
Blarr!!! Duarr!!!
Ledakan keras terdengar menusuk gendang telinga semua orang. Angin tajam berhembus. Hawa panas menyatu bersama dendam yang membara.
Di sisinya, puluhan tokoh juga sedang mengeluarkan jurus terkuat mereka. Dalam situasi seperti ini, bukan waktu yang tepat untuk bermain-main. Mereka harus bisa membunuh musuhnya sebanyak mungkin dalam waktu singkat.
Puluhan sinar terang terlihat dari jarak beberapa kilometer. Langit dan bumi mengeluarkan suara mengerikan. Seolah mereka sendiri merasa ngeri melihat sepak terjang puluhan pejuang tanah air itu.
Huang Taiji marah. Yuan Shi juga marah. Dsn Shin Shui lebih marah lagi. Puluhan tokoh membagi tugas menjadi beberapa kelompok. Sebagian membunuh pasukan musuh untuk meminimalisir jumlah korban di pihak mereka, sebagian lagi membabat habis para tokoh yang ada di pihak musuh.
Semuanya menyatu. Semuanya bergabung dalam satu tujuan. Memenangkan peperangan dan menyelamatkan Sekte Bukit Halilintar.
Orang-orang yang turut andil dalam perang ini, meskipun tidak dapat apa-apa, tetapi mereka rela mengorbankan nyawa. Alasannya karena semua ini mereka lakukan demi membela tanah air.
Jika Sekte Bukit Halilintar dapat memenangkan peperangan ini, maka harapan untuk terus berperang masih ada. Namun jika sampai kalah, maka itu artinya hancur sudah harapan mereka.
Harapan indah. Impian bahagia. Semuanya akan musnah. Karena itulah, mereka berperang dengan sungguh-sungguh. Kekuatan tertinggi dan jurus terdahsyat dikeluarkan oleh masing-masing tokoh.
Shin Shui seperti Dewa Halilintar. Seluruh tubuhnya diselimuti kilatan petir yang menakutkan. Bahkan sepasang bola matanya juga mengeluarkan kilatan energi agung itu.
Pedang Halilintar sudah digenggam erat di tangan kirinya. Kapan pun dan di mana pun, pedang itu siap memberikan pelayanan terbaik kepada tuannya.
Pusaka itu tidak pernah mengecewakan Shin Shui. Begitu juga pemiliknya yang tidak pernah mengecewakan pusakanya.
"Amukan Dewa Naga Halilintar …"
Gelegar!!! Roarr!!!
Langit berguncang keras. Bumi bergetar sangat hebat. Dunia seperti kiamat. Raungan yang sangat keras terdengar. Langit menjadi kelam. Sekelam harapan pasukan yang menyerang Sekte Bukit Halilintar.
__ADS_1
Dari langit mendadak muncul kepala. Kepala seekor naga yang sangat marah. Sangat benci. Kekuatannya tidak ada yang dapat membayangkan bagaimana hebatnya.
Perlahan naga itu mengeluarkan seluruh tubuhnya. Panjangnya ratusan meter. Seluruh tubuhnya, mulai dari kepala hingga ekor, semuanya mengeluarkan kilatan halilintar yang sangat mengerikan sekali.
Di belakang Shin Shui juga sama. Seekor naga halilintar mendadak berputar mengelilingi tubuhnya. Untuk yang kedua kalinya, Pendekar Halilintar mengeluarkan jurus ini. Bedanya, jurus yang sekarang jauh lebih dahsyat dari pada sebelumnya.
Ratusan musuh dilahap habis oleh naga halilintar yang sedang mengamuk itu. Kepalanya menyemburkan api yang bercampur kilatan petir. Ekornya mengibas ke segala arah. Hanya sesaat, tak kurang dari seribu nyawa pasukan musuh telah melayang.
Kejadian seperti ini sangat diluar perhitungan lawan. Pasukan musuh yang tersisa kurang dari setengahnya. Itupun dalam keadaan ketakutan yang sulit untuk dibayangkan.
Puluhan tokoh yang hadir mendadak menghentikan gerakan mereka. Semuanya melompat mundur. Tanpa diberitahu pun, mereka sadar, jika menyerang terus ke depan, bukan tidak mungkin dirinya akan menjadi sasaran amukan naga halilintar itu.
Yang masih menyerang hanyalah Chen Li dan Huang Taiji. Yun Mei juga turut serta. Tiga orang itu adalah orang yang paling dekat dengan Shin Shui.
