Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa

Legend Of Lightning Warriors II: Mata Dewa
kakek Sakti Manusia Dewa


__ADS_3

Setelah merasa puas berpesta dengan arak dan daging, kini obrolan mereka mulai merambah ke segala hal dan kondisi yang sedang terjadi.


Seperti biasanya, kalau Kekaisaran Wei sedang tidak aman, maka Sekte Bukit Halilintar akan berada di garda paling depan.


Mengingat bahwa sekte tersebut sangat bisa diandalkan. Selain itu, sebagai sekte terkuat dan terbesar di Kekaisaran Wei, sudah menjadi tugas wajib bagi para anggotanya untuk melindungi tanah air.


Beberapa waktu lalu, Ong Kwe Cin dan Thai Lu juga sudah mengirim kembali beberapa anak murid Sekte Bukit Halilintar ke beberapa daerah yang membutuhkan bantuan.


Sekitar dua puluh murid pilihan, diterjunkan langsung ke lapangan untuk sekedar meringankan beban masalah yang sedang terjadi saat ini.


Shin Shui mulai bertanya tentang perkembangan informasi di lapangan. Khususnya di titik-titik penting Kekaisaran Wei.


Masalah informasi dunia persilatan, sudah pasti sekte ini sangat dapat diandalkan. Selain itu, informasi yang didapat pun sudah jelas bisa dipercaya dan terjamin keasliannya.


Karena tanpa sepengetahuan orang luar, Shin Shui sering kali mengirimkan murid-murid yang dilatih khusus untuk mencari informasi. Baik itu informasi dunia persilatan, maupun informasi lainnya.


Selama hal tersebut berhubungan dengan keamanan Kekaisaran Wei, maka murid yang terlatih itu sudah pasti akan berusaha untuk mendapatkan berita.


Tak kurang dari dua ratus orang murid yang Shin Shui latih sampai ke tahap tertentu dalam hal mencari informasi.


Masalah bagaimana cara mengirimkan hasil penyelidikan mereka, Sekte Bukit Halilintar punya cara tersendiri.


Para murid yang dilatih menjadi mata-mata, akan di ajarkan jurus untuk mengendalikan binatang biasa dan siluman. Sehingga, mereka bisa memanfaatkan cara tersebut untuk menyampaikan informasi yang didapatkan di lapangan.


"Menurut informasi para murid, keadaan di berbagai tempat sudah cukup genting. Namun, ada juga beberapa daerah penting yang masih terbilang aman. Sejauh ini, hampir semua sekte aliran hitam bergabung dengan kita untuk menghadapi musuh-musuh yang berusaha menerobos masuk ke Kekaisaran."


"Tapi di balik itu semua, ada berita yang lebih penting lagi kepala tetua," kata Ong Kwe Cin.


Shin Shui mengerutan keningnya. Kalau berita yang dimaksud lebih penting, sudah pasti ada suatu hal yang cukup berbahaya.

__ADS_1


"Berita apa itu?" tanya Shin Shui tidak tahan dengan rasa penasarannya.


"Ratusan pendekar dari luar Kekaisaran Wei telah berhasil menerobos. Mereka membuat kekacauan di berbagai daerah yang memiliki tingkat keamanan lemah. Hebatnya lagi, ratusan pendekar tersebut diduga berasal bukan hanya dari satu Kekaisaran. Tetapi dua Kekaisaran. Selain itu, kebanyakan dari mereka memilih untuk menyamar tokoh-tokoh ternama di dunia persilatan Kekaisaran Wei. Tujuannya sudah tentu untuk merusak nama baik para pendekar tersebut,"


"Walaupun sebagian orang tidak percaya, tapi tetap saja sedikit banyak ada yang terpengaruh. Ditambah lagi, sosok yang menyamar menjadi kepala tetua, kini semakin berani bertingkah lebih kurang ajar. Beberapa hari belakangan, sosok tersebut telah menghancurkan beberapa sekte kecil dari aliran hitam dan putih. Akibatnya, sebagian sekte mengecap buruk nama kepala tetua. Sepertinya selain membuat kekacauan hebat, mereka juga menyebarkan propaganda kepada setiap pendekar. Terbukti sekarang bahwa nama Sekte Bukit Halilintar mulai tercoreng oleh orang-orang tersebut,"


Selama Ong Kwe Cin bercerita, tidak ada satupun seseorang yang berani memotongnya. Bahkan Shin Shui sendiri tidak bicara. Dia hanya mendengarkan dengan seksama terkait semua berita yang disampaikan oleh tetua itu.


