
Setelah beberapa saat mempergunakan ilmu meringankan tubuh, pada akhirnya tiga sosok tersebut telah sampai di tempat tujuan yang mereka cari.
Di depan sana, ada sebuah bangunan megah dan besar. Pohon maple merah tumbuh di sekeliling bangunan tersebut. Pohon cemara turut serta menjulang tinggi ke atas.
Selain megah dan besar, ternyata tempat tersebut juga merupakan sebuah tempat yang terbilang indah. Selain pohon maple merah dan pohon cemara, ada juga pohon-pohon cantik lainnya seperti bunga sakura yang tumbuh subur di halaman dan taman bunga.
Shin Shui bersama dua sahabatnya mulai mendekati ke bangungan tersebut dengan cara perlahan. Di setiap penjuru bangunan, terdapat dua atau tiga orang yang menjaganya.
Shin Shui dan dua siluman bersaudara harus berhati-hati. Sebab kalau tidak, mereka bisa ketahuan para penjaga tersebut.
Ketiganya melompat secara perlahan. Menyelinap dari satu pohon ke pohon lainnya. Kini mereka telah tiba di halaman bangunan megah. Namun siapa sangka, ternyata kedatangan mereka telah tercium lebih dulu oleh musuh.
Sekarang di halaman tersebut telah berkumpul setidaknya enam belas orang Pendekar Dewa. Semuanya berpakaian hitam. Tak berapa lama kemudian, di susul lagi dengan barisan Pendekar Dewa berpakaian merah sebanyak sebelas orang.
Dengan begini, jumlah semua orang yang ada di sana, pas lima puluh orang jika dihitung bersama dua puluh tiga Pendekar Dewa yang bertarung dengan mereka sebelumnya. Termasuk juga dengan Kwee Moi.
Shin Shui bersama San Ong dan Ong San telah terkepung oleh musuh. Tidak ada jalan keluar bagi mereka bertiga untuk melarikan diri.
Tapi, siapa juga yang akan lari? Toh kedatangan ketiganya memang untuk menghancurkan tempat ini. Yang dua puluh tiga orang saja bisa mereka lewati dengan mudah. Walaupun jumlah musuh yang sekarang sedikit lebih banyak, tapi ketiga sahabat tersebut yakin bahwa meraka mampu menghadapinya.
Shin Shui kemudian melompat turun tepat di antara kerumunan para pendekar yang mengepung. Puluhan senjata pusaka tajam telah mereka acungkan masing-masing. Semuanya memperlihatkan ekspresi wajah tidak senang.
Tatapan matanya mengandung kebencian. Hawa kegelapan terasa kental di sana. Bahkan sebagian para pengepung tersebut ada yang sudah mengeluarkan aura mereka sehingga membuat suasana menjadi lebih menegangkan.
"Siapa kalian?" tanya seorang pengepung kepada Shin Shui sedikit membentak.
"Malaikat Maut bagi kalian," jawab Pendekar Halilintar dengan tenang.
"Bangsat. Aku tanya sekali lagi siapa kalian?" kali ini pengepung lainnya yang bicara.
Namun nadanya terdengar lebih garang daripada suara pendekar sebelumnya.
__ADS_1
"Aku Shin Shui, Pendekar Halilintar. Dan ini dua sahabatku, sang penguasa Gunung Ong-san. San Ong dan Ong San, mau apa kau?" ucap Shin Shui tidak kalah garangnya.
Amarahnya sudah keluar. Nada bicaranya jelas mengandung tantangan. Walaupun jumlah mereka beberapa kali lipat lebih banyak, tapi saat mendengar siapa orang yang datang, hati mereka jeri juga. Nyalinya sedikit ciut. Tanpa terasa, orang-orang tersebut mundur ke belakang secara perlahan.
"Mau apa Tuan kemari?" tanya seorang lainnya.
Suaranya lebih lembut. Bahkan kesan menantang tidak ada lagi. Yang ada hanyalah kesan keterkejutan dan ketakutan.
"Aku ingin bertemu dengan pemimpin kalian,"
"Mau apa?"
"Mau membunuhnya. Malam ini, aku akan mencabut nyawanya," tegas Shin Shui.
Mendengar perkataan Shin Shui barusan, dua puluh tujuh Pendekar Dewa tersebut langsung geram. Amarah mereka seketika meluap seperti halnya air mendidih.
"Keparat kau. Apakah kau kira mampu menghadapi kami semua heh?"
