Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Raungan Naga Para Dewa


__ADS_3

Berbagai macam tusukan dan tebasan tampak membelah udara. Belum lagi beberapa macam serangan lainnya. Semuanya menerjang ke arah Pendekar Tanpa Perasaan.


Belum tiba sepuluh serangan barusan, dari samping kiri pemuda itu tiba pula serangan lainnya. Jumlahnya tak kurang dari dua puluh serangan.


Tiga puluh serangan maut mengincar tubuh seorang pemuda bergelar Pendekar Tanpa Perasaaan. Kalau orang lain yang ada di posisinya saat ini, niscaya mereka akan merasa ketakutan. Atau bahkan bakal mampus sebelum tiba semua serangan tersebut.


Tapi hal di atas tidak berlaku bagi Pendekar Tanoa Perasaan. Meskipun dirinya sedang dikepung oleh puluhan macam serangan dan seratus tokoh, pemuda itu tidak merasa takut sama sekali.


Kekuatan Pendekar Tanpa Perasaan sudah mencapai tahap tertinggi dari pencapaian ilmi bela diri. Mungkin dia sudah melebihi Pendekar Dewa tahap tujuh akhir. Itu artinya, dia merupakan manusia terkuat di antara manusia kuat lainnya.


Seratus pendekar yang dia incar hanya merupakan Pendekar Dewa tahap dua dan tiga, di antara mereka tidak ada yang sampai tahap empat, kecuali hanya beberapa orang saja. Oleh sebab itulah Chen Li berani menantang mereka sekaligus.


Coba kalau para tokoh tersebut mencapai tahap empat atau tahap lima ke atas, mungkin dia sendiri tidak mau bertindak bodoh untuk menantangnya secara bersamaan. Karena secara tidak langsung, hal itu sama saja dengan mengantarkan nyawanya sendiri.


Sekuat apapun dirinya, Chen Li masih manusia. Pendekar Tanpa Perasaan bukan seorang Dewa. Meskipun benar kekuatannya berada di titik paling puncak di antara manusia lainnya, tapi hakikatnya dia tetap manusia.


Manusia mempunyai batasan. Tiada manusia yang tidak mempunyai batasan.


Tidak terkalahkan di sini, belum tentu di sana. Berada di titik puncak di sini, belum tentu kalau di tempat lain.


Wushh!!!


Angin berhembus sangat kencang menerbangkan debu hingga mengepul. Hawa panas menyeruak dari kobaran api yang semakin lama semakin membesar.


Jurus dahsyat dilayangkan oleh Pendekar Tanpa Perasaan untuk semua musuhnya. Suasana menjadi semakin menebarkan. Tiga puluh serangan jarak dekat yang sebelumnya sempat terlihat, sekarang tiba-tiba menghilang.


Semua serangan tersebut lenyap ditelan jurus pemuda itu. Teriakan kesakitan kembali terdengar. Jerit kematian berkumandang memecahkan udara malam yang sangat tidak karuan seperti sekarang ini.


Bunyi beradunya senjata tajam terdengar tiada henti. Senjata semua tokoh yang mencoba menyerang Pendekar Tanpa Perasaan telah patah. Ada yang patah enjadi dua bagian, tiga bagian, bahkan ada yang sampai remuk seperti batu kerikil diremas.

__ADS_1


Darah menyembur dari puluhan tubuh tokoh aliran sesat itu. Pendekar Tanpa Perasaan belum berhenti bergerak. Dia terus melancarkan berbagai macam serangan dahsyat dan mengerikan. Tebasan dan tusukan Pedang Merah Darah menghunjam setiap tubuh yang ingin mampus.


Srett!!! Brett!!! Crashh!!!


Kepala terpenggal. Bagian tubuh lainnya seperti kaki dan tangan terlempar ke segala arah.


Pertarungan ini sungguh dahsyat. Sebuah pertempuran yang jarang terlihat di dunia persilatan. Bahkan seratus tahun kemudian pun, belum tentu bakal terjadi lagi pertempuran yang sangat dahsyat seperti malam ini.


Padang rumput Gunung Bok San seperti dilanda gempa bumi. Seluruh lapangan bahka seluruh area gunung itu terus bergetar hebat tanpa jeda.


Kekuatan dari Mata Dewa telah memperlihatkan kedahsyatannya. Lima elemen alam semesta mengamuk. Semuanya menjadi sasaran. Bukan hanya manusia, bahkan pohon-pohon besar yang ada di sekitar pertempuran pun tidak urung menjadi mangsanya.