"Tunggu, kau bilang para penyerang yang menyerang Kekaisaran Wei bukan dari satu Kekaisaran saja?" tanya Shin Shui kepada Ong Kwe Cin.


"Betul sekali kepala tetua. Ada dua sumber utama dari semua penyerangan ini, yang satu pihak merupakan orang-orang dari Kekaisaran Selatan. Sedangkan satu lagi, khususnya di daerah bagian Timur, mereka adalah para pendekar dari Kekaisaran Timur," jelas Ong Kwe Cin.


Shin Shui langsung tahu siapa yang dimaksudkan oleh tetuanya tersebut. Begitupun dengan yang lainnya.


Semua orang yang ada di sana langsung berpikiran sama.


Memang belum ada yang tahu kapan tepat waktunya. Tapi yang jelas, sudah tidak lama.


Bisa saja dua tahun, atau bahkan satu tahun lagi.


"Jadi dalang dari semua ini adalah Kaisar Tang Yang dan Kaisar Sung Poan Siu?" tanya si kakek pengemis yang sedari tadi diam mendengarkan.


"Benar sekali perkataanmu itu kek. Memang merekalah dalang dari semua kekacauan yang terjadi saat ini," timpal Thai Lu.


"Hemm, keparat betul mereka berdua itu. Sepertinya perang besar memang tidak dapat terhindarkan lagi. Pantas saja pertempuran di mana-mana selalu terjadi setiap saat. Hemm, gawat, gawat sekali," kata si kakek pengemis sambil mengelus jenggotnya yang sudah memutih.


Semua orang setuju dengan perkataan si kakek pengemis. Apa yang dia katakan, memang benar dan pasti terjadi.


Perang besar tidak dapat dihindari lagi.

__ADS_1


Hanya saja yang masih menjadi pertanyaan para Tetua Sekte Bukit Halilintar, siapa sebenarnya sosok kakek tua tersebut? Jangankan mereka, Huang Taiji Lu si Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding saja, tidak mengetahui siapa sosok kakek tua tersebut sebenarnya.


Yang tahu hanyalah Shin Shui dan kakek pengemis itu sendiri.


Karena melihat wajah orang-orang yang ada di ruangan kebingungan, pada akhirnya Shin Shui membuka suara.


"Kek, aku rasa lebih baik kau perlihatkan siapa dirimu sebenarnya. Karena mengingat, orang-orang yang ada di sini adalah orang-orang kita sendiri," ujar Shin Shui kepada kakek pengemis.


Si kakek pengemis tersebut tertawa cukup kencang. Matanya menyapu kepada semua orang yang terdapat di ruangan para tetua. Sambil tertawa, tangan kanannya tetap mengelus-elus jenggot dan kepalanya manggut-manggut.


Seolah dia sedang menembus pandangan para tetua. Atau juga, dia telah yakin bahwa mereka memang orang-orang yang ada di pihaknya.


"Karena kau meminta, baiklah. Aku akan memberitahu kalian siapa aku sebenarnya," ujar kakek pengemis.


Setelah berkata, dia segera mencopot penyamarannya. Kalau tadi bajunya lusuh, kumal dan penuh tambalan di seluruh bagian, sekarang berbeda.


Saat ini, terlihat seorang tokoh tua memakai pakaian serba merah. Jubahnya merah juga. Rambut panjangnya yang telah dipenuhi uban dia biarkan begitu saja.


Jenggotnya masih sama. Hanya sedikit penyamaran di bagian wajah saja yang berbeda.


Setelah semuanya tampak dengan jelas, para Tetua Sekte Bukit Halilintar saling pandang satu sama lain.


Mereka seperti mengenali ciri-ciri kakek tua tersebut. Hanya saja, para tetua itu tidak tahu siapa namanya. Sebab bertemu pun baru kali ini saja.


Yang paling terkejut justru Huang Taiji Lu. Dia bahkan sampai sedikit melompat dari tempat duduknya karena saking kaget. Katanya memandang tidak percaya. Mulutnya sedikit terbuka membentuk huruf O.


"Ka-kau, bukankah kau … Kakek Sakti Manusia Dewa, Guru Besar Kaisar Utara, Kaisar Liu Yuchen Sun?"


Huang Taiji Lu masih tidak percaya. Tapi sayangnya dia harus percaya, sebab kakek tua tersebut memang Kakek Sakti Manusia Dewa, sang Guru Besar Kaisar Utara.

__ADS_1


__ADS_2