Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Padang Rumput Gunung Bok San


__ADS_3

Pendekar Tanpa Perasaan tertegun untuk beberapa saat. Pemuda itu sama sekali tidak menyangka akan kejadian barusan. Tidak ada yang membunuh Mo Lin, gadis itu bunuh diri.


Dia tewas karena dirinya sendiri. Lehernya hampir putus karena digorok oleh pisau belati yang dia ambil dari balik pakaiannya.


Siapa yang bakal menyangka kejadian seperti ini? Jangankan Chen Li, kalau kau ada di sana, mungkin kau sendiri tidak akan pernah menyangkanya sama sekali.


Seorang gadis biasanya sangat ingin untuk hidup lebih lama. Tak disangka, Mo Lin justru malah sebaliknya. Dia lebih memilih untuk mati dari pada melanjutkan hidup.


Sebenarnya alasan apa yang membuat gadis berpakaian merah muda itu bunuh diri?


"Hanya karena ketakutan, ternyata gadis itu rela mengakhiri hidupnya sendiri," kata Phoenix Raja tiba-tiba bicara kepada Chen Li.


"Memangnya dia takut kenapa?" tanya Chen Li pura-pura tidak mengerti.


"Tentu saja takut pada Tuan muda. Bahkan kalau aku berada di posisi gadis itu, mungkin aku pun bakal melakukan hal yang sama,"


Pendekar Tanpa Perasaan tidak menjawab.


Dia tidak berani menyebut dirinya terlalu kuat atau terlalu menakutkan bagi orang lain. Terlebih lagi, pemuda itu tidak mau terlalu menilai dirinya sendiri.


Karena sejatinya yang melihat adalah orang lain, yang menilai pun orang lain, oleh sebab itulah maka yang berhak menilai diri kita juga orang lain. Hal seperti ini berlaku bagi siapa saja.


"Apakah aku begitu menakutkan di mata orang lain?" tanya Chen Li kepada dirinya sendiri.


"Bukan menakutkan lagi, bahkan sangat menakutkan. Meskipun Tuan muda baru muncul kembali di dunia persilatan, tapi apa yang Tuan muda lakukan justru berbeda dari orang-orang rimba hijau lainnya. Selama sejarah dunia persilatan, belum pernah ada seorang manusiapun yang melakukan seperti apa yang akan Tuan muda lakukan," kata Phoenix Raja membalas ucapan tuan mudanya tersebut.


Chen Li hanya diam. Wajahnya masih datar dan tanpa ekspresi. Wajah itu masih dingin seperti sebelum-sebelumnya.


Wushh!!!


Bayangan putih meluncur deras ke depan seperti sebuah anak panah yang diluncurkan dengan sekuat tenaga. Hanya sekejap mata bayangan putih itu telah lenyap dari tempat pertarungan tadi.


Lima mayat manusia masih ada di sana. Mereka tergeletak begitu saja. Darah merah mulai mengering. Tubuh orang-orang bernasib malam itupun sudah mulai dingin.

__ADS_1


###


Malam tiba.


Rembulan purnama bersinar sangat terang dan indah. Ribuan bintang menghiasi langit malam yang seharusnya kelam itu. Kerlipan bintang sangat indah, seindah kerlipan mata gadis cantik pujaan hati.


Cuaca sangat cerah. Angin berhembus lirih membawa keharuman bunga-bunga yang mempesona. Beberapa ekor kelelawar terbang ke sana kemari saling kejar dengan rekannya masing-masing. Suara jangkrik memecah keheningan malam ini.


Di sebuah batu hitam berukuran sebesar kerbau, tampak satu sosok sedang duduk dengan santai. Satu lututnya ditekuk ke atas, tangan kanan yang selalu memegang guci arak tersebut ditaruh di atasnya.


Sosok tersebut memakai jubah mewah serta mahal berwarna putih. Putih yang bersih. Putih yang mengkilap saat terkena sinar rembulan.


Pendekar Tanpa Perasaan.


Sosok yang sedang duduk di atas batu tersebut memang dirinya. Chen Li sedang duduk sambil menikmati malam yang indah ini, lebih tepatnya dia sedang menanti kedatangan seratus tokoh dari Organisasi Elang Hitam.


Seperti diceritakan sebelumnya, Pendekar Tanpa Perasaan sudah mengadakan janji dengan Hong Hua beberapa waktu lalu, janji itu tepat pada saat bulan purnama.