Dari tiga puluh tokoh tadi, tak kurang dari dua puluh lima orang telah meregang nyawa di tangan Pendekar Tanpa Perasaan. Semuanya mati penasaran.


Di posisi paling belakang ada Hong Hua. Orang tua itu sedang berdiri termenung melihat apa yang saat ini terjadi di depan matanya. Dia tidak berkedip sama sekali. Bahkan kasarnya orang tua tersebut tidak berani bernafas.


Apa yang dia lihat saat ini seperti sebuah mimpi. Mimpi terburuk dari yang paling buruk.


"Mampus kalian …"


Grrr!!!


Pendekar Tanpa Perasaan menggeram sangat keras. Pedang Merah Darah yang digenggam erat di tangan kirinya langsung melesat melancarkan berbagai macam serangan yang sangat cepat.


Gerakan pedang pusaka kelas atas itu seperti sebuah bayangan merah. Saking cepatnya sampai-sampai tidak terlihat wujudnya. Yang nampak hanyalah cahaya merah membara yang menebas dan menusuk ke seluruh penjuru mata angin.


Sekarang yang sedang menyerang pemuda itu ada sekitar lima belas tokoh kelas atas. Berbagai macam jurus jarak jauh mereka layangkan dengan segera. Seluruh kekuatan yang mereka miliki telah dikeluarkan. Sebisa mungkin, mereka harus membunuh pemuda itu secepatnya.


Wutt!!! Gelegarr!!!

__ADS_1


Belasan jurus dahsyat melayang ke arah Chen Li. Benturan hebat langsung terdengar. Sejalur sinar merah pekat keluar dari ujung Seruling Dewa.


Sekarang seruling itu tidak ditiup. Senjata unik tersebut saat ini malah bergerak berputar seperti sebuah kincir angin.


Setiap putarannya mengeluarkan bunyi mendengung yang sangat keras. Seperti ribuan lebah yang bergerombol.


Semua tokoh yang berada di dekatnya merasakan gendang telinga mereka pecah. Para tokoh yang tidak kuat menahan terjangan kekuatan itu sudah berteriak sekeras mungkin sambil memegangi kepalanya masing-masing.


Darah mengucur deras dari kedua telinganya. Bukan hanya itu saja, bahkan dari mata, hidung dan mulutnya juga mengeluarkan darah merah yang sangat pekat.


Prakk!!! Prakk!!!


Belasan kepala manusia mendadak pecah. Satu tangan rakasasa tiba-tiba muncul dari belakang Pendekar Tanpa Perasaan kemudian meremas kepala manusia yang bosan hidup itu.


Tiada seorangpun yang tahu kenapa hal itu bisa terjadi. Namun yang pasti, mereka mengetahui bahwa penyebab hal tersebut adalah si bocah sombong bergelar Pendekar Tanpa Perasaan.


Pertarungan sudah berjalan selama hampir satu jam lamanya. Tidak kurang dari lima puluh nyawa manusia yang merupakan tokoh kelas atas di dunia hitam telah meregang nyawa.


Mereka tewas di tangan yang sama. Dengan jurus yang sama, dan orang yang sama pula.


Selain Pendekar Tanpa Perasaan, adalah manusia yang sanggup melakukan seperti apa yang dia lakukan saat ini?


Kehancuran telah terlihat di mana-mana. Beberapa lubang besar yang diakibatkan dari dahsyatnya jurus para pendekar itu telah menimbulkan lubang besar di sana sini.


Hong Hua masih belum ikut andil secara langsung dalam pertempuran ini. Orang tua itu masih berdiri. Tapi caranya berdiri semakin lama semakin gugup. Seluruh tubuhnya bergetar hebat. Lututnya terasa lemas.


"Raungan Naga Para Dewa …"


Roarr!!!

__ADS_1


Langit menggelegar sangat keras. Bumi berguncang sangat hebat. Raungan naga yang begitu mengerikan terdengar saat itu juga. Suaranya tidak bisa dibayangkan oleh siapapun. Jurus tersebut sangat dahsyat, sepulh nyawa tokoh dunia hitam langsung melayang pada saat mendengar suara naga tersebut.


Puluhan mayat manusia telah berserakan. Nasib mereka sungguh mengenaskan. Semua yang tewas mengalami kematian tragis. Lebih ytaegis dari apa yang kau bayangkan saa ini.


__ADS_2