
"Srett …"
Kembali teriakan menyayat hati terdengar. Bedanya kali ini, suara tersebut tidak akan terdengar lagi. Alasannya karena pendekar yang lengannya buntung tadi, kini telah tewas ditebas lehernya oleh Pendekar Halilintar.
Lima pendekar yang tersisa kaget bukan kepalang. Mereka tahu bahwa rekannya sudah cukup hebat. Tak nyanya, sekarang justru dia malah tewas dalam kondisi mengenaskan.
Lima pendekar semakin marah. Senjata mereka bergerak menyerang Shin Shui secara serempak dari segala penjuru.
Jurus senjata kelas atas keluar. Kelebatan sinar bercahaya membuat suasana terang untuk beberapa saat. Benturan senjata kembali terjadi seperti sebelumnya.
Namun Shin Shui tidak berdiam diri. Dia telah mengeluarkan delapan puluh persen kekuatannya, itu artinya, hanya lima Pendekar Dewa bukanlah masalah berarti.
Jurus pedang Tarian Ekor Naga Halilintar menangkis semua serangan lawan. Pedang pusaka it terus mengeluarkan kekuatan hebat diiringi kilatan petir.
Tubuh Shun Shui mencelat ke atas. Kemudian dia turun kembali dengan posisi terbalik. Pedang Halilintar menyapu lima pendekar dengan dahsyatnya.
Gelombang kejut tercipta menebarkan dedaunan kering di hutan tersebut.
"Wushh …"
Pedang melesat secepat angin menerjang. Satu lawan menjadi korban. Jantung mereka tertusuk pedang pusaka sampai tembus ke belakang.
Selang lima jurus berikutnya, satu nyawa kembali melayang karena keganasan Shin Shui. Tiga lawan yang tersisa semakin merasa ciut nyalinya menghadapi pendekar asing tersebut.
Mereka berusaha keras sebisa mungkin untuk merobohkan lawan. Sayangnya apa yang mereka lakukan hanya sia-sia.
Bagaimanapun mereka menyerang, selalu gagal. Setinggi apapun jurus yang dikeluarkan, selalu dapat dimentahkan dengan muda.
Terlintas pikiran aneh dalam benak mereka. Apakah yang mereka lawan ini Dewa? Kalau manusia, mana mungkin setiap serangannya berhasil dipatahkan dengan mudah.
Meraka masih belum menemukan jawaban. Ingin bertanya, rasanya mustahil.
Pertarungan semakin menjadi. Serangan Shin Shui semakin gencar menghujani tubuh tiga pendekar tersebut.
Enam jurus kemudian, satu nyawa kembali melayang. Sekarang sisa dua pendekar yang masih bertarung dengannya.
Pendekar Halilintar tidak ingin memberikan ampunan. Sebuah sabetan pedang memanjang mengeluarkan sinar biru tercipta. Kekuatan dahsyat terkandung dalam sabetan tersebut.
Cahaya biru memancar terang bagaikan bianglala yang indah.
Kedua pendekar tidak sanggup menghidari serangan tersebut. Hasilnya, sudah tentu nyawa mereka yang harus diberikan.
Dua kepala menggelinding ke tanah.
Tiga puluh nyawa orang berhasil dicabut oleh Pendekar Halilintar hanya dalam waktu sebentar. Aura pembunuh yang dimiliki Shin Shui sulit untuk dijelaskan bagaimana kentalnya.
"Tugas kedua berhasil. Sekarang tinggal menuju ke tujuan utama. Malam ini, tamat sudah riwayat kalian …" gumam Shin Shui dengan amarah yang masih terus meluap.
__ADS_1
Dia melesat lagi ke depan bagaikan elang pemburu. Bangunan tua yang dihiasi obor sudah di depan mata. Begitu jaraknya hanya sekitar sepuluh tombak, Shin Shui melancarkan serangan hebat jarak jauh.
"Wushh …"
Tiga sinar biru terang meluncur mengarah ke bangunan tua yang ada di depan.
"Blarrr …"
Benturan jurus hebat terjadi. Gelombang kejut menebarkan kematian langsung terasa. Daun di beberapa pohon yang ada di sana rontok dan layu akibat benturan barusan.
Sebagian obor padam karena hembusan anginnya.
Di depan bangunan tua itu, Shin Shui melihat setidaknya ada delapan orang yang sudah berdiri sejajar. Tampang mereka semua sungguh menyeramkan.
Kebengisan terlihat jelas pada wajah orang-orang tersebut. Mereka mengenakan pakaian merah darah dengan lambang ular berkepala tiga di bagian punggung.
