
Perang besar dimulai.
Perang saat ini semakin menjadi. Semakin menggila. Manusia semakin berambisi untuk merebut kekuasaan. Dua Kekaisaran besar menyerang Kekaisaran Wei secara bersamaan. Mereka semua tidak lagi memikirkan apapun. Tidak memikirkan nasib rakyat yang tidak bersalah, tidak memikirkan bagaimana nasib anak-anak di masa depan nanti.
Yang mereka pikirkan saat ini hanyalah, bagaimana caranya supaya ambisi mereka tercapai?
Ribuan nyawa melayang setiap hari seperti daun kering yang gugur di musim semi. Banjir terjadi di seluruh Istana Kekaisaran Wei. Tapi bukan banjir air. Bukan pula banjir kepingan emas atau perak. Banjir itu adalah banjir darah.
Halaman Istana Kekaisaran Wei yang luasnya tidak bisa di ukur menjadi ajang medan peperangan tiga Kekaisaran yang bertetangga. Kalau sudah seperti ini, mau sahabat ataupun lawan tidak peduli lagi.
Yang mereka lakukan hanya demi tugas negara. Yang mereka bawa sekarang hanya rasa tanggungjawab. Siapapun yang menghalangi niatnya di tengah jalan, maka orang itu pantas untuk mati. Tidak peduli meskipun itu saudara sendiri.
Sepuluh tokoh terkuat di Kekaisaran Wei telah berkumpul. Semuanya berdiri berjajar sambil menantang kehendak langit. Mereka tidak takut lagi. Mereka tidak gentar lagi. Jangankan manusia, walaupun para iblis atau bahkan para malaikat, jika berniat merebut tanah airnya, maka sepuluh tokoh itu siap untuk melawannya hingga akhir.
Semilir angin bertiup lirih. Langit mendung, sinar matahari tertutup oleh awan kelabu yang menggumpal menutupi cahaya kehidupan itu.
Perang yang akan berlangsung ini adalah perang terbesar spanjang sejarah peradaban umat manusia. Perang ini adalah perang paling luar biasa. Paling hebat.
Dua Kekaisaran besar bersatu dalam satu kekuatan. Mereka sepakat untuk menyerang secara bersamaan. Tetapi meskipun begitu, masing-masing Kaisar dari tiga Kekaisaran telah membuat perjanjian.
Mereka akan melangsungkan perang besar hanya di lapangan Kekaisaran Wei yang sangat luas itu.
Perjanjian ini menjadi keuntungan tersendiri bagi orang-orang pribumi. Karena mereka tidak perlu repot-repot menjaga berbagai macam sekte dari serangan musuh.
Namun meskipun begitu, para pendekar Kekaisaran Wei juga mengalami kerugian. Itu artinya, kekuatan utama mereka hanya berada di sekitaran Istana Kekaisaran Wei.
Jika kekuatan atau para pendekar yang ada di sana tidak mampu membendung serangan dari dua Kekaisaran besar, itu artinya habis sudah harapan semua orang.
Jika para pendekar itu kalah, maka harapan untuk menang juga akan sirna. Jika mereka tidak mampu memukul mundur lawan, maka kekalahan menjadi kemungkinan yang paling besar.
Mereka harus bersatu padu. Harus kompak. Harus menyatukan perbedaan dalam kesatuan. Tidak peduli mau itu tokoh aliran hitam ataupun aliran putih.
__ADS_1
Untuk saat ini, semuanya harus bersatu dalam perbedaan.
Suara bergemuruh sudah terdengar keras. Padahal sepanjang mata memandang, di sebuah lapangan yang luas itu belum terlihat siapa-siapa.
Debu dari jarak beberapa kilo meter terlihat mengepul tinggi ke udara. Debu itu seolah tembus hingga ke balik awan. Semua pendekar Kekaisaran Wei telah siap siaga. Mereka sudah tahu meskipun sepasang matanya belum melihat siapapun.
Suara bergemuruh dan debu yang terus mengepul terlihat dari dua arah berbeda.
Semuanya menunggu. Semuanya menanti dengan perasaan yang sulit untuk dijelaskan.
"Mereka telah datang, kita harus siap menyambutnya dengan perasaan bahagia," kata Shin Shui kepada sembilan tokoh terkuat yang ada di sisinya. Termasuk Kaisar Wei An sendiri.
