Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Tiga Bulan Kemudian


__ADS_3

Pendekar Halilintar? Siapa yang tidak pernah mendengar julukan besar itu? Setiap orang baik itu dari Kekaisaran Wei ataupun dari Kekaisaran lain, pasti pernah mendengar namanya. Meskipun tidak semua orang telah berjumpa langsung dengan pendekar ternama itu, tetapi namanya sudah lama mereka dengar.


"Tentu saja kami pernah mendengarnya, bagaimana mungkin kami tidak tahu tentang julukan yang amat menggetarkan dunia persilatan itu?" kata salah seorang di antara keduanya.


Shin Shui menganggukkan kepalanya beberapa kali sebagai pertanda bahwa dia puas dengan jawaban mereka berdua.


"Bagus, kalau begitu perkenalkan, akulah yang dijuluki Pendekar Halilintar. Namaku Shin Shui, aku Kepala Tetua Sekte Bukit Halilintar,"


Kedua manusia yang mirip siluman serigala itu terkejut setengah mati. Perkataan yang baru saja mereka dengar itu bagaikan sebuah petir yang menyambar tepat di atas kepala keduanya.


Mereka berdua tidak pernah menyangka bahwa orang yang ada di hadapannya saat ini merupakan sosok yang paling ditakuti di Kekaisaran Wei.


"Ja-jadi kau?"


"Benar. Aku orang yang kalian cari. Dan kalian sudah membuat kekacauan di rumahku. Peraturanku kepada siapapun sangat tegas, aku tidak akan pernah membiarkan hidup orang-orang yang pantas untuk mati," kata Shin Shui sambil memandang tajam kepada keduanya.


Selapis hawa pembunuhan segera merembes keluar dari setiap pori-pori di tubuhnya. Sosok Pendekar Halilintar ternyata benar-benar sesuai dengan julukannya. Dia mempunyai aura agung tersendiri.


Kilatan halilintar mulai menyelimuti tubuh Shin Shui. Wajah yang tadinya penuh senyuman itu mendadak bengis. Tatapan mata yang sebelumnya teduh, sekarang justru malah bertambah tajam. Bahkan lebih tajam dari pada ujung pedang.


Dua manusia siluman yang ada di depannya semakin ketakutan. Tetapi mereka menggertak gigi untuk menguatkan keberanian dalam dirinya.


Wushh!!!


Tanpa memberikan aba-aba lebih dulu, keduanya langsung segera menyerang Shin Shui dengan ganas. Dua pasang tangan yang berkuku tajam itu memberikan cakaran yang dahsyat sekaligus cepat.


Sambaran angin yang tercipta juga lumayan kencang. Ternyata mereka berdua mempunyai kekuatan yang tidak rendah.


Shin Shui melompat mundur ke belakang. Dia sudah tidak mau memberikan hati kepada dua orang itu. Pendekar Halilintar bertekad untuk membunuhnya dengan kejam. Sekejam dua orang itu membunuh puluhan anak muridnya.

__ADS_1


Wushh!!! Crashh!!!


Cahaya biru disertai kilatan halilintar melesat ke depan dengan sangat cepat sekali. Cahaya itu hanya terlihat beberapa detik saja. Beberapa kali cahaya berkelebat dalam kecepatan yang aama. Setelah itu, cahaya tersebut langsung lenyap tanpa jejak. Menghilang tanpa tahu ke mana perginya.


Keadaan langsung sunyi sepi. Angin lirih berhembus mengibarkan jubah megah milik Pendekar Halilintar. Semuanya berhenti. Waktu seolah berhenti. Alam terdiam.


Keadaan ini sebenarnya lebih mengerikan dari pada apapun.


Dua manusia yang mirip siluman serigala menjijikan itu terdiam untuk sesaat sebelum akhirnya mereka ambruk ke tanah. Kepalanya pecah. Tubuhnya terbelah menjadi dua bagian. Darah menyembur ke segala arah.


Semuanya basah oleh darah dua manusia siluman itu. Tapi pakaian Shin Shui tidak terkena noda darah. Sedikit pun tidak. Pakaian itu masih megah. Masih agung. Seperti agungnya aura yang selalu terpancar keluar dari tubuhnya.


Dua manusia siluman itu tewas dalam waktu yang sangat-sangat singkat. Siapapun tidak akan percaya dengan kejadian ini. Padahal jika di ulas lebih dalam, mereka berdua merupakan pendekar yang mempunyai kemampuan cukup tinggi.


Keduanya setara dengan Pendekar Dewa tahap tiga pertengahan.


