
Tidak perlu mencari-cari, Maling Sakti sudah mengetahui keberadaan Shin Shui. Tepat ketika dia tiba di sana, tawanan yang Shin Shui selamatkan, semuanya sudah sadar dan pulih.
Mereka yang tadinya nampak pucat, kini sudah segar kembali. Yang tadinya lesu, kini sudah bersemangat seperti biasanya.
"Sushi …"
Yun Mei langsung menubruk Shin Shui. Dia memeluknya, pelukan hangat dan penuh kerinduan kepada sosok pria yang sangat dia cintai.
Wanita itu menangis. Entah itu tangisan sedih, ataupun tangisan bahagia. Yang jelas, tangisannya adalah tangisan penuh rasa cinta.
"Sudahlah Meimei. Semuanya akan baik-baik saja. Kita tidak punya banyak waktu, kita harus sesegera mungkin pergi dari tempat ini," kata Shin Shui melepas pelukan sambil mengusap air mata istrinya.
"Baiklah. Aku paham, kalau begitu, mari kita segera pergi dari sini," ucap Yun Mei berusaha menghentikan tangisnya.
Shin Shui mengangguk. Dia membalikan badan kepada para tetua dan pendekar yang sedang menghormatinya.
"Tetua dan para pendekar semua, kita harus pergi dari sini secepat mungkin," tegas Shin Shui.
"Baik," jawab mereka serempak.
"Bagus. Kakak Yang, mari,"
"Gaskeun kuy," jawab si Maling Sakti. Entah dari mana dia bisa tahu bahasa sekarang. Mungkin penulis yang memberitahu bahasa gaul itu.
Mereka semua segera pergi secepat mungkin. Walaupun Shin Shui tahu bahwa Sekte Kayu Hitam sebentar lagi akan tiba, tetapi menghindarkan diri dari masalah, menurutnya adalah jalan terbaik.
Sementara itu di sisi lain, lima sosok pria tua mendatangi goa tempat tawanan. Wajah mereka menggambarkan rasa sangat terkejut saat melihat ternyata di sana tidak apa siapa-siapa.
"Ke mana para tawanan? Dan di mana pula murid penjaga?" tanya seorang tua.
"Entahlah. Tapi yang jelas, mereka pasti sudah dibebaskan. Kau cepat laporkan kejadian ini kepada kepala tetua. Aku akan mencari empat murid, sisanya kejar mereka. Aku yakin orang-orang itu belum cukup jauh, beritahukan juga para murid utama untuk bersiap," perintah orang tua lainnya.
Kelima sosok orang tua tersebut segera bergerak sesuai dengan intruksi. Di lihat dari segi penampilan, sepertinya mereka merupakan sebagian dari Tetua Sekte Serigala Putih.
Salah satu tetua kaget ketika mendapati keempat murid penjaga terkapar dengan luka yang sangat parah. Sontak dia langsung memberikan pil kepada empat murid.
__ADS_1
"Siapa yang telah melakukan ini kepada kalian?" tanyanya tidak sabar.
"Ti-tidak tahu. Ka-kami tidak dapat mengenalinya," jawab seorang murid terbata-bata.
"Ke arah mana orang tadi perginya?"
"Ke sa-sana," jawabnya sambil menunjukkan ke mana perginya Maling Sakti.
"Kalian tenanglah. Sebentar lagi yang lain akan segera datang, aku harus mengejar mereka,"
"Ba-baik tetua," jawab si murid.
Si tetua tersebut segera melesat pergi menyusul Maling Sakti Hidung Serigala. Ilmu meringankan tubuhnya sudah terbilang kelas atas. Sehingga baru beberapa saat saja, dia sudah mampu mengejar Shin Shui dan yang lainnya.
"Gawat. Ternyata ada Pendekar Halilintar di sana," gumam si tetua merasa sedkit takut.
Tetapi walau bagaimanapun, dia harus memberanikan diri demi tanggungjawabnya sebagai seorang tetua.
Di tengah jalan, tetua itu bersuit sangat nyaring.
"Kita terjebak," teriak Shin Shui.
Semua orang itu segera menghentikan langkah mereka. Semuanya mendadak membentuk sebuah lingkaran yang lumayan besar.
