
Lawannya sudah tewas di tangan dia sendiri. Chen Li merasa puas. Walaupun bagi sebagian orang membunuh itu perbuatan yang berdosa dan tercela, tapi baginya tidak sama sekali.
Bagi orang-orang dunia persilatan juga sama. Tidak ada kata dosa dalam dunia ini. Yang ada hanyalah norma dan hukum rimba yang berlaku.
Yang kuat membunuh yang lemah. Yang kaya menginjak yang miskin. Yang pintar akan selamat, yang bodoh akan tewas.
Dalam dunia persilatan, bunuh membunuh bukan suatu hal aneh. Bahka setiap saat, setiap detik, setiap menit, pasti akan selalu ada nyawa yang melayang. Entah karena ada persoalan atau tidak ada persoalan, kalau memang harus mati, ya mati.
Siapapun pantas mati. Baik itu musuhnya, ataupun dia sendiri.
Orang yang dibunuh oleh Chen Li memang pantas mati. Sebab dia merupakan iblis berwujud manusia. Iblis tentu harus dibunuh tanpa kenal ampun. Tak perduli bagaimana dia meminta ampun, bagi Pendekar Tanpa Perasaan, kalau dia sudah bertekad untuk membunuhnya, maka dia akan membunuhnya.
Baik itu pria maupun wanita. Tua ataupun muda. Di mata bocah misterius itu semua sama saja. Selama ada orang-orang yang melakukan perbuatan berlawanan dengan hatinya di depan mata, maka dia tidak akan tinggal diam.
Apalagi sampai ada yang mengganggu tanah airnya. Walaupun masih bocah, tapi jiwa ksatria sudah berakar dalam tubuhnya.
Kalau bukan mulutnya yang bicara penuh duri dan ejekan, maka pedangnya lah yang akan bicara.
Darah masih menggenag di sana. Puluhan orang terkapar tanpa nyawa. Seolah mereka adalah hewan ternak yang dijagal masal.
Tak ada rasa kasihan dari siapapun. Tak ada rasa sedih. Sebab semua orang yang ada di sana memang pantas untuk mati.
Dibunuh atau membunuh. Disakiti atau menyakiti. Dua hal itu sangat lumrah di atas muka bumi ini.
Chen Li mendekati Huang Taiji. Saat itu orang tua tersebut sedang fokus menonton jalannya pertarungan antara Ye Xia Zhu melawan si pemimpin. San Ong dan Ong San juga tidak ketinggalan.
"Li'er, kemampuanmu semakin meningkat seiring berjalannya waktu. Kau harus ingat, jangan pernah sombong terhadap apa yang kau miliki sekarang. Di atas langit masih ada langit. Di bawah lapisan bumi yang dalam, masih ada lapisan bumi yang lebih dalam lainnya," kata Huang Taiji ketika Chen Li berada di sampingnya.
"Baik Paman. Li'er akan mengingat pesan Paman,"
"Setelah dari sini, kau sembunyikan kekuatanmu serendah mungkin,"
__ADS_1
"Li'er mendengarkan,?"
Huang Taiji tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Pertanda bahwa dia puas melihat bocah itu sangat nurut kepadanya.
Di arena pertarungan, Ye Xia Zhu terlihat sangat marah sekali. Serangan yang dia lancarkan sangat ganas dan mematikan. Semua jalan keluar lawan tertutup rapat oleh sinar perak yang dia ciptakan dari batang pedang miliknya.
Sebenarnya Wakil Kepala Tetua Sekte Teratai Putih itu sangat ahli dalam memainkan selendang yang ada di pinggangnya. Tetapi dia sangat jarang menggunakannya. Pedang hanya untuk melawan musuh yang sekiranya yakin bisa dia hadapi tanpa kesulitan berarti.
Sedangkan selendang dikhususkan untuk lawan yang memang benar-benar tangguh.
Hanya tokoh tertentu saja yang pantas mati di bawah selendang pusaka miliknya.
Sedangkan pemimpin itu, masih sangat belum pantas untuk tewas di bawah selendangnya.
Pedang berkelebat kembali. Cahayanya melancarkan sinar perak dan sinar warna-warni seperti bianglala. Ye Xia Zhu membentak nyaring. Pedang di tangannya bergetar hebat terpecah menjadi beberapa bagian.
Namun yang terpecah bukan batang pedangnya. Melainkan jurus serangannya.
