
Wushh!!!
Ujung pedangnya meleset hanya setengah buku jari dari tenggorokan si kakek tua.
Untung bahwa orang tersebut memiliki kecepatan yang dapat diandalkan. Kalau tidak, sudah pasti tenggorokannya saat ini sudah bolong dan nyawanya melayang.
Melihat bagaimana kecepatan lawan bergerak, si kakek tua semakin ciut nyalinya. Harapan untuk memenangkan pertarungan sudah tidak ada lagi.
"Menyapu Ombak Membelah Samudera …"
Wushh!!!
Jurus andalan Huang Taiji keluar. Pedang Tombak Surga Neraka berkelebat lebih cepat dari pada sebelumnya. Senjata pusaka itu mengeluarkan hawa panas yang tiada tara.
Ujung pedang diayunkan membalah udara. Ujung tombak menusuk sangat cepat.
Pertarungan yang berlangsung ini semakin tegang lagi. Tiga wanita cantik yang menyaksikan pertarungan tersebut tidak mengedipkan matanya sama sekali.
Seolah mereka takut kehilangan momen satu jurus dahsyat dari pertarungan itu.
Pedang Tombak Surga Neraka diputarkan sehingga mengeluarkan bunyi mendengung yang menyakitkan telinga. Debu dan dedaunan berterbangan ke segala arah.
Gerakan si kakek tua semakin melemah. Dia telah kehilangan tenaga lebih dari separuhnya.
Crashh!!!
Darah segar menyembur. Tubuh tua renta langsung ambruk saat itu juga. Lehernya hampir terbabat buntung oleh senjata pusaka Pedang Tombak Surga Neraka.
Darah menggenang di tanah. Tubuh yang sudah renta itu digenangi oleh darahnya sendiri.
Wuttt!!!
Dengan gerakan yang sangat cepat, tahu-tahu pusaka milik Huang Taiji sudah kembali dibungkus oleh kain putih.
Suasana langsung hening seketika. Semilir angin bertiup lirih. Bau amis darah tercium karena terbawa angin.
Huang Taiji segera mengambil gadis kecil yang tadi digendong oleh kakek tua itu, dia langsung membuka totokannya.
Si gadis langsung terperanjat lalu berlari menghampiri tiga wanita berbaju kuning.
__ADS_1
Huang Taiji juga menghampiri mereka. Langkahnya tenang dan terlihat lambat. Tapi hanya dalam sekejap, dia sudah tiba di hadapannya.
"Apakah nona sekalian tidak papa?"
"Terimakasih Tuan Huang, kami tidak papa. Hanya saja saudara saya ini sedikit mengalami luka ringan," jawab seorang wanita.
"Syukurlah. Kalau begitu ambil ini," Huang Taiji melemparkan serbuk berwarna putih. Itu adalah serbuk untuk mengobati luka luar, luka luar apapaun, pasti akan sembuh jika ditaburkan serbuk tersebut.
"Siapakah nona sekalian ini?"
"Aihh, sungguh tidak sopan kami tidak memperkenalkan diri. Maaf, maaf. Perkenalkan, kami adalah murid dari Perguruan Kipas Baja," katanya lalu membungkuk hormat diikuti dua wanita lainnya.
Huang Taiji hanya menganggukkan kepalanya beberapa kali. Dia pernah mendengar tentang perguruan tersebut, tetapi dia belum pernah sama sekali berkunjung ke sana.
Menurut kabar yang tersiar, Perguruan Kipas Baja adalah perguruan yang seluruh anggotanya merupakan wanita. Biasanya, orang yang daftar ke sana pun merupakan gadis-gadis yang masih suci.
Jumlah murid keseluruhan di Perguruan Kipas Baja memang tidak terlalu banyak. Paling hanya sekitar dua puluh orang saja. Tetapi, konon katanya perguruan tersebut sudah membuka cabang di beberapa daerah sekitar.
"Aii, ternyata ini murid-murid luar biasa Perguruan Kipas Baja. Salam kenal untuk nona sekalian, mohon maaf kalau aku, Huang Taiji, telah berlaku lancang karena mencampuri urusan kalian,"
"Tidak Tuan Huang, tidak. Justru kami sangat berterimakasih sekali. Sayangnya, kami masih ada urusan yang sangat penting. Mohon maaf, kami tidak biss berlama-lama lagi di sini,"
"Baiklah, tidak masalah. Sampaikan salam hormatku kepada guru kalian,"
Huang Taiji juga pergi kembali lagi ke penginapan. Sekarang yang ada di hutan itu hanyalah puluhan mayat yang bergelimang darah.
