
Tiga orang tokoh yang masih hidup sudah pasrah. Mereka tahu bahwa malam ini adalah akhir dari hidupnya. Oleh sebab itulah orang-orang tersebut menyerang dengan kalap.
Tiga senjata tajam menusuk dan menebas ke arah Pendekar Tanpa Perasaan. Serangan-serangan itu dilancarkan silih berganti. Mereka menyerang dan bertahan secara bergiliran.
Crashh!!! Wuttt!!! Slebb!!! Srett!!!
Pertarungan langsung selesai saat itu juga. Tiga tubuh manusia telah terkoyak oleh Pedang Merah Darah milik Pendekar Tanpa Perasaan. Darah menyembur menebarkan bau amis.
Malam semakin kelam membuat suasana bertambah menyeramkan. Suara burung gagak terdengar di atas kepala.
Chen Li menengadah ke atas, ternyata ada enam ekor burung yang sedang mengelilingi dirinya.
Wushh!!!
Bayangan putih berkelebat. Semua korban Pendekar Tanpa Perasaan di malam ini langsung lenyap tak berbekas. Darah yang tadi menggenang, bau amis yang sebelumnya menyengat, sekarang semuanya telah sirna tanpa jejak.
Ke mana perginya mayat-mayat itu? Ke mana pula menghilangnya darah yang menggenang? Bahkan, semua burung gagal yang barusan terlihat pun turut lenyap.
Ke mana mereka?
Tiada seorangpun yang mengetahui perginya mereka. Karena pada dasarnya, siapapun tidak ada yang melihatnya.
Saat ini Pendekar Tanpa Perasaan sudah berada di pinggir hutan yang terdapat di Kotaraja. Pada umumnya, di setiap kota pasti terdapat hutan. Meskipun itu di Kotaraja sekalipun.
Chen Li baru saja tiba di sana. Hawa sejuk bercampur rasa menyeramkan tidak membuat pemuda itu takut. Semakin gelap keadaan, semakin berani juga dirinya.
Wushh!!!
Tangan kanannya mengibas perlahan. Seluruh mayat manusia yang merupakan anggota Organisasi Elang Hitam dan lengkap bersama darahnya tiba-tiba ada di hadapan Chen Li. Mayat itu bertumpuk menjadi satu.
Semua burung gagak yang tadi berkeliling di atasnya, sekarang mendadak nampak kembali.
Ternyata pemuda itu memindahkannya untuk menghilangkan jejak.
Begitu selesai, dia lantas segera pergi kembali dari sana.
__ADS_1
Dalam satu tarikan nafas, Pendekar Tanpa Perasaan sudah menghilang dari tempat tersebut.
###
Sekarang pemuda itu sudah berada di tengah Kotaraja kembali. Tanpa banyak membuang waktu, dia segera mencari restoran terbesar yang ada di sana.
Seperti diceritakan sebelumnya, Ah Kui sudah menunggu dirinya di tempat yang dimaksudkan itu.
Setelah beberapa saat mencari, akhirnya Chen Li berhasil menemukannya juga. Saat ini, Pendekar Tanpa Perasaan sudah kembali duduk berhadapan dengan orang tua itu.
"Apakah aku terlalu lama?" tanya Chen Li begitu dia duduk di depannya.
"Kau justru terlalu sebentar. Makanku saja belum habis, kau malah sudah datang kembali," kata Ah Kui lalu melanjutkan menyantap makanan.
Chen Li tidak menanggapai ucapan Ah Kui. Dia mulai menenggak cawan arak beberapa kali. Hidangan ringan yang ada di atas meja mulai dia cicipi satu persatu.
"Bagaimana, apakah kau sudah mengetahui situasi dan kondisi markas pusat Organisasi Elang Hitam?"
"Sudah," jawabnya singkat.
"Ternyata penjagaan di markas itu sangat ketat sekali. Di setiap sudut markas pasti terdapat beberapa orang penjaga berilmu tinggi. Rata-rata dari mereka merupakan Pendekar Dewa tahap satu akhir,"
"Lanjutkan,"
"Aku juga mendapati bahwa ternyata gedung megah itu dipasang perangkap yang jumlahnya cukup banyak. Setiap perangkap dipasang oleh ahli yang sudah berpengalaman, hal ini terlihat dari bagaimana rumit dan rahasianya perangka-perangkap itu,"
"Hemm, kalau semua perangkap itu dipasang secara rahasia, bagaimana kau dapat mengetahuinya?" tanya Ah Kui tidak tahan dengan rasa penasarannya.