Pemuda itu sepakat akan bertarung dengan seratus tokoh dari organisasi yang bergerak di bidang pembunuh bayaran tersebut.


Hawa kematian tiba-tiba merasa kental. Nafsu ingin membunuh mendadak pekat.


Tapi meskipun begitu, Pendekar Tanpa Perasaan masih duduk seperti posisinya semula. Dia tidak memberikan reaksi apapun. Dengan santainya pemuda itu tetap meneguk guci arak. Tangan kirinya sesekali menyuapkan daging segar untuk Phoenix Raja.


Malam semakin larut. Suara menggelegar bertambah keras. Tanah di sekitaran padang rumput Gunung Bok San bergetar. Angin berhembus cukup kencang, beberapa pohon tumbang. Dahan-dahan cukup besar berjatuhan satu persatu.


Semakin lama, orang-orang yang berkumpul di padang rumput itu semakin banyak. Yang tadinya belasan orang, sekarang menjadi puluhan orang. Detik selanjutnya, kira-kira di sana sudah berkumpul seratus orang tokoh Organisasi Elang Hitam.


Hanya beberapa saat saja tempat tersebut telah dibanjir oleh kehadiran tokoh-tokoh kelas atas tersebut. Mereka semua berdiri berjajar mengelilingi bukit tersebut.


Tempat duduk Pendekar Tanpa Perasaan berada di tengah-tengah padang rumput itu. Secara tidak langsung, sekarang posisi pemuda tersebut sudah dikelilingi oleh calon lawannya di medan pertempuran nanti.


Hawa di sekitaran sana berubah menjadi sesak. Udara serasa habis. Hawa panas mulai menyeruak ke segala arah. Hawa kematian pun tiba-tiba terasa sesak.

__ADS_1


Segala macam hawa telah berkumpul. Tempat yang tadinya sejuk dan nyaman itu, sekarang sudah berubah drastis.


Hong Hua berada di posisi paling depan. Orang tua itu berdiri tegak menantang. Sepasang matanya menatap lurus kepada Pendekar Tanpa Lerasan.


Wajahnya tegang. Caranya berdiri, meskipun tegak, tapi sebenarnya kalau diperhatikan lebih teliti lagi siapapun bakal melihat bahwa orang tua itu sedikit bergetar dan gugup.


Sampai detik ini, pemimpin Organisasi Elang Hitam itu belum bicara sepatah katapun. Entah karena dia tidak berani, atau karena sedang mengumpulkan keberanian.


Yang jelas, saat ini Hong Hua masih memandangi Chen Li dengan perasaaan yang sulit diartikan.


Suara lolongan serigala terdengar beberapa kali. Suara binatang buas itu membuat suasana semakin menyeramkan lagi.


"Aku kira kau tidak berani datang kemari," kata Pendekar Tanpa Perasaan kepada Hong Hua.


"Aku bukan pengecut, jadi mana mungkin aku tidak berani datang," jawabna lantang.


Pendekar Tanpa Perasaan tersenyum sangat dingin. Dia menatap Hong Hua tajam sebelum bicara kembali.


"Orang yang bukan pengecut tentunya tidak akan mengirimkan gadis yang sudah dicuci otaknya sehingga dia berani bertindak bodoh,"


"Apa maksudmu?" tanya Hong Hua sambil mengerutkan keningnya.


"Jangan berpura-pura bodoh kalau di hadapanku. Kau pikir aku tidak tahu kalau Mo Lin itu adalah orang-orangmu yang sudah dicuci otaknya?"


Hong Hua tersentak kaget. Tapi dia tidak menampik perkataan pemuda itu. Pemimpin Organisasi Elang Hitam tersebut hanya bisa menghela nafas dalam-dalam.


"Ternyata tidak ada sesuatu yang dapat mengelabuimu," katanya dengan nada suara putus asa.


"Bisa benar, bisa tidak,"


"Hemm, sudahlah. Mungkin aku memang sudah melakukan hal yang sangat bodoh. Sekarang, apakah kau sudah siap untuk melangsungkan pertempuran ini?"


"Sejak dari tadi aku sudah siap. Justru yang harus bertanya demikian adalah aku kepadamu. Apakah kau sudah siap?"

__ADS_1


"Bagaimana mungkin aku tidak siap?"


"Sudah aku katakan jangan melakukan hal bodoh di depanku. Kau pikir aku tidak tahu kalau sejak tadi kau sedang mengumpulkan keberanian?"


__ADS_2