Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Manusia Yang Mirip Siluman


__ADS_3

Shin Shui mengambil Cincin Ruang milik Maling Seribu Tangan. Setelah itu dia langsung segera melesat pergi dari sana tanpa menghiraukan mayatnya.


Pendekar Halilintar memutuskan untuk langsung kembali ke Sekte Bukit Halilintar karena masih banyak sekali persoalan yang harus dia kerjakan dengan segera. Shin Shui berhenti di sebuah tempat yang lumayan sepi.


Dia segera menulis surat lalu mengeluarkan seekor elang pengirim surat dari Kantong Siluman miliknya. Setelah itu, Pendekar Halilintar langsung mengikatkan surat tersebut ke kaki elangnya.


Suara burung elang melengking tinggi menebus mega. Burung itu langsung terbang dengan sangat gagah. Di tengah kegelapan malam, elang tersebut terbang dengan cepat menembus pekatnya cakrawala.


Shin Shui sendiri tidak berlama-lama lagi, dia juga turut terbang tidak kalah cepatnya dengan si elang sendiri. Jubah birunya berkibar agung terhembus angin malam.


Dia menambah kecepatannya agar lebih cepat sampai di tempat tujuan.


Wushh!!!


Jika ada orang lain yang melihat, mungkin mereka hanya akan dapat menyaksikan cahaya biru yang meluncur dengan sangat cepat.


Di Kekaisaran Wei ini, Pendekar Halilintar adalah pendekar terkuat. Dia pemimpin dunia persilatan. Oleh karena itu, ilmu meringankan tubuhnya tidak perlu diragukan lagi. Di tanah airnya, mungkin hanya dia seorang yang mampu mencapai tingkatan sempurna dalam segala macam keilmuan.


Shin Shui telah jauh. Sekarang megahnya Kotaraja tidak nampak lagi. Yang terlihat di belakangnya hanyalah titik kecil yang berasal dari lentera rumah warga.


Saat ini dia entah berada di kota mana, karena Shin Shui sendiri tidak mengetahui secara pasti. Yang jelas, dia masih tetap terbang tanpa beristirahat walau hanya sekejap.


###


Saat ini hari menunjukkan siang hari. Matahari bersinar sangat terik sekali sehingga terasa menyengat kulit. Angin yang biasanya berhembus, sekarang seperti lenyap entah ke mana. Udara terasa semakin panas. Juga semakin sesak.


Di tengah panasnya udara itu, satu kejadian yang sulit untuk dibayangkan terjadi.


Tepat di sebuah hutan perbatasan Sekte Bukit Halilintar, puluhan mayat telah terkapar. Bau amis darahnya tercium sangat menusuk hidung. Semua mayat itu tewas secara mengenaskan. Leher mereka hampir putus. Jeroan perutnya juga sebagian ada yang keluar.


Mayat para manusia malang itu saling tumpuk satu sama lainnya.


Tapi jika diperhatikan lebih teliti lagi, ternyata bukan di tempat itu saja yang terdapat puluhan mayat tersebut. Di berbagai tempat di sekitarnya juga sama.


Bahkan sebagian mayat ada yang menggantung di atas dahan pepohonan.


Pemandangan seperti ini benar-benar merupakan pemandangan yang mengerikan. Selama Sekte Bukit Halilintar berdiri, baru sekarang saja kejadian seperti ini terjadi.


Mereka tewas tanpa ampun. Mereka mampus karena dibunuh dengan sangat keji.


Siapa yang membunuh mereka? Dan siapa puluhan mayat itu? Apakah mereka para warga biasa? Atau para murid Sekte Bukit Halilintar?

__ADS_1


Hal itu tidak ada yang tahu pasti. Sebab keadaan puluhan mayat tersebut benar-benar mengerikan. Jauh mengerikan dari apa yang kau bayangkan.


Wushh!!!


Tiba-tiba cahaya biru mendadak terlihat. Cahaya itu sangat terang, seperti terangnya cahaya matahari. Cahaya biru tersebut berhenti tepat di hadapan puluhan mayat yang menjijikan itu.


Satu sosok telah berdiri di sana. Jubahnya berkibar. Rambutnya tertiup angin yang tercipta karena kecepatannya sendiri. Sepasang matanya yang memancarkan kekuatan dahsyat memandang ke sekeliling tempat sekitar dengan tatapan sangat tajam.


Pendekar Halilintar.


Sosok yang dimaksud memang Shin Shui. Tanpa terasa dua minggu telah berlalu sehingga dia telah sampai di sektenya.