"Karena aku mempunyai sepasang mata yang berbeda. Apa yang kau lihat, aku pasti dapat melihatnya. Tapi apa yang aku lihat, belum tentu dapat di lihat oleh orang lainnya," tegas Chen Li.
Ah Kui langsung mengunci mulutnya saat itu juga. Meskipun pemuda itu tidak pernah menjelaskan lebih jauh, tapi orang tua tersebut sudah mengetahuinya. Dan dia amat percaya. Karena pada dasarnya dia sendiri pernah mengalaminya.
"Kau memang pemuda yang sangat istimewa. Jadi sekarang bagaimana, apakah kau tetap akan melaksanakan niatmu?"
"Pasti,"
__ADS_1
"Kalau begitu, kapan waktu yang paling tepat untukmu bergerak?"
"Dua hari lagi. Selama dua hari itu, aku akan mempersiapkan berbagai macam hal. Setelah semuanya siap, maka aku akan pergi ke sana seorang diri," tegas Chen Li.
"Tapi kau harus ingat, kalau bisa jangan membuat kekacauan di kota," kata Ah Kui mengingatkan.
"Aku selalu mengingat ucapanmu. Paling-paling aku hanya membuat kekacauan di dalam markas itu,"
Ah Kui terkejut, hampir saja dia terjatuh dari bangkunya karena saking terkejut. Membuat kekacauan di dalam markas Organisasi Elang Hitam, hal itu sama saja dengan mengantarkan nyawa sendiri.
"Kau mau mengantarkan nyawamu sendiri?"
"Bukankah semua rencanaku ini juga sama dengan mengantarkan nyawa?" tanya balik Chen Li.
"Memang betul, tapi setidaknya jangan membuat kekacauan di markas mereka. Aku percaya kau bisa menghabiskan semua orang yang ada di sana, tapi apakah kau juga bisa menghadapi semua perangkap yang tadi telah kau sebutkan?" tanya Ah Kui dengan sorot mata yang tajam.
Orang tua itu jelas tidak menerima gagasan Chen Li. Dia percaya bahwa pemuda itu sanggup menghadapi seratusan tokoh yang ada di sana, tapi Ah Kui tidak yakin kalau pemuda tersebut bisa menghadapi semua perangkap yang telah terpasang.
Alasannya tentu karena dia mengetahui sendiri, semua perangkap yang ada di dalam markas pusat Organisasi Elang Hitam, semuanya perangkap dahsyat. Selama ini, belum pernah ada seorangpun manusia yang dapat selamat dari berbagai macam perangkap tersebut.
Pendekar Tanpa Perasaan bisa selamat dari manusianya, tapi belum tentu bisa lolos dari perangkapnya. Kasarnya, jangankan manusia, bahkan iblis sekalipun tidak mungkin bisa lolos.
"Percayalah, aku pasti bisa menghadapi semua perangkap berbahaya itu. Kebetulan aku punya cara tersendiri," jawab pemuda itu dengan penuh rasa yakin.
Ah Kui menghela nafas dalam-dalam. Dia meneguk arak langsung dari gucinya. Wajahnya tampak gelisah, begitu juga dengan hatinya. Orang tua itu memikirkan nasib Chen Li. Entah kenapa, dia sangat tidak ingin pemuda itu mati konyol.
"Baiklah, terserah apa katamu saja. Aku hanya minta agar kau jangan sampai mati,"
Chen Li tersenyum hangat kepadanya. "Tenanglah, untuk membuatku mati sesungguhnya tidak semudah seperti yang kau kira,"
Ah Kui membalas ucapan tersebut dengan tertawa getir. Dia tidak habis pikir, kenapa di dunia ini masih terdapat orang yang sangat nekad menantang maut? Apakah dia tidak bisa mati? Atau memang tidak takut mati?
Acara makan malam sudah selesai. Keduanya telah berada di kamar masing-masing. Ah Kui sudah tidur dengan lelap bersama mimpinya.
Sedangkan Chen Li, justru saat ini doa masih terbangun. Dia sedang duduk di atas jendela, pemuda itu tidak sabar menanti datangnya saat di mana dia akan menghancurkan markas para iblis di Kotaraja Kekaisaran Sung.
__ADS_1
Chen Li tahu bahwa apa yang akan dia lakukan saat ini benar-benar berbahaya. Namun sebahaya apapun itu, dia tetap akan melaksanakannya. Karena memang, hal itu sudah menjadi tugas utamanya.