
Sepanjang jalan menuju ke tempat Chen Li dan Huang Taiji berdiam, kelima murid tetap melihat keadaan di sekeliling mereka. Gadis-gadis itu merasa sangat terkejut sekali dengan apa yang mereka saksikan sekarang.
Rasa penasaran memang selalu menghampiri. Sebab rasa penasaran hakikatnya adalah sifat dasar manusia.
Berbagai macam pertanyaan muncul di benak para wanita itu. Mungkinkah benar mereka berdua yang melakukannya?
Ataukah Huang Taiji Lu yang membunuh orang-orang ini? Tapi siapa dia? Kalau pun merupakan pendekar hebat yang ternama, sudah pasti semua orang akan mengenalnya. Kalau semua orang kenal, secara otomatis meraka juga kenal.
Sedangkan orang tua yang duduk bersama Chen Li, tidak terkenal sama sekali. Jangankan tenar, namanya saja mereka belum tahu. Kecuali hanya Moi Xiuhan.
Ataukah juga pelakunya adalah Chen Li? Si bocah kecil yang saat ini sedang tertawa kepada mereka? Hal ini lebih mustahil lagi. Bagaimana mungkin ada seorang bocah kecil mampu berbuat diluar nalar manusia? Hal itu adalah kemustahilan yang nyata.
"Kakak Li, Tuan Huang, perkenalkan, ini semua kakak-kakak seniorku," kata Moi Xiuhan sambil memperkenalkan murid SekteTeratai Putih lainnya.
"Salam kenal kakak-kakak, namaku Chen Li. Ini Pamanku, namanya Huang Taiji Lu,"
Mereka tersenyum sebagai tanda perkenalan. Chen Li tidak ingin tahu siapa saja nama gadis-gadis tersebut. Kalau mereka mau memperkenalkan diri, dia akan menjawabnya dengan santun. Kalau tidak, dia juga tidak akan memintanya untuk memberitahukan siapa nama mereka.
"Maaf Tuan, apakah aku boleh menanyakan sesuatu kepadamu?" tanya seorang murid wanita.
"Silahkan Nona, jangan sungkan,"
"Terimakasih. Kalau boleh tahu, siapa yang telah membunuh orang-orang tersebut?"
Chen Li memandangi Huang Taiji. Begitu juga sebaliknya. Mereka saling mengangguk pelan. Tidak perlu bicara, karena hati mereka sudah mengerti satu sama lain.
"Ahh ini, tadi ada seorang pendekar tak bernama yang telah menolong kami. Kebetulan dia sudah pergi begitu orang-orang tersebut tewas," jawab Huang Taiji Lu.
Dia sengaja berbohong. Orang tua itu tidak ingin memberitahukan sebelumnya. Sebab Huang Taiji bukan orang yang suka memamerkan diri. Lagi pula sekalipun dia memberitahukan kejadian sebenarnya, toh mereka belum tentu akan percaya begitu saja.
"Aihh, pantas saja,"
"Kami juga merasa sangat berterimakasih kepada pendekar tersebut. Sayangnya sebelum kami mengucapkan, beliau sudah pergi lebih dulu,"
Mereka terdiam dan kembali memandangi keadaan di sekelilingnya. Lima murid Sekte Teratai Putih tersebut tidak bisa membayangkan bagaimana keseruan pertempuran yang terjadi.
__ADS_1
Terlebih lagi mereka tidak bisa membayangkan bagaimanakah mengerikannya kekuatan pendekar itu.
"Kakak Li, ke mana tujuan kalian selanjutnya?" tanya Moi Xiuhan.
"Entahlah, mungkin aku dan Paman akan menyelidiki satu tempat lagi. Kata orang kan kalau membabat pohon harus sampai ke akar,"
"Ahh, baiklah kalau begitu. Apakah kami juga boleh ikut?" tanya gadis kecil itu.
"Dengan senang hati,"
"Terimakasih. Kalau begitu, mari kita segera berangkat sekarang,"
Mereka segera berniat untuk pergi ke satu tempat lagi. Tentu saja tempat yang dimaksud adalah kediaman san Walikota. Di mana beberapa hari kemarin, Moi Xiuhan sempat mendapat perlakuan yang tidak manusiawi.
Namun sebelum berangkat ke sana, orang-orang tersebut terlebih dahulu membantu menyembuhkan luka yang diderita oleh empat murid Sekte Teratai Putih.
