Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Terpukau


__ADS_3

Siau Bu Si tersenyum dingin. Senyuman itupun jelas mengandung ejekan yang ditujukan kepada Pendekar Tanpa Perasaan.


"Mainan bocah kecil seperti ini ingin kau perlihatkan kepadaku agar aku tersanjung? Hemm, jangan bermimpi," jengek si Pelukis Sakti Penarik Jiwa.


Chen Li membalas senyuman dingin orang tua itu. Tujuan pemuda berpakaian serba putih itu melemparkan kerikil tadi bukan karena apa, dia hanya ingin membuktikan apakah nama Siau Bu Si sesuai dengan kemampuannya atai tidak?


Sekarang setelah menyaksikan bahwa orang tua itu dapat menangkap kerikil yang dia lemparkan dengan mudah, mau tidak mau Pendekar Tanpa Perasaan harus mengakui bahwa Siau Bu Si memang mempunyai kemampuan yang sudah tinggi.


"Itu bukan apa-apa. Aku sengaja, aku hanya ingin tahu apakah nama dan julukanmu memang sesuai atau tidak,"


"Lalu menurutmu bagaimana?"


"Ternyata memang sesuai," jawab Pendekar Tanpa Perasaan dengan dingin.


"Sudah tentu. Siau Bu Si bukan seperti orang pada umumnya," katanya dengan nada yang amat sombong.


"Bagus. Kalau begitu coba sekarang, apakah yang kau katakan itu memang yang sebenarnya?"


Aura putih segera menyelimuti tubuh Pendekar Tanpa Perasaan. Kekuatan dari Mata Dewa langsung dia keluarkan secara sempurna. Pedang Merah Darah telah tergenggam erat di tangan kiri.


Si Pelukis Sakti Penarik Jiwa pun sudah bersiap. Aura hitam pekat telah menyelimuti seluruh tubuhnya sehingga membuat penampilan orang tua itu lebih menyeramkan dari pada sebelumnya.


"Kalian diam. Jangan ada yang ikut campur, Kuas Baja Iblis Hitam miliku masih sanggup menembus jantung bocah keparat ini," kata Siau Bu Si kepada para tokoh Organisasi Elang Hitam yang ada di ruangan tersebut.


"Baik,"


Seseorang mewakili anggota yang lainnya. Secara serempak mereka langsung mundur beberapa langkah ke belakang.


Dua belah pihak telah siap siaga. Meskipun keduanya tampak sangat tenang, tapi sejatinya mereka siap menyerang kapan saja.


Wushh!!! Wushh!!!


Keduanya bergerak secara bersamaan. Ruangan yang sekarang menjadi medan pertarungan itu sangatlah sempit. Sangat mustahil kalau harus mengeluarkan jurus jarak jauh.


Oleh sebab itulah mereka memutuskan untuk menggunakan jurus jarak dekat. Serangan yang dilancarkan oleh kedua belah pihak sangat berbahayan


Si Pelulis Sakti Penarik Sukma menyerang ganas. Kuas yang menjadi pusaka andalannya berputar dengan cepat. Asap hitam menyelimuti seluruh batang kuas tersebut.


Pendekar Tanpa Perasaan hanya tersenyum dingin. Dia tidak takut sama sekali kepada orang tua itu.

__ADS_1


Sekarang bekalnya sudah sangat lebih dari cukup. Dengan bekal yang telah dia peroleh selama latihan hampir lima tahun lamanya, apalagi yang harus dia takutkan?


Trangg!!!


Serangan cepat yang dilancarkan Siau Bu Si dapat ditangkis dengan mudah oleh pemuda itu. Pedang Merah Darah mendadak diangkat untuk menahan tusukan dari kuas tersebut.


Sekilas kuas tersebut memang seperti kuas biasa. Bahkan bentuk dan ukurannya sangat mirip.


Tapi siapa sangka? Ternyata kuas itu bisa berubah menjadi keras sesuai dengan keinginan pemiliknya.


Chen Li baru melihat senjata pusaka seunik ini.


Wushh!!!


Pendekar Tanpa Perasaan bergerak kembali. Jurus Pedang Sang Dewa langsung dia layangkan. Jurus itu adalah jurus pedang terkuat yang pernah ada. Jurus itu merupakan jurus simpanan Pendekar Tanpa Perasaan.


Selain hal tersebut, jurus Pedang Sang Dewa juga merupakan teknik tertinggi dari permainan ilmu pedang yang dipelajari oleh Pendekar Tanpa Perasaan.


