Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Menyelamatkan Chen Li


__ADS_3

Sekarang Shin Shui sudah tiba di kota yang dekat dengan Istana Kekaisaran. Karena tengah malam, keadaan di sana menjadi sunyi sepi. Shin Shui terus bergerak dari bangunan satu ke bangunan lainnya. Dia baru turun ketika telah sampai di gerbang Istana Kekaisaran.


Gerbang itu terlihat masih di jaga oleh empat siluman. Dua siluman kera, dua lagi siluman burung elang. Shin Shui mengawasi mereka dari jarak yang lumayan jauh.


Menurut pandangan matanya, keempat siluman penjaga gerbang itu kekuatannya hanya setara dengan Pendekar Surgawi tahap tiga. Bukan hal sulit bagi dirinya.


Setelah memastikan kekuatan lawan, Shin Shui sengaja menampakkan diri di hadapan mereka. Sontak keempat siluman tersebut kaget karena datangnya Shin Shui.


Tanpa banyak bicara, mereka langsung maju menyerang Pendekar Halilintar. Tapi sayangnya semua itu sia-sia saja. Jangankan empat ekor, walau sepuluh ekor siluman sekalipun, dia bisa membunuhnya dengan singkat jika berada dalam tahapan setingkat mereka.


Saat keempat ekor siluman tersebut tiba sambil memberikan serangan, Shin Shui tidak menghindar. Dia hanya perlu mengibaskan tangannya sambil mengeluarkan satu jurus mematikan.


Sekali kibas, angin menderu kencang menerpa keempat siluman. Seketika mereka terpental ke segala arah. Hanya dengan satu kibasan tangan, keempat nyawa siluman itu sudah terlepas saat jatuh ke tanah.


Shin Shui langsung membuka pintu gerbang lalu melesat masuk ke Istana Kekaisaran dengan cara mengendap-endap. Bukannya tidak berani secara terang-terangan, tapi Shin Shui juga memikirkan hal lainnya.


Walaupun dia berkekuatan hampir mirip seperti dewa, tapi kalau di serang oleh ratusan ribu serangan berkekuatan tinggi, tentu dirinya tidak akan sanggup menghalaunya. Dia juga manusia, bukan Tuhan. Sehingga masih ada batas-batas tertentu.


Pendekar Halilintar sudah melesat sangat cepat ke dalam. Gerakannya secepat angin menerjang. Sehingga walaupun masih banyak pengawal Istana Kekaisaran, mereka tidak dapat melihat pergerakan Shin Shui. Apalagi dia bergerak tanpa menimbulkan suara sedikitpun.


Dia terus menyusuri berbagai tempat di sana sambil terus mencari keberadaan Chen Li. Tak berselang lama, dia menemukan anaknya sedang di ikat pada sebuah tiang. Mulutnya di sumpel oleh kain. Dia terlihat sangat lemah. Shin Shui melihat-lihat keadaan ini dari sebuah lubang yang tidak terlalu besar.


'Sepertinya Li'er kehilangan tenaganya karena pengaruh totokan. Hemm, berani sekali siluman busuk ini bermain-main denganku,' batin Shin Shui.


Dia mengendap-endap perlahan. Jarak tempat ini ke ruangan utama Istana Kekaisaran lumayan terpaut jauh. Sehingga dirinya tidak khawatir akan ketahuan.


Tapi baru saja dirinya membuka pintu, terdengar ada suara yang mendengus dingin dari arah belakangnya.


"Kau pikir bisa semudah itu mengambil bocah tersebut?" suara yang agak serak parau memecah keheningan.


Ternyata suara itu berasal dari satu sosok iblis bertampang bengis. Wajah iblis itu tidak menggambarkan kepanikan terhadap Shin Shui, seolah dia tahu bahwa Shin Shui akan datang menjemput anaknya.

__ADS_1


Di sisi kanan dan sisi kiri iblis tersebut, ada dua iblis lagi. Tampangnya sama, sama-sama jelek.


"Hemm, kau pikir kalian mampu berbuat sesukanya di hadapanku?"


"Manusia rendahan, lebih baik kau menyerah saja. Percuma kau melepaskan dia, kau tidak akan bisa lari dari lagi," kata siluman itu menyombongkan dirinya.


"Jangan banyak bicara. Sayangi nyawa kalian," ucap Shin Shui semakin dingin ucapannya.


"Hehe, ternyata kau manusia yang besar mulut juga. Kalau takut, terus terang saja, jangan sok berani,"


"Terserah apa katamu. Aku sudah mengingatkan untuk menyayangi nyawa, tapi kau tidak mau mendengarkan. Jadi jangan salahkan jika hari ini aku bertindak kejam kepada kalian," kata Shin Shui.


Selesai berkata seperti itu, Pendekar Halilintar segera masuk ke ruangan di mana Chen Li berada. Selain itu, dia juga berniat untuk memancing ketiga lawannya supaya memasuki ruangan.


Hal ini memang sengaja dilakukan oleh Shin Shui. Sebab jika dia bertarung di dalam, setidaknya suara pertarungannya tidak akan terlalu kencang.