###
Chen Li baru selesai menyuapi Huan Ni Mo si Wanita Tombak Asmara. Sepertinya tenaga tokoh wanita itu belum pulih sepenuhnya, sehingga dia masih terlihat lemas dan jarang bicara kecuali sedikit.
Tetapi walaupun begitu, wanita itu pada akhirnya bicara juga karena merasa tidak enak kepada Chen Li.
"Anak baik, siapa namamu?" tanyanya sambil tersenyum menahan sakit.
"Namaku Chen Li nyonya,"
"Chen Li …" Huan Ni Mo seperti menerawang dan mengingat-ingat.
'Sepertinya aku kenal dan pernah mendengar nama ini sebelumnya,' batinnya.
__ADS_1
Setelah beberapa saat mengingat-ingat, mendadak dia langsung berseru.
"Aihh, ternyata kau anak dari Pendekar Halilintar. Sungguh beruntung aku bisa bertemu dengan bocah luar biasa yang sekarang menjadi buah bibir orang," ujarnya sambil tertawa. Walaupun rasa sakit masih mendera, tapi tetap hal itu tidak bisa menyembunyikan rasa kebahagiaannya karena dapat bertemu dengan Chen Li.
Huan Ni Mo memang telah lama mendengar berita tentang seorang anak yang bernama Chen Li. Konon katanya sepak terjang bocah itu selalu menggemparkan. Padahal usianya masih sangat belia. Tak disangkanya, ternyata dia mampu menggetarkan dunia persilatan.
Selain itu, Wanita Tombak Asmara juga mendengar bahwa bocah bernama Chen Li itu sangat tampan. Dan sekarang, dia percaya betul bahwa berita itu bukan isapan jempol belaka.
"Nyonya Huan terlalu memuji. Li'er tidak berani menerima pujian seperti itu,"
"Hahaha …" Huan Ni Mo tertawa lantang. "Kau ternyata tidak jauh berbeda dengan ayahmu. Aii, ayah dan anak yang sangat mirip,"
Chen Li hanya tertawa menggemaskan. Bocah itu kemudian mengalihkan pembicaraan karena dia tidak terlalu suka dipuji.
"Nyonya Huan, bagaimana dengan lukamu?" tanyanya.
"Lukaku agak mendingan Li'er. Tapi mungkin membutuhkan waktu setidaknya satu minggu agar semua lukaku pulih seperti sedia kala,"
"Syukurlah kalau memang begitu. Biar Li'er merawatmu selama dalam masa memulihkan diri,"
"Aihh, aku jadi tidak enak karena merepotkan bocah lucu sepertimu,"
"Nyonya Huan tidak perlu sungkan seperti itu,"
Keduanya kemudian tertawa terbahak-bahak. Dalam hatinya, Huan Ni Mo si Wanita Tombak Asmara merasa sangat heran. Dia mendengar kabar bahwa bocah bernama Chen Li dijuluki Pendekar Tanpa Perasaan.
Apakah kabar itu benar? Atau hanya kabar kosong?
Setelah melihatnya secara langsung, tokoh wanita itu menjadi tidak percaya. Bagaimana mungkin bocah yang sangat menggemaskan dan lucu serta berperasaan ini, malah dibilang tidak berperasaan?
'Hemm, mungkin kabar itu hanya bohong. Sepertinya ada segelintir orang yang ingin membuat buruk nama Li'er,' katanya dalam hati.
Siapapun pasti tidak akan percaya dengan kabar itu jika belum melihatnya secara langsung. Karena pada dasarnya sifat Chen Li saat dalam pertarungan memang berbeda dari sifat biasanya.
"Nyonya Huan, kau sedang memikirkan apa?" hanya bocah itu karena melihat Huan Ni Mo yang melamun cukup lama.
"Ah, tidak, tidak. Aku hanya memikirkan kabar tentang dirimu. Katanya kau dijuluki Pendekar Tanpa Perasaan. Tapi buktinya, kau justru sangat berperasaan. Aihh, manusia memang suka mengada-ada," katanya lalu tertawa.
Chen Li tidak menanggapinya. Dia juga hanya tertawa saja. Baginya, julukan seperti itu harus diakui, bukan mengakui.
__ADS_1
"Li'er, apakah kau sendiri yang sudah menyelamatkan nyawaku tadi?"
"Tentu saja bukan. Mana mungkin aku mempunyai kekuatan sehebat itu," jawab Chen Li sambil tersenyum.