Kalau jurus-jurus tunggal dari Kitab Pembawa Maut itu saja sudah sangat dahsyat, lantas seberapa dahsyatnya jurus Pedang Sang Dewa yang merupakan gabungan serta intisari dari Kitab Pembawa Maut?


Wushh!!!


Srett!!! Slebb!!!


Suara kain robek menggelegar di telinga orang-orang yang ada di sana. Detik berikutnya, suara sebuah tusukan hebat terdengar menyayat hati siapapun yang mendengarnya.


Darah merah yang amat kental seketika muncrat berhamburan ke segala arah. Pada saat itu debu masih mengepul tinggi.


Tidak berapa lama kemudian, semuanya sudah kembali seperti semula.


Pedang Merah Darah milik Pendekar Tanpa Perasaan sudah menusuk tepat di tenggorokan Siau Bu Si si Pelukis Sakti Penarik Jiwa.


Korbannya mendelik menatap Chen Li dengan tatapan penuh dendam dan kebencian. Suara tertahan keluar dari kerongkongannya bersamaan dengan darah itu.


Kuas pusaka milik Pelulis Sakti Penarik Jiwa masih digenggam. Secara tiba-tiba tangan kanannya mengangkat ke atas tepat mengarah ke Pendekar Tanpa Perasaan.


Werr!!!


Ratusan jarum beracun berwarna hitam pekat tiba-tiba meluncur deras ke arah Pendekar Tanpa Perasaan. Jarak mereka amat sangat berdekatan. Mungkin hanya terpaut sekitar dua langkah saja.

__ADS_1


Jarum-jarum itu melesat cepat diluar nalar manusia. Di muka bumi ini, siapa yang dapat selamat dari serangan dahsyat dengan jarak sedekat itu?


Trangg!!!


Sekali mengibaskan tangan, sebuah seruling pusaka telah muncul dan sudah digenggam erat di tangan Pendekar Tanpa Perasaan.


Bunyi berdenting nyaring terdengar tiada hentinya.


Ratusan jarum beracun milik Siau Bu Si yang sengaja di layangkan kepada Chen Li ternyata rontok semuanya.


Jangankan banyak, dari semua jarum itu, satu batang pun tidak ada yang berhasil mengenai tubuhnya.


Bagaimana hal itu bisa terjadi? Kalau tidak melihat secara langsung, siapa yang bakal percaya akan kejadian luar biasa ini?


Saat Pedang Merah Darah dicabut dari kerongkongan si Pelukis Sakti Penarik Jiwa, saat itu pula tubuhnya langsung ambruk ke tanah.


Tubuh itu sudah tidak bernyawa. Darah menggenangi jasadanya. Sekarang, pakaiannya yang bersih telah dipenuhi oleh darahnya sendiri.


Pata tokoh yang menyaksikan pertarungan hebat itu melongo. Pertarungan keduanya terbilang singkat, paling-paling hanya berjalan selama puluhan jurus saja.


Tapi yang puluhan jurus dan serangan itu justru termasuk ke dalam serangan kelas atas. Tidak semua orang dapat bertahan dua puluh jurus darinya. Pun tidak setiap pendekar mampu menangkis apalagi membunuh si Pelukis Sakti Penarik Jiwa.


Tapi kenapa pemuda bergelar Pendekar Tanpa Perasaan justru sanggup melakukannya? Siapa dia sebenarnya? Kenapa masih semuda itu tapi sudah mempunyai kekuatan setinggi itu? Apakah dia manusia? Ataukah dia merupakan jelmaan dari seorang Dewa?


Para tokoh itu masih terpaku di tempatnya masing-masing. Tanpa sadar hati mereka menjadi jeri.


Kalau Siau Bu Si yang merupakan tokoh kelas atas saja sanggup dibunuh olehnya, lalu bagaimana dengan nasib mereka nantinya?


Wushh!!!


Orang-orang itu mendadak melesat cepat. Mereka pergi ke arah luar dengan niatan untuk melarikan diri.


Namun, apakah benar mereka mampu melarikan diri?


Wushh!!!


Chen Li pun turut melesat cepat mengejar mereka. Hanya sesaat, pemuda itu telah berada di tengah halaman. Dia langsung menghadang semua lawannya yang sedang berusaha melarikan diri tersebut.


Sebuah dinding tak kasat mata telah menghalau para tokoh tersebut. Gerakan mereka langsung berhenti saat itu juga.

__ADS_1


Pendekar Tanpa Perasaan berdiri dengan tenang. Wajahnya semakin dingin. Senyumannya juga semakin dingin.


__ADS_2