"Bangsat kau, apa kau kira aku takut kepada kalian semua heh?" Shin Shui membalikan kembali ucapan orang tersebut.
Mereka dibuat terkejut untuk yang kesekian kalinya. Apakah kabar itu benar? Kalau benar, sampai mati pun mereka tidak akan percaya. Namun jika di lihat dari cara siluman tersebut berbicara, jelas tidak nampak adanya kebohongan.
"Persetan dengan segala ucapan kalian. Serang!!" teriak seorang Pendekar Dewa kepada semua rekannya.
Hanya satu kali berkata, serentak dua puluh tujuh Pendekar Dewa lainnya langsung menerjang Shin Shui dan dua siluman kera bersaudara.
Puluhan senjata pusaka berkilat di tengah kegelapan malam. Bentakan nyaring seketika terdengar bergema seperti gendang yang di pukul secara bersamaan.
Baik Shin Shui maupun Ong San dan San Ong, langsung bergerak serentak ketika melihat puluhan musuh menyerang ke arah nereka. Tanpa tanggung lagi, ketiga sahabat tersebut langsung mengeluarkan seluruh kekuatan yang dimiliki.
Walaupun dua siluman kera putih bersaudara baru mencapai tingkatan Pendekar Dewa tahap enam akhir, namun nyatanya kekuatan mereka seperti seorang Pendekar Dewa tahap tujuh awal.
__ADS_1
Setiap gerakannya sangat cepat. Dua siluman kera tersebut sudah mendapatkan lawannya, begitu juga dengan Shin Shui si Pendekar Halilintar. Masing-masing dari mereka mendapatkan lawan sembilan Pendekar Dewa tahap tiga.
Pertarungan di halaman bangunan mewah tersebut dibagi menjadi tiga bagian. Walaupun baru berjalan sesaat, ternyata pertempuran sudah cukup menegangkan. Karena masing-masing dari para pendekar itu telah mengeluarkan berbagai macam jurus serangan kelas atas yang dimiliki.
Tanpa sungkan lagi, Pendekar Halilintar segera mengeluarkan delapan puluh persen kekuatannya. Kalau dia sudah seperti ini, berarti dirinya telah berlaku serius.
Tubuh Shin Shui dipenuhi oleh aura pembunuhan yang amat kental. Walaupun lawan Pendekar Halilintar merupakan Pendekar Dewa, tak urung juga mereka terkena tekanan aura tersebut.
Akibatnya gerakan lawan sedikit terhambat. Hal ini menjadi kerugian bagi lawan, namun menjadi keuntungan bagi Shin Shui.
Dua buah sinar biru terang melesat menerjang sembilan lawan. Dua sinar tersebut membentuk balok raksasa melesat sangat cepat.
Sembilan Pendekar Dewa mengeluarkan juga jurus mereka. Berbagai macam jurus digelar, tak menunggu waktu lama, orang-orang tersebut segera melesatkan juga jurusnya ke arah Pendekar Halilintar.
"Duarr …"
Ledakan pertama terdengar. Tubuh Shin Shui terdorong tiga langkah ke belakang. Sedangkan sembilan lawannya terdorong hingga lima langkah.
Hal ini membuat mereka semua menjadi sadar bahwa kekuatan Pendekar Halilintar tidak bisa di anggap remeh.
Sebelum kesembilan Pendekar Dewa itu menyerang, Shin Shui lebih dahulu menyerangnya dengan sebuah jurus jarak jauh dan jarak dekat yang mematikan.
Tiga sinar hitam pekat melesat dari telapak tangan Pendekar Halilintar. Entah jurus apa yang dia keluarkan. Yang jelas mengandung kekuatan dahsyat.
Berbarengan dengan dua sinar hitam tersebut, Shin Shui turut melesat dari belakangnya sambil melancarkan jurus lain.
Dua jurus dalam satu kali serangan. Semuanya jurus dahsyat. Kalau sudah begini, tak ada ampunan lagi bagi lawan.
Sembilan Pendekar Dewa terkejut. Mereka tidak pernah menyangka bahwa Pendekar Halilintar ternyata sanggup mengeluarkan jurus lain hanya dalam waktu singkat. Tanpa persiapan, tanpa menghimpun tenaga dalam terlebih dahulu.
Bisa dibayangkan betapa tingginya tenaga dalam Shin Shui.
__ADS_1
"Blarr …"
Ledakan dahsyat terjadi di tengah pertempuran. Dua orang Pendekar Dewa terpental puluhan langkah ke belakang.