Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Pemuda Istimewa


__ADS_3

Hong Hua terperanjat sesaat sebelum akhirnya dia tertawa terbahak-bahak. Suara tawanya terdengar amat riang gembira. Siapapun yang mendengar suara tawanya tersebut, sudah pasti dia akan tahu bahwa si pemilik suara sedang gembira.


Baru beberapa saat duduk dan bicara bersama, Hong Hua telah dibuat semakin kagum oleh seorang pemuda bergelar Pendekar Merah. Andai kata dia tidak ingin kagum, dia tetap harus kagum. Sebab tidak setiap pemuda memiliki keistimewaan seperti pemuda yang ada di hadapannya saat ini.


Pemuda yang cerdas memang banyak, pemuda yang kemampuannya tinggi juga sangat banyak. Tapi seingat dirinya, pemuda seperti Pendekar Merah inilah yang tidak banyak.


Di balik keistimewaan yang tampak, pemuda itu masih mempunyai banyak keistimewaan lainnya.


"Hahaha … kau benar-benar pemuda yang sangat-sangat istimewa. Seumur hidup, selama mengembara di dunia persilatan, baru kali ini aku menemukan pemuda sepertimu. Aii, Ayah Ibumu pasti sangat bangga mempunyai anak sepertimu," ucapnya lalu kemudian menyambar daging yang sudah dihidangkan untuk teman minum arak.


"Jangan membahas kedua orang tuaku," jawab Pendekar Merah langsung dingin kembali.


Hong Hua menghentikan suara tawanya. Sepasang mata tua itu mendadak menatap Pendekar Merah lekat-lekat. Wajah dingin yang baru saja mulai hangat, ternyata mulai dingin lagi.


Tapi dingin yang sekarang berbeda. Dingin yang dia lihat saat ini bukan karena dingin tanpa perasaan, melainkan dingin karena suatu penderitaan.


Terkadang karena banyaknya derita hidup, seseorang bisa berubah menjadi dingin.


Dingin akibat penderitaan.


Penderitaan apakah yang dapat mengubah seseorang menjadi dingin seperti itu?


Tokoh di Organisasi Elang Hitam itu tidak bicara lagi. Untuk sesaat dia hanya terdiam sambil menatap awan kelabu di atas langit sana. Sekalipun dia tokoh sesat, sekalipun dia berada di dunia aliran hitam, namun dia tetap manusia.


Hong Hua kejam di pertarungan, tapi tidak terlalu kejam saat diluar pertarungan. Dia masih manusia. Dan setiap manusia pastinya punya perasaan. Karena itulah dia tidak membahas lagi tentang orang tua Pendekar Merah.


Alasan dirinya langsung membungkam mulut juga bukan karena apa, dia berlaku demikian karena tidak ingin mencari gara-gara dengan pemuda asing itu. Dia tahu bahwa dirinya masih sanggup menghadapi Pendekar Merah, tapi selain itu, dia juga tahu bahwa kalau sampai keduanya bertarung, yang terjadi selanjutnya pasti tidak sesederhana yang dia kira.


"Kalau kau benar ingin membantuku bebas dari masalah ini, apa rencanamu sebenarnya?" tanya Pendekar Merah setelah terdiam beberapa saat lamanya.


Suaranya kembali dingin. Wajahnya dingin. Sedingin air di tengah danau sana.


"Aku akan membuat suatu kabar yang menggemparkan,"


Pendekar Merah mulai tertarik. Kabar menggembirakan apa yang akan Hong Hua lakukan?

__ADS_1


Pada dasarnya pemuda itu mempunyai sifat penasaran yang tinggi. Bahkan hakikatnya juga, manusia memang memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi.


"Kabar apa yang kau maksudkan?"


"Aku akan menyebarkan sebuah kabar menggemparkan bahwa aku telah membunuhmu," kata Hong Hua dengan suara tegas dan perlahan.


Pendekar Merah terdiam. Dia sedang memikirkan rencana selanjutnya dari orang itu. Chen Li tahu, setiap seseorang melakukan sesuatu, pasti mempunyai alasan tersendiri.


Bohong kalau ada manusia yang melakukan sesuatu tanpa alasan. Apapun itu, pasti ada alasannya.


Tapi alasan apa yang dimaksud oleh Hong Hua saat ini?