Pancingan Shin Shui ternyata berhasil. Ketiga siluman itu langsung mengikuti Shin Shui masuk ke dalam. Sepertinya mereka bertiga memang merupakan penjaga ruangan ini, hanya saja ketiganya memiliki kekuatan yang tinggi, tidak seperti penjaga gerbang tadi.


Melihat Shin Shui masuk, ketiga siluman itu menjadi bertrambah marah. Tanpa banyak cakap lagi ketiganya langsung mengurung Shin Shui.


Dalam sekejap mata, tiga serangan dari berbagai sisi telah datang. Setiap warna satu serangan, berbeda dengan warna serangan lainnya.


Shin Shui hanya tersenyum dingin sambil terus menatap semua serangan itu. Kedua tangannya di kembangkan lalu di gerakkan dari bawah ke atas. Seketika keluar sinar biru mencolok yang sangat terang.


Biasanya ledakan keras akan terjadi jika jurus berbenturan, tapi kali ini tidak. Jurus yang Shin Shui keluarkan justru menyedot tiga serangan itu.


Dengan gerakan kilat, Shin Shui mengembalikan serangan masing-masing musuhnya tanpa bisa ditahan. Ketiganya meringis menahan sakit. Tapi mereka terus mencoba untuk menyerang Shin Shui secara serempak. Sayangnya, semua serangan yang dilancarkan sia-sia.


Sebab Shin Shui selalu bisa menghindari serangannya, karena tidak mau membuang waktu, maka Pendekar Halilintar itu langsung mengeluarkan tenaganya cukup besar. Dia menghentakkan kedua tangannya sehingga keluar sinar biru terang.


Sinar itu menerkam bagaikan ombak yang ganas. Tak ayal lagi, ketiga iblis tersebut langsung tewas mengenaskan.

__ADS_1


Setelah berhasil membunuh tiga lawannya, Shin Shui langsung membebaskan Chen Li dari totokan lalu membawanya pergi.


"Li'er, kau tidak papa?"


"Tidak ayah. Li'er baik-baik saja," jawab Chen Li masih lemas.


Shin Shui hanya tersenyum simpul melihat ketegaran anaknya tersebut. Dia menempelkan telapak tangannya lalu menyalurkan tenaga dalam dari punggung. Setelah itu, Shin Shui lalu menggendong Chen Li untuk di bawa keluar.


Pada awalnya pelarian itu berjalan sempurna tanpa ketahuan. Tapi siapa sangka, saat Shin Shui tiba di halaman luas Istana Kekaisaran, ternyata dirinya sudah di kepung oleh puluhan pasukan siluman Kaisar Iblis Tiga Mata Tiga Tanduk.


"Ayah, itu dia iblis yang menculik Li'er kemarin," bisik Chen Li sambil memandang iblis yang memiliki kulit kemerahan seperti kepiting rebus itu.


"Hemm, kau tenang saja. Ayah akan berikan pelajaran kepadanya," kata Shin Shui menahan kekesalan.


"Mau apa kalian?" teriak Shin Shui sambil mengedarkan pandangannya.


"Tentunya aku menginginkan nyawamu. Kau sudah sering membuat kekacauan di sini, jadi aku bagaimanapun, aku tidak akan melepaskanmu," kata si iblis berkulit merah penuh kebencian.


"Apakah kau sanggup melakukannya? Kalau memang sanggup, lakukanlah," kata Shin Shui acuh tak acuh.


Mendengar perkataan Shin Shui yang meremehkannya, iblis tersebut menjadi semakin naik pitam. Tak lama setelah itu, dia menyuruh semua siluman yang mengepungnya untuk menyerang Shin Shui secara bersamaan.


Ada sekitar tiga puluh prajurit siluman yang siap menerkam Shin Shui. Kekuatannya juga beragam, mulai dari Pendekar Bumi hingga Pendekar Langit. Ada juga beberapa siluman yang kekuatannya setara dengan Pendekar Surgawi tahap tiga. Yang paling kuat hanyalah si iblis berkulit merah sendiri, dia setara dengan Pendekar Dewa tahap enam.


Shin Shui tidak perlu mempersoalkan mereka semua, karena dengan kekuatannya yang sekarang, bukan masalah besar untuk melawan mereka.


"Yakin hanya segini? Tidak sekalian kau suruh Kaisar jelek itu untuk menyerangku juga?" Shin Shui sengaja mengejeknya karena dia penasaran kenapa Kaisar Iblis tidak terlihat dalam pengepungan dirinya.


"Yang Mulia Kaisar sedang terlelap dalam mimpinya. Dia tidak akan bangun kecuali memang bangun sendiri. Lagi pula, kau belum pantas menjadi lawannya," ucap si iblis berkulit merah.


"Bagus. Kalau begitu sekarang akan aku buktikan bahwa aku memang pantas," kata Shin Shui lalu menurunkan Chen Li dari gendongannya.

__ADS_1


__ADS_2