak ada waktu untuk bisa menghindar. Para pendekar yang lain pun tidak menolong. Sebab mereka sadar diri dengan kekuatannya.
Kalau pengawalnya saja sekuat itu, bagaimana dengan pemimpinnya?
Di saat golok sejengkal lagi hampir membelah kepala di gadis, tiba-tiba terdengar suara angin berdesir tajam. Ada sebuah benda yang bergerak cepat tiada terkira.
"Trangg …"
Golok itu terpental dan jatuh beberapa langkah dari pemiliknya. Ternyata benda tadi hanya berupa sebuah kerikil kecil. Tapi walaupun sangat kecil, ternyata kerikil itu bisa mementalkan golok tadi.
Semua orang memandang mata ke asal kerikil tersebut melesat.
Li Feng!
Ternyata dialah pelakunya. Hanya dengan satu sentilan kecil, dia sudah menyelamatkan nyawa seorang gadis.
Hanya saja mereka kurang yakin. Dengan wajah yang biasa-biasa saja tanpa memancarkan kekuatan besar, bagaimana dia bisa melakukannya?
Si pria sangat sangat marah. Dia memungut kembali goloknya lalu berjalan mendekati Li Feng dengan angkuhnya.
"Siapa kau? Berani sekali menggagalkan seranganku," kata orang itu. Walaupun dia sendiri cukup gentar, tapi dia percaya bahwa tuannya tidak akan tinggal diam jika terjadi apa-apa kepadanya.
"Maaf, saya hanya orang kecil. Tidak ada maksud untuk berlaku kurang ajar. Hanya saja, saya sangat menyayangkan kalau terjadi sebuah pembunuhan hanya karena hal sepele," kata Li Feng dengan santai dan penuh ketenangan.
"Perduli setan. Kau telah berani kurang ajar di depan kami. Itu tandanya kau cari mati," bentaknya penuh amarah.
"Sekali lagi kami mohon maaf. Tapi kalau boleh tahu, siapa tuan-tuan yang terhormat ini?" tanya Li Feng masih dalam keadaan tenangnya. K
"Kami adalah pengawal Tuan Muda Mo Ki, anak dari gubernur Mo Pou," katanya semakin sombong.
"Ah, ternyata seorang anak dari ayah yang terpandang. Sayang, sayang sekali," kata Li Feng sambil menghela nafas.
__ADS_1
"Apanya yang sayang?"
"Sayang karena seorang anak gubernur melakukan hal-hal seperti manusia yang tidak memiliki sopan santun," jawab Li Feng menyesalkan.
"Brengsek. Lancang sekali ucapanmu," kata orang itu.
Bahkan di pinggiran, anak gubernur yang dimaksud pun seketika memperlihatkan wajah tidak senangnya.
"Maaf kalau saya salah bicara tuan," jawab Li Feng seolah merasa takut.
"Wushh …"
Tiba-tiba golok tadi melesat dengan sangat cepat. Saking cepatnya, yang terlihat hanya bayangan saja.
Tapi serangan seperti ini bukanlah perkara besar bagi Li Feng. Sekalipun ada sepuluh lagi, dia mampu menahannya tanpa mengelak sedikit pun.
"Clappp …"
Golok tersebut terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengah Li Feng. Tubuhnya masih diam ditempat. Semua tubuhnya terdiam. Yang bergerak hanya dua jari itu saja. Tetapi walaupun hanya dua jari, ternyata dia bisa menangkap golok lawan.
"Clangg …"
Golok pun patah menjadi tiga bagian. Li Feng langsung melemparkan goloknya kembali.
Betapa geramnya pengawal tersebut ketika melihat senjata kebangaannya patah menjadi tiga bagian.
"Keparat. Kau harus membayar dengan kepalamu atas kejadian ini," bentaknya.
"Pukulan Berdarah Dingin …"
"Wush …"
Sebuah sinar melesat secepat kilat ke arah Li Feng. Sinarnya berkilauan terkena sinar matahari.
Ternyata pria sangar itu sudah benar-benar marah sehingga dia mengeluarkan jurus terkuatnya.
Tetapi bagi Li Feng, serangan ini juga tidak ada apa-apanya. Hanya dengan mengacungkan lima jari tangan kanan ke depan, jurus lawan sudah berhasil ia tangkis.
__ADS_1
Suara berdentum terdengar keras. Debu mengepul tinggi. Si pria sangar terlempar beberapa tombak dan mulutnya mengeluarkan darah segar.