Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
Keramaian


__ADS_3

Chen Li sudah hampir seminggu berada di kota sekitar Danau Biru. Dia sedang menanti hasil dari Phoenix Raja yang sedang mencari informasi terkait keberadaan Pang Meng.


Namun sayangnya hingga sekarang burung siluman kesayangannya itu belum juga kembali. Sepertinya mencari jejak keberadaan Pang Meng bukanlah suatu hal yang mudah.


Terbukti saat ini, sudah seminggu lamanya burung istimewa itu belum juga kembali. Tapi walaupun begitu, Pendekar Tanpa Perasaan sedikitpun tidak merasa cemas.


Dia tidak takut burungnya bakal celaka. Dia pun tidak takut kalau siluman itu ditangkap oleh seseorang. Sebab dirinya tahu betul bagaimana Phoenix Raja.


Kemampuannya tidak bisa diragukan lagi. Kalau misalkan ada seorang Pendekar Dewa tahap lima ke bawah menginginkan dirinya, maka hal itu hanyalah mimpi. Mimpi yang tidak akan pernah tercapai sampai kapanpun.


Sebab menurut Chen Li, kekuatan Phoenix Raja setara dengan seorang Pendekar Dewa tahap enam akhir. Bahkan San Ong dan Ong San kalau maju bersama untuk menghadapi burung itupun, belum tentu mereka sanggup mengalahkannya dengan mudah.


Saat ini Pendekar Tanpa Perasaan sedang berjalan-jalan. Waktu menunjukkan sore hari, kalau senja seperti sekarang ini, keadaan Danau Biru tampak jauh lebih indah lagi.


Sinar matahari sore menyorot ke permukaan danau sehingga membuat airnya sedikit berwarna jingga. Bunga teratai yang memenuhi pinggir danau menebarkan bau harum.


Burung-burung terdengar riang di atas dahan-dahan pohon.


Pemandangan sekitar memang indah. Tapi keadaan terlihat sepi. Tidak ramai seperti biasanya.


Beberapa orang prajurit dari pemerintahan tampak berkeliling, sepertinya mereka sedang memeriksa keamanan di kota dekat Danau Biru ini.


Mereka menaiki kuda. Satu kuda, satu orang. Kuda yang mereka pakai merupakan kuda jempolan. Tubuhnya tinggi kekar, otot-ototnya terlihat dengan jelas.


Dua orang prajurit tiba-tiba menghampiri Chen Li, mereka berhenti tepat di dekatnya.


"Selamat sore," sapa salah seorang prajurit.


"Selamat sore," jawab Chen Li dengan tenang. Dia tidak tahu kenapa dua orang prajurit itu menghampiri dirinya, namun pemuda itupun tidak menanyakan alasannya.


"Sedang apakah Tuan di sini?"


"Aku hanya menikmati pemandangan saja, memangnya kenapa?"


"Ah, baiklah. Kalau bisa jangan terlalu larut, sebab keramaian akan segera terjadi di sini,"


"Justru aku sedang menunggu keramaian itu, ingin aku lihat seramai apa nanti,"

__ADS_1


Si prajurit yang bicara itu melirik kepada rekan di sisinya. Kemudian dia melirik juga ke belakang, ke arah rekannya yang lain. Mereka mengangguk perlahan. Entah apa yang sedang dilakukan oleh para prajurit itu.


"Baiklah kalau begitu,"


Dua orang prajurit segera kembali. Mereka langsung pergi begitu saja bahkan tanpa berpamitan.


Pendekar Tanpa Perasaan hanya tersenyum dingin. Wajahnya kaku. Sepasang matanya yang kini mulai terbuka seperti mata orang pada umumnya juga menatap tajam ke area sekelilingnya.


Senja sudah menghilang. Matahari telah lenyap di balik bukit nun jauh di sana. Hawa dingin mulai merasuk ke tulang. Langit yang sebelumnya terang, sekarang tiba-tiba kelabu. Petir mulai menggelegar. Sepertinya hujan akan turun.


Hujan ternyata benar-benar turun. Hujan itu turun rintik-rintik membawa semacam hawa tertentu.


Chen Li tiba-tiba membalikkan badannya. Mulutnya menyeringai. Entah apa maksudnya, padahal di sana sudah tidak terlihat manusia lain selain dirinya. Dia seorang diri.


Tapi kenapa pemuda itu berlaku demikian?