Setelah dipastikan kondisi mereka sudah sembuh seperti sedia kala, maka Chen Li dan yang lainnya segera pergi ke sana.
Mayat-mayat yang bergelimpangan sama sekali tidak mereka urus. Mereka sengaja melakukannya supaya arwah orang-orang itu menyaksikan kejadian pedih.
Dari sejak awal bumi tercipta, hukum alam sudah berlaku. Bahkan hingga saat ini pun masih berlaku. Dam mungkin hingga di masa depan nanti, hukum alam akan tetap berlaku.
Percaya atau tidak, kau harus percaya. Sebab semuanya sudah merupakan kepastian yang nyata.
###
Chen Li bersama yang lainnya sudah tiba di depan halaman rumah Walikota setempat. Mereka dibuat bingung, sebab ternyata di sana sama sekali tidak ada orang.
Jangankan wujudnya, suaranya saja tidak ada sama sekali. Seolah orang yang jumlahnya banyak itu telah musnah ditelan bumi.
"Apakah mereka sudah pergi?" tanya Moi Xiuhan.
Entah kepada siapa dia bertanya. Yang pasti gadis kecil itu membutuhkan sebuah jawaban.
"Sepertinya mereka sudah mengetahui apa yang telah terjadi. Sehingga orang-orang itu mengambil keputusan untuk pergi sebelum terlambat. Hemm, pintar juga mereka," kata Huang Taiji Lu sambil memegang dagunya dengan tangan kiri. Dia seperti terlihat sedang berpikir.
__ADS_1
"Aiii, kenapa mereka bisa tahu. Kalau begitu pasti ada yang berhasil melarikan diri saat tadi kita mengepung rumah keluarga bangsawan Zhu palsu itu," ujar Moi Xiuhan. Gadis itu terlihat sangat kesal sekali.
Dia ingin memberikan pelajaran kepada orang-orang yang sudah kurang ajar kepadanya. Sayang, mereka justru telah pergi entah ke mana.
"Masuk akal. Karena mereka sudah tahu pihaknya akan kalah, maka orang-orang itu juga memilih untuk bersembunyi," kata Chen Li menyetujui perkataan Moi Xiuhan.
"Lalu apa yang sekarang harus kita lakukan?"
"Lebih baik kalian kembali saja ke Sekte Teratai Putih. Berikan laporan apa yang sudah terjadi sebenarnya supaya datang bantuan lainnya," ucap Huang Taiji kepada Moi Xiuhan.
"Kalau begitu baiklah. Aku akan menuruti perintah Tuan,"
"Baik, sekarang kembalilah," ujarnya.
Tanpa banyak berkata lagi lima gadis kecil itu sudah pergi dan menghilang di balik kegelapan malam.
Huang Taiji Lu masih berdiri dengan tenang. Bahkan bibirnya terlihat tersenyum.
Dia mencabut beberapa jarum perak yang mengandung racun dari balik punggungnya. Begitu juga dengan Chen Li.
"Hehe, mereka pikir aku tidak bisa mengetahui yang sebenarnya," kata Chen Li sambil tersenyum.
"Mereka benar-benar pintar. Juga cerdas. Sayangnya belum bisa mengalahkan kecerdasan kamu Li'er," ujar Huang Taiji memuji Chen Li.
"Hehe, apakah kita akan segera bergerak sekarang dan menyelamatkan mereka Paman?"
"Tentu saja. Aku rasa dengan adanya San Ong dan Ong San, menyerang ke sarang harimau pun bukan perkara yang sulit,"
"Hemm, baiklah. Kalai begitu mari kita berangkat,"
Chen Li dan Huang Taiji membalikan badan. Keduanya menjejakkan kakinya di tanah lalu meluncur dengan cepat mengikuti kelima gadis tadi.
Tentu saja tujuannya untuk menuju ke sarang harimau. Dengan begitu, mereka bisa menemukan Moi Xiuhan yang asli lalu menyelamatkannya.
Hanya dengan beberapa tarikan nafas, mereka berdua telah jauh dari lokasi sebelumnya. Lima gadis muda tadi sudah terkejar, tetapi Chen Li dan Huang Taiji tidak mau mengejarnya.
__ADS_1
Mereka memilih untuk tetap mengikuti di belakang supaya tidak kehilangan jejak. Sebab kalau sampai kehilangan jejak, maka masalah tidak akan selesai.