
Suasana kedai arak tersebut langsung gempar. Bukan gempar karena orang-orang itu berteriak, bukan pula gempar karena kegirangan. Mereka gempar ketakutan. Ya, semua orang merasa takut saat mendengar julukan itu diucapkan dengan suara dan nada yang dalam.
Suasana di kedai arak mendadak mencekam. Semua pengunjung mengunci mulut mereka rapat-rapat. Siapapun tidak ada yang berani bicara. Jangankan bicara, bernafas pun orang-orang tersebut tidak berani keras-keras.
Meskipun kemunculan Pendekar Tanpa Perasaan belum lama, namun ternyata sudah mampu memberikan kesan tersendiri bagi orang-orang dunia persilatan. Nama tersebut ibarat iblis yang setiap saat bisa mencabut nyawa. Bahkan mungkin nama itu seperti Malaikat Maut yang dapat menentukan mati hidupnya seseorang.
"Aii, sudah kuduga pasti pemuda itu pelakunya," sahut orang yang sejak tadi terus bertanya.
"Selain dia, kau pikir ada yang sanggup melakukan perbuatan seperti itu? Bahkan menurut Kaisar Sung Poan Poan Siu sendiri belum tentu dapat melakukan hal yang sama,"
"Kau benar. Aii, pemuda itu sungguh berbahaya sekali," keluhnya.
"Menurutmu, apakah masih ada orang yang berani mencari masalah dengannya?" kali ini yang bertanya malah si orang yang sejak tadi bercerita.
Dia ingin tahu apakah jawaban orang lain sama dengan jawaban dirinya atau tidak.
"Tentu saja. Bahkan mungkin jauh lebih banyak lagi. Semakin kuat seorang pendekar, semakin banyak pula orang-orang yang menginginkan nyawanya," jawab orang tersebut.
"Ternyata pemikiranmu sama denganku,"
Orang-orang tersebut terus saja membicarakan pemuda bergelar Pendekar Tanpa Perasaan itu. Tapi semakin mereka bicara lebih jauh, kedai arak itu pun terasa lebih mencekam lagi.
Hingga pada akhirnya perlahan namun pasti, satu persatu dari mereka mulai beranjak pergi meninggalkan kedai arak.
Selama orang-orang itu membicarakan dirinya, Chen Li hanya menutup mulut sambil terus minum arak secara perlahan. Secawan demi secawan mulai masuk ke tenggorokannya.
Sekarang pemuda itu sedang menyamar menjadi orang lain. Pakaiannya berwarna hijau muda, dia memakai topeng agar wajahnya tidak dikenali oleh siapapun.
Tujuannya melakukan penyamaran tersebut adalah untuk mengetahui apakah perbuatannya telah mengundang perhatian semua orang atau tidak.
Dan ternyata hasilnya sama dengan apa yang sudah dia duga sebelumnya. Sedikitpun tidak salah.
"Hahhh …"
Pemuda itu hanya bisa menghela nafas tanpa bicara.
Saat ini, dia sendiri tidak tahu apakah dirinya harus senang, menangis, atau bagaimana?
Setelah kenyang minum arak lalu membayar biaya minum, Chen Li kemudian segera pergi dari sana. Dia ingin menunggu kedatangan Phoenix Raja.
Pemuda itu ingin tahu apakah informasi yang dibawa oleh burung siluman peliharaannya itu sama dengan informasi yang dia peroleh atau tidak.
Sekarang dirinya berada di hutan pinggir sungai yang sebelumnya menjadi tempat perpisahan antara dirinya dan Phoenix Raja. Tidak perlu lama, hanya beberapa saat menunggu, yang ditunggu malah sudah datang.
Bayangan merah membara mewarnai langit yang cerah. Kecepatan bayangan merah tersebut sulit diikuti oleh mata telanjang. Kalau orang awam atau bahkan pendekar kelas menengah, jangan harap mereka bisa melihat bayangan itu dengan jelas.
__ADS_1
Wushh!!!
Phoenix Raja sudah tiba tepat di pundak Pendekar Tanpa Perasaan. Dia sudah bertengger dengan tenang, di mulutnya masih ada daging segar yang masih belum habis.
"Dari mana kau mendapatkan daging itu?" tanya Chen Li mengawali pembicaraan.
"Mengambil di pasar sana," jawabnya setelah menghabiskan daging segar tersebut.
"Hemm, apakah aku kurang memberimu makan?"