Dia juga begitu. Kakinya sangat berirama. Kedua tangannya berkembang seperti sedang belajar terbang. Tubuhnya berputar. Pedangnya menusuk. Tebasan dan tusukan dilancarkan tanpa kenal ampun.
Baginya, siapapun yang telah mengganggu anaknya, maka orang tersebut pantas untuk mati.
Si pemimpin mulai terdesak hebat. Peluh sebesar kacang kedelai membasahi keningnya. Bagi dia, wanita itu sungguh berbeda daripada wanita pada umumnya.
Jurus pedang yang digunakan juga sangat aneh. Baru kali ini dia melihat ada jurus pedang seperti ini.
Tentu saja, sebab itu adalah jurus pedang khas dari Sekte Teratai Putih.
"Selaksa Teratai Bertaburan di Angkasa …"
Sebuah jurus pedang dahsyat ciptaan Ye Rou setelah perang pertama terjadi. Jurus tersebut mengandalkan kecepatan si penggunanya.
__ADS_1
Semakin si pengguna bergerak lincah. Semakin si pengguna bergerak cepat. Maka semakin mengerikan juga jurus yang dapat dihasilkannya.
Menurut rumor, jurus pedang tersebut berada dalam urutan kelima sebagai jurus pedang terhebat di Kekaisaran Wei. Sedangkan urutan pertama, jelas masih di duduki oleh Shin Shui yang menciptakan jurus Tarian Ekor Naga Halilintar.
Pertarungan keduanya semakin seru. Ye Xia Zhu terlihat semakin menguasai jalannya pertempuran. Sinar pedang semakin menyebar ke segala penjuru. Titik putih memecah menjadi serpihan kecil menyerang setiap inci tubuh si pemimpin.
Saat pertarungan mereka mencapai jurus ketiga puluh sembilan, pedang Ye Xia Zhu telah menancap tepat di jantung lawan.
Darah segar keluar dari mulutnya. Wajahnya seketika berbah pucat sekali. Agak biru kehijau-hijaun.
"Ka-kau …"
Pemimpin tersebut tidak dapat menyelesaikan perkataannya. Sebab sebelum ucapan tadi selesai, tubuhnya sudah ambruk ke tanah.
Darah menggenang. Korban di lapangan luas bertambah lagi satu orang. Semuanya tewas dalam keadaan mengenaskan. Di atas tubuh si pemimpin, ada sekuntum bunga teratai putih.
Itulah tanda Sekte Teratai Putih. Setiap kali mereka membunuh, pasti ada sekuntum teratai di dekat tubuh lawannya.
Entah kapan dan bagaimana caranya mereka dapat melakukan hal tersebut. Namun yang jelas, wanita-wanita Sekte Teratai Putih, lebih menyeramkan daripada harimau betina yang murka.
Ye Xia Zhu kemudian menghampiri Huang Taiji dan yang lainnya sambil melemparkan senyuman.
"Aihh, rupanya Tuan Huang menyaksikan juga pertarunganku. Sesungguhnya aku sudah lama tidak turun lagi ke lapangan. Jadi mohon maaf jika jurus yang aku gunakan tidak apa-apanya kalau dibandingankan denganmu," katanya sambil memberikan hormat.
Wanita itu memang lebih suka merendah daripada merasa tinggi. Huang Taiji tahu itu, dia juga tahu sampai di mana kekuatannya. Hanya saja Ye Xia Zhia memang tidak berminat untuk memperlihatkan kemampuan aslinya.
Walaupun dia tidak terhitung dalam barisan sepuluh tokoh terkuat di Kekaisaran Wei, tapi sebagai seorang wakil tetua di sebuah sekte besar, tentu saja kekuatannya tidak perlu ditanyakan lagi.
"Nona Zhu terlalu sungkan. Justru aku terpukau dengan jurus-jurus yang kau keluarkan. Pada akhirnya aku bisa melihat jurus yang menjadi ciri khas dari Sekte Teratai Putih. Sungguh jurus pedang yang sangat mengerikan, aku tidak yakin bisa menahan lebih dari lima belas jurus," jawab orang tua itu menghormat dalam-dalam.
Ye Xia Zhu juga menghormat sambil tersenyum. Masing-masing dapat melihat sampai di mana kemampuannya. Sehingga di antara mereka tidak ada yang meremehkan satu sama lain.
__ADS_1