Bagi orang lain mungkin mereka merupakan lawan cukup tangguh. Tapi bagi Pendekar Halilintar, mereka berdua tidak lebih dari tikus yang sengaja mengantarkan nyawanya sendiri. Apalagi sekarang dirinya tidak suka bermain-main lagi.


###


Waktu berjalan dengan cepat sekali. Tidak terasa, tiga bulan sudah berlalu kembali. Semuanya terasa singkat. Semuanya terasa hanya terjadi dalam sejenak.


Keadaan Kekaisaran Wei saat ini benar-benar berbeda dari pada hari-hari sebelumnya. Di negeri yang terkenal dengan hasil pertaniannya itu, peperangan terjadi di mana-mana. Setiap detik, setiap menit, setiap jam, bahkan setiap saat, perang terus terjadi tanpa berhenti.


Nyawa manusia melayang begitu saja. Semuanya mempertaruhkan nyawa demi membela tanah airnya.


Sebagian besar para warga telah diungsikan oleh pihak Istana Kekaisaran. Hanya para warga yang ingin membela tanah air saja yang masih terlihat ada di beberapa tempat peperangan.


Mereka adalah para warga yang bermental baja. Bertekad kuat seperti batu karang. Berkeinginan keras seperti kerasnya batu hitam di sungai. Mereka tidak takut mati. Mati atau hidup bukan menjadi persoalan lagi.

__ADS_1


Yang terpenting bagi para warga tangguh itu adalah mereka ingin membuktikan bakti dan cintanya kepada tanah air mereka sendiri, yaitu Kekaisaran Wei.


Dua Kekaisaran besar yang berdampingan dengan Kekaisaran Wei ternyata benar-benar bersatu. Mereka menyatukan kekuatan untuk menghancurkan Kekaisaran Wei. Tidak tanggung-tanggung, seluruh tokoh terkuat yang ada di Kekaisaran masing-masing diturunkan ke gelanggang perang untuk memuluskan rencana mereka.


Jendral terkuat, tokoh terhebat, berbagai macam aliran sekte, semuanya bersatu padu untuk menyerang Kekaisaran Wei dengan segenap kekuatan yang mereka miliki.


Saat ini waktu menunjukkan malam hari rembulan sedang purnama. Sinarnya terang benderang memancar ke bumi. Bau harum bunga mekar tercium hingga ke jarak yang sangat jauh.


Suasana seperti ini seharusnya diwarnai dengan ketenangan. Kehangatan dan kesenangan.


Tapi kali ini berbeda. Malam seindah ini justru harus diwarnai dengan peperangan yang tidak kunjung berhenti. Benturan senjata tajam berbunyi sangat nyaring terdengar jelas di telinga setiap orang.


Perang terjadi di setiap daerah dan di segala tempat. Bahkan perang juga terjadi di pedesaan yang terdapat di seluruh pelosok Kekaisaran Wei.


Seperti yang terjadi saat ini. Perang yang menggetarkan hati terjadi di sebuah halaman di pedesaan. Para warga, murid berbagai sekte dan tentara pemerintahan bersatu menjadi satu sehingga membentuk satu pasukan berjumlah ratusan orang.


Mereka sedang berjuang sekuat tenaga melawan pasukan musuh yang terbilang tangguh. Korban telah berjatuhan silih berganti tanpa ada hentinya. Jeritan kematian menggelegar keras seperti suara ledakan halilintar.


Wushh!!!


Cahaya putih yang sangat menyilaukan mata mendadak berkelebat secepat kilat menyambar bumi.


Duarr!!!


Ledakan terjadi. Bersamaan dengan ledakan itu, darah manusia muncrat ke segala penjuru. Suara teriakan kesakitan terdengar berbarengan dengan suara terkejut dari semua orang.


Orang-orang di sana belum ada yang mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Tapi mereka benar-benar terkejut setengah mati setelah menyadari puluhan manusia sudah menjadi bangkai. Tubuh mereka hancur menjadi beberapa potongan.


Semua kejadian ini berjalan sangat cepat. Sangat singkat. Dan sangat mengerikan sekali.

__ADS_1


Satu sosok berpakaian serba putih telah berdiri di tengah-tengah medan pertarungan. Sosok itu berdiri dengan sangat gagah. Sangat kokoh. Sekokoh bukit nun jauh di sana.


Di tangan kanannya tergenggam sebuah pedang. Pedang berwarna hitam legam yang mengeluarkan hawa kematian pekat.


__ADS_2