
Sepertinya dia memang ahli dalam tenaga luar. Terlihat dari otot tangannya yang menonjol dan kekar.
Tapi walaupun begitu, dia masih belum bisa mendesak Chen Li. Mendesak saja belum mampu, apalagi berharap untuk membunuhnya?
Bentakan nyaring dari masing-masing mulut mereka terdengar menggetarkan sukma. Si Pedang Angin berteriak, dari dalam kepulan debu, mendadak pedangnya menusuk sangat cepat ke arah tenggorokan Pendekar Tanpa Perasaan.
Tetapi walaupun dia masih kecil, tapi dia adalah bocah yang cerdas. Walaupun serangan tersebut cepat, tapi belum bisa melebihi kecepatan refleksnya.
"Trangg …"
"Bukkk …"
Pedang Hitam dibenturkan dengan pedang lawan. Kaki kirinya segera menendang si Setan Mata Golok yang saat itu berniat menyerangnya juga.
Ketiga pendekar tersebut semakin serius. Mereka bertarung lebih seru lagi. Dua lawan terus berusaha untuk mendesaknya. Tetapi hasilnya tetap sama seperti sebelumnya.
Sampai detik ini, si Pedang Angin dan si Setan Mata Golok, sama sekali tidak bisa membunuh seorang bocah cilik.
Bahkan keadaan mulai berbalik. Kini giliran mereka yang berada dalam keadaan terdesak. Pedang Hitam di tangan Pendekar Tanpa Perasaan bergerak mengikuti irama lawan.
Ke mana lawan menghindar, maka ke situ dia akan menyerang. Pedang Hitam dan pemilik barunya mempunyai sifat yang sama.
Sama-sama tidak berperasaan. Jika Chen Li tidak memberikan ampunan bagi musuhnya, maka Pedang Hitam tidak akan membiarkan hidup mangsanya.
Apapun yang terjadi, pedang tersebut akan selalu meminta tumbal jika sudah dikeluarkan dari sarangnya.
Tentu saja, sebab itu adalah Pedang Hitam.
Sebuah pedang misterius. Pedang yang membawa hawa pembunuhan pekat. Pedang yang membawa kabar kematian. Pedang yang mengerikan, dan pedang yang tanpa perasaan.
"Kegelapan Menyelimuti Bumi …"
"Wushh …"
Asap hitam mendadak mengelilingi arena pertarungan mereka. Batang pedang mengeluarkan asa hitam semakin tebal. Di samping itu, hawa pembunuhan yang sangat-sangat kental juga keluar dari pedang misterius tersebut.
Sepertinya pedang itu sudah terlalu banyak mencabut nyawa manusia. Sehingga kekuatannya sangat mengerikan dan aura pembunuhan yang sanggup dikeluarkan juga sangat besar.
Si Pedang Angin dan si Setan Mata Golok semakin terperanjat. Mereka benar-benar merasa orang paling sial di dunia ini.
Bertemu dengan seorang bocah yang dingin tanpa perasaan, kalau tidak disebut nasib sial, lantas apalagi?
Jika sudah begini, jangan harap mereka bisa pergi hidup-hidup.
Serangan Chen Li semakin ganas. Pedang Hitam berkelebat tiada hentinya menebarkan kabur hitam di setiap penjuru.
__ADS_1
"Wushh …"
Di tengah gempuran serangannya, mendadak si Pedang Awan melesat dengan pedang terjulur ke depan. Gerakan ini sangat tiba-tiba dan tidak pernah disangka.
Arah serangannya ke pundak sebelah kiri.
Tetapi tepat sebelum pedang tersebut tiba, sebuah cahaya hijau menyeruak lalu segera menahan serangan tersebut.
"Trangg …"
Seruling giok hijau.
Seruling itu sudah keluar. Kalau sudah begini, maka Pendekar Tanpa Perasaan akan bertarung lebih semangat lagi.
"Bertempur Melawan Raja Naga …"
"Pedang Hitam Membelah Kesunyian …"
"Wushh …"
Dua serangan berbeda segera dilancarkan oleh Pendekar Tanpa Perasaan. Pedangnya menusuk secepat kilat. Serulingnya mengibas dan menotok degan kuat.
Semua serangan tersebut dilakukan secara sempurna dan nyaring tanpa ada kesalahan.
Saat menggunakan satu senjata saja mereka sudah kewalahan, apalagi sekarang jika dia senjata sekaligus?
Bayangan putih melesat ke segala arah seperti setan gentayangan. Dua puluh jurus kemudian, Pedang Hitam milik Chen Li berhasil menusuk tenggorokan si Setan Mata Golok.