Mereka itulah kepala para perampok yang mengganas di perbatasan Timur Kekaisaran Sung. Masing-masing dari mereka berkekuatan setara dengan Pendekar Dewa tahap dua dan tiga.
Kalau dalam keadaan penuh perhitungan matang dan waktu tidak mendesak, mungkin Pendekar Halilintar butuh waktu yang terbilang lama untuk mengalahkan mereka semua.
Tapi sekarang situasinya berbeda. Dia harus bergerak secepat mungkin supaya nyawa sahabatnya dapat tertolong. Bagaimanapun caranya, Shin Shui harus menembus barisan delapan orang tersebut.
Dia tahu bahwa dalam barisan itu tidak ada sosok yang menjadi sasaran utamanya. Tapi itu bukan masalah, karena dia yakin sanggup mengalahkan mereka.
Dia yakin dengan kekuatan yang sekarang.
Pedangnya tidak pernah mengecewakan majikan. Dan majikan tidak pernah mengecewakan pedang.
Kalau Pedang Halilintar sudah keluar, sudah pasti pedang itu tidak akan kembali masuk sebelum memakan korban.
Pedang yang indah namun mengerikan.
Shin Shui telah tiba di hadapan delapan orang tadi. Begitu kakinya menjejak tanah di sana, dia langsung menyerang tanpa berkata sedikitpun.
Serangan pertama berupa dua sabetan pedang memanjang.
Delapan pendekar sudah siap daritadi. Sehingga begitu melihat serangan, mereka semua langsung menangkis dengan jurus-jurusnya.
Lima sinar energi terlihat menyala melesat ke arah mereka. Namun lagi-lagi dapat du mentahkan.
"Tornado Halilintar …"
"Wushh …"
"Gelegarrr …"
Langkr bergemuruh. Halilintar tiba-tiba menyambar tempat itu membawa sebuah kekuatan dahsyat yang mengerikan. Satu detik kemudian, tiga pusaran tornado tercipta.
__ADS_1
Tiga pusaran itu langsung bergerak ke arah delapan pendekar.
Berbarengan dengan hal tersebut, Shin Shui turut bergerak. Pedang di tangan kanan, jurus tapak yang dahsyat di tangan kiri.
"Tapak Halilintar …"
"Wushh …"
Energi membentuk tapak cukup besar mendadak muncul lalu bergerak maju ke arah enam pendekar yang sudah siap itu.
"Blarr …"
Ledakan terdengar lagi. Kali ini seorang di antara mereka terdorong dua langkah ke belakang. Dadanya terasa sesak. Nafasnya tersengal-sengal.
Tujuh rekannya langsung terkejut. Hanya dalam beberapa gebrakan, rekan mereka telah dibuat seperti itu.
"Kekuatan macam apa yang dimiliki orang ini," batin salah seorang.
"Tarian Ekor Naga Halilintar …"
"Wushh …"
Jurus itu keluar lagi. Pedangnya seketika langsung menari dengan indah.
Permainan pedang yang cepat, indah, namun sangat mematikan.
Tujuh pendekar yang tidak terluka langsung menerima serangan tersebut dengan senjatanya masing-masing.
Pertempuran terjadi lagi. Satu orang melawan tujuh orang.
Sekilas memang terlihat ganjil. Tapi sebenarnya tidak.
Justru tujuh orang itu masih kurang untuk menghalau amarah Pendekar Halilintar.
Gerakan jurus yang mematikan telah keluar mengancam beberapa titik tubuh. Shin Shui menyerang secara miring. Tubuhnya menari layaknya seorang wanita di atas panggung.
Pedang Halilintar bercahaya menebarkan ancaman maut bagi lawannya.
Benturan jurus dahsyat dan beradunya senjata terdengar tiada henti.
Pertarungan mereka sudah berjalan selama tiga puluh jurus. Shin Shui masih berada di atas angin.
Suatu ketika dia melihat celah yang sangat bagus. Tiba-tiba tubuhnya miring ke kanan. Dengan gerakan kilat, Pedang Halilintar dia tusukkan ke arah lambung lawan hingga tembus ke belakang.
Tak cukup sampai di situ, kaki kanannya seketika menendang leher hingga membuatnya patah.
Dalam tiga puluh jurus, satu orang Pendekar Dewa tahap tiga telah berhasil di robohkan. Kalau Pendekar Dewa tahap tiga saja mampu dirobohkan dalam tiga puluh jurus, apalagi mereka yang Pendekar Dewa tahap dua?
__ADS_1
Malam ini, Shin Shui benar-benar mirip seperti Malaikat Maut yang bisa mencabut nyawa kapan saja.