
Ye Xia Zhu tersenyum menanggapi perkataan Huang Taiji Lu, dia tahu bahwa orang tersebut bukanlah tipe manusia yang suka tinggi hati.
Wanita itu sendiri tidak memperpanjang pembahasan. Walaupun bibirnya tersenyum, tentu saja hatinya tidak percaya. Dia sendiri barusan sudah melihat bagaimana sepak terjang anak dari Pendekar Halilintar itu.
Meskipun hanya melihat sekilas, tapi sebagai tokoh kelas atas dunia persilatan, tentu Wakil Kepala Tetua Sekte Teratai Putih itu tahu bahwa Chen Li bukanlah bocah yang sama seperti umumnya.
Dia melihat jelas bagaimana jalannya pertarungan si bocah tersebut. Bahkan merasakan pula kekuatan dahsyat misterius yang keluar dari tubuh kecilnya.
"Wakil Kepala Tetua …"
"Panggil saja nona Zhu, kita bukan orang luar. Tidak perlu harus memakai bahasa seperti itu segala," ucapnya memotong pembicaraan Huang Taiji.
Pria tua itu tersenyum, akhirnya dia juga menangguk.
"Nona Zhu, apakah Kepala Tetua Ye Rou sudah berangkat ke Istana Kekaisaran?" tanya Pendekar Pedang Tombak.
Seperti yang sudah diceritakan sebelumnya, bahwa para kepala tetua dari masing-masing sekte terbesar di Kekaisaran Wei dan tokoh penting dunia persilatan lainnya akan mengadakan sebuah pertemuan penting di Istana Kekaisaran untuk membahas gejolak yang sekarang sedang marak terjadi di negerinya.
Mereka akan mendiskusikan cara alternatif untuk mengantisipasi segala kemungkinan yang bisa terjadi kapan saja. Meskipun tidak yakin sepenuhnya bisa menghadang semua musuh, setidaknya mampu mengurangi jumlah mereka untuk mengurangi sedikit resiko ketika saatnya nanti.
"Tentu saja Tuan Huang, begitu mendapatkan undangan dari Kepala Tetua Shin Shui, besok harinya beliau langsung berangkat seorang diri. Untuk beberapa waktu sekte dititipkan kepadaku bersama tetua lainnya," jawab Ye Xia Zhu.
Meskipun hampir semua anggota Sekte Teratai Putih merupakan wanita, tetapi jika bicara kekuatan, maka jangan diragukan lagi. Siapapun mengakui kehebatan sekte yang sudah berusia tua tersebut.
Apalagi jika mengingat Ye Rou si Dewi Teratai Putih, semua orang tahu bagaimana kekuatannya. Apalagi pusakanya yang berupa Selendang Putih.
Walaupun hanya berupa selendang, tetapi bukanlah sembarang selendang. Menurut berita, selendang tersebut merupakan pusaka kelas satu. Baja pun bisa dia patahkan, batu sebesar kerbau juga bisa dia hancurkan dengan selendang pusaka miliknya.
Sejarah sepuluhan tahun lalu saat pertama kali Kekaisaran Wei diserang menjadi kenangan bagi setiap orang tentang bagaimana kesaktian pata tokoh utama.
Kalau dulu saja sudah sangat sakti, apalagi sekarang setelah mereka melatih diri lebih keras. Sulit untuk membayangkannya.
__ADS_1
Hanya saja, kejadian yang sebentar lagi akan terbukti mungkin bakal berbeda daripada sebelumnya. Sebab musuh mereka sekarang lain daripada yang lain.
"Semangat beliau untuk membela tanah airnya tidak pernah surut. Aku sangat kagum kepada semua tokoh utama dunia persilatan Kekaisaran Wei," ujar Huang Taiji.
Walaupun dia belum bertemu secara langsung dengan semua tokoh, tetapi dia dapat menebak dari berita yang beredar orang seperti apakah mereka itu.
"Benar, aku sendiri sangat memuji mereka. Apalagi yang usianya sudah lanjut seperti Kepala Tetua Sekte Pedang Emas Yuan Shi, semangat beliau masih sama seperti dahulu," jawab Ye Xia Zhu sambil menghela nafas.
###
Sementara itu di Istana Kekaisaran Wei …
Suasana di sana tampak sama seperti biasanya. Tidak ada perubahan mencolok kecuali penjagaan yang semakin hari semakin bertambah ketat.
