Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Pertarungan Kepala Tetua


__ADS_3

Untungnya dia sudah tahu bahkan sebelum serangan tersebut tercipta, sehingga ketika sinar biru hampir mengenai tubuhnya, Hyu Ri lebih dulu menghindar dengan cara melompat ke samping.


Saat tubuhnya berbalik, dua serangan balasan langsung dia lancarkan. Dua buah sinar hitam membelah gelapnya malam. Tidak sampai di situ saja, Kepala Tetua Sekte Kayu Hitam itu, juga melancarkan serangan lain kepada beberapa murid yang sebelumnya gagal dia bunuh.


Si Pendekar Dewa tahap tiga tahu bahwa dua sinar hitam tersebut bukanlah sinar biasa. Juga bukan serangan biasa. Melainkan serangan yang sangat berbahaya, bahkan bisa merenggut nyawanya.


Karena itu, si pendekar asing langsung mengeluarkan kekuatan lalu memberikan serangan yang juga tidak kalah hebatnya.


Para murid yang menjadi sasaran Hyu Ri berjumlah empat orang. Dan mereka semua, kini telah tewas bersimbah darah karena tidak mampu melepaskan diri dari serangan hebat tadi.


Kepalanya ada yang pecah. Ada juga yang bentuknya sudah tidak karuan lagi.


"Blarrr …"


Dentuman besar terdengar sangat keras. Gelombang kejut menyapu area sekitar hingga menjebol tembok sekte.


Baik Hyu Ri maupun si pendekar asing, keduanya sama-sama terpental. Saat ini, Hyu Ri berada pada tingkatan Pendekar Dewa tahap enam akhir.


Melawan seorang pendekar asing sepetinya bukanlah suatu masalah besar. Hanya saja, yang jadi masalah justru karena dia telah mengeluarkan banyak tenaga. Sebelum bertarung dengan pendekar asing itu, dia sempat bertarung juga bersama pendekar dan murid lain.


Sehingga kekuatan yang kini tersisa hanya sekitar enam pulih persen saja.


Tetapi Hyu Ri yakin, dengan kekuatannya yang sudah berkurang itu, dia masih sanggup untuk membunuh lawan.


Kakek tua tersebut menyerang lagi. Serangan kali ini jauh lebih hebat lagi. Dia menjejakkan kakinya lalu meluncur ke arah lawan.


Tongkat Kayu Hitam telah di ayunkan memberikan serangan. Tiga buah sinar hitam terlihat lagi. ukurannya jauh lebih besar dan tenaga yang terkandung, jauh lebih mengerikan.


Si pendekar asing tidak bisa untuk diam saja. Dengan senjata berupa kipas, dia membalas serangan. Kipasnya dia gerakkan sehingga mengeluarkan angin kencang.


Dua jurus kembali bertemu di tengah jalan. Sayangnya, kejadian sekarang berbeda dengan sebelumnya.


Hyu Ri menghindar. Setelah itu, jurus yang sesungguhnya segera dia keluarkan.

__ADS_1


"Tongkat Kegelapan …"


"Wushh …"


Sinar hitam yang mengandung tenaga sangat dahsyat melesat cepat ke arah lawan. Bebatuan dan benda di sekitarnya terbawa hingga berkumpul menjadi satu.


Si pendekar asing terkejut. Dia membalas serangan sebisa mungkin. Sayangnya, dia salah perhitungan. Ketika serangan tersebut berhasil dia gagalkan, dari sisi kirinya telah kembali terlihat sebuah sinar meluncur.


Dia kaget. Pertahanannya segera ditingkatkan untuk menangkis. Tetapi lagi-lagi dia telah kecolongan.


Karena serangan yang sesungguhnya baru akan tiba. Dari atas, terlihat Hyu Ri berteriak sangat nyaring lalu mengayunkan tongkat kayu hitam dari atas ke bawah.


"Haaaa …"


"Brakkk …"


Serangannya sangat telak mengenai kepala lawan.


Pendekar asing tersebut seketika langsung terkapar di tanah. Kipas yang selalu dia banggakan, robek tidak karuan lagi. Kepalanya pecah. Darah segera menggenangi mayat itu.


Berbagai macam jurus dan serangan sudah mereka lancarkan. Kekuatan hebat terasa sangat kental seperti halnya aura kematian.