Hawa semakin dingin. Suasana di restoran besar itu juga semakin sepi. Orang-orang yang datang berkunjung telah kembali ke rumahnya masing-masing. Di ruangan bawah tinggal beberapa orang saja yang tersisa.


Sedangkan di ruangan paling atas, masih tetap mereka berdua.


"Kau ingin menyebarkan berita bahwa dirimu berhasil membunuhku?" tanya Pendekar Merah mengulangi perkataan Hong Hua.


"Tepat sekali,"


"Benar sekali,"


"Lalu, kau akan disorot oleh banyak orang. Mereka akan menanyakan apakah kabar tersebut benar atau tidak,"


"Itu sudah pasti,"


"Mereka pasti perlu bukti. Kalau hanya bicara, semua orang pun bisa. Lantas, bukti apa yang ingin kau perlihatkan kepada mereka?"


"Seluruh pakaianmu akan aku lumuri dengan darah. Dan hal itu tentunya bisa menjadi sebuah bukti yang sangat kuat. Apalagi kalau mengingat bahwa aku juga punya nama,"


Chen Li tidak menyangkal hal tersebut. Siapapun orangnya, selama dia sudah mempunyai nama dan kedudukan, apapun yang keluar dari mulutnya, pasti banyak orang yang akan percaya.


Hal seperti ini sudah lazim terjadi. Dalam dunia apapun, dan di manapun.


"Menarik, setelah banyak orang yang bertanya untuk memastikan kabar tersebut benar tidaknya kepadamu, lalu kau memberikan semua bukti itu, maka mereka pasti langsung percaya. Selanjutnya, kau bisa disorot oleh petinggi Organisasi Elang Hitam atau bahkan oleh pemerintah sendiri. Mereka akan menanyakan hal yang sama, andai mereka benar percaya, selanjutnya kau pasti akan diberi hadiah. Baik itu harta, ataupun kedudukan. Apakah semua yang aku katakan benar dan sesuai dengan niatmu yang sebenarnya?" tanya Pendekar Merah sambil menatap kepada Hong Hua.

__ADS_1


Entah yang keberapa kalinya, Hong Bua dibuat terkagum-kagum lagi. Kali ini, kekagumannya jauh lebih kagum dari pada sebelumnya. Bagaimana tidak? Semua rencana, semua niat dan tujuannya telah ditebak oleh Pendekar Merah tanpa ada kesalahan sedikitpun.


Padahal orang tua itu sangat yakin, baik itu orang lain maupun dirinya sendiri, kalau berada di posisi Pendekar Merah, pasti tidak akan sanggup menebak semua hal tersebut.


Siapa sangka, pemuda itu ternyata berhasil menguliti semuanya. Padahal rencananya tidak sesederhana yang terlihat.


Tujuan Hong Hua memang benar demikian. Inti dari semua ucapannya adalah untuk mendapatkan hal tersebut. Bahkan tujuan dia ingin bertemu dengan Pendekar Merah juga dikarenakan hal ini.


Dia ingin bertemu dengannya, bicara empat mata dan melancarkan rencananya. Menurut orang tua itu, hal ini merupakan cara terbaik untuk mencapai impiannya.


Sayang, semuanya terjadi diluar kendali.


Terkadang sangat banyak sekali kejadian di dunia ini yang terjadi diluar dugaan nalar manusia.


"Kau bukan manusia," katanya sebelum minum arak dalam cawan.


"Kenapa demikian?"


"Karena kalau kau manusia, tidak mungkin dapat menebak rencana yang telah aku susun dengan matang ini,"


"Hemm, aku masih manusia," jawab Pendekar Merah.


"Benarkah? Manusia macam apakah dirimu itu?"


"Manusia langka. Manusia di atas manusia lainnya,"


Hong Hua mengangguk membenarkan. Pemuda itu mengatakan yang sebenarnya. Dia adalah manusia di atas manusia. Manusia istimewa. Manusia yang diberkati oleh para Dewa.


Di dunia ini, berapa banyak manusia yang seperti dirinya?


"Jadi bagaimana, apakah kau setuju? Aku untung, kau juga untung. Dalam hal ini kita sama-sama diuntungkan,"


Chen Li terdiam sesaat. Setiap apa yang ingin dia lakukan, pemuda itu akan memikirkannya dengan matang.


"Baik, aku setuju. Kapan kau berencana akan memulainya?"

__ADS_1


__ADS_2