Awalnya Shin Shui berniat untuk langsung masuk ke dalam sekte. Tetapi niatnya itu harus terpaksa dia urungkan setelah mencium bau amis darah yang menusuk hidungnya.


Tanpa banyak menunda waktu, Pendekar Halilintar langsung menunju ke asal bau tersebut. Tak disangka, begitu dia sampai, dirinya sendiri dibuat cukup terkejut dengan pemandangan yang dilihatnya saat ini.


Siapa yang telah melakukan pembunuhan sekeji ini? Dan siapa pula orang-orang yang tewas itu? Kenapa mereka bisa begini?


Berbagai macam pertanyaan tiba-tiba muncul dalam benak Shin Shui. Dia sendiri baru melihat pembunuhan yang mengerikan seperti sekarang ini. Shin Shui merasa sedikit mual karena melihat jeroan manusia yang berceceran. Sekeji apapun dirinya, dia sendiri tidak pernah sekeji ini.


Shin Shui sudah merasa orang paling keji dalam hal membunuh. Tak disangka, ternyata ada lagi seseorang yang lebih keji dari pada dirinya.


Wushh!!!


Begitu semuanya telah kembali normal, puluhan mayat tadi sudah tidak ada. Mayat-mayat yang bernasib malang itu benar-benar menghilang entah ke mana.


Sekarang yang ada di sana hanya Shin Shui sendiri. Dia masih berdiri dengan tegak tanpa bergeming sedikitpun. Sebagai pemimpin dunia persilatan, juga sebagai Kepala Tetua Sekte Bukit Halilintar, dia harus bertanggungjawab atas semua kejadian ini.


Hanya saja pertanyaannya masih sama seperti tadi, siapa puluhan mayat itu dan siapa pula yang membunuhnya?


"Kalau sudah ketahuan, kenapa harus buru-buru pergi? Apakau kalian pikir bisa datang sesukanya dan pergi semaunya?"


Shin Shui tiba-tiba membalikkan badannya. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, terdapat dua sosok yang cukup menyeramkan. Entah apakah mereka manusia atau siluman, yang jelas penampilan keduanya benar-benar berbeda dari kebanyakan.


Dibilang siluman, tapi mirip manusia. Tangan mereka dua, kakinya juga dua.


Dibilang manusia, tapi mirip siluman. Keduanya mempunyai sepasang taring yang sangat tajam sekali. Seluruh giginya juga tidak kalah tajam dengan sepasang taring itu. Gigi mereka mirip seperti siluman serigala yang menjijikan.


"Siapa kalian?"


"Siapapun kami tidaklah penting," jawab salah satu dari makhluk aneh itu.

__ADS_1


Ternyata mereka bisa bicara. Bahkan suara bicaranya masih terdengar dengan jelas. Hanya saja suara itu sangat serak parau.


"Ternyata kalian bisa bicara seperti manusia,"


"Kami memang manusia," bentaknya.


"Benarkah. Aku baru melihat ada manusia dengan rupa seperti kkalian" kata Shin Shui memandang selidik kepada makhluk yang mengaku manusia tersebut.


"Kami sesungguhnya adalah manusia. Tapi kami diberi obat Mengubah Wujud oleh seorang tabib di negeri kami,"


"Kalian berasal dari Kekaisaran Sung?"


"Benar,"


"Kalian diperintahkan untuk membuat kekacauan di Sekte Bukit Halilintar? Setelah itu, kalian melakukan pembunuhan terhadap murid sekte yang menjaga di perbatasan dengan tujuan untuk menciptakan kekisruhan di sini, bukankah begitu?"


Kedua manusia yang mirip siluman serigala itu tampak terkejut sekali. Mereka tidak menyangka bahwa orang di hadapannya mampu membongkar semuanya.


"Dari mana kau tahu?"


"Aku hanya menebak saja,"


"Hemm …" salah satu dari mereka hanya mampu mendengus dingin.


"Seharusnya kalian segera pergi setelah berhasil menjalankan tugas,"


"Seharusnya memang begitu,"


"Sayangnya sekarang sudah terlambat,"


"Kenapa?"


"Karena aku tidak akan membiarkan kalian pergi setelah membuat kekacauan di sini,"


"Kau pikir bisa menahan kami berdua?"


"Lalu, apakah kalian pikir bahwa aku tidak sanggup? Kalian tahu siapa aku?"


"Tidak," jawab keduanya bersamaan sambil menggelengkan kepala.


"Kau pernah mendengar nama Pendekar Halilintar?"

__ADS_1


__ADS_2