Waktu terus berlalu. Pertarungan di segala sisi mulai berkurang. Sebagian lain sudah menyelesaikan pertarungannya, sebagian lagi masih belum.


Dua tetua dari Sekte Kayu Hitam mengalami luka yang cukup parah. Yang satu lengan kirinya lumpuh. Sedangkan satu lagi mengalami luka robekan yang panjang mulai dari atas hingga bawah punggung.


Tinggal delapan pertarungan yang masih berlangsung. Pertarungan kedelapan tetua terlihat semakin sengit ketika mencapai puncaknya.


Benturan jurus dahsyat dan suara dentuman, entah sudah berapa banyak terdengar di telinga. Kalau ada orang biasa menyaksikan pertempuran ini, dapat dipastikan gendang telinganya akan pecah karena tidak kuat menahan kerasnya suara.


Sementara itu, pertarungan Shin Shui melawan pendekar asing yang hampir setara dengannya, masih berlangsung sengit.


Kedua tokoh kelas atas itu telah melewati puluhan jurus. Mulai dari jurus dasar hingga jurus tingkat tinggi, sudah mereka keluarkan.

__ADS_1


Sekarang yang berada dalam posisi menyerang adalah si pendekar asing. Dia menggunakan senjata berupa panah yang selalu memancarkan sinar kuning emas.


Si pendekar asing tersebut saat ini sedang menyerang Shin Shui dalam jarak dekat. Busurnya dua ayunkan untuk mendesak Pendekar Halilintar.


Walaupun busur tersebut tidak tajam seperti pedang, tapi jangan salah, karena busur itu terbuat dari baru giok yang sangat keras. Beratnya juga lumayan.


Apalagi kalau ditambah dengan tenaga dalam tingkat tinggi. Sudah pasti setiap hantamannya mampu untuk menewaskan seseorang.


Sinar kuning emas mengurung Shin Shui dari segala posisi. Sambaran angin terasa cukup tajam. Semakin lama, serangannya semakin ganas dan berbahaya.


Pendekar Halilintar masih tampak tenang. Wajahnya tidak menunjukkan kepanikan. Bahkan wajah itu terlihat sangat dingin seperti es.


Shin Shui belum mengeluarkan Pedang Halilintar. Dia memang sengaja, karena menurutnya, tanpa pedang pusaka itu tidak pun, dirinya masih sanggup untuk keluar sebagai pemenang.


Ketika hujan serangan dari busur semakin merepotkan, saat itulah Pendekar Halilintar mulai mengambil tindakan keras.


Dia tidak bisa membiarkan musuhnya melakukan sesuatu semaunya. Karena itu, saat melihat ada kesempatan bagus, Shin Shui tidak menyia-nyiakannya.


Kedua tangannya segera melancarkan tapak yang melesat ke arah si pendekar asing. Orang itu terperanjat, baru sebagian kekuatan saja sudah seperti ini, apalagi kalau sudah keluar seluruhnya?


Si pendekar asing melompat tinggi untuk menghindari serangan Shin Shui. Dia bersalto tiga kali di udara.


Ketika sampai di bawah, si pendekar asing tersebut langsung lebih dulu menyerang. Tiga buah sinar kuning emas yang membentuk anak panah, sudah meluncur deras.


Shin Shui tidak menghindar. Dia sengaja menanti datangnya serangan tersebut. Saat dua serangan tiba, Pendekar Halilintar langsung mengangkat kedua tangannya ke atas seperti sedang menyapu.


"Ombak Halilintar …"


Shin Shui berteriak nyaring. Dia mengeluarkan kekuatan hebatnya. Tiba-tiba tanah bergerak lalu dari perut bumi, muncul energi biru yang seketika langsung membentuk gulungan ombak.


Gulungan ombak itu menyapu apapun yang ada di dekatnya, si pendekar asing tidak sempat menyiapkan diri dengan mantap. Bahkan karena saking cepatnya jurus Shin Shui, sebelum lawan mengeluarkan jurusnya, gulungan ombak itu sudah menerjang ganas.


Si pendekar asing terkurung dalam jurus Shin Shui.

__ADS_1


Di dalam gulungan ombak itu, si pendekar asing masih tetap berusaha untuk dapat membebaskan diri dengan tenaganya yang masih tersisa.


Sayangnya, seberapa kuat mengerahkan tenaga dalamnya, tetap saja sangat sulit untuk membebaskan diri dari gulungan ombak tersebut.


__ADS_2