Mereka sudah tidak memikirkan apapun kecuali menyerang lebih ganas lagi.
Semua tokoh merasa bergidik ngeri melihat sepak terjang Yun Mei. Meskipun menurut kabar kekuatannya sangat mengerikan, tetapi belum ada satu orang pun yang pernah melihat bagaimana wanita itu marah.
Lima pedang mengelilingi seluruh tubuhnya. Di kedua tangannya juga menggenggam pedang. Pedang yang sangat tajam. Lebih tajam dari pada apapun. Di belakang punggung ada satu sosok. Sosok yang anggun tapi membawa hawa kematian pekat.
Jurus Dewi Maut Menghancurkan Alam Semesta sudah keluar. Jurus ini adalah jurus terkuat yang dimilikinya.
Jika sudah seperti ini, tidak ada orang yang sanggup menahan amukannya kecuali Shin Shui. Seumur hidupnya, baru sekarang Yun Mei mengeluarkan jurus dahsyat ini.
Gelegarr!!!
Puluhan ribu pedang energi menyapu bumi. Kekuatan dahsyat melemparkan segalanya. Sosok Dewi Maut di belakangnya menyapu semua yang ada di sekitar. Tidak kurang dari lima ratus nyawa melayang hanya dalam sekejap mata.
Naga halilintar dan Dewi Maut sudah menyatu. Jika kekuatan seperti ini menyatu, siapa yang dapat menghalanginya sekarang?
__ADS_1
Pihak musuh mulai kocar-kacir. Sepuluh tokoh kelas atas yang mereka miliki tewas dalam keadaan mengenaskan.
Semuanya berbalik. Rencana yang mereka susun hancur berantakan. Harapan untuk menang lenyap dari benaknya. Meskipun Chen Li masih jauh jika dibandingkan dengan kedua orang tuanya, tetapi apa yang dilakukan oleh Pendekar Tanpa Perasaan itu benar-benar diluar dugaan semua orang.
Ratusan kepala dibuat lepas dari tempatnya. Darah menggenangi seluruh padang rumput itu. Teriakan kematian terdengar tiada henti. Sepak terjang keluarga itu membuat siapapun takut.
"Keluarga yang mengerikan," gumam Yuan Shi yang mendapat anggukan dari tokoh di sekitarnya.
Huang Taiji tidak berbeda jauh dari Shin Shui dan Yun Mei. Pria tua itu mengeluarkan jurus Menghancurkan Alam Nirwana yang merupakan jurus terkuatnya.
Selapis kekuatan Dewa menyelimuti tubuhnya sehingga membuat setiap lawannya tidak berdaya. Mereka tidak mampu memberikan perlawanan berarti kecuali hanya pasrah menerima kematian yang mengerikan.
Empat orang tersebut membabat habis semua musuh. Hanya dalam waktu sekitar tiga puluh menit, kekuatan musuh telah berkurang drastis. Tokoh kelas atas yang tersisa di pihak mereka paling-paling hanya sekitar lima belas orang saja. Pasukan yang masih hidup hanya sekitar seribuan orang.
Perang ini benar-benar sebuah perang yang mengerikan. Jika dulu Shin Shui hampir keteteran saat musuh menyerang sektenya, yang terjadi sekarang justru malah sebaliknya.
Mereka berada dalam kebingungan. Mau mundur tidak bisa. Hal itu hanya mimpi. Mau terus maju, nyawa mereka pasti akan melayang. Tidak ada pilihan yang baik di antara dua pilihan itu.
Jalan satu-satunya hanya pasrah kepada keadaan dan berharap langit memberikan keselamatan.
Grrr!!!
Belasan tokoh yang tersisa menggeram keras. Jurus terkuat yang mereka miliki dikeluarkan lagi. Udara di muka bumi seakan tiada. Semuanya merasa sesak.
Wushh!!! Gelegar!!! Duarr!!!
Ledakan keras mementalkan segala yang ada di sekitar. Ribuan nyawa yang melayang terlempar sangat jauh. Bahkan ada juga yang tubuhnya menjadi hancur berkeping-keping menjadi serpihan daging kecil.
Shin Shui dan yang lainnya tidak mundur salah satu langkah pun. Mereka malah terus maju menyambut semua serangan jurus lawan.
__ADS_1
Wushh!!! Wushh!!!
Empat bayangan melesat sangat cepat. Masing-masing dari mereka melancarkan jurus yang lebih dahsyat lagi. Semuanya sudah siap untuk mengadu nyawa.