"Tidak,"
"Lantas kenapa kau mencuri?"
"Mencuri sedikit tidak masalah. Apalagi kalau sedang dalam keadaan tertentu," jawab Phoenix Raja dengan santainya.
Chen Li langsung membungkam mulutnya. Dia malas berdebat dengan burung peliharaannya. Setiap berdebat, dia pasti tidak akan menang. Kecerdasan Phoenix Raja benar-benar sama seperti manusia.
"Apakah kau berhasil mendapatkan informasi tentang Xhiang Yu?" tanya Chen Li mulai serius.
"Kapan aku gagal menjalankan tugas yang diberikan oleh Tuan muda?" jawab burung itu dengan bangga.
"Bagus. Coba ceritakan,"
Tanpa membantah ataupun banyak bicara lagi, Phoenix Raja langsung menceritakan hasil penyelidikannya.
Dan lucunya, semua informasi yang diberikan oleh Phoenix Raja ternyata sama persis dengan informasi yang disampaikan oleh Beng Koan semalam. Sedikitpun tidak berbeda.
Chen Li sendiri merasa keheranan dari mana Phoenix Raja mendapatkan informasi selengkap itu. Karena merasa penasaran, akhirnya pemuda itu menanyakannya.
"Hemm, dari mana kau mendapatkan informasi tentang Xhiang Yu ini?"
"Dari atas atap,"
"Atap? Atap apa"
"Atap bangunan Perkumpulan Pengemis," jawab Phoenix Raja lalu terbang ke atas dengan sangat cepat.
Seketika itu juga Chen Li merasa sangat gemas. Ingin rasanya dia mencekik burung itu.
"Kembali kau …" teriak pemuda itu dengan suara yang menggelegar.
Keakk!!!
Phoenix Raja hanya bersuara tanpa menjawabnya.
__ADS_1
Tanpa banyak bicara lagi, Pendekar Tanpa Perasaan segera melesat mengikuti ke mana perginya Phoenix Raja.
###
Tiga hari sudah berlalu …
Sekarang waktu menunjukkan siang hari. Sebuah pegunungan yang sangat indah dipandang mata berdiri dengan dengan kokoh dalam jarak beberapa kilometer di depan Chen Li dan Phoenix Raja.
Pegunungan itu berwarna abu-abu keputihan. Abu-abu yang tidak terlalu pekat. Tapi putih yang sangat bersih.
Meskipun jarak keduanya masih cukup jauh dari pegunungan tersebut, namun ternyata hawa dingin dengan jelas bisa dirasakan oleh keduanya.
"Tuan muda lihat pegunungan di depan sana itu?" tanya Phoenix Raja kepada Chen Li, sekarang burung siluman itu telah bertengger kembali di pundaknya.
"Aku bisa melihatnya dengan jelas,"
"Nah, itulah yang disebut Pegunungan Salju," kata Phoenix Raja.
"Pegunungan yang sangat indah,"
"Memang indah,"
"Apakah di sana ada kehidupan?"
"Pegunungan Salju dijadikan objek wisata oleh pemerintah setempat. Tentu saja banyak orang yang datang ke sana," jawab Phoenix Raja.
"Hemm, pegunungan itu memang cocok dijadikan tempat wisata,"
Phoenix Raja tidak menjawab. Burung itu hanya menatap lekat-lekat pegunungan yang sangat mempesona tersebut.
"Kita akan segera ke sana," kata Chen Li setelah berdiam beberapa saat.
"Baik,"
"Tapi sebelum pergi, menurutmu apakah Xhiang Yu masih berada di sana?"
"Menurutku dia masih ada di sana,"
"Bagus, kalau begitu kita akan berangkat sekarang juga,"
Wushh!!! Wushh!!!
Dua bayangan putih dan merah melesat ke atas menembus awan putih yang berarak beriringan.
Bagi orang lain, untuk menuju ke Pegunungan Salju dari tempat Chen Li berdiri sebelumnya, mungkin membutuhkan waktu setidaknya satu harian. Tapi bagi pemuda bergelar Pendekar Tanpa Perasan itu, hal tersebut tidak berlaku.
__ADS_1
Cukup memerlukan waktu sekitar tiga puluh menit saja, Chen Li dan Phoenix Raja telah tiba di tempat tujuannya.
Hawa dingin menusuk tulang telah merasuki keduanya. Mereka telah mendarat tepat tidak jauh dari jalanan yang biasa dilewati oleh para pelancong.