Tidak lama setelah itu, puluhan bayangan manusia mendadak muncul dari segala penjuru mata angin. Derap langkah kuda juga terdengar sangat ramai. Belum lagi belasan orang yang tiba-tiba muncul dari dalam kota sambil membawa busur panah.


Siapa mereka? Kenapa puluhan orang itu tiba-tiba mengepung Pendekar Tanpa Perasaan?


Wushh!!! Wushh!!!


Chen Li mengenal gadis itu, diapun mengetahuinya.


Yun Jianying. Gadis yang dimaksudkan memang dirinya.


Kenapa dia bisa bersama orang-orang itu?


Chen Li tidak bertanya. Karena dia sudah tahu jawabannya. Oleh sebab itulah hingga detik ini, pemuda tersebut tetap diam tidak bergerak. Diapun tidak membuka mulutnya.


Hujan turun mulai deras. Hawa dingin semakin menusuk ke sumsum tulang belulang.


"Akhirnya keramaian itu akan dimulai," kata Chen Li dengan dingin.


Suaranya pelan. Tapi karena di sana tidak ada yang bicara lagi, maka suara tersebut terdengar oleh lima orang yang jaraknya paling dekat dengan dirinya.


"Kau sudah menduga?" tanya seseorang di antara mereka.

__ADS_1


Chen Li tidak menjawab. Dia hanya mengangguk satu kali.


"Kau juga sudah tahu kenapa kota ini sepi, tidak seperti biasanya?"


"Kalau bukan karena kota ini ditutup oleh orang-orangmu, rasanya tidak mungkin kota ini sepi,"


Orang itu mengangguk membenarkan, kemudian dia melanjutkan bicaranya, "Apakah kau juga sudah tahu dua orang prajurit tadi itu siapa sebenarnya?"


"Tentu saja aku tahu. Bukankah mereka juga orang-orangmu yang sedang menyamar?"


"Hemm, cerdas. Tapi kalau kau sudah tahu semuanya, kenapa dirimu tidak pergi? Kenapa kau masih berada di sini?" tanya orang itu lebih lanjut lagi.


"Seluruh kota ini sudah dikepung oleh orang-orangmu. Tidak ada lagi tempat untuk berlari. Kalau sudah begitu, untuk apa aku pergi? Lebih baik aku diam di sini sambil menanti kedatangan kalian," jawab Chen Li dengan memasang wajah kaku.


Lima orang itu tertawa. Suara tawanya sangat lantang seperti sedang berlomba adu suara keras bersama rintik air hujan yang semakin deras.


"Nona Yun, apakah kau tidak salah? Demi mendapatkan Phoenix Raja, kau rela mengorbankan banyak orang?" tanya Chen Li menatap tajam kepadanya.


Pendekar Tanpa Perasaan sudah mengerti semuanya. Dia pun paham arti dari permainan yang berlangsung ini. Selain itu, Chen Li juga tahu kenapa Yun Jianying melakukan semua ini.


Tujuannya tak lain karena gadis cantik itu bersikeras ingin memiliki Phoenix Raja miliknya.


Sepenting itukah burung siluman tersebut?


"Sama sekali tidak salah. Di sisi lain, aku sengaja membawa mereka kemari agar kau mau meminta maaf karena tempo hari pernah berlaku kurang ajar kepadaku," kata Yun Jianying dengan suaranya yang dingin.


Yun Jianying masih ingat pada saat pemuda itu menotok seluruh jalan darahnya hingga dia benar-benar dibuat lemas. Seumur hidup, baru hari itu saja dirinya mengalami kejadian yang menurutnya memalukan.


"Hemm, sekalipun kau membawa dua kali lipat orang dari jumlah yang sekarang, aku tetap tidak akan meminta maaf kepadaku,"


"Kenapa?"


"Karena aku tidak bersalah,"


Yun Jianying tidak terima dengan jawaban Chen Li. Dia adalah seorang gadis manja. Selain itu, diapun mempunyai latar belakang yang tidak sederhana. Ayahnya adalah Kepala Tetua Sekte Bulan Merah.


Bagaimana mungkin seorang anak kepala tetua akan terima kalau diperlakukan seperti itu?

__ADS_1


"Kau bilang tidak bersalah? Hemm … cepat minta maaf sebelum semuanya terlambat," kata Yun Jianying mengancam.


"Sekali berkata tidak, sampai mati pun tidak,"


__ADS_2