Seharusnya Kaisar itu menjadi orang yang dilindungi, tetapi sekarang tidak. Kali ini merupakan pengecualian. Kaisar Wei An memilih untuk terjun langsung ke lapangan. Dia ingin turun mulai dari awal hingga titik darah terakhir perjuangannya.
Saat ditanya apakah Kaisar Wei An tidak takut? Dengan lantangnya dia menjawab, "Demi tanah air, demi tanah leluhur, aku tidak takut apapun, tidak takut kepada siapapun. Bahkan jika mereka merupakan para Dewa, aku tetap tidak takut. Aku akan membuktikan kepada dunia bahwa Kekaisaran Wei bukanlah tempat orang-orang penakut,"
Jawabannya singkat, tapi mengandung arti yang bahkan lebih dalam dari lautan. Suaranya tenang. Tapi di balik suara itu terdapat semangat yang terus berkobar. Semangat yang tidak akan pernah berhenti. Semangat yang tidak akan pernah padam. Seperti halnya api abadi.
"Apakah semuanya sudah siap?" tanya Ye Rou kepada murid pilihan Sekte Teratai Putih.
"Siapp,"
"Bagus. Kalau begitu kita perlihatkan kepada mereka bagaimana ganasnya seorang wanita,"
Murid pilihan Sekte Teratai Putih mengangguk secara bersamaan. Seperti yang pernah diceritakan, sekte ini semuanya merupakan wanita. Wanita yang sangat cantik. Sangat tangguh, pemberani. Dan wanita yang sangat menakutkan.
Para pendekar muda juga sudah bersiap di posisinya masing-masing. Eng Kiam, Yuan Shao, Li Meng Yi, Moi Xiuan dan yang lainnya telah berdiri sejajar seperti halnya para tokoh terkuat.
Di antara pendekar muda tersebut, ada dua orang remaja yang berpisah.
Pertama si bayangan merah yang entah siapakah orang itu, karena hingga sekarang belum ada seorang pun yang tahu. Dia memakai topeng merah yang menutupi sebagian wajahnya. Dia berdiri seorang diri di pojok pintu gerbang. Dengan kepercayaan sebesar gunung, dia juga sedang menanti datangnya musuh.
__ADS_1
Satu lagi tentunya Chen Li si Pendekar Tanpa Perasaan.
Sejak tadi, bocah itu berdiri di udara. Chen Li berdiri menantang ke depan. Sikapnya sangat dingin. Lebih dingin dari pada biasanya. Pedang Hitam dan seruling giok hijau telah digenggam di kedua tangannya.
Tubuhnya selalu diselimuti oleh hawa putih yang sangat kental dan selalu mengeluarkan kekuatan dahsyat. Sepasang matanya masih tertutup. Tapi kekuatan dashyatnya sudah terasa.
Huang Taiji berdiri tidak jauh di belakang Chen Li. Pendekar Pedang Tombak Tanpa Tanding melakukan hal yang sama. Dia berdiri di tengah udara dengan tenang.
Jubah putihnya berkibar terus tertiup angin. Sepasang matanya memandang jauh ke depan. Tatapan mata itu sangat hangat, sangat teduh. Seolah dia merasa bahagia.
Dia memang bahagia. Bahagia karena melihat Chen Li sudah tumbuh menjadi remaja seperti yang diinginkan oleh semua orang.
Pedang Tombak Surga Neraka sudah digenggam dengan erat. Hawa panas dan hawa dingin merembes keluar menjadi satu. Senjata pusaka itu sudah siap membunuh siapapun musuhnya.
"Kakak Huang, jaga Li'er baik-baik," kata Shin Shui tiba-tiba lewat suara jarak jauh.
"Kau tenang saja, aku pastikan dia aman jika terus bersamaku,"
"Baik terimakasih,"
Shin Shui tersenyum lembut. Dia menjadi lebih tenang. Detik selanjutnya, suara halilintar terdengar menggelegar beberapa kali.
Selanjutnya mendadak muncul seekor naga yang mengelilingi Shin Shui. Tubuhnya juga diselimuti oleh suatu kekuatan dahsyat. Kekuatan agung. Seperti kekuatan para Dewa.
Kilatan halilintar selalu terpancar dari tubuh Shin Shui.
Kalau sudah seperti ini, berarti dia sudah benar-benar serius.
Pemandangan yang dapat disaksikan sekarang, adalah pemandangan paling menakjubkan sepanjang sejarah.
Kapan lagi bisa melihat seluruh tokoh berkumpul menjadi satu hingga mengeluarkan kekuatan dahsyatnya masing-masing?
__ADS_1