Di ruangan yang khusus dijadikan tempat pertemuan, para tetua dari setiap sekte terbesar di Kekaisaran Wei dan para tokoh dunia persilatan sedang bicara bersama rekan mereka sambil melepaskan rindunya masing-masing terhadap sahabat lama.
Suasana di sana cukup ramai. Para tokoh ternama itu membahas berbagai macam kejadian. Mulai dari gejolak besar hingga pengalaman-pengalaman pribadinya masing-masing.
Orang-orang yang mementingkan perikemanusiaan dan tanah air seperti mereka, tentunya tidak akan bisa berpangku tangan ketika mengetahui tempat kelahirannya di ancam bahaya.
Bahkan orang-orang tersebut tidak segan untuk menempuh bahaya demi mengabdikan diri kepada negaranya.
Selama mereka bisa turun tangan membantu, apapun akan dilakukan. Tanpa pamrih dan tanpa mengharap imbalan walau secuil.
Mereka melakukannya dengan tulus.
Selain para orang tua, ternyata di ruangan tersebut ada juga beberapa pendekar yang berusia terbilang muda. Walaupun umurnya masih sekitar tiga puluhan tahun, tetapi kekuatannya tidak perlu diragukan lagi.
Begitulah, mereka berbagi cerita sambil menikmati arak mewah yang sudah di sediakan. Kaisar Wei An belum terlihat, dia sedang ada sedikit urusan pemerintahan sehingga belum bisa hadir di sana.
Yang terlihat hanyalah istri Kaisar Wei An bersama Wei Annchi, anaknya. Adik Kaisar Wei An, Wei Li, berserta ibunda sang Kaisar sendiri.
__ADS_1
Wei Annnchi, si bidadari kecil itu sudah tumbuh menjadi gadis cilik yang sangat cantik. Mempesona seperti ibunya, tampan seperti ayahnya.
Walaupun masih kecil, tetapi Weii Annchi sudah diajarkan tentang ilmu silat. Bahkan kekuatannya saat ini sudah mencapai tingkatan Pendekar Surgawi tahap enam. Bakatnya cukup lumayan, sehingga dia sudah menguasai beberapa jurus jelas atas.
Namun sama seperti Chen Li, gadis cilik itu terkadang masih suka manja kepada ayah dan ibunya. Sebagai anak kecil, agaknya ini memang sudah menjadi hal lumrah.
Manja saat di Istana, tetapi bringas jika berlatih.
Sekarang gadis cilik itu memakai pakaian merah muda. Dandannya seperti seorang bidadari kecil, sebagai anak dari Kaisar, tentu saja dia harus sangat menjaga penampilannya.
Di saat semua orang sedang bercerita, tiba-tiba gadis kecil itu berjalan menggemaskan menghampiri Shin Shui. Dia duduk di pangkuannya.
Walaupun bukan saudara, tetapi Chi'er (panggilan Wei Annchi) sudah menganggap Shin Shui sebagai pamannya sendiri. Hal ini wajar saja, sebab Shin Shui sudah sering berkunjung ke sana, bahkan sempat beberapa kali membawa Chen Li.
"Paman, kenapa tidak membawa Kakak Li kemari, Chi'er kan ingin bertemu dengannya," rengek gadis cilik itu.
"Kakak Li sedang menjalankan misi, nanti saat ada waktu, dia pasti akan kemari untuk bertemu Chi'er," jawab Shin Shui sambil tersenyum.
"Chi'er boleh menjalankan misi dengannya?"
"Boleh, tapi nanti kalau Chi'er sudah siap,"
Wei Annchi ingin bicara lebih banyak lagi dengan Shin Shui, tetapi tepat pada saat itu Kaisar Wei An memasuki ruang pertemuan.
Langkah kakinya sangat ringan. Dia memakai jubah berwarna merah api. Jubah pemberian Shin Shui dahulu. Wajahnya masih tetap tampan dan berwibawa. Tidak ada perubahan. Yang ada justru kekuatannya semakin bertambah mengerikan.
Hal ini bisa diketahui oleh pancaran yang keluar dari dalam tubuhnya.
"Chi'er, sana ke Ibumu dulu. Ayah harus bicara dengan Paman Shin Shui,"
Tanpa bicara, gadis cilik itu mengangguk lalu menghampiri ibunya dan langsung keluar.
__ADS_1
Para tokoh utama sudah berkumpul, sekarang waktunya untuk membahas lebih lanjut.