Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Dua Belas Iblis Bermata Hijau


__ADS_3

Bumi bergetar kembali. Benteng dari tanah yang amat keras telah melindungi tubuh Pendekar Tanpa Perasaan dengan sangat kuat. Semua senjata rahasia yang menerjang dirinya mendadak rontok. Berbagai macam senjata itu tidak sanggup menjebol tanah yang mengurung Chen Li.


Beberapa saat kemudian, semuanya sudah sirna. Senjata rahasia yang dapat merenggut nyawa setiap saat telah musnah. Untuk yang kesekian kalinya dia selamat dari maut.


Kejadian ini lagi-lagi membuat Yun Jianying dan orang-orangnya terkejut.


Dalam hatinya, mereka merasa amat beruntung karena tidak memperpanjang masalah dengan Pendekar Tanpa Perasaan. Orang-orang itu menghela nafas, tidak lupa juga mereka merasa bersyukur.


Andai saja masalah di antara mereka dengan Pendekar Tanpa Perasaan diperpanjang, mungkin di dunia saat ini sudah tidak ada lagi Yun Jianying, Dua Penguasa Bulan, dan tidak ada pula anggota Empat Pedang Bulan Merah yang tersisa.


'Ternyata kalau ingin menyerangnya, apalagi membunuhnya, bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Aii, bersyukur para Dewa masih mempercayai aku untuk terus menjalani hidup,' batin salah seorang anggota Dua Penguasa Bulan mengeluh.


Chen Li mulai melangkahkan kakinya lebih jauh lagi. Setelah jaraknya dengan pintu batu hitam besa telah dekat, pemuda itu segera menekan tombol untuk membukanya.


Krett!!! Krettt!!!


Perlahan namun pasti batu besar itu mulai bergerak. Goa kembali bergetar, pelan-pelan batu yang sangat besar itu minggir ke bagian kanan. Perlahan-lahan, perlahan-lahan …


Wushh!!! Wushh!!!


Dua belas bayangan mendadak melesat dari dalam sana. Kecepatan belasan bayangan itu sangat cepat. Benar-benar sulit diikuti oleh mata biasa.


Untungnya Chen Li selalu dalam posisi siap. Kebetulan juga Pedang Merah Darah digenggam di tangan kirinya.


Trangg!!! Trangg!!! Trangg!!!


Bunga api memercik menerangi goa. Dentingan nyaring mulai terdengar tiada hentinya. Pendekar Tanpa Perasaan bergerak sangat cepat. Debu menggulung dirinya. Kecuali Phoenix Raja, rasanya siapapun yang ada di sana tidak ada yang mampu melihatnya dengan jelas.


Burung siluman itu melihat bahwa dua belas bayangan tersebut bukanlah merupakan senjata rahasia ataupun sejenisnya. Kedua belasnya mirip seperti bayangan manusia, lebih tepatnya iblis.


Iblis yang mirip dengan manusia.


Matanya hijau menyala dengan terang. Wajahnya sangat pucat. Wajah itupun kaku. Seperti tidak memiliki perasaan apapun. Emosi pun tidak ada.

__ADS_1


"Dua Belas Iblis Bermata Hijau …" desis Phoenix Raja.


Burung siluman itu adalah siluman istimewa. Siluman pintar dan lain dari pada yang lain. Phoenix Raja mempunyai keistimewaan tersendiri, pengetahuannya dalam segala hal patut diacungi jempol.


Menurut burung siluman istimewa itu, Dua Belas Iblis Bermata Hijau adalah sekelompok iblis yang sangat jahat. Iblis itu hanya bisa diperintah oleh orang yang dapat mengalahkannya dengan cara pertarungan. Selain dari itu, rasanya jangan harap iblis sesat tersebut dapat diperintah.


Itu artinya, Pang Meng sebelumnya sudah pernah bertarung dengan Dua Belas Iblis Bermata Hijau dan dia dipastikan memenangkan pertarungan tersebut. Hal ini bisa dibuktikan sekarang, belasan iblis tersebut dapat diperintah olehnya.


Mungkin datuk sesat itu menyuruh Dua Belas Iblis Bermata Hijau agar mereka menjaga ruangan tersebut di balik pintunya. Jika ada orang asing masuk, maka mereka diharuskan menyerang mati-matian. Siapapun lawannya.


Karena itulah, pada saat pintu batu terbuka dan mereka melihat yang masuk adalah orang lain, maka Dua Belas Iblis Bermata Hijau langsung menerjang Pendekar Tanpa Perasan.