Orang tua itu jelas tidak menyangka sama sekali. Bahkan matanya masih mendelik, pertanda bahwa dirinya masih belum percaya atas kejadian yang menimpa dirinya.
Darah menyembur. Begitu Pedang Hitam dicabut dari tenggorokannya, darah yang keluar juga semakin banyak lagi.
Si Setan Mata Golok jatuh terduduk dengan tangan masih memegangi senjatanya. "A-nak yang hebat,"
Tubuhnya ambruk. Nyawa pun langsung melayang.
Melihat rekannya tewas, si Pedang Angin semakin marah. Kemarahannya sudah tidak bisa diluksikan lagi. Tidak ada yang tahu dia semarah apa, kecuali hanya dirinya sendiri.
"Bangsat kecil, kau harus mampus di tanganku seatang," teriak si Pedang angin.
"Angin Berhembus Kematian Menjemput …"
"Wushh …"
Pedangnya menghilang. Yang ada hanyalah kelebatan sinar perak terkena matahari. Hang ada hanyalah segulung angin menerjang ke arah Pendekar Tanpa Perasaan.
__ADS_1
Si Pedang Angin kalap. Sehingga kekuatannya menjadi berlipat ganda. Setiap dia bergerak, mampu menerbangkan dedaunan yang berserakan. Ranting pohon patah terkena sambaran anginnya.
Dia menyerang seperti singa yang terluka. Tidak peduli apakah pertahannya terbuka, tidak peduli walaupun tubuhnya penuh dengan luka, yang terpenting lawannya harus mampus.
Bagaimanapun caranya.
"Bagus, kita mengadu jiwa," balas Chen Li tidak kalah garangnya.
"Pedang Hitam Kematian …"
"Wushh …"
Jurus Pedang Hitam Kematian adalah jurus terkahir dari Kitab Pedang Hitam. Kitab tersebut hanya berisikan tiga jurus saja. Tetapi, semua jurus yang tertera di dalamnya bukanlah jurus rendahan. Bahkan terbilang jurus yang aneh dan mengerikan.
Pedang Hitam menebarkan asap hitam yang menggumpal seperti iblis. Chen Li menghilang di telan asap tersebut. Si Pedang Angin juga lenyap.
Keduanya berubah seperti makhluk tak kasat mata. Tetapi benturan orang terus terdengar. Bentakan nyaring masih menggema.
Tempat tersebut berubah menjadi tempat yang gelap. Hawa pembunuhan saling bertemu satu sama lain.
"Trangg …" dentingan nyaring terdengar tanpa henti.
Beberapa saat kemudian, jeritan yang sangat memilukan terdengar keluar dari salah satu mulut.
Saat asap hitam tadi lenyap, Chen Li sedang berdiri dengan angkuh. Darah kental masih menetes di ujung pedangnya.
Teriakan tadi ternyata keluar dari mulut si Pedang Angin. Lehernya hampir buntung. Darah segar menyembur. Tangan kekar yang tadi menggenggam pedang seperti menggenggam nyawa, kini mulai lemas.
Pedang tersebut terjatuh. Orangnya juga ambruk ke tanah.
Dia tewas menyusul rekannya. Dia tewas menyusul seluruh anak buahnya.
"Hahh …" Chen Li hanya menghela nafas dalam-dalam.
Entah sampai kapan dia harus menghadapi berbagai macam persoalan. Namun menurut ayahnya, persoalan akan selalu ada. Akan selalu datang. Akan selalu menghampiri.
Tak perduli siapa pun orangnya, selama nyawanya masih di kandung badan, maka persoalan akan selalu menyertainya.
Chen Li memasukan kembali Pedang Hitam ke Cincin Ruang. Dia menyembunyikan kembali kekuatan sebenarnya.
Setelah itu, dia langsung menghampiri tiga sahabatnya yang masih tidak sadarkan diri. Bocah itu terlebih dahulu mencoreng-coreng wajahnya dengan tanah.
Tiga sahabatnya segera dia lepaskan dari totokan. Setelah begitu, Chen Li sendiri langsung ambruk. Seolah-olah dia pingsan dan tidak tahu apa yang terjadi.
Ini adalah triknya supaya tiga sahabatnya tidak mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi. Sebab menurutnya, belum saatnya untuk mereka mengetahui kekuatan yang sebenarnya.
__ADS_1
Suasana kembali sunyi. Yang terasa hanyalah hembusan angin. Yang terdengar hanyalah suara bambu bergesekan.