Suasnaa hening. Semua orang sedang menunggu. Mendadak puluhan murid tadi mengepung rombongan Shin Shui dan yang lainnya.
Setelah itu, dari depan Shin Shui tampak juga lima orang tua tadi yang menuju ke arahnya.
Ketegangan mulai terasa. Dari sini saja sudah jelas bahwa meraka ingin mencari masalah dengan Pendekar Halilintar.
"Hahaha, ternyata kita kedatangan tamu agung. Mohon maaf kami tidak bisa menyambut kedatangan pahlawan karena datangnya dari belakang," kata seorang tetua sambil tersenyum.
Shin Shui tahu bahwa perkataan tetua barusan itu, sebenarnya sebuah sindiran keras kepadanya. Tetapi untuk saat ini, Shin Shui sudah tidak lagi mau bermain-main. Apalagi istrinya sudah di tawan beberapa waktu.
"Belum tahu dia Shin, sikatt!! Jangan kasih kendor," kata author menyemangati Shin Shui.
__ADS_1
"Beres thor …" jawabnya sambil mengacungkan jempol.
"Tidak perlu repot-repot menyambut. Lagi pula, aku tidak ingin disambut oleh orang macam kau," tegas Shin Shui.
Walaupun nada bicaranya masih terbilang tenang, tapi sesungguhnya ada perasaan lain yang membara dalam tubuh Shin Shui.
"Hahaha, lancang sekali mulut pahlawan kita ini," kata tetua lainnya.
Shin Shui diam. Dia tidak menjawab. Aura biru terang mulai memancar keluar dari tubuhnya. Kekuatan yang terkandung sangat besar. Bahkan hawa di sana berubah drastis karena Shin Shui.
Kelima Tetua Sekte Serigala Putih ini, setidaknya merupakan Pendekar Dewa tahap empat. Mungkin mereka tetua terlemah dari yang lainnya.
Dengan gerakan yang sangat tiba-tiba sekali, Shin Shui bergerak. Tetapi tidak ada yang tahu bagaimana Pendekar Halilintar melakukan hal tersebut.
Hanya dalam hitungan detik, Shin Shui sudah tiba di hadapan lima tetua. Tangan kanan langsung menyapu kelima orang itu. Sapuannya terlihat pelan dan tidak bertenaga, tapi akibat yang ditimbulkan mampu membuat siapapun kaget.
Sebuah gelombang angin membawa hawa panas menerjang lima tetua. Karena gerakan dan serangan yang tiba-tiba, kelima tetua tersebut langsung terpental sepuluh langkah ke belakang.
Untungnya mereka masih bisa menguasai diri. Walaupun dadanya terasa sakit karena serangan barusan.
"Berani bicara lancang lagi, aku tidak akan mengampuni nyawa kalian," kata Shin Shui penuh amarah.
"Hemm, kau kira kami takut dengan ancamanmu itu? Jangan bermimpi. Kau harus ingat, ini wilayah kami. Bukan wilayah kau Shin Shui," bentak seorang tetua.
Usianya masih baru sekitar empat puluh tahun. Dan di antara lima tetua, hanya dia yang berani kurang ajar terhadap Shin Shui. Bahkan dia yang paling sombong dan kekuatannya paling rendah. Mungkin baru mencapai Pendekar Dewa tahap tiga.
Sudah lemah, sombong, banyak bicara, hidup pula.
Sungguh hidup pun tidak berguna.
Shin Shui bergerak secara mendadak. Gerakan yang sangat cepat dan tepat. Bagaikan seekor burung elang menerjang mangsanya. Tidak pernah meleset dan tidak pernah salah sasaran.
Hanya satu tarikan nafas, Pendekar Halilintar tiba-tiba berada di hadapan si tetua sombong. Tangan kanan Shin Shui langsung mencekiknya lalu dia terbang ke atas dalam kecepatan tinggi.
Tetua sombong itu ingin melepaskan diri. Sayangnya, seberapa kuat dia berusaha, hasilnya tetap sia-sia saja. Cengkraman Shin Shui seperti tidak bisa dilepaskan. Justru semakin lama semakin kencang.
__ADS_1
Raut wajah tetua itu mulai memerah karena tidak bisa bernafas. Kedua tangannya terus berusaha untuk melepaskan diri.