Pertarungan masih berlanjut. Kerja sama iblis itu patut diacungi jempol. Beberapa saat lalu, Chen Li sendiri bahkan sempat dibuat kerepotan oleh mereka.


Tapi itu tadi. Sebelum dia mengeluarkan kemampuannya. Kalau sekarang, tentunya beda lagi.


Wushh!!!


Bayangan merah darah melesat secepat angin menerjang. Disusul kemudian dengan bayangan putih di belakangnya.


Satu persatu suara yang sama semakin terdengar mengerikan. Kepala dari Dua Belas Iblis Bermata Hijau menggelinding. Satu sosok, dua sosok, terus seperti itu hingga akhirnya dua belas kepala telah terlempar cukup jauh.


Tubuh iblis sesat itu ambruk ke bawah. Darah berwarna hitam yang menebarkan bau anyir pekat segera menyeruak. Pendekar Tanpa Perasaan mengibaskan tangannya. Dua belas sosok iblis yang sudah mampus itu langsung lenyap entah ke mana.


Setelah itu, Pendekar Tanpa Perasaan kemudian berjalan semakin dalam. Dia sempat membuka beberapa batu lagi. Hingga akhirnya tibalah Chen Li di ruangan terakhir.


Begitu sampai di sana, pemuda itu terkejut. Ternyata benar, di sana ada dua orang yang diikat dengan rantai. Kondisi mereka sangat memprihatinkan. Tinggal tulang berbalut kulit. Wajahnya sudah tidak karuan.


Kondisinya tidak berbeda jauh dengan orang terlantar.


"Tuan Tiong Jong …" teriak Chen Li kaget. Dia langsung memburu ke arahnya.


Si Pengemis Berwatak Aneh tidak mampu menjawab. Suaranya sudah hilang. Bibirnya pun pecah-pecah karena kekurangan air.

__ADS_1


Tanpa banyak bicara lagi, Chen Li segera membebaskan dua orang tersebut. Yang dimaksud satu orang lainnya, tentunya bukan lain adalah Kepala Tetua Sekte Bulan Merah. Ayah dari Yun Jianying.


Trangg!!! Trangg!!!


Dengan mudahnya Pedang Merah Darah memutuskan rantai berwarna perak yang membelenggu dua orang tua tersebut.


Setelah itu, Chen Li segera kembali lagi ke tempat di mana orang lain menunggunya.


Pada saat dirinya tiba di hadapan yang lain, seluruh goa bergetar hebat. Seperti dilanda gempa bumi yang dahsyat.


"Cepat kita pergi dari sini. Goa ini sebentar lagi akan ambruk," ucapnya serius.


"Baik …" jawab mereka serempak.


Wushh!!! Wushh!!!


Beberapa sosok bayangan melesat dengan cepat keluar dari goa. Gerakan mereka seringan asap, hanya sesaat saja sudah berada diluar goa. Bahkan jaraknya sudah cukup jauh.


Brugg!!!


Dugaan Chen Li tidak salah. Goa besar yang menjadi ruang rahasia dari Sekte Bulan Merah tiba-tiba ambruk menyatu dengan tanah.


Yun Jianying menatap reruntuhan goa dari jarak cukup jauh itu. Pandangannya kabur, wajahnya juga muram. Sepertinya gadis itu merasa sedih, bagaimanapun juga, goa itu merupakan tempat peristirahatan terakhir dari leluhurnya.


Tempat yang semula tenang tanpa keramaian, sekarang secara tiba-tiba bisa ambruk tidak karuan.


"Pang Meng sudah mengatur semuanya. Rencana seperti ini ternyata sudah dipikirkan dengan sangat matang. Sabarlah, relakan semua yang terjadi. Kelak jika situasinya sudah pulih, kau bisa mencari mayat leluhurmu lalu dipindahkan ke tempat yang lebih amat lagi," kata Chen Li sambil menepuk pundak Yun Jianying.


Yun Jianying tidak menjawab. Gadis itu hanya mengangguk sambil tersenyum dengan paksa. Yang bicara bukan mulutnya. Tapi matanya. Dua tetes air mata turun membasahi pipinya.


Dia mengusap dengan telapak tangannya. Kemudian Yun Jianying segera berlalu lebih dulu dari yang lainnya.


Sekarang tempat itu telah sepi sunyi kembali. Tiada satupun sosok manusia yang terlihat. Jangankan manusia, binatang pun rasanya tidak ada.

__ADS_1


Tempat di sekitar terasa diselimuti oleh hawa mencekam tersendiri. Kalau orang awam berada di sana, bisa dijamin bahwa bulu kuduknya akan segera berdiri.


__ADS_2